
"Bunda, memangnya kita akan pergi ke mana sih? Tumben sekali Bunda memintaku dan Kak Zahira mengenakan pakaian rapi seperti ini," ucap si bungsu Shakeela kala kendaraan roda empat milik Rayyan melaju tenang di jalanan ibu kota.
Bungsu dari empat bersaudara tampak kebingungan sebab Arumi secara tiba-tiba meminta dia dan kakak perempuannya berpakaian rapi tanpa memberitahu ke mana mereka akan pergi. Sang bunda hanya berpesan untuk mengenakan pakaian rapi dan sopan serta berdandan se-natural mungkin agar tak terkesan menor.
Rayyan yang duduk di balik kemudi melirik sekilas ke arah kursi belakang lewat kaca spion di depan. Tersenyum samar sambil berkata, "Nanti juga kamu akan tahu ke mana kita pergi. Sekarang lebih baik kamu duduk tenang di belakang dan jangan ganggu konsentrasi Ayah, mengerti?"
Alih-alih mendapat jawaban yang memuaskan, Shakeela malah semakin dibuat penasaran. Memutar bola mata malas karena tak berhasil mendapat apa yang diinginkan.
Sepasang mata sipit memicing menatap tajam ke arah sang ayah dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Lalu, sebuah kesadaran menghantam kepala gadis itu.
Shakeela memajukan tubuhnya ke depan sambil berucap, "Jangan bilang kalau Ayah mau menjual aku dan Kak Zahira ke para lelaki hidung belang demi melunasi hutang di bank."
Sontak perkataan itu membuat Rayyan menginjak pedal rem secara tiba-tiba hingga membuat tubuh semua orang yang ada di dalam mobil maju ke depan. Beruntungnya dari arah belakang tidak ada kendaraan sehingga tak terjadi kecelakaan lalu lintas.
"Shakeela Zanitha! Kalau punya mulut disaring dulu dong, Dek, jangan asal bunyi!" sembur Zahira seraya mengusap keningnya yang tak sengaja membentur kursi kemudi.
Tak terima ditegur sang kakak, Shakeela berseru, "Yee ... jangan marah gitu juga kali! Aku cuma mengemukakan apa yang ada dalam isi kepalaku ini loh!"
Bola mata Zahira melotot sambil menghunuskan tatapan tajam. Ingin berteriak kepada adik bungsunya itu, tetapi dia urungkan kala melihat raut wajah ayah tercinta berubah masam. Akhirnya dia hanya memalingkan wajah ke samping seraya mengusap keningnya yang sempat terbentur.
Arumi cukup terkejut mendengar perkataan anak bungsunya. Shakeela memang berbeda dari ketiga kakak kembarnya. Gadis itu memiliki sifat manja, barbar dan tak jarang sering ceplas ceplos ketika berkata namun dia adalah anak penurut dan tak pernah sekalipun membangkang perkataan kedua orang tuanya.
"Mas, kamu baik-baik saja?" tanya Arumi kepada sang suami. Degup jantung wanita itu berdetak tak beraturan laksana parade drum band yang tak mau berhenti. Akan tetapi, Rayyan bergeming tak merespon sama sekali perkataannya.
__ADS_1
Arumi memutar badannya hingga 180° kemudian menatap tajam ke arah Shakeela. "Sha, kalau bicara itu jangan sembarangan, Nak. Mana mungkin kami tega melakukan hal sehina itu kepada kalian. Kamu dan Zahira adalah buah cinta Ayah dan Bunda. Jadi, jangan pernah berpikir kami akan menjual kalian demi membayar hutang di bank. Mengerti!" tutur wanita paruh baya itu. Meskipun kesal tetapi nada bicara wanita itu terdengar lembut.
Sadar akan kesalahannya, Shakeela bungkam seketika. Tidak berani berkata apa-apa. Kepala menunduk dan kedua tangan saling mencengkeram satu sama lain.
"Buang jauh pikiran negatifmu itu, Sha sebab Ayah tidak suka mendengarnya. Kalaupun memang kita jatuh miskin, rumah sakit yang didirikan mendiang Nenek kalian bangkrut, Ayah tidak akan pernah menukar kalian demi harta kekayaan. Camkan itu!" Rayyan berkata dengan nada suara dingin.
Arumi yang duduk disebelah Rayyan hanya mengusap lembut pundak suami tercinta, berharap emosi pria itu tidak meledak akibat dibuat terkejut oleh perkataan anak bungsu mereka.
***
Rini mengajak suami tercinta serta Shaka makan malam di sebuah restoran yang sejak dulu sering mereka datangi bersama mendiang mertua serta keluarga sang sahabat. Sebuah restoran mahal dan mewah. Semua yang datang memakai pakaian resmi seperti jas, dress ataupun gaun malam.
Memilih sebuah meja yang berada di lokasi outdoor sehingga para pengunjung dapat memandangi keindahan bulan dan langit secara langsung.
Rio menjawab dengan lirih, "Entahlah, Papa juga tidak tahu. Namun, dari gelagatnya sih tampaknya akan ada tamu istimewa hingga Mamamu rela mengabaikan hidangan yang dimasak tadi sore. Gudeg ala Yu Djum lengkap dengan krecek serta ayam kampung goreng merupakan menu favorit Mamamu tapi dia bersedia membagikannya kepada para pekerja di rumah dan memilih makan di sini, menunjukan bahwa tamu ini benar-benar spesial bagi kita, Ka."
Tampak Shaka menggut-manggut. Ucapan Rio ada benarnya juga. Sang mama sangat mencintai makanan yang dibuat dari daging buah nangka masih mentah jadi kalau bukan ingin bertemu tamu penting maka wanita paruh baya itu mana mungkin mengikhlaskan begitu saja makanan kesukaannya dinikmati oleh orang lain.
Menghela napas panjang. "Siapa pun tamunya, aku harus bersikap baik di hadapan mereka."
Rio mengangguk. "Betul. Kita harus berubah menjadi pria imut dan patuh. Jangan sampai membuat Mamamu berubah menjadi macam betina!" bisik sang pengacara yang diikuti kikikan ringan bersumber dari anak bungsunya.
Mereka sudah sampai di meja yang dipesan Rini sebelumnya. Satu buah meja berbentuk persegi panjang dengan tujuh kursi telah tersedia di depan sana.
__ADS_1
"Ini buku menu restoran kami, Tuan dan Nyonya. Kalian bisa memilihnya terlebih dulu. Kalau sudah, boleh panggil saya lagi," ucap salah seorang pelayan pria berseragam restoran.
Rini menerima tiga buah buku menu dari tangan pelayan itu. "Baik, Mas. Terima kasih."
Baru saja Rini, Rio dan Shaka hendak membuka buku menu makanan dari arah belakang terlihat sepasang suami istri disusul dua orang gadis cantik jelita melangkah mendekati meja mereka.
"Halo semua, selamat malam. Maaf, kami datang terlambat," ucap seorang wanita paruh baya disertai senyuman manis terlukis di wajah.
Rini bangkit dari kursi, lalu melangkah maju untuk mencium pipi kanan dan kiri Arumi. "Nope, Rumi! Kami pun baru saja sampai."
Wajah sumringah kala netra Rini melihat sosok gadis cantik berdiri anggun tengah terkesiap beberapa saat. "Zahira, kamu apa kabar, Sayang? Lama sekali tidak bertemu." Tanpa membuang waktu wanita itu memeluk tubuh keponakan tercinta dengan lembut. "Tante kangen sekali sama kamu." Jemari tangan mengusap lembut punggung Zahira.
Zahira masih membeku di tempat kala tubuhnya yang mungil dipeluk erat oleh Rini. Bagaimana tidak, ini pertama kalinya dia bertemu lagi dengan Rini setelah enam tahun lamanya tidak berjumpa. Semenjak memutuskan kuliah di negeri Sakura, dia tak pernah kembali ke Indonesia. Lebih memilih tinggal di sana daripada harus bertemu dengan sahabat sekaligus pria yang disukainya sejak duduk di bangku SMP.
Saat musim liburan, Arumi dan Rayyan-lah yang datang berkunjung ke sana. Selain menjenguk anak kesayangan, sepasang suami istri itu ingin berlibur sambil mengenang kembali saat masih menjadi pengantin baru. Sebuah negara yang merupakan tempat asal mula terciptanya Triplet di dalam rahim sang dokter cantik.
Di saat Zahira membeku di tempat karena tidak menduga akan bertemu kembali dengan sahabat dari sang bunda secepat ini, di sisi lain, Shaka pun melakukan hal yang sama. Dia membisu kala mendengar nama sahabatnya disebut oleh mama tercinta.
.
.
.
__ADS_1