Pengantin Pengganti Sahabatku

Pengantin Pengganti Sahabatku
Menjaganya di Rumah Sakit


__ADS_3

Hari sudah semakin malam saat seorang gadis mulai menggerakan bulu matanya yang lentik. Kelopak mata perlahan terbuka menyesuaikan dengan kontras lampu di ruangan tersebut. Tatkala kelopak mata indah nan jernih sudah terbuka sempurna, barulah ia bisa melihat dengan jelas ruangan tempatnya berada saat ini.


"Di mana aku? Kenapa warna cat ruangan ini serba putih dan hijau?" gumam Zahira. Kepala masih terasa pusing, tetapi rasa ingin tahu menguasai diri.


Bola mata Zahira memindai seisi ruangan. Bau karbol menyengat menyadarkan gadis itu bahwa saat ini berada di sebuah ruangan yang sangat tidak asing baginya. Lalu, kepingan kejadian sebelum ia pingsan kembali terekam di memori ingatannya. Bagaimana saat Shaka melempar telepon genggam ke sofa masih melekat jelas di benaknya.


Tersenyum getir sambil berkata dalam hati, Ra ... Ra ... nasibmu malang sekali. Mencintai seorang pria selama bertahun-tahun tapi ternyata dia tidak pernah mencintaimu sama sekali.


Dulu, kamu pernah bermimpi bersanding dengannya di pelaminan. Mimpimu menjadi kenyataan, namun tetap saja kamu tidak bisa menjadi seseorang yang dia cintai. Tapi bodohnya lagi, kamu masih mencintai lelaki itu dan berharap suatu hari nanti cintamu terbalaskan. Benar-benar gila!


Tatkala Zahira sedang sibuk menertawakan nasibnya yang malang, suara dengkuran halus mengembalikan kesadarannya. Sontak, ia menoleh dan melihat seseorang yang tengah tertidur sembari menyembunyikan wajahnya di atas kedua tangan. Satu hal yang membuat gadis itu terkesiap beberapa saat adalah tangan pria itu menggenggam erat jemarinya dengan sangat erat. Hati berdesir halus saat merasakan sentuhan tangan lelaki itu terasa begitu lembut.


Meskipun dokter cantik sempat kecewa, tetapi melihat pemandangan langka tersebut hatinya menghangat. Rasa benci dan kecewa sirna begitu saja. Ia mencoba melepaskan genggaman tangan Shaka secara perlahan, kemudian mengusap rambut hitam sang suami dengan penuh cinta.


Shaka, aku tahu hingga detik ini kamu belum bisa melupakan Ziva. Aku pun tak bisa menyalahkanmu sepenuhnya sebab untuk melupakan seseorang yang selama bertahun-tahun hadir dan menemani keseharian kita, tidaklah mudah. Namun, kalau boleh aku meminta, berikan kesempatan kepadaku untuk membantumu melupakan calon mantan istrimu itu.

__ADS_1


Merasakan gerakan lembut mengusap kepalanya, Shaka terbangun dan mencoba melihat sesuatu yang mengganggu tidurnya.


Mendongakan kepala dan memandangi wajah pucat Zahira. "Rara, kamu sudah sadar?" tanya Shaka dengan suara lirih. Tangan terangkat ke atas, mengucek mata secara perlahan.


"Ka, maafin aku karena sudah merepotkanmu."


Shaka merubah posisi duduknya menjadi lebih tegak. "Aku yang seharusnya meminta maaf karena tidak becus menjagamu. Andai saja aku bisa menjagamu dengan baik mungkin ini semua tidak akan terjadi. Maafkan aku, Ra."


"Apa ada bagian tubuhmu yang terasa sakit? Kalau iya, aku akan panggilkan dokter," sambung Shaka. Terpancar jelas raut penuh kecemasan di wajah tampan pria itu.


Dokter cantik berwajah oriental berusaha bangun, tetapi Shaka menahan tubuh sang istri. "Kamu mau apa, Ra?"


"Aku haus, Ka, ingin minum," jawab Zahira lirih.


"Kamu tidur saja, biar aku yang ambilkan." Tanpa menunggu jawaban Zahira, Shaka bergegas meraih gelas berisi air putih di atas nakas. Menaruh sedotan di dalam gelas, kemudian menyodorkannya kepada Zahira. "Minumlah secara perlahan."

__ADS_1


"Aku belum memberitahu kedua orang tua kita. Mungkin besok pagi baru kuberitahu mereka," ucap Shaka seraya membantu Zahira menyesap air putih yang disodorkan kepadanya.


"Tidak masalah. Aku malah berharap kamu tidak memberitahu Ayah dan Bunda sebab aku takut mereka mencemaskanku." Zahira menyerahkan gelas air minum yang tersisa setengahnya.


Shaka kembali mendudukan bokongnya di atas kursi di samping ranjang rumah sakit. "Iya, aku bisa mengerti. Namun, akan lebih baik lagi jika kita memberitahu keadaanmu pada dua orang tua kita. Aku tidak mau loh dijadikan bahan samsak oleh Ayah Rayyan karena menyembunyikan kabar ini dari beliau." Tersenyum lebar hingga memperlihatkan lesung pipinya di sudut bibir.


Please, Shaka, jangan tersenyum seperti itu kepadaku. Senyumanmu itu semakin membuat jantungku tidak aman, mengerti tidak sih? teriak Zahira di dalam hati.


.


.


.


Halo semua, yuk mampir ke karya teman author. Untuk karya dan nama penanya bisa dilihat di bawah sini. 👇

__ADS_1



__ADS_2