
Dua hari kemudian, seperti biasa Shaka dan Zahira berangkat bersama, makan siang bersama, dan sikap sang pengacara semakin over protective terhadap dokter cantik bermata sipit.
Hari ini ada hal yang berbeda di rumah sakit, hari ini ada rapat penting yang mengharuskan setiap divisi berkumpul. Rayyan, selaku direktur rumah sakit memimpin rapat.
“Baik, para rekan dokter sekalian, selamat siang,” ucap Rayyan dengan suara lantang. Walaupun usai tak lagi muda dan rambut mulai ditumbuhi warna keperakan, tetapi pria itu tetap gagah berwibawa bahkan pesonanya semakin bertambah ratusan kali lipat.
“Siang, Pak,” sahut para dokter hampir bersamaan.
“Siang ini saya sengaja kumpulkan kalian semua untuk membicarakan hal yang sangat penting,” ucap Rayyan memulai rapat kali ini.
“Seperti yang kita ketahui, saudara kita di Cianjur mengalami bencana alam. Pihak pemerintah mengerahkan segala bantuan untuk menolong saudara-saudara kita di sana dan dari pemerintah juga meminta rumah sakit kita mengirimkan beberapa dokter untuk membantu korban bencana di sana karena rumah sakit di sana kekurangan tenaga kerja,” ucap Rayyan menjeda perkataannya. Ia menatap semua rekan dokternya. “Sebelumnya saya bertanya dulu pada kalian semua, apa kalian sanggup dan bisa ke sana apabila saya tunjuk?”
Beberapa dari mereka berkata jika mereka tidak bisa ke Cianjur, bukan tak mau atau bagaimana, tetapi ada beberapa urusan mendesak juga yang tidak bisa mereka tinggalkan. Contohnya ada beberapa dokter yang memang sudah ada janji temu dengan pasien untuk check up, ada juga yang mempunyai jadwal operasi.
Rayyan menangguk dan berkata, “Baiklah, di sini ada yang suka rela saya kirim ke Cianjur untuk membantu saudara kita di sana?”
“Saya Pak,” ucap Nizam.
Bukan hanya Nizam beberapa dokter lain pun ikut angkat tangan termasuk Zahira.
Rayyan yang melihat itu langsung bertanya, “Dokter Zahira, Anda yakin mau ikut menjadi relawan di sana?”
“Benar, Dok,” jawab Zahira mantap. Anak ketiga dari pasangan suami istri Rayyan dan Arumi tidak pernah sekalipun tidak serius dengan perkataannya.
“Baiklah, nanti kalian isi formulir yang akan dibagikan oleh asisten saya. Setelah itu saya pun akan bagi kalian menjadi beberapa kelompok,” ucap Rayyan sembari memberikan beberapa lembar formulir pendaftaran kepada asistennya. “Saya rasa rapat hari ini cukup di sini saja. Terima kasih dan silakan kembali bekerja,” sambung Rayyan.
“Baik, Pak.” Rapat pun berakhir, satu per satu dokter meninggalkan ruangan, hingga tersisa Arumi, Rayyan, dan Zahira.
Rayyan kembali memastikan keputusan sang anak dan Zahira kukuh akan keputusannya. “Ra, kemungkinan nanti kamu akan satu kelompok dengan Nizam karena Ayah lihat kalian begitu kompak. Apa kamu tidak keberatan jika Ayah melakukan itu?" tanya pria itu.
“Memang kenapa kalau aku satu kelompok dengan Dokter Nizam? Bukannya malah bagus jika kami dipersatukan kembali, jadi aku enggak perlu adaptasi lagi karena punya kenalan di bangsal yang sama."
__ADS_1
Zahira bangkit dari kursi, kemudian mendekati kedua orang tuanya. "Ayah dan Bunda enggak usah khawatirkan, aku akan baik-baik saja kok,” imbuh gadis itu sembari mengusap pundak Rayyan dan Arumi.
"Lalu, dengan Shaka? Apa kamu bisa meyakinkan lelaki itu untuk memberi izin kepadamu?" tanya Rayyan membuat Zahira terdiam.
***
Malam telah tiba, seperti biasa Shaka datang ke rumah sakit untuk menjemput sang istri, tetapi ada yang aneh dari Zahira, gadis itu tiba-tiba berubah menjadi pendiam dan lebih banyak melamun. Entah masalah apa yang dipikirkan gadis itu, Shaka pun tidak tahu. Sikap Zahira masih terus berlanjut sampai mereka tiba di apartemen, dokter cantik tetap termenung meski saat itu dia tengah menyiapkan makan malam untuk sang suami. Hal itu tentu saja membuat Shaka penasaran.
“Ada apa?” tanya Shaka penuh selidik.
“Hah?” sahut Zahira seraya mengerjapkan mata beberapa kali.
“Ada apa denganmu? Kenapa kamu tiba-tiba berubah pendiam begini. Apa ada hal yang mengganggu pikiranmu?” tanya Shaka.
Zahira menghembuskan napas pelan dan berkata, “Pemerintah meminta bantuan pada rumah sakit untuk membantu korban bencana di sana.”
“Lalu?” tanya Shaka mulai merasa ada suatu hal tidak beres yang menimpa sang istri.
“Aku enggak izinkan!" sergah Shaka tegas tanpa memberikan kepada Zahira untuk menyelesaikan kalimatnya.
“Ka, aku ini seorang dokter loh, keselamatan pasien itu yang utama. Jangan kekanak-kanakan begini! Aku dan Dokter Nizam hanya sebatas partner kerja,” ucap Zahira memberi penjelasan kepada Shaka.
“Aku tetap enggak mau mengizinkan Ra, jangan membantahku!” kata Shaka keukeh.
“Kamu jangan egois begini dong, Ka, hanya karena aku satu kelompok dengan Dokter Nizam! Selama ini aku selalu turutin apa yang kamu perintahkan kepadaku termasuk menjaga jarak dengan Dokter Nizam. Namun, kamu selalu saja marah-marah dan berpikiran negatif tentang rekan kerjaku itu. Memangnya Dokter Nizam punya salah apa sih sama kamu, kenapa sepertinya kamu benci sekali sama dia?" Zahira lepas kendali akibat rasa lelah bercampur kesal hingga tanpa sadar dia meninggikan nada suara di hadapan Shaka. Deru napas gadis itu memburu dengan dada kembang kempis.
“Zahira! Kamu enggak sopan!” sembur Shaka. Tubuh pria itu terasa panas bagai dibakar hidup-hidup saat mendengar sang istri akan pergi bersama lelaki lain. “Aku ini suami kamu, sudah seharusnya kamu menurut akan perkataanku." Pria itu bangkit, kemudian membalas menatap Zahira dengan wajah merah padam menahan emosi dalam diri.
“Aku cuma istri pengganti, kamu harus ingat itu, Ka! Lagi pula ini soal pekerjaan serta rasa kemanusiaan, jadi stop berpikir kekanak-kanakan!” tegas Zahira kemudian pergi meninggalkan ruang makan.
"Aku enggak akan pernah mengizinkanmu pergi bersama pria sialan itu! Lalu, aturan dari rumah sakit jika keluarga tidak mengizinkan, kamu tidak bisa pergi!" teriak Shaka menggelegar bagai suara gemuruh petir yang terus bersahutan.
__ADS_1
“Perlu aku ingatkan, Ka, kalau ayahku adalah pemilik rumah sakit dan mereka sudah mengizinkanku untuk pergi." Zahira membalikan badan, kemudian kembali berkata, "Oh ya, bukan bersama Dokter Nizam saja, tetapi bersama para dokter lainnya,” sambung gadis itu.
Shaka mengepalkan tangannya kesal hingga memperlihatkan urat-urat halus di punggung tangan. "Sialan! Kenapa harus si Berengsek itu lagi sih yang jadi topik pembahasanku dengan Zahira. Sialan!" umpat pria itu kasar.
Shaka memutuskan keluar sebentar dari apartemen guna menghirup udara segar. Agenda makan malam yang seharusnya penuh kehangatan berubah menjadi malapetaka bagi pasangan suami istri itu.
Zahira mendengar suara pintu yang dibanting keras oleh seseorang. Akan tetapi, dia tak peduli. Gadis itu kembali ke kamarnya, mengemasi pakaian dan barang-barang untuk berangkat ke Cianjur bersama rekan-rekan dokternya. Dia juga pergi ke supermarket membeli beberapa kebutuhan yang akan diberikan untuk para korban bencana.
Rencananya Zahira akan mengunjungi beberapa pos dan tenda-tenda warga untuk mengeceknya langsung. Setelah selesai membelinya, dia pun kembali ke apartemen kemudian beristirahat untuk besok kembali bekerja.
Sementara itu, Shaka melajukan mobilnya menuju rumah mertuanya. Dia mengetuk pintu beberapa kali hingga sosok gadis cantik berdiri di ambang pintu.
"Ooh ... Kak Shaka. Kirain siapa," kata Shakeela sembari membuka pintu. "Masuk, Kak!" Gadis itu menggeser sedikit badannya ke samping hingga kakak iparnya masuk ke dalam rumah.
"Ada perlu apa, Kak Shaka, ke sini? Tumben sekali malam-malam datang berkunjung," tanya Shakeela setelah Shaka duduk di sofa.
Shaka terdiam beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan adik iparnya. "Ehm ... apa Ayah dan Bunda ada di dalam? Aku ada perlu dengan mereka."
Shakeela menggelengkan kepala. "Ayah dan Bunda belum pulang. Tadi sih ngasih kabar kalau mereka pulang terlambat sebab ada tindakan operasi sore tadi. Paling, sebentar lagi juga datang. Kalau Kakak mau, bisa tunggu di sini."
Anak bungsu Rio dan Rini manggut-manggut. "Kalau kamu tidak keberatan, aku ingin menunggu mereka di sini."
Shakeela berdecih dan menjawab, "Sok jual mahal. Biasanya juga langsung nunggu tanpa minta izin terlebih dulu."
Shaka hanya menggaruk kepala yang tidak terasa gatal seraya tersenyum kikuk. Perkataan Shakeela begitu menohok hingga membuat pria itu bungkam seketika.
.
.
.
__ADS_1