
Rini turun dari lantai dua. Di ruang keluarga sudah ada Arumi, Rayyan dan anak bungsunya--Shaka. Raut wajah ketiga orang di bawah sana terlihat begitu tegang terlihat dari tautan tangan yang saling mencengkeram satu sama lain.
"Mama, bagaimana hasilnya? Apakah Zahira tetap dengan keputusannya atau dia memberi kesempatan kedua kepadaku?" tanya Shaka sembari berhambur dan mendekati sang mama. Sejak tadi dia menunggu dengan harap-harap cemas.
"Kamu ini ya, bukannya membantu Mama turun dari tangga malah langsung nyerocos tidak karuan," tegur Rini dengan meninggikan nada suara.
"Maaf, Ma. Tadi aku terlalu panik sampai lupa sama Mama," sahut Shaka. Tanpa diminta untuk kedua kali, dia segera memapah mamanya menuruni anak tangga hingga sandal slop yang dikenakan menjejak di lantai.
"Bagaimana?" tanya Arumi setelah sahabatnya duduk di sofa sebelahnya.
Rini mengangkat ibu jari dan jari telunjuk ke udara hingga membentuk huruf O. "Aman. Rara tidak jadi menggugat cerai Shaka. Namun, dia masih belum bisa memaafkan kesalahan Shaka. Dia butuh waktu untuk mengobati luka hati yang ditorehkan oleh suaminya."
Semua orang yang ada di ruangan itu menghela napas lega sebab nasib malang yang pernah menimpa Arumi tak akan terulang lagi kepada anak ketiga dari keluarga Wijaya Kusuma. Termasuk Shaka, wajah pria itu langsung sumringah disertai senyuman lebar hingga menampilkan lesung pipi di sudut bibir.
"Yes! Akhirnya aku tidak jadi duda!" ucap Shaka lirih bagaikan desau angin di musim gugup. Kendati begitu, Rini, Arumi dan Rayyan masih dapat mendengar jelas perkataan sang pengacara.
"Walaupun tidak jadi duda, bukan berarti kamu bisa seenaknya menyakiti hati Putriku lagi. Jika kamu melakukan kesalahan untuk kedua kali, bisa kupastikan statusmu berubah menjadi duda hanya dalam satu bulan. Aku akan menggandeng Papamu sebagai pengacara yang menangani kasus perceraian kalian biar kamu tidak bisa macam-macam lagi!" dengkus Rayyan kesal.
Meskipun dalam hati merasa bersyukur karena Rini berhasil meluluhkan hati Zahira dan anak tercinta bersedia memberikan kesempatan kedua untuk Shaka, tapi dia tidak segan-segan bertindak tegas jika di kemudian hari menantunya melakukan kesalahan yang sama.
"Jangan senang dulu! Kamu masih punya PR besar untuk meluluhkan hati Zahira. Tunjukan keseriusanmu dan akui kalau kamu memang merasa bersalah. Mama yakin sekali setelah ini sikap dia akan berubah. Jadi, berusahalah dengan keras agar istrimu mau memaafkan dan hubungan kalian membaik seperti sedia kala." Rini ikut menimpali perkataan Rayyan.
__ADS_1
"Baik, Ayah, Mama." Kini, Shaka dapat bernapas lega dan tidur nyenyak karena kemelut rumah tangganya bersama Zahira telah selesai. Tingga mencari cara bagaimana mencarikan sikap sang istri yang terlanjur membeku.
Arumi yang duduk di apit oleh suami dan sahabatnya hanya tersenyum menyaksikan bagaimana posesifnya suami tercinta saat ada seseorang yang menyakiti perasaan buah cinta mereka. Sejak dulu lelaki itu memang over protective terhadap istri serta kedua anak perempuannya. Beruntungnya Arumi, Zahira dan Shakeela dapat memaklumi hingga mereka tak merasa terkekang, tertekan ataupun kesal karena sikap berlebihan Rayyan.
Kuharap dengan masalah ini menjadikan kalian semakin dewasa, tutur Arumi dalam hati.
***
Siang harinya Shaka membawa kembali Zahira ke apartemen yang selama hampir satu bulan ini menjadi tempat bernaung bagi mereka. Si bungsu dari tiga bersaudara berjanji akan mulai hidup baru bersama sang istri dan melupakan bayang-bayang masa lalu meski untuk melupakan Ziva membutuhkan waktu lama tapi dia akan berusaha keras demi menjaga keutuhan rumah tangganya bersama Zahira.
"Budhe, tolong bawakan koper Zahira ke kamar!" pinta Shaka ketika mereka baru saja tiba di apartemen.
Mendapat perintah dari anak majikannya, tentu saja budhe Erna bergegas menjalankan tugasnya itu. Namun, saat dia menarik koper itu menuju kamar Zahira tiba-tiba saja ....
Suara bariton Shaka menggema memenuhi penjuru ruangan membuat budhe Erna menghentikan langkah. Membalikan badan secara perlahan, lalu dengan tergagap dia berkata, "K-ke kamar Mbak Zahira, Den. T-tadi 'kan, Aden minta saya bawa koper ini ke kamar."
Melihat tatapan tajam bagaikan seekor elang yang siap menerkam mangsanya, budhe Erna segera menundukan kepala tak berani memandangi wajah sang majikan. Bulu kudu meremang disertai keringat dingin muncul ke permukaan.
Shaka terdiam, kemudian menghela napas panjang. "Bawa koper itu ke kamar utama. Mulai malam ini, Zahira tidur di kamarku."
Sepasang mata sipit membulat sempurna kala mendengar titah Shaka. Sang empunya koper bergegas menghampiri suaminya. "Shaka! Kamu apa-apaan sih! Kenapa mengambil keputusan secara sepihak, enggak diskusi dulu sama aku."
__ADS_1
Dengan lemah lembut Shaka menjawab, "Kenapa harus diskusi dulu? Bukankah pasangan suami istri seharusnya tidur di kamar yang sama? Lalu, kenapa kita harus tidur di kamar terpisah?"
Shaka mendekati istrinya, kemudian menyentuh pundak Zahira. "Kamarku cukup luas untuk menampung dua orang. Lemariku pun masih banyak space yang bisa kamu gunakan untuk menaruh pakaian, tas dan sepatumu. Kalau memang tidak cukup nanti aku minta orang merenovasi kamar utama agar bisa menjadi satu dengan kamar tamu sehingga walk in closet-nya semakin luas."
Zahira menepis kedua tangan Shaka yang menempel di pundak. "Tidak perlu. Lagi pula, untuk apa kita sekamar. Bukankah kamu alergi kalau tidur satu kamar denganku? Buktinya saat pertama kali datang ke sini kamu langsung menunjukan kamar mana saja boleh aku tinggali kecuali kamar utama."
Menarik napas panjang, Shaka sadar ternyata sulit sekali mencairkan gunung es dalam diri Zahira. Dia tidak menyalahkan istrinya sebab dinginnya sikap gadis itu disebabkan oleh dirinya sendiri.
"Aku memang salah karena sudah membangun benteng tinggi di hari pertama pernikahan kita. Enggak seharusnya aku bicara begitu sama kamu. Kamu itu istriku ke mana pun dan di mana pun aku berada seharusnya ada di kamu di sisiku tapi aku malah memintamu menjauh. Maafin aku ya?"
Zahira menggigit bibir bawahnya. Mengerjapkan mata beberapa kali, menghalau buliran kristal yang nyaris meluncur di sudut mata. Hati gadis itu masih terasa sakit bagai ribuan anak panah yang melesak tepat di dada saat mengingat bahwa lelaki yang berstatuskan sebagai suaminya menolak mentah-mentah kehadirannya di apartemen itu. Harga diri merasa diinjak dan pengorbannya terasa tak dihargai oleh pria itu.
"Aku butuh waktu sendiri Shaka. Jadi, please, jangan paksa aku untuk tidur denganmu di kamar utama." Tanpa berlama-lama, Zahira meninggalkan Shaka begitu saja.
"Budhe, biar aku saja yang bawa koper ini. Budhe tolong siapkan makan siang untuk Shaka. Aku capek, ingin istirahat," ucap Zahira sebelum benar-benar pergi meninggalkan ruang tamu.
Shaka menatap kepergian Zahira dengan gemuruh di dalam dada. Menarik napas panjang kemudian mengembuskan secara perlahan. "Bersabarlah Shaka. Ingat dia berubah seperti itu karenamu. Jadi, kamu pun harus merubah Zahira kembali menjadi gadis riang, ramah dan hangat."
.
.
__ADS_1
.