
Tak terasa kini usia kandungan Zahira telah memasuki minggu ke-20. Bayi dalam kandungan wanita itu sudah semakin aktif sehingga pergerakannya pun mulai terasa. Sesuai dengan kesepakatan kedua keluarga, Shaka dan Zahira akan mengadakan acara 4 bulanan dengan tujuan memohon kepada Sang Pencipta agar ibu dan janin selalu diberikan kesehatan dan dijauhkan dari hal buruk. Dalam kesempatan ini, sepasangan suami istri yang tengah menanti kehadiran si kecil mengundang rekan kerja mereka untuk hadir, memberikan do'a terbaik bagi dedek bayi dan ibunya.
"Bagaimana, Ma, apa semua persiapan udah selesai?" tanya Shaka pada sang mama. Saat ini ia, Zahira serta kedua orang tuanya sedang berada di rumah peninggalan Mei Ling. Setelah berdiskusi dengan Rini dan Rio, Shaka memutuskan mengadakan acara 4 bulanan di rumah mertuanya sebab lokasinya tidak begitu jauh dari rumah sakit dan apartemennya.
Rini yang saat itu sedang menata souvenir bagi para tamu menoleh ke belakang, mengulum senyuman untuk anak tercinta. "Kamu tenang aja, semua persiapan hampir selesai. Hanya tinggal menata souvenir dan menunggu tamu datang," jawabnya lembut. Pandangan mata menerobos masuk ke dalam rumah melalui sedikit celah tubuh Shaka. "Rara udah selesai didandanin belum?"
"Udah, Ma. Rara sekarang lagi di ruang keluarga, ditemani Bunda Arumi." Tangan Shaka turut membantu merapihkan bingkisan yang akan diberikan kepada tamu undangan. "Oh ya, Ma, apa Papa betulan enggak jadi datang ke acara 4 bulanan istriku?"
Rini menghela napas sejenak sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Shaka. "Semalam udah Mama tanyakan lagi dan kata Papamu sidangnya enggak bisa dimajukan. Jadi terpaksa Papa enggak bisa datang." Jemari tangan Rini menyentuh pundak Shaka dan berkata, "Papamu minta maaf karena enggak bisa hadir di moment spesial ini. Kendati begitu, Papa tetap mendo'akan yang terbaik bagi menantu dan cucu-cucunya."
Tampak raut kekecewaan di wajah Shaka, tapi ia mencoba bersikap biasa saja dan tidak ingin membuat Rini merasa tidak nyaman atas ketidakhadiran Rio di tengah kebahagiaan mereka.
"Ya udah enggak apa-apa. Yang penting segala urusan Papa di sana cepat selesai dan bisa kembali kumpul bersama kita."
Sebenarnya Rio ingin sekali menyaksikan acara 4 bulanan sang menantu, hanya saja hari ini dia diminta menangani kasus yang tak bisa di-handle oleh anak buahnya. Kasus tersebut hanya dapat ditangani oleh Rio dan Shaka. Berhubung Shaka akan menjadi tuan rumah dan tentunya kehadirannya sangat dibutuhkan Zahira, terpaksa Riolah yang turun tangan menghadapi kasus itu seorang diri. Dibantu asistennya mereka pergi ke Bali tepat dua hari sebelum acara dimulai.
Sementara itu, tampak Zahira tengah terlibat obrolan seru seputar kehamilan. Arumi menceritakan pengalamannya saat mengandung Zahira beserta kedua kakak kembarnya, Ghani dan Zavier.
"Jadi saat mengandungku, Bunda pernah ngidam soto mie Bogor buatan Mang Suparman yang terkenal di daerah Bogor sana?" Zahira membeliakan mata, tidak percaya mendengar cerita sang bunda.
__ADS_1
Arumi tersenyum lebar sembari menganggukan kepala. "Benar. Untung saja saat Bunda minta dibelikan soto mie Bogor, jam dinding di ruangan Ayahmu menunjukan pukul tiga sore sehingga kami masih punya waktu untuk melajukan kendaraan ke daerah Bogor sana. Coba kalau enggak mungkin Bunda akan uring-uringan sepanjang hari karena keinginan tidak dituruti."
Wanita yang pernah menjalani perihnya hidup berumah tangga akibat dikhianati oleh suami dan sahabatnya tersenyum geli tatkala mengingat kejadian puluhan tahun lalu saat mengandung anak pertama mereka. Rayyan, tipe lelaki pendiam dan anti terhadap perempuan dapat berubah menjadi sosok suami dan calon ayah siaga bagi ketiga bayi dalam kandungan sang istri. Rela menerjang hujan dan macet demi menuruti ngidam Arumi.
"Ck ... ck ... pantas aja Ayah begitu bucin terhadap Bunda." Suara bariton seseorang menginterupsi percakapan antara dua perempuan cantik beda generasi.
Arumi dan Zahira refleks menoleh ke sumber suara. Begitu melihat sosok pria tampan yang tak asing bagi mereka, senyuman lebar terukir di bibir keduanya.
"Kakak kedua?" Zahira bangkit dan segera berhambur memeluk tubuh Zavier. Kedua tangannya melingkar di pinggang sang kakak. "Kupikir Kakak enggak akan datang."
Zahira amat bahagia sebab dapat berjumpa kembali dengan Zavier. Terakhir kali bertemu kala mereka merayakan wedding anniversary Arumi dan Rayyan yang ke-23 tahun. Setelah itu mereka tidak bersua lagi karena sibuk dengan studi masing-masing.
"Mana mungkin enggak datang. Kakak, 'kan udah janji sama kamu akan datang saat usia kandunganmu memasuki minggu ke-20. Walaupun sibuk, Kakak usahakan menepati janji yang pernah diucapkan." Zavier mengecup puncak kepala Zahira dengan penuh cinta.
Pelukan mereka terurai. Rona bahagia terpancar jelas di wajah masing-masing. Bahkan Zahira meneteskan air mata bahagia karena salah satu kakak kembarnya turut hadir memberikan do'a terbaik untuknya dan kedua bayi dalam kandungannya.
Tangan Zavier terulur ke depan, mengusut buliran kristal di sudut mata. "Sst! Ibu hamil enggak boleh nangis, nanti keponakanku ikutan sedih loh." Menangkup wajah yang mulai membulat, kemudian menarik sudut bibir Zahira menggunakan kedua tangan. "Kamu terlihat lebih cantik kalau tersenyum. Jadi ... keep smile!"
Setelah melepas rindu dengan adik tercinta, kini saatnya Zavier menyapa wanita yang telah mengandung dan melahirkannya ke dunia fana ini. Selangkah demi selangkah ia berjalan mendekati Arumi yang berdiri membeku di tempat.
__ADS_1
Air mata terus bercucuran di sudut mata keduanya. Rasa haru semakin membuncah tatkala melihat orang yang begitu dirindukan berdiri dari jarak yang tidak terlalu jauh.
"Bunda?" Zavier segera memeluk Arumi dengan erat. Lelaki tampan yang wajahnya mirip dengan salah satu model terkenal Negeri Tirai Bambu, Xu Zhibin memangis dalam pelukan bunda tercinta. "Aku kangen, Bun." Calon dosen yang saat ini tengah disibukan dengan disertasi berkata dengan suara manja. Tidak peduli jika saat ini ia menjadi pusat perhatian semua orang.
"Maafkan aku kalau enggak pernah pulang dan ngasih kabar pada Bunda," sambungnya tanpa melepaskan tangan dari tubuh sang bunda.
Air mata Arumi semakin deras mengalir seakan sulit dihentikan. Perasaan wanita itu campur aduk ketika tangannya yang mulai letih kembali memeluk buah cintanya bersama suami.
"Bunda juga kangen kamu, Nak. Syukurlah kamu baik-baik saja." Hanya kalimat itu yang mampu terucap di bibir Arumi. Suara wanita itu tercekat di tenggorokan. Arumi menikmati moment kebersamaan yang sudah lama ia rindukan.
Semenjak anak-anaknya dewasa dan mempunyai kehidupan masing-masing, ia jarang sekali berkumpul dengan Triplet. Terlebih ketiganya memutuskan melanjutkan pendidikan di kota berbeda bahkan terpisah jarak dan waktu.
Hal itulah yang membuat Arumi merindukan buah cintanya yang dikandung selama delapan bulan. Walaupun teknologi sudah canggih dan ia dapat menemui mereka hanya dengan memesan tiket pesawat, tapi rasanya akan sangat berbeda jika anak-anaknya datang sendiri menemuinya.
...***...
Tatapan mata Xavier saat melihat Arumi, bunda tercinta.
__ADS_1