
Seorang pelayan kembali datang menyajikan dua piring steak dan dua gelas orange juice. Daging panggang itu mengepul, menguarkan aroma khas daging bercampur rempah-rempah. Tampilannya begitu menggugah selera dengan garnish peterseli, tomat, brokoli dan dipadu dengan saus creamy garlic mushroom.
Shaka mengiris daging steak dengan santai. Pandangan pria itu sesekali menatap wajah cantik jelita sang istri. "Bagaimana, apa kamu suka dengan kejutan makan malam yang kusiapkan untukmu?" tanya pria itu di sela aktivitas mereka menyantap hidangan di atas meja.
Zahira mendongak, memberanikan diri membalas tatapan Shaka. "Tentu saja! Seumur hidup baru kali ini aku makan malam romantis dengan seseorang. Kamu adalah lelaki pertama yang memberi kejutan dan mengajakku candle light dinner. Aku ... merasa bahagia sekali. Terima kasih, Shaka." Senyuman tulus tersungging di sudut bibir Zahira. Setiap kalimat yang terucap berasal dari lubuk sanubari yang terdalam.
Hati pria tampan berhidung mancung dan berparas rupawan berdebar merasakan desiran lembut di dada saat Zahira mengatakan bahwa dialah lelaki pertama yang memberi kejutan dan mengajaknya makan malam romantis. Dalam diam merasa bersyukur karena selama ini mertua serta kedua iparnya menjaga ketat gadis bermata sipit yang kini berstatuskan sebagai istrinya.
Aku berjanji setelah malam ini akan ada kejutan lain yang kuberikan setiap minggunya untukmu, Ra, sebagai bukti bahwa diriku benar-benar serius dengan hubungan kita bukan hanya bualan semata, janji Shaka dalam hati. Ia berjanji mulai malam ini akan selalu berusaha membahagiakan istrinya.
Shaka berdehem sejenak sebelum membalas perkataan Zahira. "Aku senang kalau kamu senang. Dan satu lagi, jangan pernah mengucap kata terima kasih karena sejatinya membahagiakan istri adalah kewajiban bagi seorang suami," ucapnya sambil tersenyum.
Pasangan suami istri itu terlihat riang dan ceria. Menyantap makan malam ditemani cahaya lilin serta suasana temaram menjadikan restoran itu begitu romantis layaknya di film-film. Saling memandang, melempar senyum manis satu sama lain. Rasanya Zahira tidak rela jika moment ini cepat berakhir karena takut bila keesokan hari ternyata semua ini hanyalah mimpi.
"Ingin berdansa denganku, Nyonya Shaka Abimana?" Shaka mengulurkan tangannya di depan Zahira setelah mereka menghabiskan hidangan penutup berupa es krim strawberi. Alunan denting piano mulai berbunyi mengundang pasangan suami istri itu berdansa.
Zahira menyambut uluran tangan Shaka. "Enggak ada alasan bagiku untuk menolak ajakan suamiku."
Zahira dan Shaka melangkah ke tengah ruangan. Mereka berdansa mengikuti alunan denting piano yang begitu indah nan merdu. Sang lelaki memeluk pinggang istrinya dengan sangat posesif, sedangkan Zahira melingkarkan tangan di leher suaminya. Keduanya saling melempar senyum, memandang lekat satu sama lain.
"Ra, kamu malam ini terlihat begitu cantik. Kamu bagaikan bidadari yang turun dari langit," puji Shaka sambil terus memandang lekat iris coklat istrinya.
__ADS_1
"Jadi menurutmu, kemarin-kemarin aku enggak cantik, begitu?" ucap Zahira pura-pura merajuk. Wajah cemberut dengan bibir mengerucut ke depan.
Shaka menggeleng kepala cepat, takut istrinya marah dan acara makan malam romantis pertama mereka hancur akibat kebodohannya. "Bukan begitu maksudku. Kemarin kamu pun cantik hanya saja untuk malam ini jauh lebih cantik dari sebelumnya."
Melihat air muka penuh kecemasan membuat Zahira mengulum bibir agar tawanya tidak lepas. Ia cukup terhibur melihat wajah Shaka yang mulai panik seketika.
"Oh begitu, kupikir hanya malam ini saja aku terlihat cantik," jawab gadis itu masih dengan ekspresi pura-pura kesal.
Keduanya pun kembali berdansa mengikuti irama alunan merdu yang terdengar begitu syahdu. Baik Shaka maupun Zahira tampak begitu menikmati waktu kebersamaan mereka. Akan tetapi, kegiatan mereka harus terhenti saat layar di tengah ruangan menyala lalu tak berselang lama cuplikan foto dua insan manusia sejak masih bayi hingga remaja berputar dengan gerakan slow motion.
Pemandangan di depan sana sukses menarik perhatian Zahira. Lantas, ia melepaskan tangannya yang melingkar di leher Shaka, lalu berdiri sambil menatap lurus ke depan. Cuplikan foto di depan sana menggali kembali memori ingatan gadis cantik itu akan indahnya masa kecil mereka. Saat masih kecil, keseharian mereka hanya dihabiskan untuk bermain, bermain dan bermain tanpa memikirkan cara bagaimana menyongsong hari esok untuk menjadi insan manusia yang lebih baik lagi dari sebelumnya.
Sepasang mata indah mulai berkaca-kaca tatkala melihat seorang bocah kecil berusia lima tahun memberikan jepitan bentuk bintang, kemudian memasangnya di rambut anak perempuan bermata sipit. Jepitan itulah benda pertama yang Zahira dapatkan dari Shaka, tapi benda tersebut telah ia buang setelah mengetahui bahwa hati sang pujaan hati telah diberikan kepada wanita lain.
Zahira membutuhkan penjelasan dari Shaka. Lelaki itu wajib menjelaskan secara detail. Lantas, ia membalikan badan, tapi gadis itu dibuat terperangah akan puncak kejutan yang sesungguhnya.
Di depan Zahira, Shaka berlutut dengan tangan menyodorkan satu buah kotak berisi cincin berlian. Pengacara tampan itu dengan lantang berkata, "Najma Zahira Wijaya Kusuma, disaksikan semua orang dan gemerlap bintang di luar sana, aku, Shaka Abimana ingin memintamu untuk menjadi ibu bagi anak-anakku."
Zahira tak kuasa menahan tangis. Air mata gadis itu meleleh di antara kedua pipi. Gadis itu terisak bahagia sebab akhirnya impiannya untuk dilamar oleh seseorang yang dicintai akhirnya terkabul.
"Shaka?" panggil Zahira lirih di tengah isak tangisnya.
__ADS_1
"Ra, aku sadar kalau diriku ini masih jauh dari kata sempurna sebagai seorang suami. Aku pernah mengecewakanmu beberapa kali, enggak pernah menghargai perasaanmu dan selalu menyakiti hatimu. Namun, sungguh aku enggak ada niatan sama sekali untuk meninggalkanmu dan menggantikan posisimu dengan wanita lain."
"Kamu bagaikan lentera dalam hidupku, menjadi penerang dan penyemangat hidupku. Aku enggak sanggup bila kamu pergi dari hidupku. Aku ingin kamu terus ada di sisiku selamanya. Maukah kamu menjadi pendamping hidupku? Berada di sisiku dalam suka dan duka? Dalam keadaan sehat maupun sakit? Kaya maupun miskin? Pokoknya menjadi pendamping hidupku hingga Tuhan mencabut nyawaku?"
"Ra, kamu adalah satu-satunya orang yang sangat spesial bagiku bukan sebagai sahabat tapi sebagai istri dan juga pendamping hidupku. Aku ... cinta sama kamu." Shaka berkata lantang di tengah alunan merdu biola dan cuplikan foto yang terus berputar.
Zahira kehabisan kata-kata. Telapak tangan menutup mulutnya yang kini bagaikan candu bagi Shaka. Pundak gadis itu bergerak turun dan naik. Sungguh, ini adalah kejutan terindah dalam hidupnya.
"Ra, kamu mau 'kan nerima aku menjadi kekasih halalmu?" tanya Shaka dengan harap-harap cemas.
Zahira menarik napas panjang sambil memejamkan mata sejenak. Lalu, ia membuka secara perlahan dan menatap sosok lelaki di hadapannya. Kepala mengangguk sebagai jawaban. Ia bersedia menerima Shaka menjadi kekasih halalnya.
Shaka tersenyum. Masih dalam posisi berlutut, pria itu melingkarkan cincin berlian di jari manis sang istri. "Dengan cincin ini, aku nyatakan bahwa kamu hanyalah milikku seorang." Lelaki itu mendaratkan sebuah kecupan di punggung tangan istrinya.
Shaka bangkit dari posisinya saat ini, kemudian ia mengusut buliran air mata yang membasahi pipi Zahira. "Terima kasih sudah memberiku kesempatan kedua." Lantas, ia menangkup kedua pipi Zahira, mencium dan melumaat bibir ranum itu dengan penuh cinta. "I love you, Najma Zahira."
Zahira membalas pangutan suaminya dan berkata, "I love you too, Shaka Abimana."
Mendengar pengakuan cinta dari Zahira, Shaka langsung memperdalam ciuman. Bibir mereka saling memagut, lidah saling membelit. Keduanya larut dalam ciuman yang memabukkan hingga menimbulkan gelenyar aneh di dalam diri masing-masing.
.
__ADS_1
.
.