Pengantin Pengganti Sahabatku

Pengantin Pengganti Sahabatku
Sebelum Malam Pertama


__ADS_3

Cukup lama mereka beristirahat dan kini saatnya menjelajahi keindahan negeri Kangguru. Shaka telah lebih dulu bangun, ia memutuskan membersihkan tubuhnya agar lebih segar dan harum saat berdekatan dengan Zahira.


Shaka mendekati Zahira yang masih tertidur pulas di bawah selimut tebal membungkus tubuhnya yang mungil. Ia duduk di tepian ranjang, mengamati kecantikan alami dari seorang Najma Zahira. Sejak dulu kamu selalu cantik, Ra. Namun, sayang aku baru menyadari itu setelah kita dewasa.


Lelaki itu mengulurkan tangan menuju pipi, kemudian mengusapnya secara lembut. "Ra, bangun. Udah jam sembilan pagi."


Merasakan kelembutan sentuhan tangan dari seseorang, kelopak mata Zahira mengerjap dan terbuka secara perlahan. "Ehm ... iya, Ka. Aku udah bangun kok," jawabnya dengan suara serak khas orang bangun tidur. Terlelap selama dua jam lamanya membuat tubuh gadis itu terasa lebih segar dari biasanya meski masih mengalami jet lag.


Shaka dengan sigap membantu sang istri bangun dari pembaringan. "Kamu cuci muka dan ganti pakaian dulu, aku tunggu di lobi. Kalau udah siap, susul aku di bawah."


Zahira mengangguk, ia menuju kamar mandi di sudut kamar sedangkan Shaka melangkah keluar kamar. Lelaki itu memilih menunggu istrinya di lobi daripada tinggal satu atap terlalu lama dengan sang istri. Bukan karena enggan berada dalam ruangan sama melainkan ia takut pikirannya semakin kacau sebab memikirkan suatu hal yang membuat jiwa kelelakiannya bangkit.


Sebagai pria normal Shaka tentu saja paham akan hal itu, terlebih Zahira adalah pasangan halal baginya dan sah-sah saja jika ia menyentuh gadis itu. Akan tetapi, ia belum ingin menyentuh Zahira sebelum diberikan izin oleh sang empunya tubuh. Ia ingin melakukan itu atas dasar suka sama suka bukan atas keterpaksaan belaka.


Beberapa menit kemudian, Zahira telah keluar dari kamar mandi. Lantas, gadis itu bergegas mengenakan kaos warna putih dipadu dengan celana jeans biru dengan rambut cempol dan sepatu kets warna putih. Ia dan Shaka sepakat mengenakan kaos putih dan sepatu kets untuk hari pertama berkeliling berburu bunga Jacaranda.


"Shaka, aku udah siap! Yuk jalan sekarang!" ucap Zahira setelah ia tiba di lobi hotel.


Shaka yang saat itu tengah asyik memainkan telepon genggam miliknya segera menoleh ke sumber suara. Kelopak mata pria itu tak berkedip sedikit pun saat netranya menangkap sosok perempuan cantik jelita di sebelahnya. Hidung mancung, bola mata teduh, bibir ranum dan tipis, kulit putih bersih bagai pualam. Perpaduan antara Asia dan Eropa melekat jelas di wajah Zahira.


Melambaikan tangan ke depan wajah Shaka. "Ka, ayo! Kok malah ngelamun sih. Memangnya ada yang salah dengan pakaianku?" tanya Zahira seraya memperhatikan penampilannya.

__ADS_1


Sang pengacara mengerjapkan mata beberapa kali. Astaga, Shaka. Kenapa kamu menatap Zahira seperti seekor binatang buas. Bagaimana jika Zahira risih dan marah padamu? Rencana bulan madu kalian bisa ambyar, rutuk lelaki itu dalam hati karena dalam keadaan sempit ia malah mengagumi kecantikan gadis itu.


Berdehem sebentar guna menyembunyikan rasa canggung akibat kedapatan memandangi Zahira. "Enggak ada yang salah kok. Penampilanmu cukup oke." Shaka menggenggam jemari erat Zahira dan berkata, "Ayo, jalan. Aku akan mengajakmu menikmati keindahan bunga Jacaranda di town hall dan Frys Reserve, Kogarah."


Seperti yang Zahira duga, Sdyney mempunyai pemandangan yang sangat indah ketika siang hari terlebih mereka datang ke negeri tersebut saat musim semi hingga sepanjang jalan dapat menikmati bunga-bunga berwarna ungu bernama bunga Jacaranda. Bunga ini sama seperti bunga sakura yang hanya berbunga setahun sekali.


Pendar bahagia terpancar jelas di bola mata indah nan jernih. Bibir melengkung indah menatap keindahan di luar sana dari dalam mobil taxi. "Benar-benar bagus. Enggak kalah dari Jepang," bergumam lirih tanpa mengalihkan pandangan dari sepanjang jalan di sebelah kanannya.


Shaka sengaja meminta sopir taxi tersebut memelankan laju kendaraan sebab ingin agar Zahira dapat menikmati perjalanan mereka.


"Sebentar lagi kita sampai café langgananaanku, tempat biasa aku dan teman-teman hang out saat suntuk melanda. Kebetulan café itu buka 24 jam," ucap Shaka.


Tak berselang lama, taxi berhenti tepat di depan café yang dimaksud Shaka. Jarak antara café tersebut dengan kampus lelaki itu tak terlalu jauh hanya membutuhkan waktu sekitar lima menit saja. Zahira tersenyum lebar melihat café yang cukup cozy, didesain semenarik mungkin hingga membuat pengunjung betah berlama-lama berada di sana.


"Kamu mau makan apa, Ra?" tanya Shaka setelah seorang pelayan wanita menyerahkan buku menu.


"Ehm ... apa aja deh, Ka. Pokoknya yang enak dan pasti mengenyangkan. Kamu tahu sendiri, rasanya kurang afdol kalau enggak makan nasi. Berasa kayak ada yang kurang," kekeh Zahira setengah berkelakar. Padahal ia terbiasa tak menyantap makanan berat saat sarapan. Makan roti maupun salad sudah membuatnya terasa kenyang.


"Semuanya enak, Ra, tinggal pilih aja sesuai selera. Tapi ... kalau aku sih lebih suka makan mie Italia. Enak dan pastinya cukup mengenyangkan."


Kedua alis Zahira mengerut, petanda bingung. "Mie Italia? Maksudmu, spaghetti?" tanyanya ragu-ragu.

__ADS_1


Shaka mengangguk cepat. "Betul. Spaghetti bolognesse di café ini cukup enak, Ra. Kalau mau, pesan itu aja."


"Ya udah, aku pesan itu aja deh. Minumnya mau matcha panas."


Shaka menjentikkan jari untuk memanggil pelayan, lalu menyebutkan pesanan mereka. Sambil menunggu pesanan, ia dan sang istri berbincang hangat menikmati waktu kebersamaan mereka.


"Habis makan, aku akan mengajakmu ke kampus dan menunjukan beberapa tempat yang biasa kudatangi bersama teman-teman. Kebetulan temanku ada yang melanjutkan magister di kampus sama jadi nanti aku kenalin kamu ke dia."


Zahira yang sedang mengirimkan pesan kepada Arumi dan Rini segera menatap Shaka. Sedikit bingung kenapa suaminya itu ingin mengajak dia berkenalan dengan seseorang.


"Kamu tenang aja, temanku itu baik dan istrinya pun pernah kuliah di Jepang dulu. Jadi kamu bisa ngobrol bareng dia kalau memang bosan mendengar kami berbincang," ujar Shaka seakan mengerti isi kepala Zahira.


Tampak Zahira manggut-manggut setelah mendengar penjelasan Shaka. "Terserah kamu aja deh, Ka. Aku ikut apa katamu daripada ditinggalin sendirian di sini."


Shaka menarik kursinya hingga mentok di tepian meja hingga posisinya kini sangat dengan Zahira. "Jangan sembarangan bicara! Mana mungkin aku tega meninggalkan istriku sendiri di negara ini," ucap pria itu. "Lagipula, aku masih ingin hidup seribu tahun lagi agar bisa tetap bersamamu."


Aah ... meleleh sudah batu es dalam diri Zahira. Kemarahan dalam diri gadis itu semakin lama semakin mencair. Untaian kata lelaki itu mampu merobohkan benteng pertahanan yang ia bangun setelah sang Arjuna berbohong kepadanya.


Hati Zahira berbunga-bunga bagai bunga Jacaranda yang tengah bermekaran. Jantung berdenyut kencang seakan hampir meledak setiap kali berdekatan dengan Shaka.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2