
Sementara itu, di tempat berbeda tampak seorang wanita cantik tengah duduk gelisah di sudut ruangan. Beberapa kali ia menatap ke arah pintu masuk, berharap Zahira benar-benar menepati janji untuk bertemu dengannya. Netra wanita itu lagi dan lagi melirik arloji mahal merk brand terkenal.
"Dia pasti datang, 'kan? Tapi bagaimana kalau dia ingkar janji dan hanya mau mengerjaiku saja?" gumam wanita cantik yang tak lain adalah Ziva.
Entah kenapa Ziva tampak gugup sekali padahal mereka pernah beberapa kali bertemu saat masih sama-sama SMA. Jantung wanita itu berdegup tak beraturan. Telapak tangan dingin seakan ia berada di tengah kutub Utara.
Sekitar pukul dua belas lebih lima menit, akhirnya Zahira tiba di tujuan. Jalanan macet akibat terjadi perbaikan jalan membuat gadis itu telat lima menit dari jam yang dijanjikan.
Ziva cukup terpesona saat tubuh semampai bagaikan gitar Spanyol dengan bagian pinggul mengecil ke dalam melangkah ke arahnya. Ada rasa iri dan benci dalam diri sang model sebab wanita yang telah merebut mantan tunangannya terlihat begitu cantik bagai boneka hidup. Dan ... jangan lupakan penampilan Zahira yang tampak begitu modis dengan segala barang branded melekat di tubuh. Tas, sepatu, blouse dan rok yang dikenakan ber-merk semua.
"Maaf, aku datang terlambat. Ada perbaikan jalan hingga menyebabkan aku terjebak macet," kata Zahira setelah ia duduk di kursi.
Ziva langsung tersadar dari lamunannya. Suara lembut gadis itu terdengar merdu bagaikan alunan melodi indah yang membuat seseorang merasa tenang. Akan tetapi, ia segera mengendalikan diri sebab nyaris terhipnotis oleh pesona yang dimiliki gadis di seberang sana.
Mantan tunangan Shaka berdehem guna mengendalikan diri dan memasang wajah angkuh di hadapan Zahira. "Percuma kuliah di Jepang dan bekerja sebagai dokter, tapi dirimu tak bisa tepat waktu. Yang ada pasienmu langsung meninggal karena ditangani oleh dokter tak berkompeten sepertimu," sindir wanita itu sambil menghunuskan tatapan tidak suka.
__ADS_1
Alih-alih merasa marah karena disindir oleh Ziva, si dokter cantik malah tersenyum. Ia sadar betul bahwa dirinya memang bersalah karena datang terlambat dari waktu yang telah disepakati. "Langsung pada intinya saja, apa yang ingin kamu katakan padaku? Aku enggak punya banyak waktu."
Ziva mencibir dan memutar bola mata dengan malas. "Dasar wanita sombong, sok sibuk!" ucapnya ketus. "Baiklah, aku juga enggak suka basa basi."
"Tujuanku memintamu ke sini karena aku ingin kamu meninggalkan Shaka dan pergi jauh dari hidupnya," kata Ziva memulai percakapan di antara mereka.
Model cantik yang tengah terjerat skandal dalam dunia modeling melipat kedua tangan di dada, menyenderkan punggung di sandaran sofa. "Kamu pasti tahu bagaimana hubunganku dulu dengan Shaka. Aku dan dia saling mencintai satu sama lain bahkan kami memutuskan membawa hubungan percintaan ini ke jenjang pernikahan."
"Bukti cintanya Shaka padaku adalah saat ia rela mengorbankan harga dirinya di hadapan semua orang. Lelaki itu mengutarakan isi hatinya di depan seluruh murid SMA, guru dan staf sekolah saat kita masih sekolah dulu. Ia pula melakukan hal sama saat melamarku dan memintaku menjadi pendamping hidupnya. Dari situ saja seharusnya kamu tahu, betapa berartinya aku di mata suamimu, Shaka." Ziva tersenyum smirk sambil menatap sinis ke arah Zahira. Berharap dengan cara itu dokter cantik berhidung mancung merasa terintimidasi dan menuruti kemauannya untuk berpisah dari Shaka.
Syukur-syukur Zahira marah, melempar minuman dari dalam gelas ke wajahnya dan video mereka viral hingga ia bisa membuat nama baik Najma Zahira, anak dari dua dokter bedah terkenal dan menantu dari pengacara kondang tanah air hancur dan seluruh warga Indonesia menghujat kelakukan gadis itu karena telah bersikap anarkis terhadap orang lain di tempat umum. Jika itu semua terjadi maka ia akan mendapat empati dari orang banyak dan tak menutup kemungkinan hubungannya dengan Shaka membaik sebab lelaki itu tahu sifat Zahira yang sebenarnya seperti apa.
Semakin lama Ziva berbicara semakin eratlah cengkeraman tangan Zahira di tepian sofa. Semua perkataan wanita itu bagaikan pisau tajam yang melesak tepat di hati, terasa sakit, perih, tapi tak berdarah. Timbul percikan api cemburu dalam diri gadis itu saat mendengar bagaimana Shaka dulu memuja Ziva hingga pria itu mengorban harga dirinya di hadapan orang banyak.
Akan tetapi, sekelebat bayangan saat ia dan sang suami berciuman di bawah pohon tiba-tiba muncul ke permukaan. Setiap kalimat yang terucap di bibir Shaka kembali terngiang di telinga.
__ADS_1
Di saat kamu meragukan kesungguhan hatiku, ingatlah hari di mana kita berciuman di bawah pohon ini. Di saat itulah kamu akan tahu bahwa aku akan mencoba mencintaimu dengan segenap jiwa ragaku.
Zahira yakin kalau ucapan Shaka beberapa hari lalu bukan merupakan bualan belaka melainkan kesungguhan hati lelaki itu. Ia dapat merasakan dari lembutnya bibir sang lelaki, saat mereka saling bersentuhan. Saat lidah saling membelit, saling menyesap dan sama-sama mereguk nikmatnya ciuman pertama mereka.
Zahira tersenyum tipis hingga membuat Ziva kebingungan. Kenapa gadis itu malah tersenyum? Seharusnya dia marah dan menampar wajahku karena telah memancing emosi bukan malah menyeringai seperti orang idiot saja, gerutu Ziva dalam hati.
"Oh ... jadi ini tujuanmu memintaku datang ke sini?" ucap Zahira santai. Ia bahkan meneguk air putih yang disediakan oleh pelayan café tersebut. Sengaja meneguk hingga habis guna memadamkan percikan api cemburu yang sedari tadi semakin membara.
Di saat seperti ini Zahira tak boleh terpancing emosi apalagi melakukan hal bodoh yang malah merugikan dirinya sendiri. Ia telah banyak menonton sinetron ikan terbang yang ditayangkan salah satu stasiun televisi. Di mana pemeran antagonis akan melakukan cara licik untuk menjatuhkan pemeran protagonis dan ia tak mau kejadian itu menimpa dirinya saat ini. Oleh karena itu, ia mencoba tersenyum manis meski timbul keinginan untuk menampar Ziva menggunakan telapak tangannya sendiri.
Untuk beberapa saat Ziva tertegun melihat sikap santai dan tutur kata tenang seakan tak terintimidasi sama sekali. Padahal ia telah mengerahkan seluruh kemampuan untuk memanas-manasi Zahira, tapi rupanya siasatnya itu tak berhasil. Malah, ia sendiri yang tampaknya kesal atas sikap acuh si istri sang pengacara.
.
.
__ADS_1
.