Pengantin Pengganti Sahabatku

Pengantin Pengganti Sahabatku
Pasien Gawat Darurat


__ADS_3

"Hari ini kegiatanmu apa saja, Ra?" tanya Shaka saat duduk di meja makan.


"Aku akan pergi ke rumah sakit seperti biasa, Ka. Kebetulan Ayah memintaku hadir dalam rapat pembahasan acara seminar yang akan diadakan satu bulan lagi. Ayah ingin aku turut serta dalam acara tersebut," jawab Zahira sambil menuangkan makanan ke atas piring untuk Shaka. Meskipun ia masih sakit hati atas perkataan suaminya kemarin sore, tetapi gadis itu tetap menjalankan perannya sebagai istri yang baik bagi Shaka.


"Jam berapa pulang? Biar nanti aku jemput di rumah sakit. Kebetulan siang ini aku ingin bertemu Nicholas, teman sekelas kita sewaktu kelas dua SMA dulu. Kamu masih ingat dia, 'kan?"


Tampak Zahira berpikir keras, mengingat siapakah Nicholas yang tengah dibicarakan oleh Shaka. Lantas, ia kembali teringat akan seorang pria blasteran yang merupakan teman sebangku Shaka saat mereka sama-sama masih SMA dulu.


"Iya, inget. Memangnya kalian masih saling komunikasi sampai sekarang?" tanya Zahira. Sedikit penasaran apakah kedua lelaki itu masih saling memberikan kabar setelah mereka lulus sekolah. Seingat Zahira, Nicholas melanjutkan kuliah di Singapura mengambil jurusan teknologi di salah satu kampus terkenal di negara yang identik dengan ikon singa.


"Masih. Walaupun kami memilih kampus, jurusan berbeda serta terpisah jarak dan waktu, tapi silaturahmi antara aku dan dia masih terjalin hingga sekarang." Shaka menyuapkan makanan ke mulutnya. "Semalam dia menghubungiku dan memberitahu kalau saat ini sedang berada di Indonesia. Lalu, dia mengajak ketemuan. Jadi, aku ingin mengajakmu sekalian. Setelah itu baru kita pulang apartemen. Kebetulan lokasinya tidak begitu jauh dari rumah sakit tempatmu bekerja."


Zahira menarik napas dalam, kemudian mengembuskan secara perlahan. Sejujurnya ia tidak ingin bertemu dengan siapa pun dalam keadaan suasana hati sedang kacau karena takut akan berimbas pada pertemuan mereka nanti. Namun, menolak ajakan Shaka pun rasanya sulit sebab tidak mau mengecewakan pria itu. Aah ... lagi dan lagi si cantik jelita berkorban demi suami tercinta.


"Aku pulang kerja sekitar jam dua siang. Nanti kabarin saja mau jemput jam berapa. Jadi, saat kamu tiba di depan pintu masuk rumah sakit, aku sudah siap dan kita bisa langsung jalan ke lokasi," kata Zahira. Pada akhirnya ia mengalah dan menuruti permintaan sang suami.


***


Zahira berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang baru dua minggu ini menjadi tempat bagi gadis itu untuk mengaplikasikan ilmu yang dimiliki selama mengenyam pendidikan di negeri sakura. Walaupun terlahir sebagai anak dari pemimpin rumah sakit tersebut tetapi ia bekerja secara profesional. Tak mau dianggap sebagai anak emas dan mendapat keistimewaan dari seluruh tenaga medis yang bekerja di rumah sakit Persada International Hospital.


"Selamat pagi, Dokter Zahira," sapa salah satu perawat yang kebetulan berpapasan dengannya di lorong menuju ruangan khusus bagi dokter jaga IGD.


"Selamat pagi, Sus. Sudah mau pulang?" Zahira bertanya dengan ramah. Tak lupa, seulas senyuman manis ia berikan kepada seorang wanita berseragam perawat.


"Benar, Dok," balas perawat itu. "Saya permisi duluan, ya, Dok. Mari!"


Selepas kepergian perawat wanita itu, Zahira mengayunkan kaki menuju ruang IGD. Mengenakan snelli putih, rambut di cempol ala wanita Korea dan stetoskop yang menggantung di leher menunjukan bahwa ia siap memberikan pertolongan kepada pasien yang membutuhkan.


Baru saja dokter cantik itu menjejakan kaki jenjangnya di ruangan IGD sebuah pengumuman melalui pengeras suara menggema memenuhi penjuru ruangan.

__ADS_1


"Code blue! Code blue! Pintu pengunjung selatan," kata seseorang melalui pengeras suara.


Suara nyaring itu cukup terdengar jelas di telinga Zahira. "Suster Irma, kamu ikut denganku sedangkan Suster Laras, kamu stand by di sini sambil menunggu Dokter Firman datang," titah gadis itu.


"Baik, Dokter!" sahut kedua perawat wanita yang kebetulan mereka mendapat jadwal shift pagi hampir bersamaan.


Tanpa membuang waktu terlalu lama, Zahira berjalan setengah berlari menuju tempat kejadian disusul Irma yang mengekori di belakang seraya membawa sebuah troli besi berisi alat monitor.


"Apa yang terjadi?" tanya Zahira sesaat setelah tiba di tempat kejadian. Ia meminta penjelasan kepada salah satu dari tiga orang perawat yang sedang melakukan kompresi dan ventilasi.


Perawat wanita yang sedang terduduk di bagian atas kepala pasien menjawab, "Ditemukan laki-laki tidak sadarkan diri. Tidak ada nadi dan tidak ada napas. Sudah diberikan kompresi, Dok."


"Lanjutkan kompresi dan ventilasi, lalu tambahkan dengan ambu bag. Siapkan ambu bag!" titah Zahira seraya memperhatikan seorang perawat berkerudung melakukan kompresi dada dengan cara memijat bagian jantung luar pada pasien. (tim kompresi dada).


Lantas, perawat wanita yang bertugas menjadi tim air way dan ventilasi mempersiapkan alat ambu bag. Bagian masker yang merupakan komponen dari alat tersebut terpasang di wajah sehingga hidung dan mulut pasien tertutupi sempurna oleh alat tersebut.


Perawat berhijab ungu terus melakukan kompresi dada selama dua menit, setelah itu ia kembali mengecak nadi dan pernapasan pasien. Akan tetapi, nadi dan pernapasan pasien masih belum ada.


"Persiapkan alat monitor EKG dan injeksi epinephrine 1 ml plus infus Nacl 2 cc." Zahira kembali memberikan titah kepada dua orang perawat lelaki yang posisinya berada di samping kanan kiri pasien.


Sebelum memasangkan sebuah alat monitor, terlebih dulu pakaian yang dikenakan pasien dilepas kemudian salah seorang perawat menempelkan bundaran atau pads di bagian dada pasien. Dari layar monitor, dapat terlihat jelas bagaimana irama jantung pasien.


"Irama asistol!" ucap seorang perawat lelaki.


Asistol sendiri merupakan ritme jantung yang mengancam nyawa yang dicirikan tidak adanya aktivitas elektrik elektrokardiogram. Kondisi ini apabila tidak segera ditangani maka akan menyebabkan kematian.


"Injeksi epinephrine dan infus Nacl, masuk!" sahut yang lain.


"Lanjutkan dengan advanced airway (ETT)." Zahira tampak begitu fokus. Terlihat jelas dari bola matanya yang terus memperhatikan keempat rekan kerjanya saat memberikan pertolongan kepada pasien yang didiagnosa mengalami henti jantung.

__ADS_1


Lalu, seorang perawat yang tergabung dalam tim airway segera memasukan sebuah alat ETT ke dalam trachea untuk memastikan tidak tertutupnya trachea sebagai saluran pernapasan dan udara pernapasan dapat masuk melalui paru-paru. Setelah melakukan RJP (Resusitas Jantung Paru) sebanyak lima siklus, perawat kembali memeriksan nadi dan pernapasan pasien.


"Nadi teraba dan pernapasan terdengar." Seorang perawat memberitahu kondisi pasien terkini usai diberikan pertolongan berupa kompresi, ventilasi dan terapi obat-obatan.


"Langsung pindahkan pasien ke ruangan. Setelah itu akan kita monitor kembali kondisi pasien."


Setelah tugasnya selesai, Zahira duduk di kursi kerjanya di IGD sambil beristirahat sejenak sebelum pergi menuju ruang rapat. Irama jantung gadis itu sempat berdegup lebih kencang saat menangani pasien barusan. Meskipun mempunyai skill dan kepintaran yang diturunkan oleh kedua orang tuanya, tetapi saja ia merasa gugup bila harus berhadapan langsung dengan seorang pasien terlebih pasien itu termasuk ke dalam kondisi gawat darurat. Telat sedikit saja maka nyawa seseorang akan melayang.


"Dokter Zahira, hebat euy! Saya kagum sama Dokter," celetuk Irma seraya mengangkat dua ibu jari ke udara. Perawat wanita itu berdecak kagum saat melihat Zahira tampak begitu fokus memberikan arahan kepada keempat perawat.


Masih dengan kondisi jantung yang berdetak lebih kencang, gadis itu memaksakan diri untuk tersenyum. "Terima kasih atas pujianmu, Suster. Tapi, aku masih harus banyak belajar lagi sama dokter senior yang ada di sini. Ilmuku belum ada apa-apanya jika dibandingnya dengan dokter yang lain."


"Iih ... Dokter Zahira mah terlalu merendah," timpal Laras. Perawat berhijab putih ikut menimpali perkataan rekan kerjanya. Kebetulan suasana IGD cukup sepi sehingga mereka bisa bercengkrama sambil bersenda gurau.


"Tapi saya benar-benar mengagumi kinerja Dokter tadi, begitu responsif dan cepat tanggap." Irma masih mengungkapkan kekagumannya akan sosok dokter muda di hadapannya.


"Semua dokter yang bertugas di IGD memang seharusnya responsif dan cepat tanggap, Sus. Kalau tidak nyawa pasien tidak tertolong. Coba kalian perhatikan Dokter Tasya ataupun Dokter Firman, mereka pun bertindak cepat saat mendapatkan pasien gawat darurat. Jadi, apa yang aku lakukan tadi bukanlah hal istimewa yang harus dibanggakan."


Tidak mau hanyut dalam pujian orang lain yang malah membuatkan sombong, riya dan mempunyai penyakit hati lainnya, Zahira bergegas bangkit dari kursinya. "Suster Irma dan Suster Laras, aku tinggal dulu. Takut terlambat sampai di ruang rapat. Mari, Suster!"


.


.


.


Halo semua, author mau mempromosikan karya bagus milik temen author nih. Yuk dikepoin.


__ADS_1


__ADS_2