
Selang beberapa hari setelah kepergian Zahira ke Cianjur, hidup Shaka terasa hampa serasa separuh jiwa lelaki itu pergi ke suatu tempat nun jauh di sana.
Shaka baru saja masuk ke dalam apartemennya dan mendapatkan suasana sunyi dan gelap. Satu demi satu lampu menyala otomatis. Matanya menyapu sekeliling ruangan yang rasanya berbeda dari biasanya.
"Ahh, apa yang salah dengan apartemen ini?" Shaka mengusap wajahnya menggunakan telapak tangan dengan frustasi. Kepalanya masih menampung banyak pekerjaan yang belum usai terutama kasus Ziva.
"Apa karena Zahira tidak ada di sini? Kenapa dia tidak mengabariku sama sekali?" Shaka meracau sendiri tanpa ada orang yang menimpali.
Shaka juga menunggu kabar dari Zahira. Tanpa sadar keduanya menaruh harap salah satu dari mereka memberi kabar lebih dulu atau hanya sekedar mengirim pesan singkat via aplikasi warna hijau. Baik Shaka maupun Zahira terlalu gengsi untuk memulai sesuatu hingga akhirnya tersiksa oleh perasaan masing-masing.
Telepon genggam Shaka berdering dari balik saku celananya. Ia membuka layar kunci ponselnya dan melihat apakah pesan itu dari Zahira atau bukan.
"Bukan dari dia ternyata." Shaka melihat nomor yang tidak dikenal menelepon beberapa kali sejak tadi, sekarang malah mengirim pesan juga.
"Nomor asing tapi kenapa sepertinya dia mengenalku?" gumam Shaka lirih. Kedua alis saling tertaut satu sama lain.
["Bolehkah kita bertemu di café biasa?"] Begitulah isi pesan masuk ke ponsel milik Shaka.
Tak lama kemudian sebuah pesan singkat masuk kembali dari nomor yang sama.
["Ah, sepertinya kamu menghapus nomorku, Shaka. Ini aku, Ziva. Aku tunggu kamu di café, ya!"]
Shaka berdecak kesal. Ia benar-benar lelah hari ini dan sekarang Ziva minta ketemuan. Benar-benar membuang tenaganya saja!
"Tumben sekali dia ngajak ketemuan. Emang ada hal apa yang ingin dikatakan olehnya?" bergumam lirih sambil membaca kembali pesan yang dikirimkan Ziva. "Sudahlah, sebaiknya aku temui saja dia sekalian makan malam. Kebetulan perutku lapar sekali." Shaka beranjak dan kembali mematikan ruangan. Tidak seperti saat mereka masih bersama, Shaka sama sekali tidak merindukan mantan tunangannya itu. Ia malah memendam rindu akan sosok perempuan cantik yang tengah berada jauh di sana.
Suasana café yang sering Shaka kunjungi saat masih bersama dengan Ziva belum berubah banyak. Ia mulai mencari wanita yang tiba-tiba mengajaknya bertemu.
"Shaka!" seru Ziva sembari melambaikan tangan ke udara.
"Banyak sekali yang ingin bertemu denganku hari ini," gumam Shaka setelah melihat posisi Ziva. Ia bergegas mendekat ke tempat yang kembali mengingatkan Shaka dengan masa lalunya. Lelaki itu menarik napas, kemudian mengembuskan secara perlahan. Bungsu dari tiga bersaudara mencoba mengendalikan diri untuk tidak terbawa suasana saat berbincang dengan sang mantan kekasih.
"Aku kira kamu tidak akan datang, Shaka," ucap Ziva setelah Shaka duduk di seberangnya.
"Kenapa tidak datang? Ini hanya makan malam biasa saja, 'kan? Jadi, tidak ada alasan bagiku untuk menolak ajakanmu." Shaka menoleh saat menu yang ingin ia pilih sudah berada di depannya.
"Kamu biasa memesan itu, aku kira akan memakan dua porsi sekaligus jika kamu tidak datang." Ziva tersenyum tipis seakan di antara mereka tidak terjadi sesuatu di masa lalu.
Shaka memutar bola mata dengan malas. "Terima kasih," jawabnya singkat.
Shaka sendiri tidak bisa bersikap seperti yang Ziva lakukan saat ini berpura-pura manis, dan tak lupa menyunggingkan senyuman kepada sang korban. Sebagai pihak yang disakiti, seharusnya ia tidak menemui Ziva dengan mudahnya seperti ini. Namun, ia cukup penasaran apa tujuan wanita itu memintanya bertemu di café Senja.
"Kamu tidak makan?" Shaka bertanya dengan wajah datarnya. Ia sudah memulai makan lebih awal karena lapar.
__ADS_1
Ziva malah tertawa. Tangan kanan wanita itu meraih sudut bibir Shaka. "Kalau makan jangan sampai belepotan, Ka. Lihat, ada sesuatu yang tertinggal di sini."
Shaka menahan lengan Ziva, menghentikan aksi wanita itu padanya. "Biar aku saja!" ucap pria itu datar sembari menyingkirkan sisa makanan di sudut bibirnya.
Ziva menundukan kepala. Bayangan masa lalu saat mereka masih bersama menari indah di pelupuk mata. Rasanya ia mulai merindukan masa-masa dimana mereka berpacaran dan akan bertemu di sini. Entah mengapa Ziva samar-samar masih merasa jika Shaka masih menaruh perasaan kepadanya.
"Makanlah."
Ziva menuruti perkataan Shaka. Suasana diantara mereka kembali dingin. Sang pengacara tidak ingin membuat Ziva salah paham jika ia melakukan hal berlebihan, misalnya mengajak berbicara lebih awal. Ia tidak bisa melakukan akting sebaik mantan tunangannya.
"Rasanya masih sama, ya?" kata Ziva memulai percakapan di antara mereka.
"Ya, benar." Shaka masih fokus menyantap hidangan yang ada di hadapannya.
Ziva menatap pria di depannya tidak seperti biasanya. Saat di kantor tadi pagi sikap pria itu pun berbeda. "Kamu mencintai Istrimu?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja di bibir ranum nan seksi sang model.
"Pertanyaan aneh!" dengkus Shaka kesal tanpa berniat menatap bola mata indah milik Ziva.
Ziva tersenyum tipis. Sekali lagi ia teringat kenangan saat mereka masih bersama. Dulu, Shaka begitu tergila-gila akan senyuman wanita itu, tapi sekarang melirik pun Shaka tidak berani dan itu membuat hati Ziva hancur berkeping-keping bagaikan pecahan gelas yang dilempar kemudian berhamburan di lantai.
"Ehm ... entah kenapa aku kok merasa jika kamu masih menaruh perasaan padaku, Shaka." Ziva berkata terus terang dan itu membuat Shaka sontak tersedak mendengarnya.
Shaka tersedak steak yang baru saja dipotong, lalu masuk ke dalam mulut. Ziva baru saja mengatakan suatu hal yang terdengar begitu menggelikan.
Setelah dirasa cukup tenang, barulah Shaka menjawab pertanyaan Zivam "Jadi, kamu mengajakku ketemuan untuk membahas hal itu atau membahas kasusmu?"
Ziva menggigit bibirnya. "Kasus itu ... bukannya sudah selesai ya? Kita akan menang di pengadilan, kan?" Wanita itu mulai mengalihkan topik pembicaraan saat menangkap sinyal berbahaya dari sorot mata tajam sang pengacara.
"Seperti yang kamu kenal dulu, aku masih menjadi pengacara hebat dan tangguh dengan kasus apa pun. Sekarang kamu adalah klienku, tentu saja aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk memenangkan kasusmu."
Suasana mulai sedikit memanas, Shaka terpancing dengan ingatan masa lalunya. Ziva tidak tahu jika reaksi pria itu akan sedingin itu padanya.
"Aku tentu mengajakmu karena kamu pengacaraku, Shaka. Tapi, aku hanya ingin bertemu dan berterima kasih padamu."
"Kenapa berterima kasih? Kamu membayarku dan aku melakukan tugasku, kita impas. Tidak ada yang perlu mengucapkan terima kasih!"
"Shaka, tidak bisakah kamu bersikap seperti dulu kepadaku?" kata Ziva cepat.
Shaka menghentikan suapannya. Napsu makannya tiba-tiba saja hilang. Pria itu tidak berniat untuk membahas selain kasus Ziva, tetapi wanita itu malah membahas masalah lain.
"Apa kamu bekerjasama dengan Irhan untuk memaksaku menangani kasusmu, heh?" skak Shaka. Deru napas lelaki itu memburu, dada pun kembang kempis. Ia paling tidak suka mengungkit masa lalu yang membuat luka di hati kembali terkoyak.
Ziva tidak menjawab. Shaka menghela napas panjang. "Ziva, aku benar-benar tidak ingin bertemu denganmu setelah kasusmu selesai. Jadi, tolong jangan ganggu aku lagi!"
__ADS_1
"Shaka, tunggu!" teriak Ziva. Sebelah tangan wanita itu mencekal lengan Shaka.
Shaka menepis tangan Ziva dengan kasar, lalu meninggalkan wanita itu sendirian. Sebenarnya masih banyak hal yang ingin dikatakan Ziva, tapi lelaki itu tidak tertarik sama sekali untuk mendengarnya.
"Bagaimana bisa dia mengatakan hal-hal aneh? Dasar wanita itu!" dengkus Shaka kesal.
Shaka melajukan kendaraannya dengan kecepatan di atas rata-rata. Pikiran pria itu sekarang sudah kalut karena Ziva. Bagi Shaka, wanita itu hanyalah mantan calon istrinya, tidak lebih. Shaka sudah mulai melupakan luka masa lalu yang disebabkan oleh mantan kekasihnya itu dan berniat membuka hati untuk Zahira.
"Seharusnya dia tidak mempermalukan dirinya seperti ini. Wanita itu ... sungguh tidak tahu malu!"
Beberapa jam berlalu, jalanan mulai sepi senyap ditambah Shaka mulai mengantuk. Pelampiasan setelah bertemu Ziva hanya dengan mengelilingi kota tanpa tujuan.
"Sialan!" gumam Shaka. "Malam ini aku akan tidur di mobil saja. Pulang ke rumah pun percuma karena tidak ada bintang yang kutemui di apartemen itu." Ya, di mata Shaka, Najma Zahira adalah bintang di hatinya saat ini. Bintang yang selalu bersinar di malam hari.
Shaka tidak keluar mobil dan memilih tidur di salam mobil. Ia hanya memarkirkan mobil dan tertidur lelap. Tak menyadari ponselnya kembali berdering.
"Loh tidak diangkat?" Zahira mengernyitkan kening. Ia kenal dengan sikap Shaka yang kurang tidur setiap hari karena pekerjaannya. Tidak mungkin suaminya sudah tertidur di jam seperti ini.
"Padahal aku sedikit mencemaskannya," gumam Zahira.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" Nizam datang berjalan ke arah Zahira.
Zahira menggeleng lemah. "Tidak ada," jawabnya singkat.
"Kenapa? Suamimu tidak menjawab teleponmu?" tebak Nizam saat ekor mata melihat ponsel Zahira berada dalam genggaman.
"Ehm ... iya. Mungkin dia sudah tertidur."
Tampak Nizam manggut-manggut. "Bisa jadi. Profesi pengacara tak kalah sibuk dan melelahkan seperti seorang dokter. Jadi kamu harus maklum dengan keadaan suamimu yang super sibuk."
Zahira hanya menganggukan kepala sebagai jawabannya.
Nizham terlihat berpikir sesaat. Pria itu sangat senang mengambil waktu berbicara dengan Zahira di sela kesibukan mereka sebagai seorang relawan. "Tidak terasa ya tugas kita akan berakhir besok siang. Setelah itu kembali sibuk dengan rutinitas seperti biasa."
"Dokter Nizam benar. Saya pasti merindukan moment kebersamaan dengan para korban bencana gempa bumi," tutur Zahira.
Aku pun pasti merindukan saat seperti ini, Ra. Moment di mana hanya ada kita berdua tanpa ada orang lain yang mengganggu.
Shaka, besok aku kembali ke Jakarta. Awas saja kalau kamu lupa menjemputku di rumah sakit. Aku sunatin anumu untuk kedua kali, biar tahu rasa!
.
.
__ADS_1
.