
"Jadi itu gadis yang sering kamu ceritakan saat kita masih kuliah dulu? Seorang gadis yang pergi begitu saja tanpa berpamitan padamu sesaat setelah kalian lulus sekolah padahal malam harinya kalian bertemu?" tanya Justin usai kepergian Li Wei dan Zahira.
Shaka menganggukan kepala. "Benar. Dia adalah putri dari kerabat kedua orang tuaku. Kami tumbuh bersama semenjak masih kecil. Kedua kakak kembarnya pun dekat denganku bahkan kami dijuluki empat serangkai karena ke mana-mana selalu bersama."
"Lalu, kenapa dia sekarang menjadi istrimu? Bukankah dulu kamu bilang kalau kekasihmu itu adalah seorang model." Justrin masih mengulik informasi tentang istri dari temannya itu. Sedikit penasaran sebab seingat lelaki bertubuh jangkung kekasih Shaka bekerja di dunia model bukan di bidang kesehatan.
Menghela napas kasar, Shaka selalu merasa sesak setiap kali membahas pengkhianatan yang dilakukan Ziva. "Dia kabur sebelum prosesi ikrar suci pernikahan diucapkan dengan dalih ingin mengejar cita-citanya menjadi seorang model internasional. Namun, saat aku menemuinya di Singapura, dia malah berduaan dengan lelaki lain."
Justin tertawa. Mata birunya sampai setengah tertutup. Ia tak menduga jika salah satu murid berprestasi dan menjadi idola kampus seperti Shaka bisa dikhianati oleh seseorang.
"Malang sekali nasibmu. Menjalin kasih selama enam tahun, memendam hasrat untuk tak menjamah kekasihmu sebelum kalian sah menjadi suami istri, tapi ternyata pria lain lebih dulu menyentuh tubuh kekasihmu itu. Benar-benar sial!" canda Justin. Sudah terbiasa bergurau dengan Shaka, jadi dia yakin kalau teman sekelasnya itu tidak akan macam-macam kepadanya.
Shaka menegak kopi kemasan yang ia beli di mini market sekitar kampus hingga tersisa setengahnya. "Nasibku memang sial sekali. Harapan dan impianku membina rumah tangga, hidup bahagia hingga akhir hayat sirna begitu saja."
Justin mengentikan tawanya, lalu menepuk pelan pundak Shaka. "Setidaknya kamu mengetahui kebusukan kekasihmu sebelum ikatan suci pernikahan terjadi. Coba kamu bayangkan, akan menjadi apa rumah tangga kalian jika pengkhianatan kekasihmu baru diketahui setelah kalian menikah. Aku yakin, kamu tak akan sudi tinggal satu atap dengan wanita murahan yang mempermainkan pernikahan."
Pria berkebangsaan Eropa mencoba memberi nasihat kepada Shaka. Walaupun ia dan keluarga menganut sistem liberan, tapi untuk urusan pernikahan Justin menghormati artinya ikrar suci yang diucapkan di hadapan semua orang.
"Jangankan menyentuh tubuhnya, memandangi wajahnya pun, aku yakin kamu tidak mau. Benar begitu?" tanya Justin, yang hanya dijawab anggukan kepala Shaka.
__ADS_1
"Lalu?" Kali ini giliran Justin menegak kopi yang diberikan Shaka kepadanya.
"Saat itu aku sudah tak dapat berpikir jernih dan berniat membatalkan pernikahan. Namun, Zahira menawarkan diri untuk menggantikan Ziva di pelaminan. Atas desakan Mama dan karena tidak ingin membuat keluarga malu, akhirnya aku setuju dan pernikahan itu digelar dengan sangat mewah." Ada perasaan nyeri bagai disayat pisau saat mengucapkan kalimat itu. Jalinan kasih yang dibina selama enam tahun harus kandas begitu saja. Bunga indah yang dijaga selama ini malah dengan suka rela dihisap madunya oleh kumbang lain.
Terjadi keheningan beberapa saat, baik Shaka maupun Justin terdiam sambil memandangi birunya langit di atas sana.
"Apa kamu mencintai istrimu?" Pertanyaan itu memecah keheningan. Entahlah kenapa Justin cukup penasaran akan perasaan Shaka terhadap Zahira.
Shaka meletakkan kopi kemasan yang masih ada sisanya di sebelah kursi, kemudian membalikan badan hingga posisi duduk menghadap Justin. "Aku tidak tahu. Hanya saja saat melihat gadis itu berbicara ataupun bergaul dengan lelaki lain, emosi dalam diri meledak-ledak seakan ingin menghajar mereka karena berani mendekati istriku."
"Ada rasa takut kehilangan saat istriku meminta pisah karena aku kedapatan berbohong demi bertemu Ziva di Singapura. Saat itu, aku merasa bumi tempatku berpijak tak lagi berputar. Dunia terasa runtuh seolah menimpa diriku hidup-hidup. Hidupku akan terasa hampa jika Zahira pergi dari sisiku untuk kedua kali." Shaka berkata jujur di hadapan Justin. Lelaki bule itu tak jarang menjadi teman curhat di saat gundah melanda.
"Dasar bodoh! Semua ciri-ciri yang kamu ucapkan barusan menunjukan kalau dirimu sebetulnya cinta kepada Zahira. Akan tetapi, rasa cintamu terhalangi oleh rasa sayang sebagai seorang sahabat karena kalian sudah sejak kecil bersama hingga kamu tak sadar bahwa sebetulnya kamu mencintai Zahira," ucap Justin sambil menggelengkan kepala.
Justin menarik napas dalam, kemudian mengembuskan secara perlahan. "Memang sulit menyadari jika sebetulnya rasa cinta itu bersemi dalam diri atau mungkin sebetulnya sudah tumbuh sejak dulu sebelum kamu menjalin cinta dengan Ziva. Hanya saja ... kamu menutup rapat mata dan hatimu karena berpikir hubungan persahabatan kalian tak mungkin berakhir jadi cinta."
"Kalau memang aku mencintai Zahira, lalu kenapa aku ingin menjadikan Ziva kekasihku?" tanya Shaka. Ia tak percaya jika sebetulnya rasa cinta itu tumbuh bersemi dalam hatinya.
Senyuman lebar terlukis di wajah Justin. Pandangan mata pria itu alihkan kembali pada sosok cantik di depan sana. "Bisa jadi itu hanya obsesimu saja karena ingin memiliki Ziva seutuhnya tanpa ada ingin satu orang pu memilikinya. Bukankah kamu pernah bilang jika kekasihmu dulu merupakan primadona di sekolah? Tak kalah dari istrimu, Zahira."
__ADS_1
Lagi dan lagi Shaka terdiam. Dalam hati sedikit membenarkan ucapan Justin. Dulu Ziva banyak digilai kamu Adam, bahkan para murid sekolah berbondong-bondong memberikan coklat dan bunga saat hari Valentine tiba.
"Lalu, apa yang harus kulakukan?" tanya Shaka lirih.
Justin menyenderkan punggung di sandaran kursi taman. Kembali tersenyum saat melihat senyuman menawan bersumber dari wanita yang tengah mengandung darah dagingnya. "Jika kamu memang mencintai Zahira, katakan kepadanya secara langsung sebab seorang wanita itu butuh pengakuan terlebih kamu dan dia telah memutuskan hidup bersama selamanya. Jadi, mengutarakan isi hati kepada istrimu sangat penting demi menjaga keharmonisan rumah tangga kalian berdua."
"Namun, apabila kamu tidak mencintai Zahira, lepaskan dia. Jangan memaksakan diri untuk hidup bersama jika seandainya kamu tak bisa dengan tulus mencintai istrimu itu. Biarkan dia hidup bahagia dengan lelaki yang benar-benar mencintai dan ingin hidup bersamanya," imbuh Justin terdengar sangat bijak.
Justin merangkul pundak Shaka, hingga tubuh mereka berdekatan. "Istrimu itu sangat cantik dan berpendidikan, pasti banyak lelaki yang mengincarnya. Akan sangat rugi jika seandainya kamu tak mengungkapkan perasaanmu terhadap gadis itu."
Tangan kekar Justin menyentuh ujung dagu Shaka, mengarahkannya lurus ke depan. "Lihat, baru beberapa menit ditinggal sudah ada banyak lelaki mengincar istrimu."
"Fuuck!" umpat Shaka geram saat ekor mata memandang beberapa pria berwajah bule menatap liar pada sosok bintang bersinar miliknya. "Akan kuhajar mereka jika berani menyentuh istriku!" Tanpa membuang waktu, dia segera bangkit dan berjalan dengan langkah panjang mendekati sang istri. Kedua tangan mengepal sempurna. Rahang mengeras dengan sorot mata tajam bagaikan seekor elang yang siap menerkam mangsanya.
"Sebelum terlambat, katakan cinta pada istrimu, Shaka, agar dia menjadi milikmu seutuhnya. Tak ada lelaki lain yang bisa menyentuh istrimu selain kamu sendiri," teriak Justin dengan kencang. Ia sengaja melakukan itu karena tipe lelaki seperti Shaka butuh sedikit dorongan untuk mengakui perasaannya.
Suara teriakan Justin terdengar jelas di telinga Shaka. Amarah dalam diri pria itu semakin bergejolak bagai air mendidih.
.
__ADS_1
.
.