
"Kami di sini, Sayang!" seru Rini sambil mendorong daun pintu hingga terbuka lebar. Wanita paruh baya itu baru saja selesai menyingkirkan kerikil kecil yang sempat mengganggu keberlangsungan acara malam ini.
"Ma, Pa! Kupikir kalian berdua enggak datang." Shaka lebih dulu mencium punggung tangan kedua orang tuanya, kemudian menarik kursi untuk sang mama.
Rio menepuk pundak anak tercinta. "Mana mungkin Papa menolak undangan menantu kesayanganku. Benar begitu, Ma?" Lelaki tampan berhidung mancung melirik ke sebelah seakan meminta dukungan istri tercinta.
"Betul sekali! Hari ini adalah hari spesialmu jadi Mama dan Papa pasti datang." Rini menangkup wajah Shaka, menatap lekat wajah anak bungsunya. "Selamat ulang tahun anakku tercinta. All the best for you!" Ucapan itu diakhiri sebuah kecupan penuh cinta di kening Shaka.
Kecupan itu mengungkapkan betapa besarnya cinta dan kasih sayang Rini sebagai seorang ibu. Walaupun kehadiran Shaka atas buju rayu Rio, tapi wanita itu dengan ikhlas dan suka rela menuruti permintaan suaminya hingga lahirlah Shaka ke dunia. Andai saja dulu Rini menolak keinginan Rio untuk mengandung anak ketiga mungkin saat ini Zahira tidak akan terlahir ke dunia.
Acara pun berlangsung dengan lancar tanpa ada hambatan apa pun. Terdengan suara gelak tawa, obrolan ringan berasal dari semua orang.
Dalam keramaian, Shaka dan Zahira saling menatap kemudian melempar senyum satu sama lain menahan gejolak di dalam dada. Walaupun bibir tak berucap, tapi mereka tahu ada cinta yang begitu besar di dalam hati masing-masing.
Sesekali Rayyan melirik pada dua sosok di sebelahnya. Seulas senyuman tipis tersungging di sudut bibir.
"Jangan memperhatikan mereka terus menerus, Mas, nanti yang ada anak dan menantu kita jadi canggung! Sebaiknya nikmati saja makanan yang ada," bisik Arumi saat ekor matanya tanpa sengaja melihat seulas senyuman samar terlukis di wajah tampan suami tercinta.
Lelaki berwajah oriental terkekeh pelan. "Siap, Ibu Ratu!" Lantas, Rayyan kembali melanjutkan kegiatannya, menyendokkan sedikit demi sedikit kue ulang tahun pemberian Shaka. Membiarkan Zahira dan menantunya saling mengungkapkan cinta lewat tatapan mata.
Dua orang berseragam pelayan datang mendorong troli makanan memasuki ruangan. Salah satu dari mereka menyajikan enam piring barbeque dan minuman dingin dan hangat pesanan keenam tamu istimewa. Bagaimana tidak istimewa, restoran itu merupakan tempat langganan Rini dan Arumi sedari dulu bahkan kedua wanita itu kenal siapa pemilik restoran mewah tersebut. Jadi jangan heran jika Zahira dengan mudah menyewa restoran itu karena si pemilik restoran adalah teman dekat bunda dan mama mertuanya.
"Loh, ini apa lagi? Bukannya semua hidangan sudah tersedia di atas meja?" Shaka menatap kebingungan pada salah satu pelayan yang menyodorkan sebuah dinner plate dengan penutup stainless. Entah menu apa yang terhidang di dalam sana, sepertinya sangat spesial hingga pihak restoran menutupnya dengan rapat.
__ADS_1
Sebelum terjadi keributan kecil yang malah merusak suasana, Zahira menyela perkataan Shaka. "Aku yang meminta pelayan memberikan hidangan terakhir untukmu, Sayang. Bukalah, aku jamin kamu pasti akan menyukainya."
Wajah Zahira terlihat semringah saat mengucapkan kalimat tersebut. Meskipun jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya karena cemas reaksi apa yang ditunjukan Shaka saat mengetahui jika dirinya tengah berbadan dua. Namun, ia mencoba bersikap tenang dan menyakini bahwa pria tampan itu akan bahagia dengan kabar baik tersebut.
Shaka mengedarkan pandangan ke arah Rini seakan tengah meminta pendapat wanita itu harusnya dia membukanya atau tidak.
Diliputi rasa penasaran akan hidangan spesial yang diberikan Zahira kepada Shaka, Rini menganggukan kepala sebagai jawabannya. Memberikan izin pada putera tercinta untuk segera membukanya.
"Oke! Walaupun aku enggak yakin dapat menghabiskannya, tapi akan kuusahakan untuk menikmatinya demi kamu seorang, Ra."
Tanpa menaruh curiga sedikit pun, Shaka membuka penutup piring dan terkejut melihat isinya. Bukan makanan yang ada di sana melainkan benda berbentuk lepengan berukuran 10 cm dengan dua garis merah di tengahnya.
Sontak, semua orang yang hadir ikut melebarkan kedua mata saat melihat apa gerangan yang disembunyikan di dalam penutup makanan tersebut. Bahkan Arumi sampai meneteskan air mata saat ekor matanya dua garis merah mencolok indera penglihatannya. Air mata itu bukanlah air mata kesedihan melainkan air mata bahagia sebab impiannya untuk menimang cucu segera terlaksana. Sementara Rini menangis tersedu dalam pelukan Rio. Rayyan, sosok lelaki dingin yang sangat irit berbicara hanya membeku di tempat, tapi hatinya membucah seakan mau meledak mendengar berita kehamilan akan tercinta.
"Sayang ... i-ini?" tanya Shaka tergagap sambil mengulurkan tangan ke depan, memegang benda tersebut dengan tangan gemetaran. Lelaki itu merasa bumi tempatnya berpijak tak lagi berputar pada porosnya. Jantung semakin memompa seperti tengah berparade ria. Tanpa sadar mulutnya terbuka, menutup dan kembali terbuka tanpa mampu berkata-kata.
Zahira tersenyum lebar dengan mata berkaca-kaca. "Benar, Sayang. Aku hamil, anak pertama kita. Usianya baru menginjak empat minggu."
Detik itu juga air mata Shaka meluncur tanpa meminta izin terlebih dulu kepada sang empunya. Ini benar-benar kejutan paling indah. Usahanya saat berbulan madu di Australia dan Jepang tidak sia-sia, benihnya tumbuh subur di rahim sang istri. Do'a yang baru saja dipanjatkan langsung dikabulkan Tuhan saat ini juga.
Terdengar suara derit kursi saat Shaka memundurkannya, lantas berdiri dan berhambur memeluk Zahira. Lelaki itu mengecup puncak kepala istrinya. "Alhamdulillah, terima kasih atas kado istimewa yang kamu berikan padaku. Aku enggak menyangka jika benih yang kutebar di rahimmu akan tumbuh secepat ini. Ini benar-benar luar biasa, Sayang."
"Aku pun begitu, Sayang. Pantas saja selama dua hari ini aku mual dan muntah terus di pagi hari. Kupikir asam lambungku naik, tapi ternyata aku mengalami morning sickness." Zahira ikut merasakan betapa bahagianya Shaka saat ini. Ketakutannya akan ditinggalkan Shaka tak beralasan. Justru lelaki itu sangat bahagia setelah mendengar kabar gembira ini.
__ADS_1
"Sekali lagi terima kasih, Sayang. Aku beruntung memilikimu. Mulai detik ini enggak ada satu orang pun yang bisa memilikimu. Kamu dan bayi kita hanya milikku seorang."
"Aku lebih beruntung memilikimu, Sayang. Terima kasih juga karena mau membuka hatimu untukku."
Shaka merunduk dan hendak mencium manisnya madu di bibir Zahira. Akan tetapi, suara deheman kencang yang dibuat-buat membuat ia sadar bahwa tidak hanya ada mereka berdua di ruangan itu.
"Tunggu beberapa saat lagi, kamu bisa menuntaskannya di kamar, Nak!" Suara itu memunculkan rona merah muda di wajah Zahira. Rini menggoda menantu dan anaknya meski sisa buliran air mata masih menggenang di sudut mata.
Shaka hanya tersenyum canggung sembari menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal. "Maaf, aku terlalu bahagia hingga melupakan kehadiran kalian semua."
Rio terkekeh pelan. "Ya, namanya juga pasangan muda jadi ngebet mulu bawaannya."
Arumi mengusut butiran kristal yang tersisa di sudut matanya. "Akhirnya sebentar lagi kita punya cucu, Honey. Cucu pertama keluarga Wijaya Kusuma. Bukankah ini sangat menyenangkan?" bisiknya lirih di telinga Rayyan.
"Mulai sekarang, bersikap baiklah kepada Shaka. Jangan sampai cucu kita bersikap dingin dan menunjukan sikap tidak sukanya kepadamu. Ingat, bagaimana dulu Ghani begitu tidak menyukai mendiang Papa Firdaus dan mendiang Mama Lena karena kamu membenci mereka? Aku enggak mau kejadian itu terulang untuk kedua kali." Wanita cantik yang kulitnya mulai dihiasi kerutan di wajah dan permukaan kulit terkikik geli saat membayangkan bagaimana sikap anak pertama mereka dulu. Bayi berusia enam bulan sudah menunjukan ketidaksukaannya kepada mendiang Firdaus dan Lena. Jangan sampai cucunya mewarisi sikap dingin dan ketus macam Rayyan.
Rayyan berdecak kesal mendengar ejekan istrinya. "Ejaklah aku sepuas hatimu. Namun, jangan salahkan aku jika nanti malam burung beoku terus menggempurmu tanpa ampun!"
"Mas Rayyan!" Arumi melotot tidak suka. Akan tetapi, Rayyan tak memedulikan istrinya. Ia kembali melanjutkan menikmati hidangan yang sudah disediakan di atas meja.
...***...
__ADS_1