
Seperti telah direncanakan sebelumnya, kedua anak manusia yang telah melangsungkan ikrar suci pernikahan satu bulan lalu akan berbulan madu. Bila dulu negera Jepang, Cina dan Malaysia dipilih oleh kedua orang tua Zahira, kali ini si cantik jelita memilih Australia menjadi destinasi bulan madu bersama sang suami. Ia dan Shaka sepakat menjadikan Australia sebagai tempat bulan madu sebab negara tersebut memiliki keindahan alam yang beragam.
Mereka baru saja tiba di bandara Sydney Kingsford Smith Airport (SYD) saat jarum jam menunjukan pukul enam pagi waktu setempat. Pasangan suami istri itu langsung memutuskan melakukan check in sesaat setelah sampai di tujuan.
"Ra, nanti kita istirahat dulu beberapa jam di hotel. Setelah istirahat cukup baru jalan-jalan, bagaimana?" tanya Shaka meminta pendapat Zahira. Tangan sebelah kanan menggenggam erat jemari lentik istrinya dengan sangat posesif, sedangkan sebelah tangan menarik koper isi pakaian mereka berdua.
Zahira yang memang masih mengantuk akibat perbedaan waktu empat jam lebih cepat hanya mengangguk lemah. Perjalanan jauh yang memakan waktu kurang lebih sepuluh jam lamanya, membuat gadis itu mengalami jet lag yang biasa dialami oleh seseorang akibat melakukan perjalanan cepat melintasi beberapa zona waktu.
"Ya udah, sekarang kita tunggu taxi di depan sana. Nanti kamu bisa lanjut tidur lagi sambil nunggu mobil sampai hotel." Tanpa membantah Zahira menuruti perkataan Shaka. Keduanya menaiki taxi dan langsung menuju hotel tempat mereka menginap selama bulan madu di Australia.
Memasuki kamar hotel yang sudah disulap menjadi kamar honeymoon, baik Shaka maupun Zahira begitu takjub akan pemandangan indah di depan sana. Keindahan di kamar tersebut tak luput dari campur tangan Rini yang begitu antusias menyiapkan segala kebutuhan anak serta sang menantu selama berbulan madu.
Aroma bunga mawar menyeruak ke indera penciuman Zahira dan Shaka tatkala mereka masuk ke dalam kamar hotel. Sebuah kamar mewah dengan berbagai fasilitas yang ada sengaja dipilih oleh Rini selama mereka liburan di Australia. Nuansa keemasan kombinasi warna coklat tua menyempurnakan kamar pengantin dua sejoli tersebut.
Tatanan kelopak bunga mawar yang dibentuk menyerupai hati mengelilingi ranjang pengantin. Sembilan balon berwarna merah melekat di atas langit-langit kamar hotel. Di atas ranjang pengantin, bertabur kelopak bunga mawar dan terdapat dua buah handuk yang menyerupai sepasang angsa.
Zahira terkesiap beberapa saat. Ia membeku di ambang pintu menyaksikan betapa romantisnya suasana kamar pengantin mereka. Ya Tuhan, aku tak menyangka kalau Mama Rini akan menyiapkan ini semua, batin gadis itu. Ia merasa sangat beruntung mempunyai mama mertua sebaik Rini hingga wanita itu rela merogoh kocek cukup besar demi memberikan kejutan bagi mereka berdua.
__ADS_1
Hal serupa pun dirasakan oleh Shaka. Pria berusia dua puluh empat tahun mematung di tempat seakan ada paku tak kasat mata menancap di jemari kakinya. Kenapa Mama menyiapkan ini semua? Oh God, bagaimana kalau Rara berpikiran aku lelaki berengsek yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan untuk mengambil sesuatu yang berharga bagi seorang wanita. Ya, walaupun aku berhak mendapatkan itu semua karena kami sudah halal, tapi rasanya canggung sekali.
Suasana hening tercipta beberapa saat hingga suara bariton seorang bell boy menyadarkan mereka dari rasa terkejut melihat keindahan di depan sana. "Tuan, semua barang bawaan Anda sudah saya letakkan di depan sana. Jika Anda mengalami kendala, jangan sungkan menghubungi kami," kata pria bertubuh tinggi menggunakan Bahasa Inggris.
Shaka berdehem canggung karena sempat membayangkan bagaimana jadinya kalau Zahira berbaring dalam kungkungannya pasti akan sangat menyenangkan. Wajah memerah bagai kepiting rebus, membuat pria itu mengalihkan perhatian ke arah lain. "Baik, terima kasih sudah membantu kami."
"Sama-sama, Tuan. Jika tak ada keperluan lain, saya permisi dulu. Selamat berbulan madu dan semoga hari kalian menyenangkan." Bell boy itu menundukan kepalanya, pamit undur diri dari hadapan Shaka dan Zahira. Namun, sebelum meninggalkan kamar, sang pengacara memberikan tips karena telah membantunya membawa barang-barang.
Saat ini, hanya ada Shaka dan Zahira saja di kamar itu. Suasana hening kembali tercipta membuat kamar itu bagaikan kuburan sepi sekali. Ada rasa canggung bergelayut manja dalam diri keduanya, baik sang pengacara maupun dokter cantik bermata sipit tak mempunyai rencana apa pun setelah tinggal dalam satu kamar yang sama.
"Ehm ... Ra, tadi katamu ingin tidur lagi. Nah, sekarang kita udah sampai di hotel dan kamu bisa melanjutkan lagi kegiatanmu yang sempat terganggu. Namun, sebelum itu sebaiknya kamu masuk kamar mandi dulu, cuci muka dan sikat gigi agar tidurmu semakin nyenyak," ujar Shaka memecah keheningan.
"Ra, ini minuman hangat untukmu. Aku menuangkan separuh gula di dalamnya karena aku tahu kamu pasti enggak terlalu suka minuman manis." Shaka menyodorkan segelas teh chamomile less sugar ke hadapan Zahira. Ia tidak ingin istrinya menggigil kedinginan sebab suhu di Sydney saat musim semi sama seperti saat musim gugur sekitar 18-22°.
Zahira yang saat itu telah membersihkan diri dan mengganti pakaian dengan pakaian tidur menerima gelas tersebut sambil berkata, "Terima kasih, Ka. Aku jadi ngerepotin kamu. Seharusnya aku buatin minuman untukmu, bukan malah sebaliknya."
Shaka meniup minuman hangat miliknya sambil duduk di sofa. "Santai aja kali, Ra. Kebetulan aku nganggur, enggak ngapa-ngapain jadi lebih baik membuatkan minuman untuk kita berdua," tutur pria itu. Kepulan asap putih menguar ke udara saat Shaka meniup cairan pekat hangat tersebut. Ia menyesap secara perlahan, menikmati sensasi minum teh berdua dengan sang istri. "Pagi ini kita enggak dapat sarapan dari pihak hotel. Jadi kalau kamu lapar bilang aja sama aku, nanti aku pesankan."
__ADS_1
Zahira tersenyum manis, merasa bahagia atas perhatian yang diberikan Shaka. "Iya, Ka. Nanti aku bilang sama kamu. Untuk sekarang aku ingin tidur, ngantuk banget."
Gadis itu mengulurkan tangan ke depan, meraih telepon genggam miliknya yang diletakkan di atas nakas. "Lihat, di Sydney udah jam tujuh pagi, sedangkan di Jakarta masih jam tiga dini hari. Pantas saja aku merasa mengantuk." Ia tunjukan benda pipih tersebut ke hadapan Shaka.
Seulas senyuman terlukis di wajah tampan sang pengacara. Ia menaruh gelas yang isiannya sisa setengah, lalu berjalan mendekati Zahira. "Ya udah, kalau kamu mau istirahat, istirahatlah. Nanti tidur aja di kasur, biar aku di sofa."
Memberanikan diri menatap lekat manik coklat suaminya. "Kamu serius mau tidur di sofa? Enggak takut sakit badan dan kepala karena salah posisi tidur?" tanya Zahira ragu-ragu. Ia kembali teringat saat malam pertama setelah mereka menikah.
Malam itu Shaka tidur di sofa dan keesokan harinya seluruh tubuh serta leher lelaki itu sakit akibat enggan tidur satu ranjang dengan Zahira. Kini kejadian itu terulang lagi dan ia tak mau Shaka mengalami hal yang serupa.
Lagi dan lagi Shaka tersenyum melihat sikap Zahira yang sangat perhatian kepadanya. Teman masa kecilnya itu begitu perhatian sedari dulu. "Iya, serius. Udah sana tidur lagi, nanti jam sembilan-an aku bangunin kamu. Aku akan ajak kamu makan di tempat biasa nongkrong bareng teman-teman saat kuliah dulu. Setelah itu baru keliling Sydney," ucap lelaki itu. Ia tersenyum dan membantu Zahira membaringkan tubuhnya di atas kasur.
.
.
.
__ADS_1
.