Pengantin Pengganti Sahabatku

Pengantin Pengganti Sahabatku
Shaka, Tunggu Aku Pulang


__ADS_3

Shaka menguap lebar dengan tangan yang direntangkan. Bajunya sudah tidak tertata dengan baik, kancing bajunya tidak terpasang teratur membuatnya seperti seorang suami yang tak pernah diurus oleh istri.


"Oh astaga ... bisa-bisanya aku tertidur di sini?" keluh Shaka sambil mengucek kedua mata. Perlahan Shaka mengambil napas sejenak, membuangnya lagi dan melakukan hal yang sama beberapa kali sampai kesadarannya pulih sepenuhnya.


"Tenggorokanku terasa kering sekali. Sebaiknya aku langsung masuk saja ke apartemen." Shaka langsung mengambil tas yang diletakkan di samping kemudi. Akan tetapi, ia lupa mengambil telepon genggam miliknya yang tanpa sengaja terjatuh semalam. Begitu keluar dari mobil dengan rambut yang belum dirapikan sedikit pun membuat Shaka seperti orang terlantar di luar sana.


"Shaka? Itu kamu?" Rini tak berkedip menatap putranya. Ia hampir tidak mengenali Shaka andai saja pria itu tak keluar dari mobilnya. Shaka menghela napas, mengacak rambutnya menjadi semakin tak beraturan.


"Apa yang terjadi?" Rini mengusap wajah Shaka dengan sapu tangan miliknya. "Kenapa kamu bisa seberantakan ini? Apa karena Zahira pergi, heh?" Wanita itu menyentil dahi Shaka pelan. Si bungsu hanya meringis pelan, tidak sakit, tapi rasanya tidak adil karena Rini mengatakan jika ia begini karena Zahira.


Shaka berkata, "Iih ... Mama. Sakit tahu! Main sentil-sentil aja!" Tangannya mengusap kening yang tidak terasa sakit.


"Lagian, kamu ngapain tidur di mobil. Beli apartemen mahal, percuma kalau pada akhirnya malah tidur di mobil. Lebih baik kamu jual saja apartemenmu itu," protes Rini.


Shaka memutar bola mata dengan malas. Aku pun sebetulnya ingin menjual apartemen itu karena banyak menyimpan kenangan pahit, tapi tidak sekarang. Tunggu sampai tabunganku terkumpul lagi, barulah membeli hunian baru yang ada halamannya agar kelak anak-anakku dapat bermain leluasa di taman. Membayangkan itu semua membuat sudut bibirnya tertarik ke atas. Rasanya pasti sangat menyenangkan apabila mempunyai anak, darah dagingnya sendiri. Dalam hati berharap semoga kelak ia diberi amanah untuk menggendong bayi kembar bersama Zahira.


Melihat sang putera tersenyum tanpa sebab, membuat Rini jadi berpikiran negatif. "Shaka, kamu mikirin apaan sih, Nak? Jangan bilang kalau kamu jadi gila semenjak ditinggal Rara."


"Ma, stop it! Mama apaan sih kok jadi ngata-ngatain anaknya sendiri," keluh Shaka. "Aku enggak mikirin apa-apa!" elaknya karena tidak ingin Rini semakin heboh kalau sampai tahu keinginannya mempunyai anak bersama Zahira.


Rini mendengkus kesal. "Ya sudah kalau enggak mikiran apa-apa, sebaiknya kita masuk. Kamu enggak sadar kalau sejak tadi menjadi pusat perhatian akibat berpenampilan seperti gembel? Baru ditinggal sepuluh hari hidupmu jadi berantakan, apalagi kalau sampai Rara jadi menggugat cerai bisa berantakan hidupmu, Nak."


Shaka tak menjawab perkataan Rini. Tanpa diminta, ia terlebih dulu memapah mamanya masuk ke dalam lobi apartemen. Menyerahkan kunci mobil kepada petugas apartemen untuk memarkirkan mobilnya di basemen.


Saat pertama kali masuk apartemen Shaka, mata wanita itu menyapu bersih seluruh isi ruangan. Keadaan apartemen masih sama seperti dulu, tidak ada yang berubah.


"Mama ngapain ke sini?"


"Dasar anak tidak sopan, nanyain Mama mau apa ke sini! Memangnya Mama enggak boleh berkunjung ke rumah anak sendiri," dengkus Rini kesal.


Rini duduk di sofa, kemudian ia kembali berkata, "Mama cuma mau konfirmasi, apa benar kamu mengambil kasusnya Ziva?"


Shaka memijat pelipis yang terasa sakit tiba-tiba. Baru saja ia ingin melupakan kejadian semalam, Rini--sang mama malah kembali mengingatkan kesialannya bertemu kembali dengan Ziva.


Melihat gerak gerik Shaka, Rini akhirnya mengalihkan percakapan antara mereka. "Lupakan saja apa yang Mama katakan tadi. Oh ya, nanti sore Rara 'kan balik dari Cianjur, kamu jadi jemput dia di rumah sakit?"


Shaka mengecek tanggal di ponselnya. "Ah, untung saja Mama mengingatkan aku, dia pasti akan marah jika sampai aku tak menjemputnya."


"Masih muda kok udah pelupa sih!" cibir Rini. "Sebelum menjemput Zahira, kamu mendingan mandi dulu deh. Badanmu bau sekali. Mau ketemu pujaan hati kok enggak pakai wewangian sih." Sahabat Arumi mengedipkan sebelah mata, menggoda anak bungsunya.


Shaka mencium tubuhnya, tapi baunya tidak seburuk itu hingga Rini harus mengipaskan tangannya. Sang pengacara bangkit untuk segera mandi, tubuhnya juga gerah dan sakit karena tidur di dalam mobil.


"Dasar anak itu," gerutu Rini pelan. Ia mulai mengeluarkan beberapa bawaannya. Membawa sandwich isi daging asap untuk anak tercinta.


"Sepertinya Shaka tidak ingin membicarakan Ziva, lebih baik aku biarkan saja dia yang cerita sendiri kepadaku," gumam Rini lirih seraya menata makanan di atas meja makan.

__ADS_1


Cukup setengah jam, Shaka selesai mandi sekaligus mengenakan pakaian baru. Ia mengenakan kaos polos lengan pendek dan celana kolor selutut. Handuk kecil masih tersampir di bahu kanan.


"Nah, sekarang sudah wangi. Ayo, sarapan dulu," ajak Rini kepada puteranya. Penampilan Shaka sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Aroma shampo dan parfum menguar bersamaan ke udara, menggelitik indera penciuman Rini.


"Iya, Ma." Shaka menatap Rini. Keduanya tersenyum bersamaan saat Shaka menunjukkan sandwich ke hadapan Rini. "Mama tahu aja aku sedang mau makan beginian, bawa banyak, Ma?"


Rini mengangguk. Ia memperlihatkan kotak bekal yang sudah disiapkan khusus untuk Shaka.


"Oh, ya." Shaka berhenti mengunyah. Alisnya naik sebelah dengan tatapan bingung pada Rini. "Papa cerita tentang Ziva?" sambung lelaki itu.


Rini mengangguk lagi. Kali ini lebih kuat. "Papa tahu kamu pasti tidak nyaman saat berdekatan dengan wanita itu makanya Papa minta Mama datang ke sini untuk menanyakan keadaanmu. Semenjak bertemu kembali dengan Ziva, kamu terlihat murung dan tak bersemangat."


"Iya sih, tapi sudahlah enggak apa-apa. Nasi sudah jadi bubur dan aku pun menyanggupi permintaan Ziva meski merasa dijebak oleh Irhan," tutur Shaka sembari menyantap sarapan.


Rini menarik napas panjang, kemudian mengembuskan secara perlahan. Sudah dapat menebak bahwa ada seseorang di belakang Ziva hingga wanita itu bisa berdekatan lagi dengan Shaka.


"Kalau boleh tahu, kasus yang dialami Ziva tentang apa, Nak?"


Shaka mengebaskan bajunya. Suasana mendadak sangat panas baginya, lebih tepatnya panas jika membahas Ziva. "Kasus penipuan. Papa pasti sudah cerita pada Mama, 'kan?" Shaka memperhatikan raut wajah Rini dan bisa mengartikan mamanya sudah tahu dari Rio.


Shaka mengembuskan napas kasar. "Aku hanya mengikuti kode etik pengacara dan bekerja layaknya seorang pengacara terhadap klient, tidak lebih."


"Lantas, kenapa kamu bisa seperti ini? Pasti terjadi sesuatu antara kamu dan Nenek Sihir itu, 'kan?"


Shaka melambaikan tangannya. "Kita enggak usah bahas itu lagi ya, Ma. Aku benar-benar enggak mood kalau terus membahasnya lagi."


***


Zahira menatap pemandangan dari kamar yang ditinggalinya selama berada di Cianjur. Sesekali wanita itu berdecak kesal. Suasana hatinya tidak baik sejak memutuskan menghubungi Shaka lebih awal dan sampai sekarang tidak ada balasan dari suaminya.


"Apa Shaka marah sama aku ya karena pergi ke Cianjur?" gumam Zahira. Lantas, ia menggelengkan kepala. "Aah ... enggak mungkin. Bukankah dia sendiri udah ngasih izin kepadaku meski ada beberapa syarat yang harus dipenuhi sebelum berangkat."


Zahira kembali menatap layar ponselnya. Tangannya gatal ingin menekan nomor Shaka dan melakukan panggilan telepon. "Awas saja jika dia kalau sampai enggak menerima panggilan teleponku! Eh tunggu ... apa dia lagi sibuk? Kenapa aku jadi jadi gelisah begini sih semenjak jauh dari Shaka."


Teedengar ketukan pintu sebanyak tiga kali mengalihkan pikiran Zahira tentang Shaka. Ia melenggang ke depan pintu dan menyibak gorden sebelum mempersilakan orang di seberang sana masuk.


"Kenapa Dokter Nizam datang ke sini? Apa ada suatu hal penting membuatnya menemuiku?" Tak ingin menduga-duga, Zahira membuka pintu. Nizam berdiri dengan gagah di depan pintu.


"Apa ada hal urgent, Dok?" tanya Zahira.


"Ehm tidak ada sih." Saat ini Nizam mengenakan pakaian santai. Aroma parfum menguar di udara, tatanan rambut rapi memperlihatkan jelas kalau pria itu sudah mandi.


"Lalu?"


Nizam menyeringai seperti orang bodoh, kala teringat sesuatu. "Aah ya, katanya sebelum pulang kita dipanggil ke--"

__ADS_1


"Aku sudah tahu itu," potong Zahira cepat. "Apa ada hal lain selain itu?" Berpenampilan menarik dan rapi, tidak mungkin kalau hanya ingin menyampaikan pesan dari ketua panitia. Itu yang ada dalam benak Zahira saat ini.


"Begini, Dokter Zahira. Aku ingin jalan-jalan ke taman bersamamu tapi tenang saja kita tidak hanya berdua. Ada Dokter Hanna juga."


Zahira menatap Nizam dengan tatapan penuh selidik. Memastikan kalau lelaki itu tidak sedang berbohong kepadanya. "Oh ... jadi Dokter Hanna juga ikut."


Nizam menggaruk tengkuknya, kebingungan dengan maksud Zahira. "Kamu tidak suka jika dia ikut bersama kita?"


Zavira terkekeh sembari menggeleng. "Dokter Nizam ini tidak peka rupanya. Ya sudah, aku akan ikut dengan kalian. Duluan saja, nanti aku menyusul."


"Oke!"


Zahira akhirnya hanya menjadi 'obat nyamuk' di antara Nizam dan Hanna Kedua insan itu asik bercengkrama di sudut taman. Zahira tidak terganggu akan hal itu, ia malah bahagia sebab akhirnya ada gadis lain yang didekati Nizam. Berharap semoga ini adalah awal bagi pria itu mendapatkan kebahagiaannya.


"Dokter!" Hanna berseru dari arah belakangnya. Zahira melambaikan tangan dan rekan sejawatnya itu berlari ke arah istri Shaka. "Dokter, nanti kalian mau ke rumah sakit dulu?"


"Iya. Kebetulan ada berkas yang tertinggal di sana dan Dokter Nizam pun harus shift malam jadi kami mampir dulu ke rumah sakit." Zavira tersenyum tipis.


Tiba-tiba wajah Hanna terlihat murung. Awan kelabu menyelimuti wajahnya yang ayu.


"Kamu suka dengan Dokter Nizam?" tanya Zahira.


Hanna menggigit bibir bawahnya. "Tapi, Dokter Nizam enggak suka kepadaku, Dok. Dia sepertinya suka kepada Dokter Rara?" Nada bicara Hanna mendadak lesu.


Zahira menggeleng menanggapinya. "Loh, kenapa berkata seperti itu? Memangnya kamu punya kemampuan mengetahui isi hati seseorang?"


"Enggak sih. Aku hanya punya firasat soalnya Dokter Nizam setiap kali berbincang tentang Dokter Zahira, dia selalu bersemangat. Itu artinya dia punya perasaan lebih kepada Dokter."


Zavira menaikkan tangan kanannya. Hanna melihat ada cincin yang melingkar di jari manis gadis itu. "Kamu lihat ini? Cincin itu disematkan oleh lelaki yang kucintai jadi mana mungkin aku menyukai lelaki lain selain suamiku sendiri."


"Soal perasaan Dokter Nizam, aku enggak bisa memaksakan orang lain untuk tidak menyukaiku. Namun, kamu masih punya kesempatan mendekati lelaki itu. Pelan-pelan kamu dekati dia. Selami hatinya dan aku yakin jika suatu saat nanti dia pasti jatuh hati padamu."


"Kalau tidak berhasil, bagaimana?" Hanna menyangsikan perkataan Zahira.


Zahira menyentuh pundak Hanna dengan kedua tangan. "Enggak ada yang mustahil di dunia ini, Dokter Hanna selama Tuhan berkehendak maka terjadilah. Lagi pula, kamu belum mencobanya kenapa udah pesimis gini sih. Mana Dokter Hanna yang pantang menyerah dan selalu bersemangat dalam menghadapi rintangan apa pun?"


"Aku akan coba membantumu mendekati Dokter Nizam, gimana?" Zahira menaik turunkan kedua alis secara bergantian.


Hanna tertunduk malu mendengar perkataan Zahira. Dengan lirih ia berkata, "Boleh deh, Dok. Siapa tahu memang jodoh."


Si dokter cantik bermata sipit tersenyum lebar. Rasa rindu di dalam hati gadis itu semakin memuncak kala teringat kenangan manis saat Shaka memeluk tubuhnya untuk pertama kali. Hangatnya sentuhan dan kelembutan pria itu membuatnya ingin segera kembali ke Jakarta.


Shaka, tunggu aku pulang.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2