
Zahira membenarkan anak rambutnya yang terbang akibat tertiup angin. Sore itu, saat taxi yang ditumpangi hampir tiba di apartemen miliknya, ia meminta sopir tersebut mengantarkannya ke sebuah taman kota yang ada di pusat kota Jakarta. Pepohonan hijau bergoyang seiring arah angin. Dedaunan kering yang berjatuhan di tanah ikut melayang tatkala angin kencang berembus. Langit cerah berubah kelabu sama seperti suasana hati dokter cantik yang saat ini sedang kacau.
Dokter cantik duduk di atas bangku taman, memperhatikan ikan koi yang tampak asyik berenang ke sana kemari. Perlahan, rintik air hujan membasahi bumi. Gadis itu bergeming, ia membiarkan tetesan hujan membasahi seluruh tubuh.
"Apakah memang selamanya aku tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk menjadi gadis yang kamu cintai? Apakah hubungan kita hanya akan menjadi sahabat meski aku dan kamu terikat dalam sebuah ikatan bernama pernikahan?" bergumam lirih sembari menatap lurus ke depan.
Gadis cantik berwajah oriental bangkit dari duduk, kemudian ia merentangkan kedua tangan ke samping kanan dan kiri. Kedua mata terpejam, merasakan setiap tetesan air hujan yang jatuh membasahi tubuhnya. "Tuhan, tolong bukakan sedikit celah untukku agar bisa singgah di hati Shaka, meski hanya sebentar saja." Bibirnya berucap lirih, dalam hati memohon kepada Sang Pencipta dengan bersungguh-sungguh.
Semakin lama, hujan semakin deras diselingi suara gemuruh yang menggelengar saling bersahutan. Para pengunjung taman sibuk menyelamatkan diri agar tidak terkena guyuran air hujan, tapi tidak bagi Zahira. Ia terus berdiri dengan mata terpejam menikmati setiap tetesan air yang jatuh ke bumi.
Sekelebat bayangan masa lalu kala ia dan kedua kakak kembarnya serta Shaka masih kanak-kanak terlintas dalam benak gadis itu. Mereka berempat tampak begitu asyik bermain di bawah guyuran air hujan. Tidak memedulikan seruan orang dewasa yang meminta Triplet dan Shaka untuk menghentikan aksi mereka.
Mengulum senyum di sudut bibirnya yang ranum dan berkata, "Aku merindukan masa-masa itu."
Kelopak mata Zahira terbuka secara perlahan. Kini, tubuhnya telah basah kuyup akibat diguyur air hujan. Tubuh gadis itu mulai menggigil, merasakan dinginnya air hujan yang menulusup hingga menembus tulang.
"Lebih baik aku pulang saja sekarang sebelum jatuh sakit." Detik itu juga Zahira melangkah keluar menuju pintu masuk taman, berdiri di pinggir jalan sambil menunggu taxi yang akan membawanya pulang ke apartemen.
Sementara itu, tampak seorang pria bertubuh jangkung dan pemilik sorot mata tajam tengah mengendarai kendaraan roda empat miliknya. Sepasang mata terus bergerak ke sana kemari, mencari keberadaan seseorang yang memiliki tempat khusus di hatinya. Bukan sebagai kekasih apalagi istri melainkan sebagai ... sahabat, teman masa kecilnya.
__ADS_1
"Ra, kamu di mana sih? Kenapa pergi tanpa memberitahu? Bagaimana kalau terjadi sesuatu kepadamu, apa yang harus kukatakan kepada kedua orang tua kita?" berucap lirih sambil mengedarkan pandangan keluar jendela. Cuaca hujan membuat jarak pandang terbatas hingga ia kesulitan mencari keberadaan sang istri.
"Aargh, sial! Ke mana lagi aku harus mencari Zahira, di tengah guyuran hujan deras begini?" keluh Shaka, memukul stir mobil dengan keras. Tampak jelas kekhawatiran terpancar dari sorot mata pria itu. "Sebaiknya aku pulang saja, siapa tahu dia sudah kembali ke apartemen."
Tanpa membuang waktu terlalu lama, Shaka memutar arah dan melajukan kendaraan roda empat miliknya menuju gedung apartemen. Menginjak pedal gas dengan kecepatan sedang. Meskipun dilanda kecemasan sebab belum menemukan Zahira, ia tetap memperhatikan keselamatan berkendara saat hujan turun.
Hanya memakan waktu empat puluh menit saja, akhirnya mobil Shaka memasuki gedung apartemen yang ditinggali bersama sang istri. Ia turun dari mobil dan segera mengayunkan kaki menuju lift yang tersedia di parkiran basemen.
Sepanjang jalan, Shaka terus mencoba menghubungi nomor Zahira, tapi tak ada respon sama sekali. Puluhan pesan pun tak pernah dibalas oleh gadis itu hingga anak bungsu Rini jadi kelabakan.
"Ra ... Zahira? Kamu ada di dalam?" teriak Shaka kala ia baru saja tiba di unit apartemen miliknya. Mencari gadis cantik dengan kulit seindah pualam di setiap sudut ruangan tetapi tak kunjung menemukannya di mana-mana.
Pria tampan itu berdiri di depan pintu kamar tamu, ragu-ragu memutuskan untuk masuk atau tidak. Ia hanya ingin memastikan Zahira ada di dalam kamar sebelum akhirnya ia masuk ke kamarnya dan berganti pakaian.
"Zahira?" panggil Shaka pelan. Ia mendorong pintu dengan sangat hati-hati, tidak ingin mengganggu Zahira yang mungkin sudah tidur.
Terdengar helaan napas penuh kelegaan kala melihat Zahira tertidur dengan posisi menghadap jendela. Selimut tebal warna merah jambu membalut tubuh mungil gadis itu. Shaka mendekat dan duduk di tepian ranjang sembari mengusap lembut helaian rambut panjang hitam tergerai. Aroma mawar menguar dari rambut hitam tersebut.
"Kenapa kamu pergi dari café tanpa memberitahuku terlebih dulu? Apa kamu memang sengaja ingin membuatku mencemaskanmu?" Tangan kekar Shaka terus mengusap lembut helaian rambut Zahira. "Kamu tahu, Ra, kalau aku hampir gila saat tak menemukanmu di mana-mana. Kupikir, kamu pergi meninggalkanku sama seperti Ziva yang tega kabur di saat hari H pernikahan kami."
__ADS_1
"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kepadaku kalau kamu benar-benar pergi dari sisiku. Mungkin aku bisa jadi gila karena kehilangan seseorang yang berarti dalam hidupku untuk kedua kali. Jadi, please, jangan ulangi kesalahan yang sama sebab aku tak sanggup bila harus kehilangan sahabat terbaikku," ucap Shaka dengan mata berkaca-kaca. "Kamu adalah sahabat terbaik yang pernah kumiliki. Aku beruntung dipertemukan dengan gadis baik dan berhati malaikat sepertimu, Najma Zahira."
Setiap untaian kalimat terucap dari bibir sensual tanpa henti, terus terngiang di telinga seorang gadis. Sejak pertama sentuhan tangan lembut menyentuh helaian rambut, ia terbangun tetapi tetap mempertahankan posisinya saat ini, memunggungi lelaki yang sangat dicintai olehnya.
Mendengar kalimat Shaka, sontak air mata Zahira mengalir deras. Gadis itu menggigit bibir kuat-kuat, menahan isak tangisnya tidak pecah. Ia menangis tanpa suara. Kenapa kamu harus mengatakan kata-kata manis hingga membuatku terbang ke nirwana bila pada akhirnya kamu hempaskan aku saat itu juga? Tidakkah kamu sadar, setiap kalimat yang terucap dari bibirmu semakin melukai perasaanku?
Terdengar derit pintu yang ditutup rapat, menyisakan keheningan di sore hari. Suara gemuruh petir masih terdengar di luar sana meski hujan tak sederas beberapa waktu lalu. Akan tetapi, tetesan air mata di sudut mata Zahira semakin deras mengalir. Dalam kesendirian ia menangis tanpa ingin ada orang lain tahu bahwa saat ini gadis itu sedang terluka.
**Entahlah, sampai kapan aku harus bertahan dalam rumah tangga ini. Namun, kuberharap sebelum aku benar-benar lelah dan memutuskan pergi dari hidupmu, kamu menyadari bahwa rasa cintaku kepadamu b**egitu besar dan sedalam Samudra Hindia.
.
.
.
Halo semua, yuk mampir ke karya teman author. Ceritanya cukup menarik untuk dijadikan selingan sambil menunggu karya ini update.
__ADS_1