
|| Jakarta ||
Jika hari biasanya Nizam tampak bersemangat saat memasuki gedung mewah nan megah bagai hotel bintang lima, tapi kali ini berbeda. Lelaki berusia dua puluh enam tahun terlihat lesu tak bertenaga tatkala mengayunkan kaki memasuki lobi rumah sakit. Setiap kali masuk ke dalam gedung tersebut hatinya terasa hampa seperti ada sesuatu yang hilang.
“Masih tersisa dua hari lagi, tapi kenapa rasanya lama sekali? Aah ... andai aja diperbolehkan mengambil cuti, sudah bisa dipastikan saat ini aku menyusul Rara dan suaminya yang sedang berbulan madu di Jepang. Namun, sayang, pekerjaan menumpuk dan aku enggak bisa melepaskan tanggung jawab begitu aja. Apalagi aku merupakan dokter baru dibanding yang lain. Kalaupun memang enggak sibuk, aku sangsi Dokter Melisa akan menandatangani surat pengajuan cutiku,” gumam lelaki itu lirih. Tak ingin terlambat dan mendapat teguran dari kepala bangsal, Nizam memutuskan untuk masuk ke dalam lift yang akan membawanya menuju salah satu bangsal tempatnya bekerja.
Tatkala lift itu berdenting dan terbuka, Nizam bergegas keluar dan kembali mengayunkan kaki menuju salah satu ruangan yang berada di sudut paling pojok. Lelaki itu meletakkan tas ransel miliknya, kemudian mengenakan snelli putih membungkus tubuhnya yang dibalut kemeja warna navy. Alih-alih memulai aktivitasnya dengan memeriksa catatan medis pasien, lelaki itu malah berdiri di dekat jendela kaca, memperhatikan keramaian di bawah dengan tatapan menerawang.
“Ra, kamu lagi apa? Kok pesan yang kukirimkan enggak sekalipun kamu balas. Apa kamu benar-benar sibuk hingga tak punya waktu membalas pesanku?” bergumam sambil terus menatap keluar jendela. Tatapan Nizam menerawang jauh, seolah jiwanya tersesat.
Sementara itu, Hanna—rekan sejawat Zahira yang baru beberapa hari dipindahtugaskan ke bangsal Teratai baru saja tiba dengan menjinjing tote bag di tangan kanan. Mengulas senyuman manis saat berpapasan dengan rekan kerjanya. “Sebaiknya aku langsung ke ruangan Dokter Nizam, mengantarkan makanan ini. Aku yakin, dia pasti menyukainya.” Bola mata wanita itu semakin berbinar saat membayangkan sang pujaan hati menyantap makanan buatannya dengan lahap.
Di depan pintu berwarna putih bertuliskan nama dr. Nizam, Hanna berdiri dengan degup jantungnya yang berdetak kencang. Walaupun sudah beberapa kali keluar masuk ruangan itu, tapi tetap saja jantung wanita itu berparade ria tatkala hendak bertemu dengan lelaki yang disukai. “Come on, Hanna, kendalikan jantungmu jangan sampai kegugupanmu merusak suasana!”
Tangan Hanna terulur ke depan, kemudian mengetuk daun pintu itu sebanyak tiga kali. Namun, tak ada sahutan dari seberang sana. "Kenapa sepi? Apa Dokter Nizam belum datang? Aah ... enggak mungkin, Dokter Nizam tak pernah datang terlambat bahkan dia selalu datang beberapa menit sebelum shift pagi dimulai."
Karena penasaran, akhirnya Hanna memutuskan memutar handle pintu hingga membuat pintu tersebut terbuka lebar. Wajah sumringah dengan terus mengulum senyuman di wajah. Apa kubilang, Dokter Nizam enggak mungkin ngaret. Buktinya jam segini dia udah rapi dan terlihat keren dalam balutan snelli putih, batin wanita itu saat ekor matanya melihat Nizam berdiri membelakanginya.
"Selamat pagi, Dokter Nizam?" ucap Hanna ramah. Langkah kecil wanita itu masuk ke dalam ruangan yang di dalamnya terdapat lima set meja kerja lengkap dengan kursi, monitor dan keyboard, loker yang berfungsi menyimpan barang bawaan para dokter dan rak buku.
__ADS_1
Akan tetapi, Nizam bergeming sedikit pun. Ia masih tetap fokus memandangi keadaan di luar dari jendela kaca di ruangan itu.
Karena merasa hubungan di antara mereka semakin dekat, Hanna berinisiatif mendekati Nizam. Ia berjalan dengan sangat hati-hati, mengendap-endap seperti seorang maling dan berhenti tepat di belakang lelaki itu. Wanita itu mengulurkan tangan ke depan dan menepuk pundak dengan sangat pelan.
"Dokter Nizam!" ucap Hanna sembari menyunggingkan senyuman di sudut bibir.
Nizam terlonjak kaget dan lamunannya pun buyar seketika. Merasa kesal karena kegiatannya diganggu seseorang, ia membalikan badan dan mendapati Hanna tengah tersenyum lebar dengan wajah sumringah.
"Sedang apa kamu di sini? Siapa yang mengizinkanmu masuk? Lancang sekali kamu masuk ke ruangan ini tanpa mengetuk pintu dulu!" bentak Nizam dengan meninggikan suara. Kilatan emosi terpancar jelas di sepasang bola mata lelaki itu.
Hanna membeku di tempat, ia tak menyangka Nizam akan membentak dirinya hanya karena hal sepele. Seingatnya dia telah mengetuk pintu, lalu kenapa Nizam begitu marah kepadanya?
Dengan gerakan cepat Hanna menghapus air matanya. "Maafkan aku, Dokter Nizam, aku enggak bermaksud mengganggumu. Tadi aku datang ke sini cuma ingin memberikan sarapan untukmu, tapi sepertinya aku datang di waktu yang enggak tepat."
"Aku emang salah karena masuk begitu saja tanpa izin darimu, tapi aku masih punya sopan santun untuk mengetuk ruangan orang lain terlebih dulu. Hanya saja, si pemilik ruangan tidak merespon ucapanku hingga akhirnya aku masuk ke dalam ruangan ini," jawab Hanna. Di dalam hati membisikkan kalimat-kalimat menguatkan untuk tidak menangis, memperlihatkan kelemahannya di hadapan Nizam.
Menguatkan diri untuk terus berbicara walaupun sesak terasa menusuk segenap bagian di dalam dada. "Sekali lagi aku minta maaf karena sudah mengganggumu. Lebih baik aku pergi sekarang, permisi."
Masih dengan suasana hati hancur, Hanna membalikan badan. Ia memilih meninggalkan ruangan itu tanpa berniat berlama-lama berada dalam ruangan yang sama dengan Nizam.
__ADS_1
Di sepanjang lorong menuju kamar kecil, Hanna tak henti-hentinya menangis. Ia sekuat tenaga menahan agar air matanya tak jatuh, tapi usaha wanita itu sia-sia. Bayangan saat Nizam membentak dirinya dengan suara menggelegar masih terekam jelas di ingatan wanita itu.
Jujur, Hanna kecewa atas sikap Nizam barusan. Ia pikir lelaki itu akan bahagia, saat mendapati dirinya berada di ruangan itu sambil membawa tote bag berisi kotak makanan. Namun, rupanya prediksinya salah, kehadirannya sama sekali tak membuat Nizam bahagia.
"Ya Tuhan, kenapa rasanya sakit sekali? Padahal seharusnya aku bersikap biasa saja, tapi kenapa hatiku hancur saat Dokter Nizam membentakku?" berucap di sela isak tangis. Hanna memukul-mukul telapak tangan sebelah kanan di pahanya untuk melampiaskan kekecewaan dan rasa sakit yang dialaminya. Ia cukup terguncang karena untuk pertama kalinya Nizam berlaku kasar kepadanya.
Di saat Hanna tengah meluapkan isi hatinya lewat tangisan, tampak Nizam masih terdiam di kursinya mencoba mencerna kembali apa yang baru saja terjadi. Tanpa sengaja bola mata lelaki itu melihat tote bag warna putih tergeletak di atas meja kerjanya.
Mengulurkan tangan ke depan, membuka isi dari tote bag tersebut. Alangkah terkejutnya Nizam saat mendapati kotak makanan berisi makanan kesukaannya. "Aargh! Sialan! Kenapa aku bisa lepas kendali begini, sih?" teriak lelaki itu sambil mengusap wajahnya menggunakan telapak tangan, ia tampak frustasi. "Gara-gara memikirkan Zahira, aku jadi melukai perasaan Dokter Hanna."
Lantas, Nizam keluar dari ruangan dan berjalan menuju ruangan Hanna. Lelaki itu ingin meminta maaf atas kejadian barusan. Namun, saat telah sampai di ruangan itu, ia tak menemukan keberadaan Hanna sama sekali.
"Ke mana perginya Dokter Hanna? Kenapa dia enggak ada di ruangan ini?" tanya Nizam sambil mengedarkan pandangan ke sekitar. Ruangan itu masih sepi, tak ada satu orang pun berada di sana.
.
.
.
__ADS_1