
Zahira menata makanan di atas meja makan dengan wajah semringah, seulas senyum manis tersungging di sudut bibir. Hari ini ia begitu bahagia sebab sang suami mengatakan akan mengantarkannya ke rumah sakit untuk memeriksa kandungan. Bahkan, Shaka rela mengambil cuti selama seharian penuh demi istri dan anak tercinta.
"Sayang, ayo makan dulu. Semua hidangan sudah tertata rapih di meja makan." Zahira berdiri di ambang pintu sembari memperhatikan Shaka yang tengah membaca laporan pekerjaan. Walaupun mengambil cuti, tapi ia tetap bertanggung jawab terhadap pekerjaan serta tim yang berada di bawah naungannya.
Mendengar namanya dipanggil membuat Shaka menghentikan sejenak aktivitasnya. Pria berusia dua puluh lima tahun mendongakkan kepala kemudian memberi senyuman terindah untuk istri tercinta. "Sebentar, Sayang. Aku masih ada pekerjaan yang belum selesai. Kamu tunggu aku di meja makan mungkin lima menit lagi selesai. Namun, kalau kamu emang udah lapar banget dan enggak bisa nahan, makan aja duluan. Nanti aku nyusul."
"Aku tunggu aja deh biar ada teman makan."
Tak berselang lama, Shaka keluar dari ruang kerja menuju meja makan. Di depan sana ia melihat Zahira sedang mengusap perutnya sambil mengajak ngobrol kedua calon anak mereka.
Berjalan perlahan menghampiri istrinya. Sebelah tangan menyentuh pundak Zahira. "Yuk makan. Kamu pasti udah kelaparan." Pria itu mengedarkan pandangan ke arah meja makan. Banyak aneka masakan yang diolah Zahira pagi ini. Ada nasi pecel, tempe goreng, tahu goreng, oseng kulit melinjo campur tempe, ayam goreng dan peyek sebagai pelengkap makanan.
Setelah mereka duduk berhadapan, Zahira mulai melakukan tugas dan kewajibannya sebagai seorang istri melayani suami di meja makan. Dengan telaten wanita itu memastikan semua masakan berada di piring suami tercinta.
"Eum ... makasakanmu emang paling the best, Sayang. Enggak ada yang menandingimu. Aku yakin kalau kamu buka warung makan pasti laris dan masakanmu bisa ludes dalam hitungan menit," puji Shaka sambil menyuapkan makanan ke dalam mulut. Lelaki itu tampak lahap dan membuat Zahira merasa bahagia.
Bukankah melihat suami makan dengan lahap merupakan kepuasan tersendiri bagi seorang istri? Hal itu pulalah yang dirasakan Zahira saat ini. Wanita yang berprofesi sebagai dokter umum di salah satu rumah sakit taraf internasional merasa puas sebab dapat memberikan pelayanan terbaik bagi suami tercinta. Dengan begitu ia berharap Shaka tidak lagi melirik wanita lain karena semua kebutuhannya terpenuhi.
"Terima kasih atas pujianmu, Sayang. Namun, kurasa penilaianmu terhadapku terlalu berlebihan. Ingat, di atas langit masih ada langit dan jangan biarkan aku menjadi besar kepala karena terus mendapat pujian darimu."
__ADS_1
Alih-alih merasa tersinggung akan ucapan Zahira, Shaka justru tersenyum lebar hingga memperlihatkan deretan giginya yang putih bersih dan rapih. "Baiklah. Kita ubah saja topik pembahasan pagi ini." Lelaki itu mengunyah tempe goreng hingga menjadi lumaat. "Habis sarapan kita langsung ke rumah sakit, ya? Biarlah menunggu di sana daripada terjebak macet. Di sana kita bisa berbincang bersama Bunda dan kamu bebas bercerita apa pun tanpa merasa terganggu oleh kehadiranku."
Kendaraan roda empat milik Shaka melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan ibu kota. Sesuai janji, pria itu mengantar Zahira pergi memeriksakan kandungan. Di usia kandungan yang menginjak 20 minggu biasanya bumil (ibu hamil) sudah bisa melihat jenis kelamin si jabang bayi saat di USG. Oleh karena itu, Shaka ingin melihat sendiri berjenis kelamin apakah kedua anak-anaknya itu. Apakah seperti dirinya atau justru seperti Zahira, cantik dan lemah lembut.
"Kamu enggak lupa, 'kan, bawa si merah jambu? Jangan sampai kita pergi periksa, tapi ternyata buku itu tertinggal di rumah," ucap Shaka membuka percakapan. Sejak meninggalkan rumah tidak ada percakapan di antara mereka. Zahira sibuk berkomunikasi dengan kedua calon anak dalam kandungannya sedangkan Shaka fokus memperhatikan jalanan di depan sana.
Zahira merogok sling bag miliknya, lalu mengeluarkan buku KIA berisi catatan kesehatan ibu hamil yang meliputi informasi kehamilan, persalinan dan nifas.
"Tara ... tentu aja enggak lupa dong." Zahira mengangkat buku berwarna merah jambu ke udara. "Benda ini menjadi benda pertama yang aku masukan ke dalam tas. Dompet, handphone dan tas make up-ku berada di urutan sekian. Jadi setelah benda ini masuk barulah semuanya menyusul."
Tiga puluh menit kemudian, mobil memasuki parkiran khusus tamu rumah sakit. Walaupun status Zahira adalah dokter dan anak dari pemilik rumah sakit, tapi saat wanita itu tidak bertugas maka statusnya sama seperti pengunjung lain, tidak mempunyai keistimewaan apa pun.
Shaka membantu Zahira melepaskan sabuk pengaman hingga membuat keduanya berada dalam jarak yang begitu dekat. Embusan napas keduanya saling wajah masing-masing. Kesempatan ini tidak disia-siakan Shaka, lelaki itu mencuri ciuman dalam kesempitan.
"Shaka! Nyebelin banget sih!" gerutu Zahira dengan mata melotot. Mendapat serangan mendadak membuat wanita itu terkejut setengah mati.
Wajah merah merona bagaikan buah tomat segar membuat Shaka punya kesempatan untuk menggoda istrinya. "Walaupun menyebalkan, tapi kamu tetap cinta aku, 'kan?" Kedua alis pria itu turun dan naik. Ia amat bahagia apabila berhasil menggoda Zahira.
__ADS_1
"Au ah gelap." Tanpa banyak bicara Zahira turun dari mobil, kemudian meninggalkan Shaka begitu saja.
Tidak ingin terjadi hal buruk menimpa Zahira, Shaka segera menyusul istrinya tanpa menghentikan senyuman di bibir.
"Selamat pagi, Dokter Zahira, Pak Shaka," sapa Dokter Niken-dokter yang dipercaya mendampingi Zahira selama masa kehamilan.
"Selamat pagi, Dok." Pasangan suami istri itu menjawab hampir bersamaan.
"Bagaimana kabarnya, apa semua dalam keadaan aman? Si Kembar tidak menyusahkan Mamanya?" tanya Dokter senior itu.
"Alhamdulillah, semuanya aman, Dok. Mual muntah udah mulai berkurang, napsu makan bertambah dan kebiasaan ngemil semakin sering, Dok." Kepala tertunduk ke bawah saat mengucapkan kalimat terakhir. Akan tetapi, Dokter Niken masih dapat mendengarnya.
Dokter Niken terkekeh pelan mendengar perkataan Zahira. "Tidak masalah, ibu hamil memang kebanyakan begitu, suka ngemil. Jadi tidak heran jika berat badan bertambah. Namun, Dokter Zahira tidak perlu cemas selama dalam batas normal, Insha Allah, semua akan baik-baik saja.
"Ya sudah, lebih baik kita mulai pemeriksaan saja. Kalian pasti sudah tidak sabar ingin melihat jenis kelamin si kecil dan wajah mereka juga, 'kan?" Perkataan Dokter Niken hanya dijawab anggukan kepala oleh Zahira. Wanita itu bangkit dari kursi, dibantu Shaka menuju tempat tidur pasien yang ada di ruang pemerikaan.
Shaka dengan sigap membantu Zahira, merebahkan tubuhnya di brankar. Tangan sebelah kanan merangkum jemari lentik nan halus istrinya.
"Apa pun jenis kelaminnya, aku tetap berada di sisimu." Kecupan singkat mendarat di kening Zahira saat Shaka merasakan kegugupan hebat melanda istrinya.
__ADS_1
...***...