
Liburan telah usai. Senin pagi, Zahira harus kembali bekerja sebagai dokter umum di rumah sakit peninggalan mendiang sang nenek dari pihak ayah. Satu kantong plastik isi cinderamata berada di tangan kanan, sedangkan tiga kantong lagi dibawakan oleh petugas kebersihan yang secara khusus diminta Shaka untuk membantu istri tercinta.
“Hua ... Dokter Zahira is come back!” seru salah satu perawat yang berjaga di Bangsal Teratai. Sontak beberapa dokter dan perawat yang baru saja ganti shift segera menoleh ke belakang sesaat setelah mendengar nama Zahira disebut.
Melihat wajah puteri dari pemimpin rumah sakit tampak begitu bersinar seperti sinar mentari di pagi hari memunculkan sebuah ide untuk menggoda wanita cantik di depan sana. Walaupun baru beberapa minggu bersama, tapi hubungan kekeluargaan di antara mereka terjalin baik sebab Zahira tidak pernah merasa dirinya lebih unggul ataupun mempunyai kuasa lebih tinggi dibandingkan yang lain meski dia merupakan salah satu anak dari direktur rumah sakit. Karena sikap itulah membuat mereka merasa nyaman berada di dekat Zahira.
“Cie ... ada yang baru pulang bulan madu nih. Bagaimana, Dok, pengalaman pertama liburan dengan suami tercinta? Seru?” tanya rekan sejawat Zahira, bernama Eva. Sebenarnya Eva kebagian shift malam dan tugasnya sudah selesai lima menit lalu. Namun, wanita itu belum ingin pulang ke rumah dan lebih memilih bercengkraman sebentar sebelum akhirnya pulang ke rumah.
Novi—dokter wanita dalam balutan hijab menyenggol lengan Eva. “Enggak perlu ditanya, kali! Pasti serulah, masa iya enggak! Dokter Eva seperti enggak pernah bulan madu bareng suami, bertanya suatu hal yang sebenarnya udah tahu jawabannya,” terkikik geli sambil menatap wajah Zahira yang semakin tersimpu malu.
Seorang wanita berseragam perawat ikut menimpali. “Saking serunya sampai harus keramas berkali-kali,” godanya sambil menatap rambut panjang sebahu Zahira yang tampak masih sedikit basah akibat pergumulan semalam.
Semburat rona merah muda semakin menghiasi wajah cantik Zahira. Tampaknya semua orang yang ada di ruangan itu bersekongkol menjadikannya seperti seorang terdakwa yang tengah duduk di ruang sidang sambil menunggu putusan hakim. Benar-benar membuat wanita itu tak dapat berkutik sedikit pun.
Eva melirik pada Novi serta kedua perawat yang masih duduk manis di kursi, lalu mengalihkan perhatian pada sosok perempuan cantik yang tengah menjinjing satu kantong plastik berukuran besar.
Tak ingin mendapat teguran dari kepala bangsal karena membuat suasana gaduh di pagi hari, Eva berinisiatif merubah topik pembicaraan. "Udahan ah, masa dari tadi ngegodain Dokter Zahira terus," ujarnya di sela suara tawa rekan sejawatnya. Lantas, ia bangkit berdiri dan berjalan mendekati Zahira. "Itu oleh-oleh untuk kami semua?"
Dengan gerakan kikuk dan rona merah muda masih setia menghiasi wajah, Zahira menjawab, "Benar. Ini oleh-oleh untuk Dokter Eva dan teman-teman yang lain, aku membawa banyak cinderamata untuk kalian." Zahira memberikan kode kepada petugas kebersihan rumah sakit untuk memberikan tiga kantong plastik itu. "Kebetulan ada banyak tenaga medis di bangsal ini, jadi aku minta tolong dibagi rata. Ini ada tiga kantong plastik, masing-masing shift kebagian satu kantong. Sementara kantong ini akan kubagikan kepada kepala Bangsal Teratai dan kepala IGD."
__ADS_1
Dua orang perawat yang sedang duduk manis di kursi bergegas membantu Eva, membawa dua kantong plastik sisanya.
"Dokter Zahira tenang aja, semua pasti kebagian. Terima kasih, Dok."
"Semoga berkah dan acara bulan madu kemarin membuahkan hasil, Dokter Zahira serta suami segera diberikan momongan," ucap salah satu perawat berseragam putih. Tatkala mengucapkan kalimat terakhir, ia benar-benar berdo'a kepada Tuhan, semoga suatu saat nanti akan tumbuh malaikat kecil di rahim Zahira.
"Aamiin," balas semua orang hampir bersamaan.
Saat Zahira dan tenaga medis lainnya sedang asyik mengobrol, terdengar derap langkah sepatu heels setinggi 2 cm menggema di sepanjang lorong rumah sakit. Semakin lama suara tersebut semakin jelas terdengar.
"Selamat pagi, Dokter Hanna." Salah seorang perawat yang duduk di sebelah Zahira menyapa, lalu kemudian ia bangkit seakan ingin memberikan tempat bagi Hanna untuk duduk dan bergabung dengan mereka.
Eva menghela napas begitu panjang. Dia tidak mengerti kenapa sikap Hanna berubah hanya dalam hitungan. Sikapnya yang periang dan mudah tersenyum telah menghilang, digantikan awan kelabu yang terus menghiasi wajahnya yang cantik jelita.
Zahira menatap kepergian Hanna dengan sorot mata penuh tanda tanya. Lantas, ia mengalihkan perhatian pada rekan kerjanya yang duduk di sebelah. "Dokter Hanna, kenapa? Enggak biasanya dia bersikap begitu? Apa ada suatu hal terjadi di saat aku enggak di sini?"
"Kami pun enggak tahu apa yang sebenarnya terjadi, Dok. Tiba-tiba saja sikap Dokter Hanna berubah," sahut Novi yang masih setia berkutat dengan tumpukan rekam medis milik pasien. Sesekali melirik pada Zahira yang tampak kebingungan.
"Apa yang dikatakan oleh Dokter Novi benar adanya. Sebetulnya kami ingin bertanya kepada yang bersangkutan, tapi enggak enak ah sebab kali enggak terlalu dekat," timpal Eva ikut menimpali perkataan rekan sejawatnya.
__ADS_1
Zahira tampak manggut-manggut. "Ya udah, kalau gitu aku ke ruangan dulu mau menaruh kantong plastik ini. Nanti kita lanjut lagi," ujarnya seraya bangkit dari kursi dan berjalan menyusul Hanna yang telah lebih dulu masuk ke ruangan khusus bagi para dokter.
Tangan Zahira terulur ke depan, kemudian memutar handle pintu hingga terbuka lebar. Berhubung ruangan itu miliknya juga, istri tercinta Shaka tidak perlu mengetuk pintu terlebih dulu, ia bisa langsung masuk begitu saja.
"Dokter Hanna?"
Panggilan Zahira mengalihkan perhatian Hanna dari tumpukan pekerjaan yang ada di depan mata. Perempuan itu meletakkan kantong plastik di atas mejanya, lalu menarik kursi hingga posisi mereka saling berhadapan.
"Kenapa wajahmu terlihat murung? Apa kamu ada masalah?" tanya Zahira memberanikan diri. Ia tidak bisa menahan diri untuk tidak mencari tahu penyebab dari perubahan sikap Hanna.
Hanna menatap Zahira dengan tatapan sendu. Alih-alih menjawab pertanyaan istri tercinta, wanita itu malah terisak dan tak lama kemudian air mata meleleh di antara kedua pipi.
Merasa khawatir dengan keadaan teman dekatnya itu, Zahira mendekati Hanna dan membawa tubuh wanita itu dalam dekapan. "Kalau kamu mau cerita, aku siap mendengarkan keluh kesahmu. Namun, jika kamu ingin menyimpannya sendiri, silakan. Aku enggak akan paksa kamu untuk bercerita," katanya bijak. Jemari tangan Zahira mengusap punggung Hanna dengan pelan, ia biarkan rekan sejawatnya menangis, mencurahkan isi hatinya yang terdalam.
.
.
.
__ADS_1