Pengantin Pengganti Sahabatku

Pengantin Pengganti Sahabatku
Wedding Day (Irhan dan Ziva)


__ADS_3

Setelah menjalani masa penjajakan selama tiga bulan lamanya, akhirnya Irhan resmi meminang Ziva. Pernikahan mereka digelar di salah satu hotel bintang lima di kota Jakarta. Banyak tamu undangan dari kalangan artis dan model tanah air turut diundang dalam pernikahan tersebut. Dua di antaranya adalah Zahira dan Shaka. Mereka secara khusus diundang dalam prosesi ijab kabul yang akan dimulai beberapa menit lagi.


"Ra, kok aku gugup banget, ya?" kata Ziva kepada Zahira. Wanita cantik yang kini memutuskan berhijab tampak begitu gugup. Terlihat jelas dari jemari tangan yang saling meremas satu sama lain.


Zahira menarik kursi dan duduk di sebelah Ziva. "Wajar kok kalau kamu gugup. Aku pun waktu nikah dengan Shaka, sama gugupnya seperti kamu. Padahal dulu pernikahan kami hanya untuk menutupi aib keluarga, tapi gugupnya seperti pasangan yang menikah karena cinta." Wanita itu terkekeh pelan ketika mengingat kejadian beberapa waktu silam.


Terdengar helaan napas kasar bersumber dari Ziva. "Maafin aku, ya, Ra, gara-gara diriku kabur saat hari H pernikahan, kamu harus menderita. Aku enggak menyangka akibat kebodohanku akan ada orang yang tersakiti."


Lagi dan lagi Zahira terkekeh mendengar ucapan Ziva. Ia rangkul pundak temannya itu hingga posisi mereka berdekatan. "Udah, enggak usah dipikirkan lagi. Lagi pula semua itu cuma masa lalu, aku dan Shaka udah maafin kamu kok. Kamu harus menatap lurus ke depan, tanpa menoleh sedikit pun ke belakang."


"Makasih, Ra, kamu udah mau maafin aku. Kamu emang teman terbaikku."


Tepat pukul delapan pagi, prosesi ijab kabul segera dimulai. Calon mempelai wanita diminta hadir ke tengah ruangan. Zahira ditemani Murni, tantenya Ziva menggandeng tangan sang calon mempelai wanita memasuki ruangan.


Penampilan Ziva hari ini cukup membuat semua orang pangling. Wanita yang biasanya berpenampilan seksi dengan pakaian serba mini kini tampil berbeda dalam balutan kebaya modern lengkap dengan hijab yang membungkus rambutnya yang panjang berwarna merah keemasan.


Sepasang mata Irhan tak berkedip saat melihat wanita yang dicintainya sedang berjalan anggun ke arahnya dengan kepala tertunduk. Detik itu juga ia merasa orang-orang di sekitarnya menghilang dan hanya menyisakan mereka berdua.


"Jangan lupa napas, Han!" celetuk Shaka saat menyadari tatapan mata rekan kerjanya tak berkedip sedikit pun. Sontak suasana yang tadinya hening berubah ramai seketika. Sementara itu, calon mempelai wanita semakin tersimpu malu dengan semburat merah muda di kedua pipi.


Murni membentangkan kain persegi panjang dan menaruhnya di atas kepala kedua calon mempelai. Lalu, prosesi ijab kabul pun dimulai. Suasana yang tadinya sempat ramai kini berubah menjadi hening.


"Saya terima nikah dan kawinnya Ziva Nazira binti Ahmad Sobari dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan cincin berlian dibayar ... tunai." Suara lantang Irhan melalui pengeras suara menggema memenuhi penjuru ruangan, membuat semua orang yang hadir menyerukan kata 'sah' dan diikuti pembacaan do'a yang dipimpin langsung oleh penghulu.


Di waktu bersamaan, Ziva larut dalam suasana bahagia hingga tanpa sadar air matanya jatuh membasahi pipi. Ia tidak pernah menduga jika akhirnya hubungan yang berawal dari sebuah kesalahan akan berakhir di pelaminan.

__ADS_1


"Kini giliran mempelai wanita mencium punggung tangan suami," ujar Pak Penghulu kepada pasangan pengantin baru yang duduk di depannya.


Tanpa diperintah untuk kedua kali, Ziva meraih tangan Irhan kemudian mencium punggung tangan lelaki yang sudah sah menjadi suaminya saat ini. Irhan mencium kening Ziva dengan penuh cinta dan berdo'a dalam hati, semoga pernikahan mereka langgeng hingga maut memisahkan.


"Va, congratulation. Aku turut bahagia atas pernikahanmu ini. Semoga jadi keluarga samara." Zahira memeluk Ziva erat dan mencium pipi kanan dan kiri mantan kekasih suaminya. Hubungan mereka menjadi semakin dekat dan tak jarang keduanya nongkrong bersama sambil momong si kembar.


Shaka menepuk punggung Irhan dan berkata, "Ingat, Han, sekarang kamu udah nikah jadi enggak bisa keluar masuk club malam dan bercinta dengan perempuan enggak jelas. Hilangkan kebiasaan burukmu itu, kasihan Ziva dan calon anak-anakmu jika kamu masih terbiasa dengan kebiasaan burukmu."


Irhan terkikik geli mendengar wejangan atasannya. "Siap, Bos Shaka! Irhan yang ada di depanmu sekarang bukanlah Irhan yang dulu. Gemar gonta ganti partner ranjang demi memuaskan hawa napsu. Aku sekarang udah taubat dan enggak akan mengulangi perbuatan dosa itu. Aku insyaf, Ka." Lalu, ia melirik Ziva yang tampak sibuk bersenda gurau dengan Zahira. "Lagi pula, mana berani aku mencari perempuan lain sementara di rumah ada Bidadari cantik yang nyaris mendekati kata sempurna."


Shaka mendengkus kesal mendengar ucapan Irhan. "Bidadari cantik itu hanya istriku, bukan istrimu. Mengerti?"


Irhan tak lagi dapat menahan rasa geli yang menggelitik perutnya. Ia tertawa terbahak hingga membuat Ziva serta orang di ruangan itu menoleh ke arahnya.


***


Prosesi ijab kabul telah usai, tetapi acara masih berlangsung. Saat ini Irhan dan Ziva duduk di kursi pelaminan. Mereka menyalami para tamu undangan satu per satu.


"Selamat, Va. Tante senang melihat kamu akhirnya bahagia." Rini memeluk Ziva dengan erat. Meskipun ia sempat membenci Ziva karena wanita itu pernah melemparkan kotoran ke wajahnya, tapi kini hatinya berlapang dada mau memaafkan wanita dalam pelukannya.


"Terima kasih, Tante, udah bersedia hadir dalam resepsi pernikahanku. Aku bahagia Tante dan Om mau memberi do'a restu kepadaku dan Mas Irhan."


"Jangan sungkan, Va! Kebetulan aja Om dan Tante enggak ada rencana apa pun jadi kami menyempatkan diri datang ke sini. Sekali lagi, selamat."


Dari deretan kursi tamu yang ada di barisan pertama, tampak Shaka dan Zahira sedang duduk bersebelahan. Keduanya tengah bermain bersama si Kembar yang hari itu genap berusia tiga bulan.

__ADS_1


"Aduh, anak Papa ganteng sekali. Lihat, hidungnya mancung seperti Papa." Shaka menyatukan hidungnya dengan hidung sang putera.


Wajah, hidung dan alis mereka mirip Shaka. Akan tetapi, mata dan bibir mirip Zahira. Perpaduan antara Timur Tengah dan Cina kentara dari paras kedua bayi gembul nan menggemaskan itu.


"Loh, kok cuma Kakak pertama aja sih yang disayang! Emang Papa enggak sayang sama Adek?" ucap Zahira menirukan suara anak kecil. Wanita berwajah oriental sedang menggendong Mayumi.


Shaka mendudukan Allan di pangkuan. Tangan kiri menyangga tubuh putera pertamanya agar tidak terjatuh, sedangkan sebelah tangannya yang lain mengucap puncak kepala Mayumi yang mulai ditumbuhi rambut. "Sayang, dong. Masa iya, enggak." Pria itu melirik ke arah Zahira dengan tatapan penuh cinta. "Papa juga sayang loh sama Mama."


Zahira tersenyum simpul mendengar kata-kata manis dari suaminya. "Dasar gombal!"


Tangan kanan Shaka merangkul pundak Zahira yang saat itu sedang menggendong Mayumi. Keduanya menatap lurus ke depan, ke arah pelaminan. "Alhamdulillah, setelah menghadapi kerikil kecil dalam rumah tangga, akhirnya kita bisa bahagia tanpa gangguan pihak ketiga. Ziva kini telah bahagia dengan Irhan. Sementara Nizam-"


"Nizam pun pasti mendapat kebahagiaannya, Sayang. Meskipun kita tidak tahu dia akan bahagia dengan siapa, tapi kita berdo'a saja, semoga dia dipertemukan dengan jodohnya." Zahira menyela perkataan Shaka sebelum sang suami menyelesaikan kalimatnya.


"Ya, kamu benar. Semoga jodohnya itu adalah Hanna, sahabatmu."


Zahira mencubit ujung hidung Shaka dengan gemas. "Dih kamu, udah kayak netizen aja jodoh-jodohin artis idolanya. Aku sih berharap siapa pun jodoh Hanna dan Dokter Nizam, semoga kelak mereka berdua bahagia. Entah nanti Dokter Nizam bersatu dengan Hanna, atau Hanna bersatu dengan Kakak Kedua, aku tetap berdo'a kebahagiaan selalu menyertai mereka."


Shaka meletakkan kepalanya di bahu Zahira. "Sayang, kamu mau enggak kalau kita ngadain resepsi pernikahan lagi? Mulai dari dekorasi, gaun pengantin dan konsep pernikahan merupakan pilihan Ziva. Nah, aku ingin di resepsi pernikahan kita yang kedua murni sesuai dengan keinginanmu. Aku ingin memberi memori indah yang akan dikenang olehmu seumur hidup."


Zahira mengangkat tangan sebelahnya dan membelai bulu-bulu halus di rahang sang suami. "Aku sih setuju aja. Tapi kalaupun enggak, aku enggak masalah kok. Yang penting hati dan cintamu hanya untukku seorang."


Shaka meraih tangan yang sempat Zahira gunakan untuk mengelus bulu-bulu di rahanhnya. Lalu ia mencium punggung tangan itu dan menatap lekat iris coklat milik sang istri. "I will always love you, Najma Zahira. Now, tomorrow and beyond, we will always be together forever."


...~TAMAT~...

__ADS_1


__ADS_2