Pengantin Pengganti Sahabatku

Pengantin Pengganti Sahabatku
Sikap Aneh Shaka


__ADS_3

Keheningan yang panjang mengambang di udara saat kedua tubuh tinggi menjulang saling berhadapan dan mata pun saling menatap satu sama lain.


"Aku bertanya sekali lagi padamu, sedang apa kamu di sini, heh?" tanya Shaka lantang. Matanya memberikan tatapan membunuh kepada Nizam.


Nizam menarik sudut bibirnya yang sebelah kanan ke atas. "Saya? Tentu saja bekerja. Pak Shaka pikir, saya sedang apa di sini? Tamasya dengan mengenakan snelli putih dan stetoskop yang melilit di leher, begitu?" Terkekeh pelan melihat ekspresi pria di hadapannya.


"Bekerja? Bukankah kamu--"


Belum selesai Shaka berbicara, Nizam sudah lebih dulu berkata, "Saya sudah resign dari rumah sakit sebelumnya dan selama dua hari ini bekerja di rumah sakit milik Dokter Rayyan, ayah dari Dokter Zahira." Pria itu menatap hangat akan sosok perempuan cantik di sebelahnya. Kemudian tersenyum manis hingga membuat Shaka seperti cacing kepanasan.


Sekujur tubuh sang pengacara seakan tengah dibakar hidup-hidup di atas api yang membara.


Dalam satu gerakan, Shaka menarik tangan Zahira, lalu menyembunyikan gadis itu di belakang tubuhnya dengan sangat posesif seakan dia takut kalau sampai Nizam merebut sang istri dari sisinya. "Ooh, begitu rupanya," ucap Shaka tanpa mengendurkan sikap waspadanya.


"Berhubung Pak Shaka sudah datang maka sebaiknya saya undur diri." Nizam menatap wajah Zahira yang menyembul di belakang tubuh Shaka. "Next time saya akan mengantarmu pergi ke toko itu. Hari ini kamu istirahat saja, kumpulkan tenaga untuk beberapa hari ke depan."


Lantas, Nizam melangkahkan kaki melewati Shaka yang tengah berdiri tegap di depan tubuh Zahira. Shaka menatap sinis pada lelaki asing itu hingga dokter tampan berparas menawan menghilang dari pandangan.


Mendesaah pelan dan secara perlahan, Shaka membalikan badan. "Memangnya kalian berdua mau pergi ke mana? Kenapa kamu tidak memberitahuku terlebih dulu sebelum pergi? Kalau aku tak datang, apa kamu akan pergi dengan lelaki lain tanpa meminta izin terlebih dulu kepadaku?" cecar pria itu tanpa memberi kesempatan kepada Zahira untuk menjawab.


Zahira dibuat melongo mendengar banyaknya pertanyaan yang dilontarkan oleh sang suami. "Shaka, k-kamu kenapa menanyakan begitu banyak pertanyaan kepadaku? Kamu tahu enggak, kalau pertanyaanmu itu sampai bikin kepalaku pening. Aku enggak tahu harus jawab dari mana karena terlalu banyak pertanyaan," keluh gadis itu jujur tanpa menyembunyikan apa pun dari Shaka.

__ADS_1


"Jawab saja satu per satu, apa susahnya sih!" dengkus Shaka dengan nada sewot. Hari ini dia benar-benar dibuat emosi akan kehadiran Nizam di tengah mereka.


Entah kenapa, setiap kali melihat dokter yang dulu pernah merawat istrinya, tubuh Shaka seketika mendidih. Dada kembang kempis, rahang mengeras sempurna disertai wajah merah padam. Selain itu, tiba-tiba saja hadir rasa takut akan kehilangan sosok gadis mungil yang menemaninya sejak mereka masih sama-sama bayi.


"Dasar aneh! Kenapa kamu marah-marah enggak jelas gini sih! Kamu ... lagi PMS ya makanya mudah tersinggung?" sahut Zahira tidak kalah sewot. Cukup kesal atas sikap Shaka yang seenaknya saja memarahinya di tempat umum. Meskipun keadaan lorong itu sepi tetap saja dia tidak biasa dimarahi oleh orang lain termasuk suaminya sendiri.


"Kamu itu yang aneh, Ra! Kenapa kamu mau jalan berdua dengan lelaki lain sedangkan statusmu telah menjadi istri orang."


Entah apa yang ada di pikiran Shaka saat mengucapkan kalimat itu. Jujur, dia sama sekali tidak berniat mengatakan itu akan tetapi perkataan tersebut meluncur begitu saja dari bibirnya yang menggoda.


"Jalan berdua gimana? Aku dan Dokter Nizam baru saja melakukan tindakan, jadi wajar kalau kami jalan berduaan." Tentu saja Zahira cukup geram mendengar perkataan Shaka.


"Wajar katamu? Tentu saja itu enggak wajar, Ra. Kamu itu istriku sudah sepatutnya menjaga jarak agar tidak terlalu dekat dengan pria lain. Mengerti kamu?" kata Shaka dengan meninggikan nada suara di hadapan sang istri. Seumur hidup, baru kali ini dia berkata begitu di depan Zahira.


Perkataan Zahira bagaikan sebuah tamparan keras bagi Shaka. Tubuh pria itu mematung seolah ada sebuah paku besar menancap di kaki.


"Aku terlalu lelah untuk berdebat denganmu, Ka." Zahira berjalan dengan marah akibat pertengkarannya dengan sang suami. Sepasang mata jernih nan indah mulai berkaca-kaca. Hidung pun terasa masam. Saat berpapasan dengan rekan sejawatnya di ruangan khusus bagi para dokter, dia melengos begitu saja. Dengan gerakan cepat menyantolkan snelli putih, kemudian mengambil barang berharga dari dalam loker.


Sampai di parkiran, Zahira bersiap untuk membuka pintu mobil. Mengeluarkan sebuah benda dari dalam hand bag dan menekan kunci alarm. Akan tetapi, tangan kekar seseorang mencekal pergelangan tangan dokter bermata sipit.


"Shaka! Kamu ini apa-apaan sih! Bikin kaget saja!" pekik Zahira kesal setengah mati hingga membuat beberapa pengunjung yang kebetulan lewat menoleh ke arah mereka.

__ADS_1


"Ikut pulang bersamaku!" Hanya itu jawaban Shaka.


"Enggak mau! Aku mau pulang sendirian. Aku enggak mau satu mobil sama orang kejam sepertimu, Shaka!" Bibir Zahira gemetar saat mengucapkan kalimat tersebut. Berusaha keras menahan buliran air mata agar tak jatuh membasahi pipi.


"Enggak ada penolakan, Ra! Aku berbicara di depanmu sebagai seorang suami, bukan lagi sebagai sahabat apalagi anak dari kerabat orang tuamu."


"Kamu ... ooh!" Zahira memekik ketika tiba-tiba tubuhnya terangkat dan melayang di udara. Secara refleks dia melingkarkan tangan di leher Shaka.


"Apa yang kamu lakukan? Turunkan aku, Shaka! Malu dilihatin orang banyak," tegur Zahira sambil melotot. Benar-benar dibuat terkejut oleh aksi Shaka yanh tiba-tiba menggendongnya ala bridal style.


"Untuk apa malu? Toh kita ini adalah pasangan suami istri. Sah-sah saja kalau aku menggendongmu bahkan melakukan suatu hal lebih dari ini pun enggak masalah." Shaka membopong tubuh mungil istrinya menuju tempat di mana dia memarkirkan kendaraan roda empat miliknya. Beberapa orang pegawai rumah sakit serta para pengunjung menyaksikan pemandangan langkah itu dengan tatapan takjub bahkan sebagian dari mereka berdecak kagum karena melihat sepasang suami istri itu terlihat begitu romantis.


Saat di samping mobil, Shaka membukakan pintu mobil untuk Zahira, kemudian memasangkan sabuk pengaman gadis itu. "Duduk yang tenang dan jangan banyak protes!"


Zahira diam saja tidak menjawab sama sekali. Dia hanya mendengkus kesal seraya mengepalkan kedua tangan di samping badan dengan erat hingga memperlihatkan buku-buku kuku.


Setelah memastikan istrinya duduk dengan nyaman, barulah Shaka masuk ke dalam mobil dan melirik tajam pada istri sekaligus sahabat masa kecilnya. Senyuman samar mengembang di sudut bibir. Enggak akan kubiarkan siapa pun merebutmu dari sisiku, Ra. Selamanya cuma aku yang akan memilikimu.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2