Pengantin Pengganti Sahabatku

Pengantin Pengganti Sahabatku
Kembali ke Indonesia


__ADS_3

Tujuh jam lebih tiga puluh menit kemudian, pesawat terbang yang membawa pasangan suami istri Shaka dan Zahira tiba di bandara Soekarno Hatta. Setelah menghabiskan waktu sekitar lima hari lamanya dengan dua destinasi bulan madu, akhirnya mereka kembali ke tanah air. Banyak harapan dan impian yang dibawa mereka setelah pulang berbulan madu, salah satunya adalah berita kehamilan si cantik jelita. Untuk urusan ini baik Shaka maupun Zahira tidak mau menunda sebab bagi mereka kehadiran si kecil di tengah rumah tangga merupakan rezeki dari Tuhan yang tak ternilai harganya.


Shaka menuntun tangan Zahira dengan bersemangat menuju pintu keluar yang ada di sebelah barat. Seorang potter mengekori mereka, mendorong troli berisi barang bawaan mereka berdua. Sebenarnya Shaka bisa saja mendorong troli itu sendiri, tapi tidak ia lakukan sebab ingin fokus berduaan dengan istri tercinta.


"Kebetulan ini hari Sabtu, nanti agak siangan kita berkunjung ke rumah Ayah dan Bunda, ya? Habis itu baru menemui kedua orang tuaku," ujar Shaka saat mereka berjalan ke arah taxi online yang sebelumnya sudah dipesan sang pengacara.


Deretan gigi Zahira yang putih dan rapih terlihat jelas tatkala menyeringai lebar. Wanita itu mengangguk pelan sambil berkata, "Iya, aku ikut aja apa kata kamu, Ka. Kebetulan sekali aku ingin memberikan titipan Kakak Pertama untuk Bunda."


"Maka dari itu, aku ajak kamu menemui kedua orang tuamu dulu sebelum ke rumah Mama dan Papa. Aku yakin banyak cerita yang ingin kamu sampaikan kepada Bunda Arumi dan Ayah Rayyan perihal Ghani, 'kan?"


Zahira mengangguk. "Benar. Selain itu, aku juga udah kangen banget sama mereka. Lima hari enggak bertemu, rasanya seperti berabad-abad."


Shaka terkekeh dan merangkul bahu sang istri. "Dulu aja sok-sokan kuat dan bertahan selama enam tahun untuk enggak pulang ke Indonesia padahal rindu berat pada keluargamu. Eeh, sekarang baru lima hari udah bilang kangen. Ada-ada aja kamu."


Si cantik jelita mencibir dan memutar bola mata malas. "Karena dulu aku punya alasan kenapa enggak pulang ke Indonesia. Kalau sekarang ... ya beda lagi."


Kedua orang itu terus berjalan ke arah mobil jemputan sambil sesekali bercanda, saling menggoda satu sama lain. Walaupun cuaca di kota Tangerang masih terlalu dingin dan sinar matahari tampak malu-malu menampakkan pesonanya, tak menyurutkan keinginan mereka untuk meluapkan kebahagiaan yang tengah dirasakan.


Sesaat setelah mobil taxi yang dipesan Shaka melaju dengan kecepatan sedang, Zahira mengaktifkan telepon genggam miliknya yang sempat ia matikan saat mereka mengudara di atas ketinggian. Benda pipih berbentuk persegi panjang itu terus menerus berbunyi, banyak pesan masuk serta panggilan tak terjawab lewat aplikasi berwarna hijau.


Mendengar dering ponsel milik sang istri terus berbunyi, membuat mata Shaka yang terpejam kembali terbuka sempurna. "Dari siapa, Ra? Kok dari tadi ponselmu berbunyi terus, mengganggu waktu istirahatku aja," ujar Shaka dengan nada sedikit kesal. Bukan kesal kepada Zahira, melainkan pada si pengirim pesan.

__ADS_1


"Dari Dokter Nizam," sahut Zahira tanpa menoleh sedikit pun ke arah Shaka.


Mata memicing tajam, seakan mendapat sinyal berbahaya. Lantas, Shaka beringsut mendekati istri tercinta dan meraih begitu saja benda pipih dengan logo buah apel di belakangnya.


[Halo, Dokter Zahira, apa kabar?]


[Bagaimana keadaan di Jepang?]


[Kenapa pesanku enggak ada yang kamu balas, apa kamu sangat sibuk?]


Itulah beberapa pesan yang dikirimkan Nizam kepada Zahira. Setiap huruf yang tertulis di sana sangat menusuk mata, membuat Shaka sangat kesal.


Menggeleng cepat. "Enggak, Sayang. Aku sama sekali udah enggak berhubungan dengan dia," jawab Zahira sebelum terjadi perang ketiga dalam rumah tangganya. "Semenjak kamu memintaku untuk menjauhi Dokter Nizam, disaat itulah aku tak lagi berhubungan dengannya. Kami baru bertemu kembali jikalau ada urusan pekerjaan, setelah itu aku tak lagi berdekatan dengan dia."


"Kalau kamu enggak percaya, boleh tanyakan kepada Dokter Hanna. Dia teman dekatku di Bangsal Teratai," sambung Zahira.


Shaka menggeser layar ponsel Zahira, kemudian mematikan data seluler milik wanitanya. "Baguslah kalau kamu enggak berdekatan dengan dia lagi. Kalau sampai aku melihatmu jalan berduaan ataupun komunikasi di luar urusan pekerjaan, aku akan menggunakan hakku sebagai suamimu untuk meminta Ayah Rayyan memindahkan lelaki sialan itu ke bangsal lain agar dia enggak mengganggumu lagi!" ancam Shaka. Pria itu mengangkat dagunya dengan angkuh dan memberi tatapan mengancam.


Zahira yang awalnya merasa takut akan sikap Shaka yang terkesan menyeramkan, seketika terkekeh geli dan mencubit perut sang suami hingga membuatnya mengaduh. "Kurangi sedikit rasa cemburumu, Sayang. Benar-benar kekanak-kanakan," ujar wanita itu di sela tawanya.


"Bagaimana enggak cemburu, lelaki itu selalu saja mendekatimu padahal jelas-jelas kamu itu istri orang. Aku kadang suka heran sama dia, emangnya di dunia ini enggak ada perempuan lain yang masih single untuk didekati olehnya? Kenapa harus mendekati perempuan yang statusnya udah jadi istri orang sih!" balas Shaka bersungut-sungut. Ia meluapkan kekesalannya di hadapan istri tercinta.

__ADS_1


"Sejak pertama kali bertemu aku udah merasa kalau dia memang bukan laki-laki baik. Dia punya niat terselubung di balik sikapnya yang baik dan lemah lembut," tandas Shaka. "Oleh karena itu, aku memintamu untuk menjauhi dia."


Zahira mendesaah tak berdaya. Ia menarik tangan Shaka dan menggenggamnya dengan erat sambil berkata, "Aku mengerti kekesalanmu, Sayang. Namun, kamu enggak usah khawatir sebab selamanya cinta aku hanya buat kamu seorang. Kalau memang aku ingin dengan lelaki lain, kenapa enggak dari dulu aja menerima pernyataan cinta dari teman-teman kuliahku? Banyak kok dari mereka yang sesuai kriteria Ayah, Kakak Pertama dan Kakak Kedua untuk menjadi pendamping hidupku, tapi aku sama sekali enggak tertarik sebab hatiku sudah tertaut kepadamu."


Kedua sudut bibir Shaka tertarik ke atas membentuk sebuah lengkungan mirip busur panah. Ia menoleh, kemudian mencium punggung tangan Zahira, menangkup dan menggenggamnya dengan erat.


"Mulutmu semakin manis saja, Nyonya Shaka Abimana. Tampaknya aku harus memberimu hadiah karena berhasil meredam emosi dalam diriku."


"Ck, hadiah apaan? Palingan kamu akan menindasku seperti yang sering dilakukan saat kita masih di Australia dan Jepang. Kamu terus menyerangku seperti binatang buas," bisik Zahira di telinga Shaka. Ia sengaja mengecilkan volume suara karena tidak ingin terdengar oleh sopir di depan sana.


Shaka kembali terkekeh pelan. "Harap maklum, namanya juga dikejar setoran."


Sopir yang duduk dibalik kemudi melajukan kendaraan roda empatnya keluar dari wilayah bandara, menuju jalan raya yang telah dipadati para pengendara. Suasana di kursi penumpang kembali sepi seperti sedia kala. Shaka memandangi pemandangan di luar dari dalam jendela mobil sambil terus menggenggam erat tangan sang istri sedangkan Zahira tertidur nyenyak di pundak suaminya. Zahira tampak begitu kelelahan sebab selama di negeri orang selalu digempur Shaka meski ia sudah memelas, meminta suaminya untuk berhenti, tapi lelaki itu seolah-olah tuli hingga terus menyemburkan lava panas di rahim sang wanita.


.


.


.


__ADS_1


__ADS_2