Pengantin Pengganti Sahabatku

Pengantin Pengganti Sahabatku
Happy Birthday, Shaka Abimana


__ADS_3

Tepat pukul 00.00 WIB, alarm telepon genggam milik Zahira berbunyi. Ia sengaja memasang alarm sebab ingin menjadi orang pertama yang mengucapkan 'selamat ulang tahun' kepada suami tercinta.


Zahira pandangai wajah rupawan Shaka dengan begitu lekat. Semakin lama kadar cinta dalam diri wanita itu semakin besar. Shaka Abimana telah merebut seluruh hati milik seorang Najma Zahira.


Tangan Zahira terulur ke depan, menyentuh kening, hidung, bibir dan dagunya yang ditumbuhi bulu-bulu halus sembari berkata, "Happy birthday to you, Sayang. Semoga apa yang kamu cita-citakan dapat terkabul tahun ini." Perkataan wanita itu diakhiri sebuah kecupan singkat di bibir Shaka.


Tubuh Shaka menggeliat saat merasakan sentuhan lembut di bibirnya. "Sayang, kenapa enggak tidur? Kamu butuh sesuatu?" tanya lelaki itu dengan suara serak khas orang bangum tidur. Ia belum menyadari kalau hari ini adalah hari kelahirannya. Mungkin karena terlalu banyak urusan yang harus dikerjakan membuat ia melupakan hari spesial sepanjang sejarah.


Seulas senyuman manis Zahira berikan untuk suami tercinta. "Aku tadi kebangun karena teringat sesuatu."


Shaka mengernyitkan kedua alis, menatap penuh tanya pada sosok perempuan di depannya. Posisi mereka saling berhadapan hingga lelaki itu dapat merasakan hawa panas berasal dari embusan napas sang istri.


"Teringat apa? Emangnya kamu melupakan sesuatu, hem?"


Jemari lentik Zahira menangkup wajah Shaka. Kembali menatap lekat iris coklat lelaki itu. "Aku teringat kalau hari ini adalah hari ulang tahunmu. Happy birthday, Shaka Abimana. Suamiku tercinta."


Ada perasaan haru berkecamuk di dalam dada tatkala mendengar ucapan Zahira. Ini merupakan kali pertama istrinya mengucapkan ucapan selamat ulang tahun setelah enam tahun berpisah. Dan itu rasanya seperti bunga sakura bermekaran di musim semi. Ribuan kupu-kupu terbang dari dalam perut, kemudian menari indah di udara. Aah ... rasanya bahagia sekali.


Legan berotot Shaka membawa tubuh mungil Zahira dalam pelukan. Ia kecup kening istrinya dengan penuh cinta. "Terima kasih, Sayang, karena kamu hadir dalam hidupku. Aku merasa beruntung telah dipertemukan dengan perempuan yang nyaris mendekati kata sempurna. Untung saja kamu memberiku kesempatan kedua, coba kalau enggak, mungkin saat ini aku akan hidup dalam kehampaan karena kehilangan sesuatu yang begitu berharga dalam hidupku. Sekali lagi, terima kasih, ya?"


Zahira mendongakan kepala. "Shaka, jangan pernah tinggalin aku. Aku enggak tahu harus bagaimana kalau kamu pergi dari sisiku. Aku--"


Si dokter cantik bermata sipit tidak meneruskan kalimatnya. Bibir sudah dibungkam oleh ciuman Shaka.

__ADS_1


"Justru aku yang enggak mau kamu pergi dariku, Ra. Aku bodoh karena enggak peka terhadap perasaanku sendiri hingga membuat kita berpisah. Setelah diberikan kesempatan kedua, mana mungkin aku melepaskanmu begitu saja. Kita akan hidup bersama selamanya."


Zahira meletakkan wajah di antara wajah dan leher suaminya. Ia ingin tidur meringkuk di sana bersama pelukan Shaka. "Ayo, tidur. Besok kita harus kembali beraktivitas seperti sedia kala," bisiknya mencium leher sang suami.


"Kamu enggak kasih kado gitu, buat aku?"


"Nanti malam aja. Aku udah menyiapkan sebuah kado spesial buat kamu." Sebelah mata Zahira mengerling nakal, menggoda sang suami.


Zahira memang sudah menyiapkan kado spesial untuk suami tercinta apalagi kalau bukan berita kehamilannya. Namun, ia akan mengemas semua itu dengan begitu sempurna agar memberikan kesan tersendiri bagi Shaka. Kesan yang tidak akan pernah dilupakan seumur hidup.


Mereka saling menatap syahdu dengan helaan napas bahagia. Shaka membelai wajah Zahira.


"Aku enggak memaksa kamu menyiapkan kado untukku. Terpenting kamu selalu ada di sisiku, itu merupakan sebuah kado terindah dalam hidupku." Shaka menghentikan sejenak kalimatnya, mencoba mengendalikan debaran halus di dalam hati. "I love you, Sayang."


"Love you too, Sayang."


Keesokan harinya seperti biasa Shaka akan mengantarkan Zahira pergi ke rumah sakit terlebih dulu sebelum akhirnya melajukan kendaraan roda empat miliknya ke kantor firma milik sang papa. Walaupun jarak apartemen dan rumah sakit peninggalan Mei Ling cukup jauh, memakan waktu sekitar empat puluh menit, tapi Shaka tidak pernah mengeluh sedikit pun. Ia merasa beruntung sebab punya banyak waktu berduaan dengan istri tercinta.


"Sayang, nanti malam kita makan malam di restoran biasa, yuk? Aku sedang malas masak dan enggak napsu makan makanan rumahan," ujar Zahira tatkala ia dan sang suami ada di dalam mobil.


"Kenapa? Bosan?"


Zahira mengangguk. "Benar! Lagi pula kita udah lama banget enggak makan di luar. Pasti rasanya seru bisa makan malam bersama dengan seseorang yang kita cintai, ditemani cahaya rembulan dan gemerlap bintang di atas sana."

__ADS_1


Sebetulnya Zahira sama sekali tidak merasa bosan. Ia malah lebih menyukai masakan rumahan ketimbang membeli di restoran ataupun rumah makan walau dari segi rasa dan kebersihan tidak perlu diragukan, tapi entahlah wanita cantik itu lebih tenang apabila mengolah sendiri makanan yang hendak disantap bersama suami tercinta. Mungkin karena sejak kecil tidak pernah dibiasakan membeli makanan di luaran meski setumpuk uang lembaran seratus ribuan rupiah mendekam di akun rekening Rayyan, tapi Arumi tetap memasak makanan untuk suami dan keempat anak-anaknya. Oleh karena itu, Zahira pun mengikuti jejak sang bunda untuk terus memasak di rumah.


"Kamu atur aja, deh, Sayang. Aku ikut apa katamu."


Tak berselang lama, mereka telah memasuki pekarangan rumah sakit. Kendaraan Shaka berhenti tepat di depan pintu masuk lobi utama. Lelaki itu mematikan mesin mobil, kemudian turun dan memutar ke pintu sebelah kiri demi membukakan pintu untuk istri tercinta.


"Ayo, turun!" ucap Shaka sembari mengulurkan tangan ke hadapan Zahira.


Dengan senyuman mengembang di sudut bibir, Zahira menerima uluran tangan itu. "Terima kasih, Suamiku." Sengaja berbicara dengan suara dibuat seimut mungkin. Ia menunjukan sisi manjanya di hadapan suaminya. Dan itu semakin membuat Shaka jatuh cinta karena menjadi satu-satunya lelaki yang melihat sisi menggemaskan dari seorang Najma Zahira.


"Sayang, jangan lupa nanti malam! Pukul tujuh tepat kamu udah ada di restoran. Aku enggak mau kamu sampai telat," kata Zahira sebelum masuk ke dalam lobi.


Tangan Shaka menyisir helaian rambut Zahira yang sedikit berantakan menggunakan jarinya. "Iya, aku enggak akan telat. Udah sana masuk! Kalau telat, nanti kena tegur Ayah, loh!"


Setelah berpamitan, Zahira bergegas mengayunkan kakinya ke dalam gedung rumah sakit. Sementara Shaka melajukan kendaraannya menuju kantor hukum tempatnya mengais rezeki.


[David, tolong kamu padatkan semua agenda saya di pagi dan siang hari. Saya enggak mau saat sore hari masih berkutat dengan pekerjaan.]


Sebuah pesan singkat Shaka kirimkan kepada orang kepercayaannya. Dia melakukan itu semua demi memenuhi janjinya kepada istri tercinta.


Tak berselang lama, David membalas pesan singkat dari Shaka. [Baik, Pak Shaka. Saya akan melakukan apa yang Bapak minta.]


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2