
Ziva cukup terkejut akan kehadiran Rini secara tiba-tiba. Ia pikir di restoran itu hanya ada Shaka saja, tapi rupanya ada calon mantan mama mertuanya di sana.
Sebisa mungkin Ziva mengulas senyuman walau dalam hati deg-degan karena setelah dua bulan lebih tak bertemu, kini mereka dipertemukan kembali di saat waktu yang tidak tepat. "Halo, Tante. Apa kabar?" sapanya ramah.
Rini menghentikan langkahnya tepat di depan Ziva. Menatap sinis sembari mengangkat dagu ke atas dengan kedua tangan melipat di depan dada. "Jangan sok-sokan bersikap ramah pada saya! Katakan, mau apa kamu ke sini?" tanyanya ketus.
Untuk menghadapi perempuan tak tahu diri, calon perebut suami orang (pelakor) yang gemar membuat huru hara dalam rumah tangga orang lain, Rini tidak bisa bersikap ramah apalagi lemah lembut. Ia harus bersikap keras agar wanita bermuka tembok macam Ziva sadar bahwa kehadirannya tidak lagi di harapkan di keluarga Rio.
"Ini, 'kan, tempat umum siapa aja boleh datang. Jadi, wajar dong kalau aku ada di sini." Terkekeh geli mendengar pertanyaan Rini. "Lagi pula kenapa Tante sewot saat melihatku di sini? Emangnya Tante sedang ngadain acara keluarga di sini?" Ziva membalas sikap arogan Rini hingga membuat wanita paruh baya di depannya mendelik tajam ke arahnya.
Dasar ulat bulu! Enggak punya urat malu! Songong! umpat Rini dalam hati. Sejak dulu hingga sekarang, enggak pernah punya sopan santun saat bertemu denganku. Untung aja Shaka enggak jadi nikah dengan Nenek Lampir ini. Coba dulu insiden itu enggak terjadi mungkin saat ini aku sedang dirawat di rumah sakit akibat tensi darahku naik gara-gara sering bertengkar dengan Ziva.
"Kepo!" sahut Rini ketus. Di saat seperti ini ibu tiga orang anak tidak mau terlihat lemah di hadapan Ziva. Melakukan segala macam cara agar model cantik bertubuh semampai mundur dan tidak merusak rumah tangga Shaka dan Zahira.
Ziva manggut-manggut. "Ooh ... jadi, Tante, enggak mau kasih tahu nih ceritanya. Baiklah, aku akan cari tahu sendiri," ujar wanita itu.
Wanita dengan tinggi badan 175 cm semakin dibuat penasaran sebenarnya mau apa Shaka di restoran itu. Kenapa calon mantan mertuanya ada di restoran tersebut? Apakah mungkin kehadiran mereka ada hubungannya dengan hari lahir Shaka yang ke-25 tahun? Kalaupun memang iya, maka Ziva tidak boleh melewatkan kesempatan ini. Ia harus bisa ikut andil dalam perayaan tersebut.
Mantan kekasih Shaka membalikan badan, kemudian melesat secepat kilat ke arah daun pintu berwarna coklat.
Sial! Benar-benar muka tembok!" maki Rini setelah sadar bahwa Ziva nekad menerobos masuk ke ruangan khusus yang telah di-booking sebelumnya oleh Zahira.
"Ziva! Hentikan!" teriak Rini sembari menyusul Ziva.
Hanya tersisa tiga langkah lagi maka Ziva akan berhasil meraih handle pintu dan rencana Zahira memberikan kejutan untuk suami tercinta gagal.
"Dasar perempuan enggak tahu diri! Berani-beraninya kamu mau masuk ke dalam tanpa saya beri izin!" desis Rini tiba-tiba sudah mencekal pergelangan tangan Ziva dengan begitu erat. Entah bagaimama ceritanya, saat ini mertua Zahira berada di belakang tubuh Ziva.
__ADS_1
Cekalan tangan Rini sangat erat. Saking eratnya hingga menimbulkan ruam kemerahan di sekitar pergelangan tangan. Tatapan mata tajam seperti sebilah pisau yang baru saja diasah, menusuk hingga menempus ulu hati.
"Aaw! Sakit, Tante!" meringis kesakitan saat Rini menekan pergelangan tangan kanan sementara tubuhnya berpindah posisi hingga kini mereka saling berhadapan.
"Rasain! Makanya jadi orang jangan bebal!" Menyeringai sinis tanpa melepaskan cekalannya. "Sebelum saya berbuat lebih jauh, sebaiknya kamu tinggalkan tempat ini. Saya enggak mau kehadiranmu di sini merusak mood semua orang."
"Emangnya salah aku apa, Tante? Kenapa Tante ingin sekali aku pergi dari sini? Restoran ini adalah tempat umum, siapa aja boleh datang begitu pun denganku. Lalu, kenapa Tante malah mengusirku dari sini?" Wajah Ziva memerah menahan nyeri akibat cengkraman tangan Rini.
"Kamu tanya sama saya, salah kamu apa?" tanya Rini menyunggingkan senyum kejam. "Nona Ziva yang terhormat, apa karena otakmu isinya cuma pekerjaan hingga membuat kamu amnesia?"
Dengan gerakan cepat Rini menarik tangan Ziva menjauhi daun pintu. Tampak bola mata Ziva melebar sempurna, kaget saat tangan lembut Rini menarik paksa tangannya.
"Tante, mau bawa aku ke mana? Aku ingin bertemu Shaka, Tante!" teriak Ziva. Sekuat tenaga wanita itu berontak, tapi usahanya sia-sia. Beruntungnya suasana restoran sepi karena tidak ada tamu lain selain keluarga Shaka dan Zahira.
"Diam kamu!"
Rio yang mengerti isyarat dari tatapan mata Rini hanya menganggukan kepala sebagai jawabannya. Walaupun timbul kekhawatiran dalam diri akan terjadi keributan besar di restoran itu, tapi lelaki berdarah setengah Timur Tengah dari sang papa mencoba percaya dan yakin bahwa istrinya tidak mungkin melakukan sesuatu yang bisa merugikan diri sendiri. Terlebih hari ini adalah hari spesial bagi Shaka, Rini pasti mampu mengendalikan emosinya.
"Aduh!" pekik Ziva saat tangan lembut Rini menghempaskan cekalannya dengan kasar. "Tante apa-apaan, sih! Kenapa bersikap kasar sama aku?"
"Itu semua enggak setimpal dengan apa yang udah kamu lakukan kepada keluarga saya dan juga Zahira. Kamu emang pantas mendapatkannya." Rini memperhatikan penampilan Ziva dari atas kepala hingga ke ujung kaki. "Kamu mau tahu alasannya kenapa saya benci sekali sama kamu? Itu semua karena sopan santun dan tata krama kamu nol jika dibandingkan dengan menantu saya, Zahira."
"Wajah kamu memang cantik, karir cemerlang, tapi berbanding terbalik dengan unggah ungguhmu terhadap orang yang lebih tua. Selama berpacaran dengan Shaka, tidak sekalipun kamu menghargai saya dan suami saya sebagai calon mertuamu. Kamu bersikap sombong, angkuh dan seakan-akan kami ini enggak ada. Namun, saya enggak memedulikan itu selama kamu tulus mencintai Shaka, saya bisa menerima kekurangan yang ada pada dirimu. Toh di dunia ini enggak ada orang yang sempurna."
"Tapi saya enggak akan tinggal diam saat kamu menyakiti Shaka. Tanpa memikirkan perasaan anak saya, kamu tega pergi meninggalkan pelaminan di saat menit-menit terakhir ikrar suci pernikahan diucapkan. Berdalih ingin mengejar cita-cita, kamu justru selingkuh di belakang Shaka. Benar-benar menjijikan."
"Lalu, setelah apa yang terjadi menimpa Shaka, tanpa merasa bersalah kamu memanfaatkan Irhan untuk meminta anak saya menjadi pengacaramu. Otak kamu ditaruh di mana, sih? Di dengkul?" sarkas Rini. Wanita itu meluapkan kekesalannya pada perempuan yang pernah sangat berarti dalam hidup anak tercinta.
__ADS_1
"Saya tahu apa tujuanmu mendekati Shaka, hanya karena ingin merebut posisi Zahira di keluarga saya, iya, 'kan? Jangan mimpi! Karena selamanya posisi itu enggak akan pernah menjadi milik kamu. Saya udah ngasih kesempatan ke kamu dan memasang wajah tembok, menahan malu di hadapan Arumi karena gagal menjodohkan Shaka dan Zahira. Tapi kamu malah melewatkan kesempatan itu. Jadi, kalau saat ini kamu berniat merusak rumah tangga anak dan menantu saya maka berhadapan langsung sama saya. Saya siap melawan kamu!"
Mendengar kata-kata Rini, pecah sudah tawa Ziva. Tertawa terbahak karena tidak menduga akan ada seseorang yang berani melawannya terlebih orang itu sudah tua mana mungkin sebanding dengannya.
"Astaga! Jadi Tante ngajak aku ke sini cuma mau ngomong ini? Ada-ada aja." Menggelengkan kepala sambil terus tertawa.
"Kalau iya, kenapa?" sahut Rini.
"Maka akan sia-sia sebab aku enggak akan pernah mundur selangkah pun untuk bisa mendapatkan Shaka kembali. Anak Tante itu cocoknya sama aku, bukan Zahira. Perempuan culas, licik dan naif macam Zahira, enggak pantas bersanding dengan Shaka."
Rini tertawa mendengarnya. "Dasar perempuan sinting! Kamu sadar enggak kalau ucapan itu seharusnya lebih cocok untukmu. Sifat culas, licik dan naif semua ada dalam diri kamu, Ziva. Menantu kesayangan saya mana punya sifat begitu." Wanita paruh baya dalam balutan dress panjang warna merah marun menatap tajam pada Ziva. "Zahira adalah perempuan baik-baik, tahu bagaimana menghormati orang lain walau terlahir dari keluarga kaya raya, dia enggak pernah sekalipun membeda-bedakan orang. Sementara kamu, orang miskin malah belagu."
"Sebenarnya saya enggak pernah meminta Shaka ataupun kedua kakaknya mencari pasangan dari keluarga kaya raya karena semua harta benda bersifat fana, enggak bisa dibawa mati. Namun, karena kamu udah pernah menyakiti Shaka dan melempar kotoran ke mukaku dan berniat menghancurkan pernikahan anak bungsu saya maka saya enggak akan tinggal diam. Saya akan melakukan apa pun demi menjaga keutuhan rumah tangga Shaka dan Zahira. Termasuk menghancurkan karir yang baru aja kamu bangun kembali."
"M-maksud, Tante, apa? Menghancurkan karirku bagaimana caranya?" tanya Ziva tergagap. Tak ada lagi sikap jumawa yang tersisa hanya wajah pucat pasi disertai keringat dingin yang mulai bermunculan di kening.
Rini tersenyum dingin sambil berucap, "Kamu lupa siapa saya, hem? Psikiater handal seperti saya dengan jam terbang banyak pasti punya kenalan dari semua kalangan. Termasuk orang penting yang bekerja di dunia modeling. Pemilik agensi Top Model, manager bahkan artis tanah air, saya mengenalnya, loh. Jadi, saya bisa aja buat karir kamu redup jika kamu memaksa ingin merusak rumah tangga anak saya."
Ziva terkejut mendengar nama agensi tempatnya bekerja disebut. Degup jantung wanita itu memompa semakin kencang hingga nyaris meledak.
Jika seandainya Rini nekad menggunakan kekuasaannya untuk menghancurkan karirnya maka cita-cita dan satu-satunya mata pencahariannya akan hilang, karirnya pun sebagai model meredup. Walaupun dia sangat menginginkan Shaka kembali dalam pelukannya, tapi apakah sanggup mengorbankan cita-citanya demi lelaki yang sudah menjadi suami orang?
.
.
.
__ADS_1