
Sementara itu, di tempat berbeda ada dua pasang suami istri beserta satu orang anak gadis berusia sembilan belas tahun sedang berkumpul di taman belakang sebuah rumah di kawasan Tangerang Selatan. Sebuah rumah warisan dari ibu angkat Arumi yang kini dijadikan tempat beristirahat saat akhir pekan. Biasanya Rayyan dan Rio akan mengajak istri serta anak-anak menginap di sana sambil menikmati waktu kebersamaan mereka.
"Rio, gimana perkembangan kasus mantan calon menantumu itu, apa semua urusan sudah selesai?" tanya Rayyan. Saat ini direktur rumah sakit bertaraf internasional duduk bersandar di kursi santai tepian kolam renang.
Rio menyesap secangkir kopi hangat buatan sang istri. Menikmati setiap tegukan cairan hitam tersebut masuk ke tenggorokan. "Masih belum, Ray. Pengacara dari pihak lawan masih terus berusaha melawan, tapi aku sangat yakin jika kami akan berhasil memenangkan kasus tersebut meski terkesan alot."
Tampak Rayyan manggut-manggut. "Baguslah kalau begitu. Aku sih berharap semoga kasus mantan tunangan anakmu jangan dulu selesai sebelum anakku pulang berbulan madu. Aku tidak rela jika wanita itu mengganggu waktu liburan Zahira."
Rio meletakkan kembali cangkir kopi tersebut di atas meja. "Kamu tenang aja. Kalaupun kasus Ziva sudah selesai, aku tidak akan membiarkan wanita itu merusak suasana liburan Rara dan Shaka. Aku akan mencari cara apa pun untuk menghalangi wanita itu agar tidak menjadi orang ketiga di antara anak dan menantuku tercinta.
Rayyan melirik Rio yang menyuapkan pisang goreng. "Harus dong! Itu sudah menjadi kewajibanmu untuk menjaga putriku yang kini menjadi menantu di keluargamu. Awas saja kalau Zahira terluka, aku tidak segan-segan menghajarmu!" ancamnya. Pria berwajah oriental memang tak pernah main-main dengan ucapannya.
Mendengar ucapan itu, Rio terkekeh, "Bukan hanya menghajar, kamu pun boleh menyuntik mati aku kalau sampai membiarkan Zahira terluka."
Di saat para kaum Adam terlibat percakapan seru, tiga wanita cantik tampak fokus dengan pekerjaan mereka. Arumi dibantu Rini sedang membolak balikan sosis, daging sapi, bakso dan udang di atas alat pemanggang. Shakeela sendiri bertugas menyiapkan alat makan untuk semua orang. Malam minggu ini ibu empat orang anak berinisiatif mengadakan pesta barbeque di rumah peninggalan mendiang mama tercinta.
"Sha, jangan lupa tuangkan air minum ke dalam gelas biar enggak seret pas makan," kata Arumi mencoba mengingatkan anak bungsunya.
"Ok, siap, Bun!" sahut Shakeela. Anak bungsu dari empat bersaudara segera menjalankan perintah sang bunda. Lima gelas beling ia letakkan di atas meja, kemudian menuangkan air ke dalam gelas tersebut secara bergantian.
__ADS_1
"Rin, jadi kamu dan Rio udah baikan?" tanya Arumi disela kegiatan mereka memanggang makanan.
Jemari tangan Rini sibuk mengolesi daging sapi, bakso, sosis dan udang menggunakan saus barbeque. "Udah. Untung saja Mas Rio segera menyadari kesalahannya. Jika tidak, malam ini kami tidak mungkin menerima tawaran kalian untuk pesta barbeque."
"Jangankan pergi bersama, tidur satu kamar pun aku enggak sudi. Lebih baik aku tidur di kamar tamu daripada harus bermalam bersama suami egois yang hanya memikirkan pekerjaannya saja tanpa pernah berpikir jika seandainya keputusan dia akan merugikan banyak orang," sambung Rini. Wanita paruh baya itu masih tampak kesal meski semua masalah telah terselesaikan.
Penjepit di tangan sebelah kanan Arumi diletakkan di samping pemanggang, kemudian mengusap pelan pundak sang sahabat. "Udah ah, jangan dibawa emosi lagi! Toh semuanya udah selesai. Kasus Ziva ditangani oleh Irhan, sedangkan Shaka dan Zahira pun sedang menikmati waktu berbulan madu mereka. Sekarang tinggal kamu belajar memaafkan kesalahan Rio, kasihan dia dari tadi kamu cuekin terus."
Rini menolehkan kepala ke belakang. Wajah Rio memang sedikit berbeda dari biasanya. Walaupun lelaki itu mencoba menutupi kegundahannya dengan cara tertawa dan bersikap seolah semua baik-baik saja, tapi air muka sang suami tak dapat ditutupi.
Rini menghela napas dalam mendengar apa yang dikatakan oleh Arumi. Sejujurnya ia pun tidak tega bersikap cuek bebek kepada suami tercinta, tapi keputusan Rio yang memaksa Shaka menerima kasus Ziva membuat emosinya meledak-ledak.
Tiba acara makan malam, semua orang duduk di tempat masing-masing. Makan malam pun berlangsung sunyi tak ada satu orang pun mengucap sepatah kata, hanya terdengar dentingan sendok dan garpu beradu dengan piring.
Arumi menikmati makan malam bersama orang-orang terkasih. Ada suami, anak dan kedua sahabat membuat hidupnya semakin sempurna. Terlebih kini Rini dan Rio bukan sekadar kerabat melainkan juga sebagai besan.
Di saat Arumi hendak mengiris daging sapi miliknya, sesuatu menghantam hati wanita paruh baya saat membayangkan wajah anak ketiganya, Zahira. Debaran halus ia rasakan diiringi sebuah rasa yang sukar dilukiskan.
"Babe, apa yang terjadi padamu?" bisik Rayyan di telinga Arumi.
__ADS_1
Suara Rayyan sangat pelan. Setiap kata yang terucap mengisyaratkan sebuah kekhawatiran akan pasangannya. Sejak dulu hingga sekarang, sikap lelaki itu tidak pernah berubah meski sebentar lagi mereka akan merayakan pernikahan yang ke-25 tahun.
Sudut bibir Arumi terangkat. Wanita paruh baya itu tersenyum dengan lembut dan berkata, "Aku enggak apa-apa, Mas. Tadi terdiam karena aku seakan mendapat firasat bahwa hubungan putri kita dengan anak sahabatmu semakin dekat. Ehm ... bahkan mungkin sebentar lagi akan ada tangisan bayi turut meramaikan rumah kita."
Bola mata Rayyan melebar sempurna, cukup terkejut akan perkataan Arumi. "Dari mana kamu bisa tahu kalau malam ini putriku dan lelaki berengsek--"
"Mas, hentikan! Jangan sampai perkataanmu di dengan oleh Rini dan Rio! Enggak enak kalau didengar mereka," bisik Arumi mencoba mengingatkan Rayyan. Ia mengedarkan pandangan ke arah pasangan suami istri yang duduk di seberang sana. Beruntungnya mereka tak mendengar perkataan Rayyan.
Arumi membenarkan kembali posisi duduknya. "Dari mana aku bisa tahu akan ada kabar baik datang menghampiri keluarga kita? Jawabannya adalah ... naluriku sebagai seorang ibu yang mengatakan itu semua. Jadi, mulai sekarang kamu harus bersikap baik terhadap menantu kita. Aku enggak mau Rara sedih melihat suaminya terus dianiaya olehmu," terkikik pelan saat melihat ekspresi wajah Rayyan yang sulit diartikan.
Rayyan mencibir dan memutar bola matanya. "Tergantung. Jika bocah itu tak membuat masalah maka aku enggak akan menganiayanya." Namun, jauh di lubuk hati yang terdalam sebenarnya Rayyan ikut bahagia sebab kini anak kesayangannya telah mendapatkan kebahagiaan. Hidup bersama seseorang yang dicintai dan mencintai kita seakan dunia ini berada dalam genggaman.
Hal itu pulalah yang Rayyan harapkan kepada keempat anak-anaknya, mereka dapat hidup bahagia bersama pasangan mereka. Hanya itulah impian kecil dari seorang direktur rumah sakit terkenal, melihat Triplet serta Shakeela bahagia selamanya.
.
.
.
__ADS_1