
"Sedang apa kamu di sini? Kamu ...."
Belum usai Hanna merampungkan ucapannya, tangan lelaki itu telah lebih dulu menariknya menuju mobil yang berhenti tidak jauh dari mereka.
"Masuk!" titah lelaki itu tanpa mau dibantah.
Hanna yang siap membuka mulut dan mengajukan protes bungkam seketika saat melihat sorot mata tajam bagaikan seekor elang yang sedang menatap mangsanya. Udara dingin semakin menerpa permukaan kulit hingga membuat wanita itu terpaksa menuruti perintah ... Nizam.
"Di mana alamatmu? Biar kuantarkan saja. Daripada menunggu taxi yang ada waktumu habis hanya untuk menunggu." Nizam menyalakan mesin kendaraannya, kemudian melirik ke spion depan. Setelah memastikan tidak ada kendaraan lain di belakang, barulah dia melajukankensaraan roda empat miliknya.
Kedua tangan Hanna terlipat di depan dada dengan nada ketus dia menjawab, "Hanya menunggu tiga puluh menit sampai satu jam bagiku tidak masalah. Tidak sebanding dengan waktu yang kugunakan untuk meluluhkan hati seseorang yang rupanya mencintai perempuan lain, perempuan yang berstatuskan sebagai istri orang."
Perkataan itu sukses membuat Nizam tercengang, tidak menduga jika perempuan di sebelahnya akan mengatakan hal demikian. Dalam hati berkata, Sedalam itukah luka yang dirinya torehkan di hati Hanna sehingga wanita yang terkenal ramah pada semua orang berubah menjadi perempuan jutek, tak berperasaan sedikit pun? Tanpa sadar jemari tangan kekar nan kokoh itu mencengkeram stir mobil dengan kuat.
Menghela napas dalam, kemudian mengembuskan secara perlahan. Nizam mencoba untuk tidak terpancing emosi mendengar perkataan bernada sindiran. "Jika tidak mau mengatakan maka aku antarkan kamu ke hotel."
Refleks Hanna menoleh ke sebelah. "Mau apa ke hotel? Kamu ... mau macam-macam, iya?" Bola mata wanita itu melotot bahkan nyaris terjatuh ke bawah. "Jangan mentang-mentang aku pernah menaruh hati padamu, kamu bisa seenaknya saja! Aku bukanlah perempuan murahan yang bisa kamu pakai seenaknya."
Emosi Hanna mendidih bagaikan air yang sedang dimasak. Wajah wanita itu memerah, gigi gemelutuk seakan tengah menahan amarah dalam diri.
__ADS_1
Sontak Nizam menginjak pedal rem dan seketika mobil berwarna silver hasil jerih payahnya selama menjadi dokter berhenti secara tiba-tiba. Tubuh Hanna maju ke depan akibat tindakan Nizam. Beruntungnya wanita itu telah memasang sabuk pengaman hingga kepalanya tidak terantuk dashboard dan melukai keningnya.
"Aduh!" pekik Hanna ketika tiba-tiba mobil Nizam berhenti mendadak. "Kalau berkendara hati-hati dong! Aku belum nikah, belum mau mati muda!"
Makin terkejutlah Nizam mendengar perkataan Hanna. "Aku hanya ingin mengantarmu pulang, tidak ada maksud melecehkanmu, Dok. Jika Dokter Hanna tidak menjawab pertanyaanku bagaimana aku bisa mengantarmu pulang," jawab pria dalam balutan kemeja putih kotak-kotak. "Dokter Hanna tinggal pilih mau memberikan alamatmu atau aku antar kamu ke hotel?"
Hanna membenarkan posisi bokongnya yang sempat bergeser sedikit dari kursi sebelah kemudi. "Jalan Mentari Pagi, No 74, Jakarta Selatan."
Terpaksa Hanna menyebutkan di mana tempat tinggalnya selama berada di Jakarta daripada beradu argumen dan membuang energi untuk sesuatu yang tidak bermanfaat.
Nizam dan Hanna diam sepanjang perjalanan. Alunan musik dari salah satu band terkenal asal Irlandia, United Kingdom (UK) berjudul My Love mengiringi perjalanan mereka. Walaupun lagu itu telah lama dirilis, tapi masih melekat di hati para pecinta musik.
Sedari tadi Hanna melihat keluar jendela sementara Nizam tampak fokus pada jalanan di depan sana. Sesekali melirik sekilas pada perempuan cantik di sebelahnya.
Sebetulnya sudah sejak dulu Nizam ingin meminta maaf pada Hanna, namun perempuan itu selalu menghindar. Setiap kali berpapasan, Hanna melempar pandangan ke arah lain tanpa ada niatan menegur ataupun memberi senyuman manis kepada Nizam. Bagi Hanna cukup sekali ia terluka dan tidak mau harga dirinya diinjak kembali. Sudah cukup ia merendahkan diri untuk sekadar mengejar cinta lelaki yang tak pernah menghargainya sedikit pun.
"Untuk apa meminta maaf toh Dokter Nizam enggak salah sama sekali. Apa yang Dokter katakan semuanya benar. Saya memang perempuan yang tidak tahu sopan santun, masuk ke ruangan tanpa meminta izin terlebih dulu. Jadi wajar jika saat itu Dokter marah besar sebab kelakuan saya emang enggak bisa dimaafkan."
Perkataan itu sukses membuat perasaan Nizam tidak nyaman. Hatinya terasa nyeri seakan ada tangan tak kasat mata meremaasnya dengan sangat erat.
__ADS_1
"Tapi tetap saja aku merasa tidak enak hati padamu. Saat itu aku tidak bermaksud memarahimu. Hanya saja--"
"Sudahlah, jangan dibahas lagi! Saya sedang tidak ingin membicarakan masa lalu." Hanna menyela perkataan Nizam sebelum pria itu menyelesaikan perkataannya. Perempuan cantik dalam balutan dress di bawah lutut dengan lengan pendek enggan membahas kejadian yang pernah terjadi di antara mereka. Ia tidak ingin luka lama yang susah payah diobati kini terbuka kembali.
Tak lama kemudian, mereka tiba di tempat tujuan. Hanna melepas sabuk pengaman yang melingkar di tubuhnya, kemudian keluar dari mobil itu dengan tergesa-gesa. Namun, ia masih punya etika untuk mengucap terima kasih pada orang yang telah berbuat baik padanya.
"Terima kasih sudah mengantar saya dan maaf merepotkanmu." Hanna menganggukan kepala sebelum pergi meninggalkan Nizam.
Tubuh semampai bagai seorang model berjalan masuk menuju pintu gerbang sebuah bangunan tiga lantai di kawasan Jakarta Selatan. Perempuan itu sudah tujuh tahun tinggal di indekos bersama teman-teman kuliahnya. Terbiasa hidup mandiri sejak usai sembilan belas tahun membuat wanita berusia dua puluh lima tahun memutuskan tinggal di Jakarta, jauh dari keluarga dan sanak saudara.
Saat tubuh Hanna semakin menghilang dari pandangan, kesunyian kembali datang menghampiri. Hidupnya terasa hampa seakan tidak ada satu orang pun bersedia menemaninya.
"Maafkan aku Hanna, sungguh aku benar-benar menyesal telah berbuat kasar padamu," gumam Nizam sambil menatap nanar. Pandangan mata pria itu terus tertuju pada satu titik di depan sana.
"Dokter sialan! Untuk apa dia berbaik hati mengantarkanku pulang? Apa dia pikir dengan begitu rasa sakit hatiku berkurang?" Hanna melempar guling yang ada di atas kasur. Saat ini ia telah tiba di kamarnya.
Sebuah kamar indekos berukuran 4×3 meter lengkap dengan satu set tempat tidur, lemari dan meja belajar. Bahkan kamar itu pun mempunyai kamar mandi dalam sehingga penghuninya tidak perlu antri jika ingin ke kamar kecil.
"Walaupun dia sudah mengantarku pulang dan meminta maaf, jangan harap sikapku akan sama seperti dulu!" ucap Hanna.
__ADS_1
Tubuhnya terasa letih ditambah perut keroncongan membuat Hanna langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang. "Dokter Nizam sialan!" seru wanita itu sembari menutup wajahnya menggunakan bantal.
...***...