Pengantin Pengganti Sahabatku

Pengantin Pengganti Sahabatku
Pesan Singkat untuk Zahira


__ADS_3

Pagi hari, Shaka terbangun saat sinar matahari menelusup melalui celah-celah vitrase gorden sebuah kamar hotel bintang lima. Hari ini merupakan hari pertama bagi pria itu berada di Singapura, sebuah negara yang terkenal akan patung Merlion dan surganya bagi penggemar belanja.


Shaka berinisiatif mengirimkan pesan singkat karena tidak mau sampai mengabaikan Zahira yang ia tinggalkan seorang diri di tanah air.


Menyenderkan punggung di sandaran kepala ranjang, kemudian menuliskan sebuah pesan singkat untuk sang istri. ["Ra, jangan lupa sarapan! Setelah itu obatnya diminum. Kalau ada hal penting, jangan sungkan untuk menghubungiku!"]


Shaka mengirimkan pesan itu sebagai bentuk permintaan maaf karena tidak dapat merawat sang istri yang kini masih menjalani masa pemulihan pasca dirawat di rumah sakit beberapa hari yang lalu.


Sementara itu, di suatu tempat yang cukup jauh dari Singapura, seorang gadis tampak sedang duduk termenung sambil memperhatikan pecahan vase bunga yang baru beberapa saat dilemparkan olehnya ke sudut ruangan. Pecahan itu berserakan di mana-mana sama seperti hatinya saat ini. Namun, suara dering ponsel berbunyi membuyarkan lamunannya.


Meraih benda pipih berukuran 6.5 inci di atas nakas, lalu membaca pesan yang dikirimkan oleh seseorang. Detik itu juga, air mata Zahira tumpah membasahi sudut pipi. "Untuk apa kamu memberikan perhatian kepadaku kalau hanya ingin menutupi kebohonganmu. Aku bisa terima kalau kamu tidak mencintaiku. Namun, berbohong demi bertemu dengan Ziva, kurasa kamu sudah kelewatan, Shaka!"


Shaka mengulum senyum lebar saat melihat pesan yang awalnya centang dua warna hitam, berubah warna menjadi biru. Memegang telepon genggam miliknya dengan kedua tangan, menanti Zahira membalas pesan yang dikirimkan olehnya. Akan tetapi, sang istri tak kunjung membalaskan pesan singkat setelah menunggu selama beberapa menit.


Ada rasa kesal dalam diri Shaka, tatkala Zahira tidak menuliskan balasan pesan apa pun kepadanya. Padahal, status istrinya sedang online.


Shaka mendengkus kesal. "Ck! Sedang apa sih sebenarnya dia, lama sekali membalas pesanku! Apa jemari tangannya juga ikutan sakit, sampai tidak bisa mengetikkan satu kalimat pun sebagai balasan atas pesan yang kukirim?" Pria itu tampak geram sebab Zahira tak memberikan respon sama sekali.


["Kamu lagi di mana?"]


["Bagaimana keadaan di sana selama aku tinggal, apakah baik-baik saja?"]

__ADS_1


["Besok lusa aku pulang ke Indonesia. Kamu mau titip sesuatu? Tas, sepatu atau kaos? Nanti aku sempatkan diri berbelanja di mall sekalian membelikan oleh-oleh untuk Shakeela."]


Shaka mengirimkan pesan bertubi-tubi, tapi Zahira sama sekali tidak membalas. Dokter cantik berwajah oriental hanya membacanya saja tanpa berniat membalasnya. Pria itu semakin dibuat geram akan tingkah Zahira yang terkesan mengabaikannya.


"Najma Zahira, kamu benar-benar membuatku semakin kesal!" mengeram kencang hingga tanpa sadar telapak tangan Shaka meremas ponsel miliknya dengan keras. Rahang pria itu mengeras menahan kemarahan yang datang secara tiba-tiba.


Amarah dalam diri Shaka semakin memuncak kala notifikasi di bagian atas layar menunjukan bahwa Zahira sudah offline beberapa saat lalu. "Loh! Kenapa dia malah offline sih!" ucap pria itu seraya menegakkan posisi duduk. Mencoba menghubungi Zahira, namun ternyata gadis itu mematikan sambungan internet hingga Shaka tak bisa melakukan panggilan telepon.


"Aargh! Sialan! Sebenarnya Zahira kenapa sih? Kok dia seolah sedang mengacuhkanku. Padahal, sikapnya kemarin siang baik-baik saja." Shaka mengusap wajahnya dengan frustasi. Tidak biasanya dia uring-uringan hanya karena sebuah pesan. "Awas kamu ya, Ra. Akan kubuat perhitungan setelah aku balik ke Indonesia."


Shaka melemparkan telepon genggamnya ke samping. Menghentakkan kaki di atas lantai sembari berjalan menuju kamar mandi. Hari ini dia berencana menemui Ziva di apartemen mantan calon istrinya.


***


Dengan semangat empat puluh lima, Shaka bergegas meninggalkan hotel menuju alamat yang dikirimkan oleh orang kepercayaannya. "Ziva, kita lihat apakah alasanmu kabur saat hari H pernikahan kita demi mencapai cita-citamu atau karena alasan lain. Sebentar lagi kita akan tahu kebenarannya."


Tak berselang lama, akhirnya taxi yang ditumpangi Shaka tiba di depan sebuah gedung tinggi di kawasan perbelanjaan Orchard Road, Singapura. Turun dari taxi, ia melangkah dengan gagah berani masuk melalui pintu utama lobi apartemen.


"Permisi, Nona. Kalau unit apartemen nomor dua nol nol delapan. Saya teman dari pemilik apartemen tersebut," kata Shaka. Ia bertanya menggunakan Bahasa Inggris kepada salah satu pegawai resepsionis yang bekerja di balik meja kerja.


"Tuan bisa menggunakan lift yang ada di sebelah sana menuju lantai sepuluh. Setelah itu, lanjut menggunakan lift lain menuju lantai dua puluh. Kebetulan di antara ke empat lift itu tidak ada yang langsung membawa Tuan menuju lantai dua puluh," jawab wanita berambut sebahu.

__ADS_1


Tampak Shaka menganggukan kepala. "Baik. Terima kasih, Nona." Tanpa membuang waktu, Shaka mengayunkan kakinya lagi menuju sebuah lift yang ada di sudut ruangan.


Sepanjang jalan menuju unit apartemen, Shaka menghela napas panjang kemudian mengembuskan secara perlahan. Degup jantung mulai tak beraturan. Dalam benak pria itu muncul beberapa pertanyaan, bagaimana jika Ziva memang selingkuh lalu menggunakan alasan karir demi bisa lepas darinya. Lalu, apakah Shaka akan menerima Ziva kembali seandainya wanita itu mengakui kesalahannya? Jika memaafkan, lalu bagaimana dengan nasib Zahira?


Saat tiba di depan sebuah pintu dengan bagian dinding bertuliskan angka 2008, Shaka menarik napas dalam sebelum akhirnya menekan pintu.


"Come, Shaka! Selesaikan semua urusanmu hari ini juga. Setelah itu, barulah kamu kembali ke Indonesia. Jangan biarkan Zahira tahu kalau kamu pergi ke Singapura bukan untuk urusan bisnis melainkan untuk bertemu Ziva," gumam Shaka meyakinkan dirinya sendiri. Lantas, ia mengulurkan tangan ke depan, menekan bel pintu sambil menunggu seseorang membukakan pintu.


"Iya, tunggu sebentar!" seru seorang wanita dari dalam ruangan.


'Ziva, akhirnya aku bisa mendengar suaramu lagi,' batin Shaka setelah mendengar seruan mantan calon istrinya di seberang sana. Meskipun menggunakan Bahasa Inggris, tetapi ia mengerti apa yang dikatakan oleh Ziva.


Daun pintu terbuka lebar hingga memperlihatkan sesosok wanita cantik dengan tinggi badan 180 cm mengenakan gaun tidur berbahan sutera halus berwarna biru muda hingga memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah. Bola mata indah beradu pandang dengan pemilik mata tajam namun memancarkan keteduhan dalam waktu bersamaan.


"Shaka?" ucap Ziva lirih. Ia cukup terkejut akan kehadiran sang mantan calon suaminya.


.


.


.

__ADS_1


Halo semua yuk mampir ke karya teman author. Kisahnya dijamin seru nih. Judul karya dan nama pena ada di bawah sini. 👇



__ADS_2