Pengantin Pengganti Sahabatku

Pengantin Pengganti Sahabatku
Morning Kiss


__ADS_3

Hari sudah pagi, baik Zahira maupun Shaka tengah bersiap untuk berangkat, Budhe Erna pun telah mempersiapkan sarapan untuk mereka. Setelah selesai mengganti pakaian dan membereskan barang-barangnya, pasutri itu pun pergi ke ruang makan.


“Wah, sarapan apa hari ini Budhe?” tanya Shaka.


“Sudah jelas di depanmu apa saja makanannya, untuk apa bertanya?” ucap Zahira sinis. Dia masih amat kesal atas sikap Shaka kemarin siang yang menggendongnya ala bridal style.


“Memang salah jika aku bertanya? Toh, aku bertanya pada Budhe bukan padamu,” ucap Shaka.


“Sewot banget, sih! Lagi PMS, ya?" cibir Zahira.


“Loh, bukannya kamu duluan yang sewot ya,” balas Shaka tidak mau kalah.


Budhe Erna tersenyum kemudian berkata, “Sudah, lebih baik Den Shaka sama Mbak Zahira makan, ini sudah hampir siang loh. Nanti kalian malah kesiangan sampai rumah sakit dan kantor." Wanita paruh baya itu melerai keributan kecil antara pasangan suami istri itu.


Zahira dan Shaka mengangguk, mereka juga mengajak Budhe makan bersama mereka, tetapi ditolak. Pasturi itu pun makan, tak ada obrolan sama sekali hingga selesai. Mereka berdua akhirnya angkat bicara, Zahira berkata jika ia ingin pergi sendiri, tetapi berulang kali hal itu ditolak oleh Shaka.


"Ka, aku mau berangkat kerja sendirian saja. Kamu enggak perlu nganterin aku."


"Ya, enggak bisalah, Ra! Pokoknya aku akan anterin kamu ke rumah sakit," keukeh Shaka. "Lagi pula, kalau kamu berangkat sendiri, emang mau naik apa? Mobilmu saja ada di bengkel" Shaka kembali menyuapkan nasi goreng spesial buatan budhe Erna.


"Taxi online, 'kan, banyak. Aku bisa pesan sebelum berangkat kerja."


Shaka meletakkan peralatan makan di atas piring, kemudian menatap tajam ke arah Zahira. "Sebagai suamimu, aku enggak memberikan izin kepadamu untuk pergi seorang diri."


Zahira menatap aneh ke arah Shaka. Semakin hari sikap pria itu semakin aneh akan sikap sang suami. Menghela napas kasar dan berkata, "Terserah kamu saja deh. Aku akan patuh." Akhirnya dia mengalah karena tidak mau berdebat lagi dengan Shaka.


Mereka berdua pun berangkat menggunakan mobil Shaka, sepanjang perjalanan Shaka tak henti-hentinya menatap Zahira. Dokter cantik itu merasa risi, tetapi di dalam hatinya berdebar tak karuan.


Aduh, kenapa jantungku berdenyut tak beraturan sih. Bisa saja, 'kan, Shaka sedang memperhatikan jalanan di belakang mobil lewat kaca spion di sebelahku. Please deh, Ra, jangan mudah baper begitu. Ingat, hati dan cinta Shaka udah dimiliki Ziva.


Kalau diperhatikan dengan seksama, wajah Zahira sangat cantik enggak kalah dari Ziva. Malah bisa dikatakan kecantikan istriku lebih terpancar meski enggak menggunakan make up tebal, batin Shaka. Dalam hati memuji kecantikan sahabat yang kini berstatuskan sebagai istrinya.


"Ra, saat di rumah sakit, aku enggak mau kamu dekat-dekat dengan Dokter Nizam. Ingat, statusmu itu adalah istriku sekarang. Kedekatanmu dengan Dokter Nizam di saat kamu telah menjadi istriku akan menimbulkan beritak kurang sedap. Jadi, jaga jarak dengan lelaki itu," nasihat Shaka kepada istrinya. Selain dia tidak suka jika Zahira berdekatan dengan lelaki lain, pria itu pun tidak mau ada fitnah yang beredar di luaran sana mengatakan hal buruk tentang sang istri. Bagaimanapun, menjaga kehormatan dan nama baik Zahira merupakan tugas serta tanggung jawabnya sebagai seorang suami.


Zahira sebenarnya keberatan dengan permintaan Shaka. Namun, sadar bahwa yang dikatakan suaminya adalah benar. Meskipun hubungan mereka tidak seperti pasangan suami istri pada umumnya, tetapi dia berhak menjaga martabat dan nama baik keluarga.


"Baiklah. Aku akan mulai menjaga jarak dengan Dokter Nizam." Shaka tersenyum lebar saat Zahira setuju dengan ucapannya. Pria itu kembali fokus pada jalanan di depan sana.


Tak lama kemudian mereka pun sampai di rumah sakit, Shaka mengantarkan Zahira sampai ke dalam ruangan Zahira. Mereka berbincang sebentar, kemudian Shaka keluar dari ruangan Zahira, tetapi kemudian dia berbalik dan menghampiri Zahira yang berdiri di pintu ruangannya.

__ADS_1


“Apa lagi?” tanya Zahira.


“Lupa,” ucap Shaka kemudian mengulurkan tangan kanan ke hadapan Zahira. Mengerti akan maksud pria itu, sang dokter mencium punggung tangan suaminya.


Lalu, sesuatu hal langka terjadi pagi itu. Moment di mana Shaka mengecup kening Zahira untuk pertama kali. Hal itu sontak membuat Zahira terkejut dan tersipu sekaligus. “Baik-baik ya kerjanya. Ingat akan apa yang kukatakan padamu tadi,” ucap Shaka kemudian pergi.


Shaka! teriak Zahira dalam hati. Dia melihat sekeliling untung masih sepi sambil menyentuh keningnya yang baru saja dikecup Shaka. Hangatnya bibir Shaka masih terasa di kening.


Kesambet Jin apa sih, tuh cowok! gumam Zahira lirih. Kendatipun begitu, hati gadis itu amat bahagia seperti bunga Sakura bermekaran di musim semi. Jutaan kupu-kupu terbang dari dalam tubuhnya. Lantas, dia segera masuk ke ruangannya dan menutup mukanya yang memerah itu.


Tanpa mereka sadari, Nizam sedari tadi memperhatikan keduanya. Ada rasa cemburu hinggap di hati Nizam. Dia sadar tidak seharusnya mempunyaj perasaan itu kepada Zahira, tetapi rasa yang ada tidak bisa dikendalikan. Diam-diam, dia telah jatuh hati pada Zahira dan akan berusaha untuk mendekati gadis itu.


Nizam menghampiri ruangan Zahira, mengetuknya, tak lama kemudian Zahira menyahut. Nizam pun masuk ke ruangan Zahira. “Permisi Dokter,” ucap Nizam.


“Eh? Dokter Nizam. Kukira tadi ada pasien, mari duduk,” ucap Zahira sopan.


“Terima kasih Dok,” ucap Nizam kemudian duduk.


“Ada apa, ya, Dokter Nizam?” tanya Zahira, karena tak biasanya Nizam ke ruangannya. Apakah ada pasien yang membutuhkan bantuannya? Namun, biasanya suster yang memberitahukan.


“Begini, Dok–“


“Haha! Baiklah, begini Ra, apa kamu mau nanti siang makan bersamaku?” tanya Nizam.


“Eh?” Zahira bingung, jika dia mengiyakan pasti Shaka akan marah padanya, apalagi semenjak kejadian itu Shaka menjadi overprotective padanya.


“Kenapa Ra?” tanya Nizam membuyarkan lamunan Zahira.


“Eh? Enggak apa-apa. Tapi maaf Dok, aku enggak bisa. Shaka bakalan datang ke sini dan dia ngakain aku makan siang bareng,” ucap Zahira.


“Oh? Shaka, ya,” ucap Nizam dengan lesu.


“Maaf, ya, Dok, mungkin lain kali,” ucap Zahira.


“Enggak apa-apa kok. Makasih ya, atas waktunya, aku pamit ke ruanganku dulu,” ucap Nizam.


“Iya, terima kasih juga udah nawarin dan maaf ga bisa nerima tawarannya,” ucap Zahira.


Nizam tersenyum kemudian pergi dari ruangan Zahira dengan perasaan campur aduk, kesal, marah, kecewa, cemburu, semuanya. "Nope, Ra!"

__ADS_1


Sementara Zahira merasa tidak enak karena telah menolak tawaran Nizam, tetapi mau bagaimana lagi? Jika dia terima justru akan membuat malapetaka, Shaka akan marah dan membuat keributan, Zahira tidak mau itu terjadi.


Tiba-tiba pintu diketuk dan membuat lamunan Zahira buyar, dia mempersilakan orang itu masuk, ternyata suster yang memberitahu kalau sudah waktunya melakukan visit pada pasien. Dengan cepat Zahira mengambil stetoskop dan keluar bersama suster tadi menuju ruangan yang ada di bangsal Teratai.


Di sisi lain, Shaka baru saja sampai di kantornya, dia langsung menghadap beberapa berkas kasus klien yang akan dia tangani, beberapa di antaranya akan sidang beberapa pekan ini. Shaka harus mempelajari kasusnya dengan segera, ia fokus melihat berkas-berkas itu. Namun, meskipun begitu pikirannya selalu terselip nama sang istri, seperti sekarang ia tengah memikirkan mau makan siang di mana dengan sang istri.


“Di restoran biasa aja kali ya?” gumamnya.


Tanpa ia sadari papanya yaitu Rio sejak tadi sudah masuk dan memperhatikan dirinya, Rio menggelengkan kepalanya mendengar samar gumaman sang anak. “The Cafe, itu cocok untuk makan siang berdua, letaknya juga ga jauh dari sini,” ucap Rio membuat Shaka terperanjat.


“Astaga! Papa sejak kapan di sini?” tanya Shaka seraya mengelus dadanya.


“Sejak kamu melamun,” ucap Rio acuh tak acuh, ia kemudian mengambil beberapa berkas di meja itu. “Banyak sekali kasus yang harus kamu tangani sebulan ini,” ucap Rio.


“Begitulah, ini tandanya Shaka terpercaya dan lebih unggul dari Papa,” ucap Shaka seraya menaik-turunkan alisnya menggoda sang papa.


“Ehm! Bagus. Itulah yang Papa harapkan. Kamu dapat melanjutkan tanggung jawab Papa untuk membantu orang yang membutuhkan. Namun, ingat, jangan cuma mengejar keuntungan, tapi kamu juga harus menggunakan hati nurani saat menolong orang lain. Belalah klienmu habis-habisan kalau dia memang benar. Akan tetapi, jika salah katakan salah meski akan masa di mana kamu merasa terancam," ucap Rio memberikan sedikit wejangan untuk anak tercinta.


Mereka lalu lanjut mengobrol tentang beberapa kasus yang akan Shaka pelajari seminggu ini.


Kembali lagi pada Zahira, wanita itu tengah menangani beberapa pasien yang baru dikirim dari IGD. Dia dibantu Nizam menangani pasien-pasien itu hingga beberapa jam lamanya. Ya ada beberapa pasien yang mereka tangani, mereka juga dibantu oleh perawat saat menangani pasien tersebut.


Pasien-pasien yang mereka tangani adalah korban-korban kebakaran yang terjadi tak jauh dari rumah sakit itu. Ada sekitar dua puluh lima pasien yang mereka tangani, ada yang luka bakar ringan dan ada yang berat. Mereka berdua tampak kompak, Nizam senang dengan keadaan itu, bukan dengan keadaan pasien, tetapi senang karena bisa menghabiskan waktu beberapa jam bersama Zahira setelah sekian lama.


Setelah semua pasien ditangani Zahira dan Nizam pun beristirahat, Zahira mengambil napas pelan, dia sepertinya kelelahan. Nizam tersenyum baru saja ingin menawarkan kembali untuk makan bersama, tiba-tiba Shaka datang menghampiri Zahira.


“Selamat siang, Ra,” ucap Shaka lalu duduk di samping Zahira.


“Siang,” ucap Zahira.


“Capek hm?” tanya Shaka dibalas anggukan oleh Zahira. “Sudah makan? Ini aku bawain air minum,” ucap Shaka.


“Belum, makasih,” ucap Zahira lalu meminum air yang diberikan Shaka.


“Mau aku pijitin?" tawar Shaka basa basi. "Ehm ... gimana kalau kita ke ruangan kamu saja. Di sana kita bisa lebih leluasa tanpa harus diperhatikan orang lain,” ucap Shaka seraya melirik ke arah Nizam. Zahira memang tak peka akan perasaan Nizam, tetapi sebagai seorang lelaki tentu saja Shaka tahu betul apa yang ada di pikiran Nizam.


Shaka menarik pelan tangan Zahira kemudian pergi dari sana.


“Kami permisi dulu Dokter Nizam. Mari,” ucap Zahira dengan ramah yang memancing kecemburuan Shaka.

__ADS_1


Sementara Nizam hanya menganggukan kepala sebagai jawaban.


__ADS_2