Pengantin Pengganti Sahabatku

Pengantin Pengganti Sahabatku
Klien Baru Shaka


__ADS_3

Mentari hari menyapa belahan bumi bagian utara Shaka dan Zahira sudah bangun dan bersiap untuk berangkat bekerja. Keduanya berjalan menuju meja makan untuk sarapan. Terlihat Budhe Erna sedang menata makanan yang baru saja matang di atas meja makan. Bola mata wanita itu menatap pasangan suami istri dengan sorot mata penuh kecemasan.


Sebaiknya aku berbicara kepada mereka. Tidak enak rasanya terus berada di tengah pasangan suami istri yang sedang bermusuhan, batin Budhe Erna.


Shaka dan Zahira menyantap hidangan di atas meja tanpa mengucap sepatah kata pun. Mereka tampak khusyuk menyuapkan makanan ke dalam mulut.


“Maaf Den Shaka, Mbak Zahira, bukan Budhe mau ikut campur urusan rumah tangga kalian. Semalam Budhe enggak sengaja mendengar perdebatan antara Aden dan Mbak. Kalau boleh, Budhe ingin memberikan nasihat apabila kalian sedang berselisih paham, alangkah baiknya menyelesaikan permasalahan itu dengan kepala dingin."


"Jangan mengedepankan emos! Jika kalian emosi bukannya jalan keluar yang ada, masalah di antara kalian malah semakin memanas. Sangat disayangkan toh kalau rumah tangga yang baru seumur jagung berakhir dengan kata perpisahan. Terlebih, Den Shaka dan Mbak Zahira tampak begitu serasi," ucap Budhe Erna.


"Budhe sekali lagi minta maaf kalau terkesan enggak sopan dan menggurui. Namun, Budhe melakukan ini semua demi kebaikan bersama,” sambung wanita paruh baya itu.


Shaka dan Zahira saling pandang kemudian keduanya tertawa kecil. “Budhe, makasih atas sarannya. Maaf ya tadi malem kami buat Budhe khawatir. Tapi alhamdulillah, aku dan Shaka udah baikan kok,” kata Zahira.


“Sungguh?” tanya Budhe Erna memastikan.


Zahira tersenyum lebar dan berkata manja, “Iih ... masa aku bohong sih. Kalau enggak percaya, tanyain aja sama Shaka.”


“Benar, Budhe. Kami udah berbaikan sekarang. Tadi malam hanya pertengkaran kecil dan semua sudah selesai,” ucap Shaka menimpali.


“Alhamdulillah,” ucap Budhe Erna. Kini dia dapat bernapa lega sebab kedua majikannya tidak terlibat perselisihan lagi.


“Makasih, ya, Budhe udah perhatian sama kami,” ucap Zahira disetujui oleh Shaka.


Budhe Erna cuma tersenyum. "Den Shaka dan Mbak Zahira, udah Budhe anggap seperti anak sendiri jadi kalau kalian kenapa-napa hati Budhe resah. Terlebih Pak Rio dan Bu Rini menitipkan kalian pada Budhe. Kalau terjadi sesuatu, Budhe mau ngomong apa coba kepada Bapak dan Ibu," tutur Budhe Erna.


Shaka dan Zahira hanya tersenyum manis. “Ra, kita berangkat sekarqng yuk!" ajak pria itu kepada istrinya.


Zahira mengangguk. "Budhe, kalau begitu aku dan Shaka pergi dulu. Assalamu a'laikum," ucap gadis itu.

__ADS_1


“Wa'alaikum salam. Hati-hati di jalan," sahut Budhe Erna. Kini dia bisa menjalankan rutinitas seperti biasa tanpa harus mendengar keributan kecil bersumber dari kedua majikannya.


Shaka dan Zahira menangguk kemudian pergi menuju parkiran. Seperti biasa, Shaka yang duduk di balik kursi kemudi. Sementara Zahira duduk manis di sebelah lelaki itu.


Sepanjang perjalanan tak ada percakapan hingga Shaka membuka suara. "Ra, kapan kamu akan berangkat ke Cianjur?"


Zahira menjawab, "Rencananya akan berangkat setelah seminar digelar."


Shaka mengangguk, berat rasanya melepas Zahira pergi ke luar kota tanpa pengawasannya. Namun, dia harus tetap profesional dan menjaga hubungan rumah tangganya dan Zahira agar tetap baik-baik saja.


"Kamu hati-hati di sana. Kalau ada waktu senggang, jangan lupa kasih kabar."


Gadis cantik yang duduk di sebelah Shaka tersenyum lebar. "Iya, kamu tenang aja. Aku pasti akan sering-sering ngasih kabar ke kamu."


Sesampainya di rumah sakit, seperti biasa Shaka mengantarkan Zahira hingga ke ruangannya kemudian pergi menuju kantor milik sang papa. Hanya butuh beberapa menit, dia sampai di kantor.


"Pak Shaka, ini jadwal persidangan yang akan Bapak hadiri." Irhan menyerahkan file ke atas meja kerja atasannya. "Saya pun ingin mengingatkan tentang kasus penipuan yang dua hari lagi akan Bapak tangani."


“Ziva?” gumam Shaka lirih. "Mungkinkah Ziva yang dimaksud adalah mantan tunanganku?"


Tidak ingin menduga-duga, Shaka segera bertanya pada Irhan. "Han, klienku yang terkena kasus penipuan adalah Ziva, model terkenal itu?"


"Betul! Maafkan saya Pak Shaka, terpaksa melakukan ini sebab Nona Ziva memohon kepada saya untuk menyembunyikan identitasnya di hadapan Anda. Itulah kenapa saat Pak Shaka hendak menemuinya di ruang rapat beberapa hari lalu, klien kita pergi tanpa memberi alasan jelas."


Shaka menghembuskan napas pelan. "Kalau saja aku tahu wanita yang dimaksud adalah Ziva, aku pasti menolak kasus ini mentah-mentah."


Irhan bergegas mendekati Shaka. Tampak jelas raut kekhawatiran terlukis di sana. "Pak Shaka tidak bisa mundur dari kasus ini. Kita sudah terikat perjanjian dengan Nona Ziva. Jika Bapak bersikeras menolak maka reputasi kantor firma ini akan hancur."


"Tapi aku tidak bisa membiarkan masalah ini merusak hubungan rumah tanggaku dengan istriku, Han. Aku tidak mau Zahira salah paham dan mengira kalau aku dan Ziva masih berhubungan."

__ADS_1


"Saya mengerti, Pak. Namun, dengan berat hati Bapak tidak bisa membatalkan secara sepihak perjanjian itu sebab kalau sampai masalah ini berembus keluar bisa jadi para klien menganggap kita bekerja secara tidak profesional." Irhan masih mencoba membujuk Shaka untuk tidak bertindak gegabah.


"Aargh! Persetan dengan itu semua!" amuk Shaka sembari bangkit dari kursi kebanggannya. Pria itu pergi begitu saja meninggalkan Irhan yang masih bergeming di tempat. Shaka mengayunkan kaki menuju pengadilan karena ada kasus yang akan ia hadapi pagi ini.


Melihat kemarahan Shaka, membuat Irhan tak punya banyak pilihan. Dia segera berlari ke ruangan Rio, hendak mengadukan hal ini pada pengacara kondang selaku papa dari Shaka dan juga pemimpin kantor firma.


"Begitulah ceritanya Pak Rio. Saya terpaksa melakukan itu atas permintaan," ujar Irhan setelah menceritakan apa yang sebenarnya terjadi menimpa Shaka.


Rio kemudian berpikir, karena apa yang dikatakan putranya itu juga benar, tetapi kembali lagi, ia harus profesional. Seperti yang ia katakan tadi malam, sama seperti Zahira maka Shaka juga sama.


“Biar nanti saya yang akan bicara padanya,” ucap Rio.


Setelah menunggu selama beberapa jam akhirnya Shaka kembali, Rio yang memang sedari tadi menunggu di ruangan Shaka pun menyambut kedatangan putranya. Setelah merasa santai, ia pun mengatakan maksudnya menghampiri Shaka.


"Ka, Papa sudah tahu siapa klien yang akan kamu bantu dalam pengadilan nanti. Kalau boleh jujur, sebenarnya Papa pun masih marah kepada Ziva sebab nyaris saja mencemarkan nama baik keluarga kita. Namun, karena Ziva adalah seorang klien yang meminta bantuan kita maka mau tidak mau, kamu harus menolongnya. Terlepas siapa dan bagaimana hubunganmu dulu dengan wanita itu, kamu hatus tetap bersikap profesional."


"Tapi bagaimana kalau Zahira tidak suka, Pa? Bagaimana kalau dia marah lalu menganggapku lelaki berengsek karena sudah membohonginya lagi?"


Rio beringsut mendekati Shaka. Menepuk pundak putera tercinta pelan. "Rara tidak mungkin marah asalkan kamu berkata jujur tentang ini pada Zahira. Papa yakin, dia pasti mengerti."


“Baiklah. Aku akan mencoba mengatakan masalah ini pada Zahira setelah pulang kerja nanti," kata Shaka.


Rio tersenyum. "Itu lebih baik daripada berbohong di belakang istrimu."


Semoga Tuhan menjaga hubungan rumah tangga kalian, batin Rio.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2