Pengantin Pengganti Sahabatku

Pengantin Pengganti Sahabatku
Keputusan Zahira II


__ADS_3

Usai sarapan, Arumi dan Rayyan memilih duduk di gazebo belakang rumah. Pasangan suami istri itu tengah menikmati sejuknya udara di pagi hari serta sinar matahari yang begitu cerah menyinari bumi. Suara cicit burung yang bertengger di dahan pohon laksana alunan merdu terdengar begitu indah.


"Apa Zavier sudah memberikan kabar kepadamu, Mas?" tanya Arumi memulai percakapan. Jemari tangan nan lentik yang selama puluhan tahun membantu pasien di meja operasi sedang menuangkan teh hangat ke dalam cangkir keramik.


"Belum. Mungkin saat ini dia sedang sibuk mengurusi tesisnya, Bun, hingga lupa membalas pesan dariku. Maklum, mahasiswa semester akhir lagi sibuk-sibuknya," tutur Rayyan.


Meletakkan benda pipih berukuran 10.2 inchi ke atas meja, kemudian menatap wajah wanita cantik yang teramat dicintai. Sepasang mata sipit menangkap raut kegelisahan di wajah sang pujaan hati. Memaklumi kenapa istri tercinta begitu gelisah sebab kedua anak laki-laki mereka berada jauh di sana.


Dengan lemah lembut Rayyan berkata, "Jangan terlalu mengkhawatirkan Ghani dan Zavier, Babe. Aku yakin mereka pasti baik-baik saja. Lagi pula mereka sudah dewasa bisa memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Kita sebagai orang tua hanya bisa mendo'akan yang terbaik untuk mereka."


Menghela napas panjang. "Ya, semoga kamu benar, Honey. Entahlah kenapa aku bisa sangat mengkhawatirkan mereka berdua. Sudah seminggu ini tidak ada kabar dari mereka membuatku gelisah dan terus memikirkan anak-anak."


Tangan kekar menggenggam jemari tangan lentik, kemudian memberikan sedikit rematan. "Kalau kita sudah berdo'a maka langkah selanjutnya adalah pasrah serahkan semuanya kepada Tuhan. Aku yakin, di mana pun anak-anak berada Tuhan akan selalu melindungi mereka."


Sementara itu, Zahira baru saja keluar dari kamar Shakeela dan hendak menemui kedua orang tuanya. Namun, langkah kaki terhenti kala berpapasan dengan Shaka yang akan masuk ke kamar istrinya.


Shaka tampak begitu gagah dengan kaos putih V-neck dan celana jeans warna coklat muda. Tubuh kekar dengan pahatan otot di mana-mana tercetak jelas meski telah dibalut kaos. Sejak dulu sang pengacara selalu tampil memesona. Mungkin karena itulah kenapa dokter cantik berwajah oriental sulit untuk melupakan sang sahabat.


"Zahira?" Shaka memanggil Zahira dengan tatapan dalam dan tersirat penuh kerinduan.


"Maaf, aku harus ke taman belakang dulu menemui Ayah dan Bunda." Zahira meninggalkan Shaka yang bergeming di tempatnya. Akan tetapi, ....


"Tunggu! Mau apa kamu menemui Ayah dan Bunda-mu, hem?" sergah Shaka sembari mencekal pergelangan tangan Zahira.


Sontak langkah kaki terhenti saat tiba-tiba saja pergelangan tangannya dicekal oleh sang suami. "Tentu saja membicarakan soal perceraian kita, Shaka. Memang mau membahas apa lagi. Semalam, 'kan aku sudah bilang akan berbicara dengan orang tuaku, menyampaikan rencanaku kepada mereka. Setelah itu, baru berbicara dengan Papa dan Mama-mu." Zahira menepis tangan Shaka dengan lembut. "Aku cuma mau semua masalah ini cepat berakhir dan kamu bisa menemukan kebahagiaanmu."

__ADS_1


Usai mengucapkan kalimat tersebut, Zahira membalikkan badan hendak menuruni anak tangga. Akan tetapi, suara bariton seseorang menghentikan langkahnya.


"Tapi bagaimana kalau aku tak kunjung menemukan kebahagiaanku, Ra? Dan ternyata sumber kebahagiaanku itu adalah kamu?" Suara Shaka gemetar saat mengucapkan kalimat tersebut. Bola mata pria itu menatap punggung Zahira dengan penuh penyesalan.


"Jangan berbicara hal yang mustahil, Shaka! Selama kamu hidup berumah tangga denganku hanya akan ada penderitaan saja tanpa adanya senyuman dan kebahagiaan yang menghampirimu. Oleh karena itu, sebaiknya kita berpisah agar kita bisa menemukan kebahagiaan masing-masing. Kalaupun memang kamu tidak mau menerima Ziva kembali tapi setidaknya kamu bisa menemukan kekasih lain yang mencintai dan juga dicintai olehmu. Pun begitu denganku. Aku juga ingin menemukan lelaki yang mencintaiku dengan tulus tanpa memedulikan statusku yang hanya seorang janda," jawab Zahira mencoba tegar meski sebetulnya hati gadis itu bergemuruh hebat.


"Aku harus menemui orang tuaku sekarang juga. Permisi." Lantas, Zahira melangkah pergi meninggalkan Shaka yang masih diam membeku di tempatnya. Tanpa Zahira sadari, sudut mata Shaka sudah mengeluarkan air mata.


***


Saat tiba di taman belakang, senyum mengembang di sudut bibir Zahira. Ada perasaan sedih dan bahagia tatkala melihat keromantisan kedua orang tuanya. Hubungan rumah tangga sepasang suami istri yang sudah memasuki usia senja masih tampak harmonis meski rambut mulai berubah keperakan.


Akankah aku menemukan pria sejati yang tulus mencintaiku seperti Ayah mencintai Bunda? kata Zahira dalam hati. Dulu sempat bermimpi membina rumah tangga harmonis penuh dengan cinta dan kasih sayang bersama Shaka. Melahirkan anak-anak yang lucu nan menggemaskan dengan wajah mirip mereka berdua. Namun, impian itu harus kandas setelah ia tahu kalau selamanya hati dan cinta Shaka hanya untuk Ziva seorang.


"Ayah, Bunda," panggil Zahira saat gadis itu sampai di gazebo taman belakang.


Sepasang suami istri menoleh ke sumber suara. "Rara? Bunda kirain kamu sedang bersama Shaka." Wanita paruh baya tersenyum lebar saat sepasang mata beradu pandang dengan iris coklat putri tercinta. "Sini duduk sebelah, Bunda!"


"Tampangmu serius sekali, Nak. Ada apa?" tanya Rayyan setelah Zahira duduk di sebelahnya. Gadis bermata sipit dan berkulit putih duduk di tengah, diapit kedua orang tuanya.


Zahira mengatur napasnya, mencoba mengisi pasokan oksigen ke dalam paru-paru. Seketika, tempat itu terasa pengap padahal sejak tadi semilir angin terus berembus menerbangkan anak rambutnya.


"Ayah, Bunda, selama dua hari ini aku berpikir tentang masa depan rumah tanggaku dan mencari jalan terbaik bagiku dan juga Shaka. Lalu, aku sudah memutuskan untuk bercerai dari Shaka," ucap Zahira yang sontak membuat dua pasang mata terbelalak sempurna. Bahkan, iPad milik Rayyan harus terjatuh ke lantai saking terkejutnya.


"Rara, jangan bicara sembarangan!" tegur Arumi.

__ADS_1


"Aku tidak bicara sembarangan, Bun. Kurasa inilah satu-satunya jalan terbaik bagi kami berdua. Dengan bercerai, Shaka bisa kembali ke Ziva tanpa harus memikirkan aku," jawab Zahira dengan suara lirih. Kedua genggaman tangan saling mencengkeram satu sama lain. Jantung rasanya berhenti detak dan keringat dingin muncul membasahi dahi.


Arumi mendekati tubuh sang anak. Diusapnya dengan lembut pundak Zahira. "Nak, dalam berumah tangga ada saatnya kalian bertengkar dan Bunda rasa itu wajah terjadi di antara pasangan suami istri. Bunda dan Ayah pun tak jarang sering terjadi selisih paham hingga menyebabkan pertengkaran hebat. Namun, kami mencoba menyelesaikan masalah itu dengan kepala dingin bukan dengan perpisahan. Lagi pula menurut Bunda, kesalahan Shaka masih bisa dimaafkan. Toh dia tidak terbukti selingkuh apalagi sampai berhubungan badan dengan wanita lain. Jadi, rumah tangga kalian masih dapat diselamatkan."


"Tapi Shaka sudah membohongiku, Bun. Dia tega berbohong demi bertemu Ziva," sergah Zahira cepat. Bibir gemetar dan sepasang mata nyaris mengeluarkan air mata merasa miris karena statusnya sebagai istri tidak dihargai oleh Shaka.


"Iya, Bunda mengerti bagaimana perasaanmu saat dibohongi oleh Shaka. Bunda pun pernah merasakannya, Nak. Bahkan Bunda pernah merasakan sesuatu yang lebih menyakitkan lagi daripada dibohongi suami," tutur Arumi. Ia masih mencoba membujuk Zahira agar tak bercerai dari Shaka.


"Najma Zahira! Pernikahan bukan merupakan sebuah permainan yang bisa kamu mainkan sesuka hati saat kamu bosan bisa diakhiri begitu saja. Ketika suamimu duduk di hadapan penghulu dan prosesi ijab kabul dilakukan ada janji suci yang diucapkan secara tidak langsung di hadapan Tuhan," suara tegas Rayyan terdengar setelah ia berhasil mengendalikan emosinya. Walaupun merasa geram atas sikap Shaka yang telah menyakiti hati putrinya tetapi ia tidak mau kalau rumah tangga Zahira dengan Shaka yang baru seumur jagung kandas begitu saja.


"Pernikahan merupakan sesuatu hal sakral, jangan dibuat main-main," tandas Rayyan.


Zahira terdiam beberapa saat kala suara dingin tersirat penuh ketegasan terdengar di telinga. Ucapan Rayyan memang benar, ia tak menampik semua itu.


Pernikahan memang bukan merupakan sebuah permainan tapi adalah sebuah moment sakral yang hanya dilakukan sekali seumur hidup. Namun, bagaimana jadinya bila pernikahan itu terjadi tanpa adanya cinta di antara salah satu pengantin? Mungkinkah pernikahan itu akan berujung bahagia?


"Aku paham dengan semua yang Ayah katakan. Namun, aku tetap ingin mengakhiri pernikahan ini. Tak peduli apakah pernikahan kami hanya seumur jagung atau seumur singkong. Terpenting saat ini aku bisa melepaskan Shaka untuk mengejar kebahagiaannya sendiri." Tanpa memberikan kesempatan kepada kedua orang tuanya, Zahira bangkit dari kursi dan meninggalkan taman belakang rumah menuju kamar Shakeela.


"Shiit! Aku harus segera meminta bantuan Mama untuk membujuk Zahira," kata Shaka sembari bersembunyi di balik pilar besar dekat taman belakang. Rupanya sejak tadi dia menguping percakapan antara istri dan mertuanya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2