Pengantin Pengganti Sahabatku

Pengantin Pengganti Sahabatku
Akan Mempercayaimu Selamanya


__ADS_3

Mobil yang dikendarai Shaka melaju tenang di jalanan ibu kota Jakarta. Zahira duduk di sebelah kursi kemudi tengah memandangi pemandangan di luar jendela. Sejak meninggalkan café hingga sekarang, tak ada percakapan terjadi di antara pasangan suami istri itu. Namun, saat dering ponsel milik si cantik jelita berbunyi perhatian Shaka teralihkan dari jalanan di depan sana.


"Halo, Ma. Assalamu a'laikum," sapa Zahira lembut setelah sambungan telepon terhubung.


Di seberang sana Rini menjawab, "Wa'alaikum salam. Ra, hari ini kamu sibuk enggak? Mama ingin mengajakmu pergi berdua ke suatu tempat."


Zahira menoleh ke arah Shaka. "Enggak sih, Ma. Tadi aku cuma datang ke rumah sakit untuk menyerahkan laporan kegiatan saat di Cianjur kepada Ayah, setelah itu bertemu Shaka di café." Gadis itu menjelaskan secara terperinci kegiatannya kepada mama mertuanya. Akan tetapi, ia tak memberitahu bahwa di café tersebut bertemu dengan Ziva. "Ehm ... kalau boleh tahu, memangnya Mama mau ngajakin aku pergi ke mana?"


Rini berdecak, berpura-pura kesal kepada menantunya yang cantik jelita. "Rahasia dong! Kalau Mama beritahu namanya bukan kejutan," jawab wanita paruh baya yang tak lain adalah sahabat Arumi, ibunda tercinta Zahira.


"Ra, tolong kamu nyalakan pengeras suara, Mama ingin berbicara dengan Shaka," sambung Rini.


Zahira segera menatap Shaka, dengan suara berbisik gadis itu berkata, "Mama memintaku berbicara denganmu." Si pengacara muda hanya menganggukan kepala sebagai jawaban.


"Ada apa, Ma?" ucap Shaka setelah pengeras suara dinyalakan. Benda pipih dengan logo apel digigit sebelah masih berada dalam genggaman tangan Zahira.


Pertanyaan itu membuat Rini mendesis lirih, "Shaka ... Shaka ... dasar anak enggak sopan! Ada Mama-nya telepon bukannya disapa malah langsung diberondong oleh pertanyaan. Benar-benar anak nakal."


Shaka hanya cengegesan tidak jelas saat ditegur oleh mama tercinta. "Iya, maaf. Assalamu a'laikum, Mamaku yang cantik. Bagaimana kabar Mama hari ini?" tanya lelaki itu lembut.


Rini mendesaah pelan, tetapi tetap menjawab sapaan anak tercinta. "Wa'alaikum salam. Alhamdulillah, baik. Ka, Mama mau ngajak istri kamu pergi ke suatu tempat. Kalau enggak keberatan, tolong anterin Rara ke tempat praktek Mama sekarang ya."


Shaka menautkan kedua alis sebagai tanda kebingungan. Tidak biasanya Rini meminta dirinya mengantarkan Zahira menemui wanita paruh baya itu di tempat kerjanya. "Loh, memangnya mau ke mana sih, Ma? Aku baru saja bersama Rara, tapi kenapa Mama malah memintaku mengantarkannya ke sana?"

__ADS_1


"Ck! Sudahlah, jangan banyak bertanya! Pokoknya kamu antarkan saja Rara ke sini. Mama tunggu segera." Tanpa ingin dibantah, akhirnya Rini mengeluarkan kekuasaannya sebagai seorang ratu di istana Rio. Kalau sudah begitu, baik Shaka, Bagus, Indah maupun Rio tidak ada yang berani membantah sebab titah sang ratu ibaratkan sebuah mandat yang harus dikerjakan.


Menghela napas kasar, Shaka berkata, "Baiklah, aku akan antarkan Rara ke sana." Sambungan telepon pun berakhir dengan titah dari Rini. Mau tidak mau, Shaka harus menuruti permintaan mamanya tercinta.


Zahira memasukan kembali telepon genggam miliknya ke dalam sling bad. "Jadi, kamu mau mengantarkanku ketemu Mama?" tanya gadis itu setelah suasana kembali hening.


"Benar. Kamu tahu sendiri bagaimana kalau keinginan Mama enggak diturutin, bisa-bisa mengadu pada Papa dan pada akhirnya aku diceramahin seharian penuh karena membuat Mama bersedih," kata Shaka lirih. Raut wajah lelaki itu terlihat murung dari biasanya.


Zahira melirik kepada Shaka, lalu ia terkekeh sendiri. "Ya, aku ingat sekali waktu kita masih kelas 2 SMA dulu. Kamu dimarahi Papa Rio hanya karena lupa membelikan pisang goreng kesukaan Mama padahal kamu banyak membeli gorengan untuk cemilan kita ketika mengerjakan tugas kelompok. Saat itu aku dan teman-teman bahkan mengerjakan tugas tanpa ada kamu."


Shaka tersenyum masam saat mengingat kejadian itu. Hari itu ia benar-benar sial karena tanpa sengaja melupakan salah satu makanan kesukaan sang mama. Akibat kelalaiannya Rio sampai pulang lebih awal demi menegur dirinya.


"Ehm ... Ka, kok kamu bisa datang tepat waktu ketika Ziva hendak menamparku. Bukannya hari ini kamu sibuk mengurusi pekerjaanmu, ya?" tanya Zahira masih sedikit penasaran. Bagaimana lelaki itu tiba di lokasi di saat mantan tunangan sang pengacara akan melayangkan sebuah tamparan keras di pipi.


"Itu hal mudah bagiku," jawab Shaka seraya memasang senyum misterius.


"Tentu saja memikatmu. Kamu pikir, aku mau memikat siapa? Ziva?" kata Shaka. Saat lelaki itu mengucapkan nama Ziva, cengkeraman tangannya semakin erat mencengkeram stir mobil hingga memperlihatkan otot halus di punggung tangan.


Ekor mata Zahira menangkap gerakan kecil itu. Ia bisa memaklumi kenapa Shaka begitu membenci Ziva sebab lelaki itu merasa telah dikhianati oleh wanita yang dicintai olehnya.


Tak ingin suasana hati Shaka semakin memanas, lantas Zahira mencoba mencairkan suasana. "Dih, gombal! Awas loh dihajar oleh Ayah serta kedua kakak kembarku karena berani menggodaku."


Sontak tawa Shaka pecah saat mendengar perkataan Zahira. "Apa urusannya dengan mereka, Ra? Memangnya ada larangan bagi seorang suami menggoda istrinya sendiri? Kurasa, Ayah Rayyan enggak akan menghajarku, beliau malah memberikan apresiasi sebab berhasil menyenangkan putri kesayangannya."

__ADS_1


Si cantik jelita semakin mengerucutkan bibir ke depan pura-pura marah padahal dalam hati bahagia karena berhasil menghilangkan awan kelabu yang sempat singgah di wajah rupawan sang pujaan hati.


Ekspresi wajah Zahira tampak begitu menggemaskan hingga membuat Shaka ingin sekali mencubit bagian hidung gadis itu. Seandainya saja mereka tidak sedang berkendara, sudah pasti ia melakukan hal itu kepada istrinya.


Shaka tersenyum lembut dan mengulurkan satu tangan untuk menangkup jemari Zahira yang berada di atas pangkuan. "Saat aku mendengar kamu mau menemui seseorang, entah kenapa firasatku enggak enak seolah akan terjadi hal buruk menimpamu. Untuk memastikan dirimu baik-baik saja, aku memutuskan menyusulmu ke café Senja. Firasatku semakin kuat saat melihat Ziva duduk dengan sikap angkuhnya di hadapanmu. Dan ... saat ia hendak menamparmu maka aku cepat-cepat menghampiri kalian berdua."


"Beruntungnya aku datang tepat waktu hingga hal buruk tak menimpamu. Coba bayangkan apa yang akan kujelaskan pada kedua orang tua kita seandainya mereka tahu Ziva menemuimu dan melakukan sesuatu kepadamu, bisa-bisa aku dihajar oleh Papa dan Ayah Rayyan. Belum lagi diomelin Mama semakin lengkap penderitaanku, Ra."


"Memangnya kamu enggak menyesal berkata kasar seperti itu di depan Ziva? Secara kamu dan dia pernah menjalin kasih bahkan nyaris saja menikah."


Shaka terkekeh pelan. Ia mengusap puncak kepala Zahira dengan lembut. "Akan lebih menyesal lagi jika aku enggak bisa menjagamu dengan baik, Ra. Kamu itu adalah istriku dan aku bertanggung jawab penuh menjaga dan melindungimu selamanya."


Zahira terpana mendengar ucapan suaminya. Ia mendongakan kepala, melirik ke samping kanan dengan bola mata berkaca-kaca. Lagi dan lagi Shaka berhasil membuat perasaannya tak karuan. Semua perhatian, kelembutan dan sikap lelaki itu semakin membuat Najma Zahira jatuh cinta pada suaminya itu.


"Shaka, terima kasih karena kamu udah melindungi dan menjagaku. Aku enggak tahu harus dengan cara apa membalas semua kebaikanmu," ucap Zahira dengan bibir gemetar dan bola mata berkaca-kaca. Susah payah menghalau agar buliran kristal tak jatuh membasahi pipi.


Shaka tersenyum dan membalas tatapan mata Zahira. Menatap lekat iris coklat yang diselimuti tirai air mata. "Enggak perlu ngucapin makasih karena itu sudah menjadi kewajibanku sebagai seorang suami. Kalau kamu ingin membalas budi, cukup percaya sama aku. Apa pun yang terjadi selamanya aku enggak akan pernah menduakanmu."


Zahira menggigit bibir bawahnya, ia tidak sanggup apabila ditatap sedemikian intens oleh suaminya. Jantung gadis itu berdegup kencang seakan hendak meledak. Wajah memerah bagai tomat matang yang siap dipetik.


Tanpa dapat dikendalikan, Zahira menyenderkan kepalanya di bahu Shaka. Ia serahkan segala kegelisahan yang sempat datang menghampiri saat bertemu dengan Ziva. "I will always believe to you, forever."


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2