
Zahira menata makanan di atas meja makan. Merasa tubuh sudah jauh lebih baik dari hari sebelumnya, dokter cantik memutuskan membuat makan malam untuk seluruh anggota keluarga. Ia dibantu Arumi dan mbak Tina menyiapkan makan malam, sedangkan Shakeela bertugas menemani Rayyan di ruang keluarga.
Melihat Shakeela masuk ke dapur dengan wajah cemberut, membuat Zahira penasaran. "Siapa yang bertamu ke rumah kita malam-malam, Dek?" tanya gadis itu sesaat sebelum percakapan antara Rayyan dan Shaka terjadi.
Dengan kesal Shakeela menjawab, "Siapa lagi kalau bukan Kak Shaka! Lelaki jahat yang tega membohongi istrinya!"
Mendengar nama Shaka terucap membuat tangan Zahira gemetar hingga nyaris saja membuat teko di tangan jatuh ke lantai. Luka di hati belum sembuh tapi ia harus bertemu dengan suaminya.
"Hati-hati, Kak!" seru Shakeela sembari menahan teko terbuat dari keramik motif bunga dari tangan Zahira. "Kakak kenapa bisa ceroboh sih! Bagaimana kalau terjatuh lalu melakui kaki? Ayah bisa marah besar jika melihat anaknya terluka." Tanpa banyak cakap, si cantik Shakeela meraih teko tersebut dan meletakkannya di atas meja.
"Kakak sebaiknya istirahat, biar aku yang melanjutkan," imbuh Shakeela pada akhirnya.
Tak berselang lama, Arumi masuk ke dapur dan berkata, "Ra, siapkan minuman untuk suamimu. Setelah itu kamu antarkan sendiri ke depan."
Zahira yang sedang duduk di kursi makan mendongakan kepala. "Tapi, Bun--"
Belum selesai Zahira berkata, Arumi telah lebih dulu menginterupsi. Telapak tangan wanita itu terangkat ke udara. "Meskipun kamu terluka akan sikap Shaka, tetapi dia tetap suamimu, lelaki yang wajib dihormati dan dilayani dengan sepenuh hati. Jangan sampai kamu melalaikan tugas dan kewajibanmu sebagai seorang istri!"
"Enak sekali jadi Kak Shaka. Sudah berbuat salah tapi masih dilayani," cibir Shakeela.
Arumi menggelengkan kepala. Berbicara dengan Shakeela memang harus mempunyai stok kesabaran seluas Samudera Hindia sebab anak bungsunya tak jarang membuat pening kepala. "Setiap manusia tidak pernah luput dari khilaf dan salah, Sha. Anggap saja Kakak iparmu khilaf saat itu hingga tanpa sadar telah melukai hati Kakakmu."
"Sudah, jangan banyak berdebat! Buatkan minuman untuk Shaka," titah Arumi tanpa mau diganggu gugat.
Hampir lima menit Shaka dan Rayyan berada di ruang keluarga tetapi tak ada sepatah kata pun terucap usai mengucapkan apa yang ingin disampaikan kepada masing-masing. Akan tetapi, keheningan itu tak berlangsung lama saat Zahira muncul dari arah dapur dengan membawa nampan di tangan disusul Arumi membawakan kopi kesukaan sang suami.
"Nak Shaka, diminum dulu teh-nya selagi masih hangat." Arumi mempersilakan sang menantu mencicipi minuman hangat buatan anak tercinta.
"Iya, Bun," jawab Shaka.
__ADS_1
Segelas teh hangat mengepul, menguarkan aroma melati. Selain itu, ada pula satu toples biskuit gandum tergeletak di atas meja bundar.
Zahira hendak melangkah masuk ke dalam dapur tetapi suara lembut Arumi menghentikan langkahnya. "Temani suamimu dulu, Nak. Jauh-jauh datang ke sini hanya sekadar mencarimu."
Dokter cantik berkulit indah bagai pualam menghela napas panjang. Tidak dapat menolak permintaan Arumi meski sebenarnya ia ingin sekali menjauh dari Shaka. Dengan sangat terpaksa, Zahira pun duduk di sisi Shaka.
Saat Shaka kembali duduk berdampingan dengan Zahira, seulas senyuman tipis tersungging di sudut bibirnya yang seksi nan menggoda.
Zahira membuka satu bungkus gula rendah kalori, kemudian menuangkannya ke cangkir Shaka. "Diminum, Ka!" ucapnya dingin. Pandangan mata sama sekali tak menoleh ke samping.
Tangan kanan meraih cangkir tersebut, kemudian menyesapnya secara perlahan. Mata terpejam saat merasakan cairan coklat itu melewati tenggorokan. Ehm ... teh buatan Zahira memang nikmat. Seumur hidup, tak pernah dapat kujumpai teh senikmat buatan istriku. Bahkan, Ziva pun tak bisa membuatkan teh seperti ini padahal dia adalah kekasihku.
Hampir lima menit Shaka duduk di ruang keluarga sambil mengobrol dengan Arumi. Sementara Zahira dan Rayyan hanya menjadi pendengar setia tanpa ada niatan sedikit pun untuk ikut bergabung.
Netra Arumi melihat jam dinding menempel di dinding, waktu menunjukan pukul delapan malam. "Sebaiknya kita makan malam sekarang. Mbak Tina pasti sudah menghangatkan kembali makanan yang dimasak oleh Zahira."
Arumi menoleh ke sebelah kanannya. "Mas, kita makan malam dulu yuk! Setelah itu baru kamu melanjutkan lagi pekerjaanmu."
"Udang asam manis ini lezat sekali, Bun. Siapa yang memasaknya?" tanya Shaka pura-pura tidak tahu kalau sang istrilah yang memasak.
Shakeela mencibir dan memutar bola mata malas. "Dasar modus!"
Arumi mendelik ke arah Shakeela, tapi gadis itu sama sekali tak merasa terprovokasi. Ia kembali sibuk memakan ayam goreng dicocol sambal dan lalapan buatan kakak tercinta.
"Zahira yang membuat semua hidangan ini, Nak." Arumi menjawab dengan lemah lembut sambil melirik ke arah Zahira.
"Masakan Zahira memang tak pernah mengecewakan. Semua bahan makanan akan terasa enak kalau berada dalam genggaman tangannya," puji Shaka. Kedua sudut bibir tertarik seraya terus menoleh ke samping kanan tempat istrinya duduk.
"Putriku memang pandai memasak karena dia banyak belajar dari Istriku. Namun sayangnya, dia tidak pandai memilih suami. Dia malah menawarkan diri untuk dinikahi oleh lelaki yang tidak tahu berterima kasih," ucap Rayyan santai dan tersirat menyindir sang menantu.
__ADS_1
Shaka bergeming di tempatnya seraya menikmati udang asam manis buatan Zahira. Kata-kata Rayyan mengandung sindiran memang sengaja ditujukan kepadanya. Bukan hanya sindiran biasa, tetapi sindiran yang benar-benar menusuk hatinya. Namun, ia tak menyalahkan mertua serta adik iparnya bila sikap mereka berubah sebab itu semua memang salahnya karena sudah berbohong di depan semua orang.
"Nak Shaka, malam ini menginap saja di sini. Lagipula di luar sedang turun hujan. Tidak baik jika berkendara dalam keadaan hujan deras dan di malam hari." Arumi mencoba mengalihkan topik pembicaraan agar Shaka tidak merasa disudutkan terus menerus.
Zahira yang sedari terdiam kini mulai merespon. Ia meletakkan sendok dan garpu di atas meja. "Shaka pulang mengendarai mobil, bukan naik motor apalagi jalan kaki. Jadi, tidak ada alasan baginya untuk menginap di rumah ini. Di apartemen, dia bisa leluasa melakukan apa pun tanpa harus menyembunyikan sesuatu dari kita semua."
Suara lantang terdengar lirih namun sarat akan kemarahan dan kekecewaan dalam waktu bersamaan. Sikap dingin dan wajah datar seperti kanebo kering membuat alis Shaka mengerut. Pria itu memandangi wajah Zahira yang ia sadari sedari tak pernah sedikit pun membalas tatapannya.
Apakah kesalahanku terlalu berat hingga Zahira enggan memaafkanku? batin Shaka.
Akan tetapi, melihat sorot mata penuh kekecewaan terpancar dari matanya yang indah, Shaka bisa tahu kalau sang istri benar-benar terluka.
Menarik napas panjang dan dalam, kemudian mengembuskan secara perlahan. "Yang dikatakan Zahira benar, Bun. Aku bisa pulang setelah makan malam selesai."
"Bunda tidak mau tahu, pokoknya Shaka harus menginap malam ini! Suka tidak suka, keputusan Bunda sudah bulat!" tegas Arumi. Ia menggunakan kekuasaannya sebagai nyonya rumah dengan harapan masalah antara Shaka dan Zahira cepat diselesaikan. Tidak mau kalau masalah rumah tangga mereka berlarut-larut.
Rayyan mendesaah pelan. Kalau Arumi sudah berkata dengan sedikit meninggikan nada suara, itu artinya tak ada yang boleh merubah keputusannya. "Ayah setuju dengan keputusan Bunda." Pria itu menatap ke arah Zahira. "Malam ini, Shaka akan tidur di kamarmu."
"Apa?" Bola mata sipit melebar sempurna. Ingin protes tetapi tak mendapat dukungan dari siapa pun.
Asyik ... bisa tidur berduaan lagi dengan Zahira, kata Shaka dalam hati. Perasaan berbunga-bunga karena untuk kedua kalinya ia bisa berada dalam ruangan yang sama dengan sang istri.
Malam ini, aku akan menggunakan kesempatan untuk meminta maaf dan memperbaiki semuanya, janji Shaka pada dirinya sendiri.
.
.
.
__ADS_1
Halo semua yuk mampir ke karya teman author. Kisahnya dijamin seru nih. Judul karya dan nama pena ada di bawah sini. 👇