Pengantin Pengganti Sahabatku

Pengantin Pengganti Sahabatku
Insiden di Rumah Sakit


__ADS_3

Zahira berjalan dengan tergesa-gesa hingga tubuhnya yang mungil tanpa sengaja menabrak seseorang. "Maaf, saya enggak sengaja," ujar wanita itu.


"Jadi kamu menemui lelaki berengsek itu lagi, hem?"


Suara bariton itu sukses membuat Zahira mendongakan kepala. Dan alangkah terkejutnya dia saat mendapati sosok pria bertubuh jangkung tengah menatapnya lekat dengan sorot mata yang sulit diartikan. Bola mata melebar sempurna, jantung berdegup cepat saat menyadari Shaka-lah orang yang ditabrak olehnya beberapa waktu lalu.


"S-sayang ... kamu udah sampai?" tanya Zahira dengan tergagap. Susah payah menelan saliva saat menyadari tatapan mata pria itu menyimpan amarah yang siap meledak kapan saja.


"Tentu saja sudah! Kamu pikir aku akan membiarkan istriku menghabiskan waktu terlalu lama dengan pria lain?" sahut Shaka masih dengan nada dingin.


Lelaki berhidung mancung dengan alis tebal melingkar di atas matanya yang tajam memandangi istrinya mulai dari atas kepala hingga ke ujung kaki, lalu berkata, "Kenapa kamu masih saja menemui Nizam? Bukankah aku pernah memintamu menjauhi dia? Lantas, kenapa sekarang kamu malah secara terang-terangan mengirimkan pesan padaku untuk menemui kalian yang tengah berduaan. Benar-benar sinting!"


Tatkala mengucapkan kalimat terakhir, tanpa sengaja dia meninggikan nada suaranya di hadapan Zahira. Lelaki itu benar-benar kesal sebab untuk kesekian kali Zahira melanggar perintahnya.


Zahira tertunduk, tak berani menatap manik coklat Shaka. Telapak tangan saling meremas satu sama lain. Ia sadar jika telah melakukan kesalahan besar karena menemui pria lain padahal sang suami sudah melarangnya. "Aku terpaksa melakukannya, Sayang, sebab enggak tega melihat dia memasang wajah memelas. Kamu tahu sendiri kalau aku orangnya enggak tegaan."


Terdengar helaan napas kasar dari Shaka. Amarah yang membelenggu lelaki itu sirna bersamaan dengan embusan napas yang keluar dari hidungnya.


Selain lemah lembut, penyayang serta setia, Zahira mempunyai sifat tidak tegaan terhadap seseorang hingga tidak jarang sikapnya itulah sering dimanfaatkan orang lain. Beruntung ada Ghani dan Zavier yang selalu melindungi hingga nyali orang-orang jahat itu menciut saat berhadapan dengan kedua kakak kembar Zahira.


Shaka menoleh pada istri tercinta. "Apa yang kalian bicarakan saat berduaan? Apa dia sempat menyakitimu? Jawab pertanyaanku, Sayang."


"Dia ... dia ...." Zahira tergagap. Entahlah dia tidak tahu harus mengatakan yang sejujurnya atau tidak kepada suaminya itu.


Kedua tangan Shaka menyentuh bahu istri tercinta. "Jawab dengan jujur, Sayang. Apa yang dia katakan padamu?" tanya lelaki itu dengan lemah lembut.


Zahira memberanikan diri, menatap manik coklat sang pujaan hati. "Dia banyak mengajukan pertanyaan padaku, Sayang, terkait liburan kita kemarin. Wanita itu menjeda sejenak kalimatnya. Menarik napas panjang, kemudian mengembuskan secara perlahan. "Selain itu dia pun mengatakan bahwa selama ini ... menyukaiku."


Rahang Shaka mengeras. Kedua tangan pun mengepal sempurna di samping tubuhnya. "Berengsek! Berani-beraninya dia nembak bini orang! Emang seharusnya dari dulu aku kasih pelajaran tuh cowok!"

__ADS_1


Tanpa bisa dicegah, Shaka berjalan setengah berlari menuju cofféshop yang jaraknya tidak terlalu jauh dari posisi mereka saat ini. Zahira terkejut kala suami tercinta pergi begitu saja dengan memendam emosi yang telah mencapai ubun-ubun.


"Sayang, tunggu aku!" Zahira menyusul Shaka. Suara teriakan wanita itu sukses membuat beberapa pengunjung dan pegawai rumah sakit menatap ke arahnya.


Zahira berhasil meraih lengan Shaka ketika lelaki itu baru saja hendak mendorong pintu. "Jangan melakukan sesuatu yang akan merugikan dirimu sendiri!" Kepala menggeleng, berkata dengan lirih dan sorot mata penuh permohonan.


Akan tetapi, Shaka yang telah terbuai oleh bujuk rayu setan tak mengindahkan perkataan Zahira. Dengan kasar dia menepis tangan istrinya dan segera mendorong pintu café yang terbuat dari kaca hingga terbuka lebar.


Shaka memindai seisi ruangan, mencari keberadaan Nizam di antara banyaknya orang yang duduk di café tersebut. Deru napas semakin memburu, dada pun kembang kempis saat ekor matanya menangkap sosok lelaki yang ia cari tengah berdiri di depan meja kasir.


Tanpa pikir panjang, Shaka berjalan mendekati Nizam. Ia tepuk pundak Nizam hingga membuat lelaki itu menoleh ke samping kiri.


Sebuah pukulan keras menghujam sempurna ke wajah Nizam hingga pria itu terjajar ke belakang, nyaris menubruk orang lain yang sedang mengantri di belakangnya. Meringis ke sakitan seraya memegangi wajahnya.


"Dasar Bajingan! Laki-laki enggak tahu malu! Berani-beraninya kamu mau merebut istri orang. Mau jadi pebinor, heh?" Dalam amarah yang masih berkobar, Shaka meringsek maju. Mencengkeram kerah kemeja yang dibalut snelli putih. Ia kembali melesakkan sebuah tinjuan keras di wajah Nizam dengan membabi buta.


Nizam tampak kewalahan. Ingin membalas, tapi Shaka mendominasi dan tak memberinya kesempatan walau untuk menangkis setiap pukulan yang ditujukan kepadanya. Tubuhnya harus terhempas, menubruk beberapa kursi serta vas bunga yang diletakan di atas meja pengunjung.


"Sayang, hentikan! Kumohon, jangan berkelahi lagi!" teriak Zahira histeris. Namun, suara teriakan itu tak digubris sedikit pun oleh Shaka. Sementara para pengunjung, pelayan serta kasir yang ada di ruangan itu hanya terpaku dan membisu tanpa ada niatan sedikit pun untuk melerai mereka.


"Kamu adalah pria tak tahu malu yang pernah kutemui. Sudah tahu istri orang, masih saja diserobot. Dokter bodoh! Beg*!" Segala macam umpatan kasar terus keluar dari bibir Shaka.


"Emangnya kenapa kalau istri orang? Orang pacaran aja ada saatnya putus, apalagi kalian yang menikah tanpa adanya cinta di hatimu. Lebih baik Zahira denganku daripada hidup berumah tangga dengan lelaki yang tak pernah mencintainya."


Mendengar ucapan Nizam, semakin geramlah Shaka. Ia kembali menghujam bogem mentah di wajah Nizam membuat cairan segar mengucur dari lubang hidung Nizam.


Tidak ingin terjadi hal buruk menimpa suami tercinta, Zahira mencari bantuan pada dua orang security yang berjaga di depan pintu masuk. Wanita itu segera menghampiri mereka berdua untuk meminta pertolongan.


"Dasar pebinor! Sialan!" seru Shaka setelah kedua lelaki itu dipisahkan oleh security yang dimintai tolong oleh Zahira. Yang satu menahan tubuh Shaka untuk tidak menyerang Nizam, sedangkan yang satu lagi memegangi rekan sejawat Zahira.

__ADS_1


"Emang kenapa kalau aku pebinor, heh? Masalah buat kamu?" cibir Nizam sembari mengusut cairan segar berwarna merah yang mengucur di kedua lubang hidungnya.


Shaka berusaha melepaskan diri dari cengkeraman security berseragam navy, tapi pria bertubuh jangkung dan berbadan tegap tak membiarkan menantu dari pemimpim rumah sakit lepas begitu saja.


"Lepaskan aku! Biar aku hajar dia sampai mati! Berani-beraninya dia mencoba merebut istriku!"


Zahira yang berdiri di ambang pintu menyaksikan kejadian itu dengan wajah pucat pasi. Lama-lama ia mulai khawatir jika Shaka kembali menyerang Nizam hingga rekan kerjanya tewas. Lantas, ia melangkah perlahan dan mendekat.


"Sayang, sudah ... enggak usah emosi lagi. Tenangkan dirimu," bisik Zahira lembut di samping telinga suaminya.


"Bagaimana enggak emosi, dia berniat merebut kamu dari aku, Sayang. Aku enggak akan membiarkan siapa pun memilikimu. Kamu cuma milik aku seorang."


"Iya, aku tahu. Udah, ya, jangan emosi lagi. Sebaiknya kita tinggalkan tempat ini sekarang juga."


Dada Shaka kembang kempis ketika ucapan Zahira mulai masuk ke telinganya. Api yang berkobar di dalam dada perlahan tersiram akan bujukan sang istri.


Perlahan, security berseragam navy melepaskan cengkeraman tangannya di tubuh Shaka.


"Sekali lagi aku lihat kamu mendekati istriku, maka aku enggak akan segan-segan menghabisimu dengan tanganku sendiri!" desis Shaka kemudian meraih tangan Zahira. "Kita pergi sekarang!"


Sepasang suami istri itu membalikan tubuhnya. Bola mata mereka terbelalak sempurna, jantung berdebar tak beraturan saat menyadari pemimpin rumah sakit sudah berada tepat di ambang pintu sambil menatap mereka bertiga secara bergantian dengan sorot mata geram.


"Kalian bertiga, ikut saya ke ruangan!"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2