
"Ya Tuhan, kenapa jantungku rasanya seperti mau copot sih," keluh Shaka saat mobil hitam miliknya berhenti tepat di depan rumah mewah nan megah peninggalan Mei Ling. Hawa dingin tiba-tiba menelusup tatkala bayangan wajah Rayyan terlintas di benak pria itu.
Mengusap tengkuk yang terasa dingin sambil berkata, "Baru membayangkannya saja sudah membuat bulu kuduku merinding. Bagaimana kalau bertatap muka langsung, bisa pingsan aku dibuatnya," ucapnya Shaka lirih.
Teringat akan tujuannya datang ke rumah itu, Shaka memutuskan untuk turun dari mobil dan mencari tahu apakah memang Zahira betulan ada di dalam atau tidak. Besar harapan istrinya ada di sana hingga ia tidak perlu repot mencari-cari lagi sebab malam sudah semakin larut.
Sepanjang jalan menuju pintu masuk rumah dua lantai, tak hentinya degup jantung Shaka berirama tak beraturan terus memompa tanpa henti. Butiran keringat dingin mulai bermunculan ke permukaan kulit, tangan terasa dingin seakan ia tengah berada di kutub utara.
"Ternyata lebih menyeramkan bertemu mertua ketimbang menghadapi kasus di pengadilan," bergumam lirih seraya mengusap telapak tangan, mencari kehangatan di tengah kegugupan yang mendera.
Berhenti tepat di depan daun pintu warna putih, Shaka menarik napas dalam guna mengumpulkan keberanian sebelum mengetuk pintu. Setelah dirasa cukup tenang, debaran jantung pun sudah mulai berirama, ia ulurkan tangan ke depan menekan bel yang terdapat di samping pintu.
Hanya membutuhkan waktu kurang dari lima menit, daun pintu itu terbuka lebar diikuti kemunculan seorang gadis berwajah cantik jelita. Hawa dingin kembali ia rasakan saat menatap sepasang mata sipit.
"Oh ... ternyata ada tamu jauh toh!" ucap Shakeela dingin. Sikap gadis itu tampak begitu tidak bersahabat. Terlihat jelas dari sorot matanya yang menyiratkan ketidaksukaan sesaat setelah ekor gadis itu bersitatap dengan sang kakak ipar.
Shaka tersenyum kaku saat mendengar perkataan Shakeela. Alamat dikeroyok berjamaah oleh keluarga Zahira nih, batinnya saat merasakan tanda bahaya menanti di depan sana.
Menghela napa panjang kala tersadar bahwa dia memang pantas mendapatkan perlakuan tidak bersahabat dari mertua serta adik iparnya. Toh itu semua memang salahnya karena telah berbohong kepada semua orang.
Mencoba tersenyum ramah meski masih terasa gugup. "Sha, apa--"
Belum selesai Shaka berbicara, dari belakang tubuh Shakeela muncul seorang wanita separuh baya berdiri dengan senyuman manis di wajah. "Eh ... ada Nak Shaka. Bunda kirain siapa malam-malam bertamu," ucap Arumi ramah. "Ayo masuk dulu biar kita makan malam bersama. Kebetulan Bunda dibantu Zahira baru saja selesai masak."
__ADS_1
Mendengar nama Zahira diucapkan, akhirnya Shaka dapat menghela napas lega seakan bongkahan batu besar terangkat dari dada. Senyuman merekah di sudut bibir pria itu. Finally, I found you!
Tanpa rasa malu dan canggung Shaka berkata, "Aku tidak akan menolak permintaan Bunda. Kebetulan perutku pun sudah lapar." Sudut bibir pria itu tertarik ke atas. Rasanya pasti menyenangkan bisa makan malam bersama sang istri.
Arumi mempersilakan menantu pertamanya masuk ke dalam rumah yang didominasi warna putih dan kuning keemasan. Berjalan beriringan menyusuri lorong panjang yang akan membawa mereka menuju ruang keluarga. Dokter senior nan cantik jelita tetap bersikap ramah dan hangat meski ia tahu bahwa lelaki di sebelahnya telah menorehkan luka di hati Zahira. Namun, ia tidak mau ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka.
Bukannya Arumi tidak peka atau bersikap masa bodoh tapi ia ingin memberikan ruang kepada Zahira dan Shaka untuk menyelesaikan masalah rumah tangga mereka. Ia tidak mau pengalaman buruknya saat menikah dengan Mahesa menimpa Zahira. Di mana dulu Naila sering ikut campur dalam rumah tangga yang dibina Arumi dengan suami pertamanya.
"Siapa yang datang, Sha?" tanya Rayyan yang tengah duduk di ruang keluarga. Saat itu ia sedang menunggu Zahira memanggil seluruh anggota keluarga untuk makan malam bersama.
"Mantu Ayah!" sahut Shakeela sembari berlalu begitu saja menuju dapur. Gadis itu lebih memilih pergi ke dapur, membantu Zahira menyiapkan makan malam daripada harus berpura-pura baik di depan kakak iparnya.
Kelakuan Shaka yang berbohong kemarin membuat Shakeela kecewa dan enggan terlalu lama berhadapan dengan kakak iparnya. Padahal dulu ia begitu bahagia setiap kali Shaka datang ke rumah itu tapi untuk kali ini tidak. Ia masih marah karena kelakuan Shaka kemarin.
"Nak Shaka, duduk dulu di sana! Bunda akan meminta Zahira menyiapkan minuman untukmu," tutur Arumi. Wanita itu beralih menatap suami tercinta. "Ayah, temani menantu kita mengobrol sebentar sambil Bunda buatkan kopi kesukaanmu."
"Shaka, jangan grogi! Ayah mertuamu tidak mungkin menerkammu hidup-hidup," ucap Arumi lirih sebelum meninggalkan ia melangkahkan kaki ke luar ruangan.
Selepas kepergian Arumi, suasana hening tercipta beberapa saat. Rayyan masih setia menatap tajam pada sosok pria di seberang sana, sedangkan Shaka hanya tersenyum kikuk sambil sesekali mengusap peluh di kening. Suasana terasa canggung, suhu ruangan mendadak panas padahal pendingin ruangan berada di suhu terendah namun tak mampu mengusir peluh yang terus membanjiri.
"Ada urusan apa kamu ke Singapura?" tanya Rayyan memecah keheningan. Mata memicing tajam seperti seekor elang yang siap menerkam mangsanya.
"U-urusan pekerjaan, Yah." Kedua genggaman tangan Shaka saling mencengkeram satu sama lain. Jantung semakin kencang memompa hingga rasanya mau copot detik itu juga.
__ADS_1
Akan tetapi, pertanyaan Rayyan tidak sampai di situ saja. Ia kembali bertanya dengan nada dingin. "Yakin ... hanya urusan pekerjaan? Bukan karena ada urusan lain sampai kamu pergi meninggalkan anakku yang masih dalam kondisi masa pemulihan."
Sontak perkataan Rayyan membuat Shaka bungkam seketika. Lidah pria itu terasa kelu dan bibir terkunci rapat.
Rayyan meletakkan iPad ke atas meja bundar di depannya, kemudian memajukan badannya hingga ekor matanya dapat melihat jelas bagaimana gugupnya sang menantu. "Aku tahu kalau kamu tidak mencintai Putriku. Namun, bukan berarti kamu bisa dengan leluasa membodohinya. Memang sulit sekali menerima kenyataan bahwa seseorang yang sejak kecil kita anggap sebagai saudara tiba-tiba berubah status menjadi pasangan. Butuh waktu lama untuk bisa beradaptasi tapi setidaknya tolong hargai perasaan pasanganmu jangan pernah melukai hatinya!"
"Aku membesarkan Zahira dengan penuh cinta dan kasih sayang. Sejak kecil aku serta Ghani dan Zavier menjaga ketat para wanita di keluarga kami agar tidak ada seorang pun yang menyakiti mereka. Namun, setelah beranjak dewasa, kamu malah melukai hati Putriku. Benar-benar tidak tahu diri!" sindir Rayyan.
"Walaupun kamu adalah anak dari sahabatku, bukan berarti aku luluh dan membiarkanmu terus menyakiti Zahira. Aku bisa saja melesakkan kepalan tangan di wajah dan perutmu sampai kamu tersungkur ke lantai detik ini juga karena telah ketahuan membohongi Putriku. Namun, aku memendam keinginan itu karena masih menghormati kedua orang tuamu yang sudah berteman baik denganku dan Arumi," sambung Rayyan mengutarakan isi hatinya di hadapan Shaka. Tidak peduli jika pria di seberang sana akan sakit hati. Terpenting ia puas karena telah mengatakan apa yang ingin dikatakan kepada Shaka.
"Selain itu, aku pun tidak mau membuat Zahira semakin terluka saat ia menyaksikan sendiri lelaki berengsek, tidak tahu terima kasih sepertimu babak belur di depan mata kepalanya sendiri," sambung Rayyan bersungguh-sungguh.
Suara dingin terdengar penuh ancaman menggema memenuhi penjuru ruangan. Meskipun Rayyan hanya berdiam diri di depan sana tetapi perkataan itu begitu menohok dan membuat Shaka tersadar bahwa dia telah mengecewakan orang banyak.
"Maafkan aku, Ayah," lirih Shaka menundukan kepala. "Aku janji tidak akan mengulanginya lagi."
.
.
.
Halo semua yuk mampir ke karya teman author. Kisahnya dijamin seru nih. Judul karya dan nama pena ada di bawah sini. 👇
__ADS_1