
"Mbak Ziva, ini jus alpukat pesanan Anda." Asisten rumah tangga Ziva menyodorkan jus kepada majikannya. Sebelumnya Ziva memang meminta Mbok Asih membuatkan jus kesukaannya dan membawakan minuman segar itu sesaat setelah dia selesai berolahraga.
Tanpa mengucap kata 'terima kasih', Ziva meraih gelas itu dari atas nampan. "Oh ya, apa asistenku udah datang?" tanya wanita itu sambil mengaduk-aduk jus alpukat menggunakan sedotan.
"Mbak Anya belum--"
"Aku ada di sini, Va!" Anya menginterupsi pembicaraan antara Ziva dengan Mbok Asih.
Mbok Asih menundukan kepala hormat seraya menyapa orang kepercayaan sang majikan. "Selamat pagi, Mbak Anya."
Anya membalas, "Selamat pagi juga, Mbok." Wanita itu berjalan mendekati kursi Ziva, kemudian duduk di sebelahnya. "Aku bawakan titipanmu, Va. Bukalah."
Melihat Anya membawakan pesanannya, Ziva tersenyum lebar hingga memperlihatkan deretan giginya yang putih dan bersih. Jemari lentik sang model meraih bungkusan tersebut. "Thank you. Kamu emang selalu bisa diandalkan."
Anya berdecih sebal. "Giliran mendapat apa yang diinginkan, kamu baru memujiku. Namun, giliran keinginanmu enggak dikabulkan malah marah-marah." Wanita cantik berusia dua puluh lima tahun mengubah posisi duduk hingga berhadapan dengan Ziva. "Kamu jadi ke kantor firma Pak Rio?"
Ziva yang sibuk menyesap jus alpukat menganggukan kepala. "Jadi dong. Siang nanti saat jam istirahat, aku akan datang menemui Shaka, memberi kejutan untuk dia sekaligus ingin mengucapkan terima kasih karena berkat bantuannya aku bisa memenangkan kasus yang sempat menjeratku. Andai saja saat itu Shaka enggak membantuku mungkin lelaki berengsek itu enggak akan mendapat imbalan atas perbuatannya kepadaku."
"Tapi bukankah Irhan yang membantumu memenangkan kasus tersebut? Lalu, kenapa kamu malah ingin menemui Shaka dan mengucapkan terima kasih pada mantan kekasihmu itu? Kenapa kamu enggak menemui Irhan aja, toh dia yang selama ini wara wiri ke sana kemari mengurusi kasusmu, bukan Pak Shaka."
Ziva meletakkan gelas berisi jus alpukat ke atas meja dengan sedikit membantingnya hingga terdengar bunyi yang cukup nyaring. "Itu urusanku, Anya. Kamu enggak berhak ikut campur! Ingat, tugasmu cuma menuruti apa yang aku perintahkan. Mengerti?" kata sang model sambil menghunuskan tatapan tajam.
__ADS_1
Anya menghela napas. "Aku hanya ingin kamu berhenti mendekati Pak Shaka, Va. Bagaimanapun, antara kamu dan dia udah enggak ada hubungan apa pun lagi. Pak Shaka itu udah nikah, Va, dan kamu enggak seharusnya terus menemui lelaki yang udah beristri. Enggak baik loh menjadi orang ketiga dalam hubungan rumah tangga orang lain terlebih kamu adalah seorang model. Bagaimana jika seandainya image-mu kembali hancur karena ada gosip yang mengatakan bahwa kamu menjadi seorang pelakor? Kamu mau karirmu hancur kembali, hem?"
"Aku enggak peduli, Anya! Mau mereka menyebutku pelakor atau apa pun itu, bodo amat. Yang terpenting aku bisa mendapatkan Shaka kembali, bagaimanapun caranya, lelaki itu harus menjadi milikku lagi."
Asisten pribadi Ziva menggelengkan kepala. Wanita itu tak mampu lagi berkata. Selama ini sudah terlalu lelah menasihati sahabat sekaligus atasannya itu. "Ya udah, terserah kamu aja, Va. Namun, jika di kemudian hari kamu mengalami masalah atas sikapmu ini, jangan salahkan aku! Aku udah coba nasihatin kamu, loh."
Ziva mencibir dan memutar bola matanya dengan malas. "Cuma asisten doang, belagu!"
***
Shaka mendongakan kepala saat mendengar bunyi pintu ruang kerjanya terbuka begitu saja, lalu muncul Ziva dan David di belakang perempuan yang pakaian serba terbuka.
"Maaf, Pak Shaka. Saya udah bilang pada Nona Ziva jika And hari ini sangat sibuk, tapi dia enggak percaya sama sekali dan tetap memaksa masuk," ucap David--asisten pribadi Shaka. Lelaki itu tampak ketakutan saat menyadari sorot mata tajam seakan menghujam hingga ke ulu hati. Telapak tangan terasa dingin dan keringat pun mulai bermunculan di kening.
"Tapi, 'kan, Nona Ziva bisa--"
"Udah sana, pergi! Mengganggu aja!" sergah Ziva cepat sebelum David menyelesaikan ucapannya.
Ingin rasanya David menarik lengan Ziva dan melemparkan wanita itu ke jalanan karena sudah mengganggu pekerjaan Shaka, tapi berbuat kasar kepada seorang perempuan bukanlah tindakan terpuji. Pantang bagi lelaki itu melakukan tindakan kekerasan pada kaum Hawa.
Merasa kehadirannya tidak diharapkan oleh mantan salah satu klien kantor firma milik Rio, David hendak meninggalkan ruangan Shaka. Akan tetapi, ....
__ADS_1
"Kamu enggak usah keluar, Vid. Tetap di sini aja!" seru Shaka dengan suara menggelegar bagaikan gemuruh petir di siang hari, membuat siapa saja yang mendengar akan merasa ketakutan.
Shaka sengaja meminta David tetap berada di ruangan karena tidak ingin terjadi fitnah, yang justru kesempatan itu dimanfaatkan orang tak bertanggung jawab untuk menghancurkan pernikahannya bersama Zahira. Bisa saja saat ia dan Ziva berduaan, ada seseorang mengintip kemudian memotret mereka dan mengirimkan kepada Zahira, lalu terjadi keributan di antara sepasang suami istri itu. Shaka tidak mau biduk rumah tangga mereka diterpa gelombang badai dahsyat hingga menyebabkan karam di tengah laut. Tidak. Shaka, tidak mau itu terjadi!
Shaka menatap Ziva dingin. "Ada keperluan apa Anda mencari saya? Bukankah di antara kita tidak ada yang perlu dibicarakan lagi?"
Ziva mengerucutkan bibirnya ke depan. Kesal karena sikap Shaka tidak sehangat dan selembut saat mereka masih bersama.
"Kata siapa, tidak ada?" ujar Ziva dengan nada yang dibuat mendayu-dayu. Ia berjalan menghampiri Shaka, dan kembali berkata, "Aku ...." Wanita itu meralat ucapannya saat ekor matanya tanpa sengaja melihat sorot mata tajam bagaikan seekor elang. "Maksudku, saya. Ya, kehadiran saya ke sini ingin membicarakan hal penting dengan Pak Shaka. Namun, saya ingin bicara secara empat mata dengan Bapak."
"Bisakah, Pak Shaka, meminta orang ini keluar dari sini? Saya tidak leluasa jika harus ada orang lain menguping pembicaraan kita berdua." Ziva menunjuk David yang berada di ambang pintu. Wajah wanita itu memelas dengan sorot mata penuh pengharapan.
Shaka berdecih mendengarnya. Jika dulu lelaki itu akan segera menuruti permintaan Ziva tanpa diminta untuk kedua kali, tapi untuk kali ini tentu saja ia tidak mau sebab ada hati yang harus dijaga perasaannya.
"Kalau Nona Ziva memang keberatan dengan kehadiran David, asisten saya, sebaiknya Anda segera tinggalkan ruangan ini. Saya masih banyak pekerjaan yang harus segera diselesaikan." Tanpa memandangi wajah Ziva, Shaka mulai menyibukan dirinya dengan tumpukan berkas di atas meja.
Ziva mendengkus. "Baiklah, kalau itu maumu." Lantas, wanita yang bekerja di dunia modeling mengeluarkan sesuatu dari kantong plastik daur ulang yang ada di genggaman tangannya kemudian menyodorkannya ke hadapan Shaka. "Kedatangan saya ke sini ingin memberikan ini. Happy birthday, Shaka Abimana," ucapnya sembari membuka bungkusan tersebut.
.
.
__ADS_1
.