Pengantin Pengganti Sahabatku

Pengantin Pengganti Sahabatku
Kerikil Kecil Sebelum Mereguk Indahnya Cinta


__ADS_3

"Ada apa, Dokter Zahira?" tanya Nizam sembari menoleh ke samping.


Zahira hanya menggeleng kepala lemah. Dengan lirih menjawab, "Tidak ada apa-apa." Tubuh gadis itu lemas seketika saat netranya menangkap jelas sosok suaminya tengah bersama wanita lain. Rasanya ia ingin tertawa karena selama sepuluh hari begitu mengkhawatirkan sang suami. Namun, ternyata Shaka malah bersenang-senang dengan Ziva.


Nizam masih memperhatikan wajah Zahira yang berubah menjadi murung. "Apa kita tetap masuk?"


Zavira menggeleng. "Tolong antarkan aku pulang!" Hati gadis itu hancur berkeping-keping bagai benda berbahan kaca yang dilempar ke lantai, pecah dan berserakan di mana-mana.


***


Shaka mengatur napasnya begitu sampai ke parkiran apartemen. Ziva menepati janji dengan tidak mengatakan apa pun selama dalam perjalanan. Lelaki itu cukup menyesal karena sempat memperlakukan mantan tunangannya secara kasar. Rio dan Rini tidak pernah sekalipun mengajarkan dia serta Bagus untuk menyakiti kaum Hawa, tetapi tindakannya beberapa saat lalu merupakan wujud kekesalan terhadap Ziva sebab wanita itu terus saja mengganggu hidupnya.


Kesal dengan segala pikirannya, Shaka memukul kemudi dengan kepalan tangannya. "Ah, sial!"


Shaka memejamkan mata sebentar, tetapi suara dering ponsel membuat pria itu tersadar akan sesuatu. Pupil matanya membesar, hal penting yang baru saja ia ingat malah terlupakan.


"Zahira! Astaga, aku melupakan gadis itu!" sungut Shaka. Lelaki itu dengan tergesa-gesa keluar dari mobil setelah melihat jam menunjukan pukul empat sore.


Awalnya Shaka hendak menjemput ke rumah sakit, tetapi entah kenapa hati kecil pria itu mengatakan bahwa Zahira sudah pulang dan ada di apartemen.


"Ra? Kamu sudah pulang?" seru Shaka sembari menerobos masuk ke dalam apartemen. Suasana hening, tak ada sahutan dari siapa pun hanya terdengar bunyi detak jarum jam dinding di ruang tamu.


Namun, firasat Shaka begitu yakin kalau Zahira telah tiba di apartemen. Terlihat dari pintu kamar istrinya yang tidak tertutup rapat.


Berjalan setengah berlari menuju kamar tamu. Shaka dorong pintu kamar secara perlahan. "Ra?" panggil Shaka pelan. Ia berjalan menuju walk in closet serta bilik kamar mandi, tapi ia tak menemukan sosok perempuan itu di mana pun.


Tiba-tiba hawa dingin membuat tubuh Shaka menggigil ketika melihat satu buah koper yang kemarin dibawa ke pengungsian tergeletak begitu saja di atas kasur.


"Berengsek!" Shaka langsung berhambur keluar kamar, kemudian merogoh saku celana. "Pantas saja sepi, rupanya semenjak tadi setelah aku chas telepon genggamku tak juga dinyalakan."


Bola mata Shaka melebar sempurna saat mendapati ada banyak panggilan tak terjawab serta pesan singkat dari istrinya. "Oh Tuhan, apa yang kulakukan. Bagaimana kalau Zahira marah dan memutuskan pergi lagi dari sini!"

__ADS_1


Tanpa pikir panjang, Shaka langsung menghubungi Zahira lewat aplikasi berwarna hijau. Cukup lama menunggu hingga akhirnya sambungan telepon itu terhubung.


"Halo?"


"Loh, kok suara laki-laki?" batin Shaka. Lantas, ia menjauhkan benda pipih tersebut dari telinga, memeriksa nomor yang tertera khawatir salah menekan nomor. Namun, nomor tersebut memang benar milik sang istri.


"Di mana istriku?" tanya Shaka dengan menekankan kata istriku. Tak peduli siapa pun di seberang sana, yang penting ia telah mengatakan bahwa sang pemilik nomor adalah istrinya.


Seseorang di seberang sana menjawab, "Ah ... Dokter Zahira, ya? Dia ... sedang bersamaku." Tanpa memberitahu posisi mereka di mana saat ini, sosok itu segera mematikan sambungan telepon.


"Aargh! Sialan! Aku yakin, pria berengsek itu sedang bersama Zahira," kata Shaka. Ingin rasanya ia meremukkan kepala orang itu sebab telah membawa pergi istrinya.


"Pokoknya aku harus mencari Zahira dan membawa dia kembali ke rumah. Ya, aku harus mencarinya sekarang!" Shaka kembali berlari menuju daun pintu. Berlari sekuat tenaga menuju parkiran basemen.


Sementara itu, Zahira baru saja keluar dari kamar kecil. Gadis itu baru saja membuang hajat. Terlalu tergesa-gesa, ia sampai melupakan membawa hand bag yang diletakkan di bangku taman, tapi beruntungnya saat itu ia tidak sendiri, ada dokter Nizam yang sedang menemaninya duduk di sebuah taman kota tempat ia, kedua kakak kembarnya serta Shaka biasa nongkrong dulu saat masih SMA.


"Maaf membuatmu lama menunggu." Zahira duduk di sebelah dokter Nizam. Ekor mata memicing saat mendapati setengah ritsleting hand bag sedikit terbuka.


Dokter Nizam tersenyum lebar hingga memperlihatkan deretan gigi putih dan bersih. "Tidak masalah. Aku bisa maklum, namanya perempuan pasti butuh waktu cukup lama untuk benar-benar memastikan penampilannya terlihat oke saat keluar dari toilet."


Zahira tersenyum samar. "Dokter Nizam, kalau dirimu ingin kembali ke rumah sakit, silakan. Kamu bisa meninggalkanku sendirian di sini. Aku masih ingin duduk di sini sambil menghirup udara segar di sore hari."


Dokter Nizam menggeleng. "Aku akan menemanimu di sini sampai kamu benar-benar puas bermeditasi." Terkekeh pelan mencoba menghibur Zahira meski jokes yang diucapkan terdengar garing.


Hanya desaah napas yang Zahira loloskan. Memaksa rekan sejawatnya pergi pun rasanya sulit sebab lelaki di sebelahnya itu mempunyai watak keras kepala. "Baiklah, kalau itu maumu. Namun, jika Dokter Nizam berubah pikiran, aku tidak keberatan ditinggal seorang diri."


***


"Apa? Astaga, kenapa bisa begini sih, Budhe! Lalu, sekarang di mana Shaka dan Zahira?" tanya Rio dengan meninggikan nada suara.


Pengacara kondang yang merupakan sahabat sejati dari seorang dokter bedah terkenal di Persada International Hospital baru saja mendapat kabar bahwa beberapa saat lalu Zahira pulang ke apartemen dengan sorot mata penuh kekecewaan. Bola mata indah nan jernih memerah seakan baru saja menangis.

__ADS_1


"Mbak Zahira langsung pergi lagi setelah menaruh koper serta barang bawaannya ke dalam kamar. Lalu, tak lama kemudian Den Shaka datang dan berteriak-teriak panggil nama Mbak Zahira, Pak. Namun, ketika saya hendak menghampiri, Den Shaka sudah lebih dulu pergi," tutur Budhe Erna mencoba memberitahu sang majikan.


Rio memijat pelipisnya yang terasa pening. Mendadak kepalanya berkedut kencang membayangkan bencana besar kembali menimpa rumah tangga anak bungsunya. "Ya sudah, Budhe kabarin saya lagi jika mereka telah kembali. Terima kasih."


"Ada apa, Pa? Kenapa mukamu kusut begitu" tanya Rini yang baru saja keluar dari kamar kecil di ruangan sang suami.


Rio melepaskan satu kancing bagian atas kemejanya. Tiba-tiba ia merasa sesak di bagian dada kala mendengar bahwa badai kembali menghantam rumah tangga Shaka.


"Baru saja Budhe Erna telepon, dia memberitahu kalau Zahira pulang ke apartemen dengan raut wajah penuh kesedihan. Menantu kita bergegas pergi lagi setelah menaruh barang-barangnya ke kamar. Tak berselang lama, Shaka masuk ke apartemen sambil berteriak kemudian--"


"Hentikan! Mama enggak mau dengar apa-apa lagi." Tangan Rini melambai di hadapan Rio. "Papa tahu, inilah yang Mama khawatirkan sejak mendengar Shaka menerima kasus Ziva. Seharusnya Papa limpahkan kasus wanita itu ke orang lain, bukan malah memaksa Shaka menerimanya," ujar Rini menunjukan kekecewaannya kepada sang suami. Ingin sekali berteriak di hadapan Rio, mengungkapkan kekesalannya karena telah membawa bencana baru dalam rumah tangga Shaka. Namun, ia teringat bahwa membentak suami ataupun meninggikan nada suara di hadapan imam keluarga bukanlah perbuatan terpuji.


Rini terduduk lesu di sofa, niat hati mengajak suami tercinta jalan-jalan sore menikmati senja di sebuah café tempat biasa mereka hang out, akan tetapi rencana itu harus sirna saat mendengar berita yang kurang memuaskan.


"Perasaan Zahira mudah tersinggung semenjak Shaka ketahuan bohong. Sedikit saja anak kita berbuat salah maka bersiaplah menerima kemarahan menantu kita. Papa sudah tahu begitu malah memperkeruh suasana. Papa egois."


Rini meneriaki isi hati yang selama beberapa hari ini ia pendam. Tindakan Rio memaksa Shaka menerima kasus Ziva membuatnya sedikit kecewa akan sikap sang suami. Mengatasnamakan pekerjaan malah menghancurkan rumah tangga anaknya sendiri.


Dengan kepala menunduk, mata tertutup, Rio mengakui kesalahannya. Karena terlalu idealis membuat lelaki itu menutup rapat mata dan telinga, seolah ia lupa jika klien baru yang tengah dibantu oleh Shaka adalah mantan menantunya yang nyaris membuat aib bagi keluarganya.


"Lalu, apa yang harus aku lakukan, Ma?" Menatap nanar akan sosok perempuan di depan sana.


"Berdo'a saja, semoga anak bungsumu tidak jadi duda!" Usai mengucapkan kalimat itu, Rini bangkit dari sofa. Tangan wanita itu membenarkan tali tas yang merosot di pundak. "Aku mau ke rumah Arumi. Mungkin malam hari baru pulang. Kalau kamu mau makan, makan duluan."


Tanpa menoleh ke arah suaminya, Rini berlalu begitu saja. Ia amat kecewa akan sikap Rio yang seolah tak pernah peka terhadap rumah tangga Shaka. Lelaki itu terlalu mementingkan pekerjaan tanpa memikirkan perasaan orang lain.


"Mas ... Mas ... tanpa disadari olehmu, kamulah yang menciptakan jarak pemisah dengan sahabatmu sendiri," ujar Rini dengan sorot mata penuh kekecewaan.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2