Pengantin Pengganti Sahabatku

Pengantin Pengganti Sahabatku
Permintaan Zahira


__ADS_3

"Apa Bu Arumi ada di rumah?" tanya Rini sesaat setelah tiba di depan rumah mewah nan megah milik sang sahabat.


Tina menjawab, "Ada. Bu Arumi sedang menonton televisi bersama Mbak Shakeela di ruang keluarga. Mari, silakan masuk!" Wanita itu menggeser sedikit tubuhnya demi mempersilakan sahabat dari sang majikan untuk masuk ke rumah.


"Siapa yang datang, Mbak Tina?" tanya Arumi yang tengah duduk di ruang keluarga bersama anak bungsunya.


"Aku, Rumi!" sahut Rini. Sahabat sekaligus besan Arumi bergegas mendekati istri Rayyan.


Alis Arumi berkerut melihat kemunculan Rini di rumah itu secara tiba-tiba. Biasanya, Rini akan memberitahu terlebih dulu saat hendak ke rumah.


"Tumben sekali kamu datang ke sini, Rin. Ada apa?" Melihat wajah cemberut Rini, Arumi yakin telah terjadi sesuatu menimpa sahabatnya.


Rini melempar begitu saja hand bag merk Kremes edisi terbatas ke sofa, kemudian ia hempaskan bokongnya ke sebelah Arumi. "Aku sebel sama Mas Rio!" jawabnya singkat.


Shakeela yang melihat raut wajah Rini berbeda dari biasanya, segera mengecilkan volume televisi lalu memutuskan meninggalkan kedua wanita paruh baya itu menuju halaman belakang. Ia ingin memberikan ruang kepada bunda serta tante kesayangannya untuk berbicara tanpa merasa terganggu oleh kehadiran orang ketiga.


Arumi mengusap pundak Rini, mencoba menenangkan sahabatnya itu. Dengan suara lembut ia berkata, "Memangnya apa yang telah dilakukan Rio kepadamu sampai kamu sebel gitu sama dia?"


Rini menarik napas dalam, kemudian mengembuskan secara perlahan. Setelah dirasa cukup barulah ia menjawab, "Sahabat suamimu itu keterlaluan, Rumi. Dia mendesak Shaka untuk menerima kasus yang melibatkan Ziva, mantan calon menantunya itu."


"Apa? Jadi, Ziva telah kembali dari Singapura?" tanya Arumi terkejut. Bola mata wanita itu melebar sempurna disertai air muka pias kala mendengar nama Ziva.


Pikiran Arumi langsung tertuju kepada putri tercinta, Zahira. Ia khawatir hati anak ketiganya terluka bila ternyata Shaka memilih kembali dengan Ziva dan mencampakkan Zahira begitu saja. Ia pernah merasakan bagaimana rasanya dicampakkan oleh seseorang yang kita cintai. Sakit, sedih dan kecewa. Itulah yang dirasakan oleh Arumi dulu saat masih berstatuskan sebagai istri dari Mahesa Putra Adiguna. Oleh karena itu, ia tidak mau Zahira maupun Shakeela merasakan apa yang pernah dirasakan olehnya dulu.


Terdengar helaan napas kasar bersumber dari Rini. "Benar, Nenek Sihir itu telah kembali dan membawa bencana besar bagi kebahagiaan anak-anak kita, Rumi. Dia pulang ke Indonesia karena ditipu oleh salah satu agensi yang menjanjikannya menjadi model terkenal internasional. Setelah melakukan pemotretan, rupanya pihak agensi tidak membayar dan terus menerus menunda pembayaran. Janji yang diucapkan pun rupanya hanya bualan belaka."


"Dia kembali ke tanah air dan datang ke kantor firma milik Mas Rio. Entah bagaimana ceritanya Ziva bisa sampai bekerjasama dengan Irhan, akhirnya putera Pak Gunawan memaksa Shaka menerima kasus Ziva. Mentang-mentang Papanya menanam saham di kantor milik suamiku, seenaknya saja dia mendesak anakku!" sungut Rini berapi-api.


"Lalu, bodohnya lagi Mas Rio malah ikut mendesak Shaka, atas nama profesional makin marahlah aku sama dia. Sudah tahu Zahira pernah dikecewakan oleh Shaka, malah mendorong anaknya sendiri agar berdekatan dengan Nenek Sihir itu!"


Arumi menyenderkan punggung di sandaran sofa, kemudian menatap langit-langit ruang keluarga. "Kenapa masalah Ziva selalu menjadi kerikil dalam rumah tangga anak-anak kita, Rin? Apa memang selamanya wanita itu tetap menjadi penghalang kebahagiaan putriku?" keluhnya.


"Ooh ... enggak akan kubiarkan dia menjadi orang ketiga dalam rumah tangga menantu kesayanganku. Selama aku masih hidup, enggak ada yang boleh melukai hati Zahira, kalau ada maka dia berhadapan denganku," ucap Rini bersungguh-sungguh. Ia memang begitu menyayangi Zahira seperti anak kandungnya sendiri.

__ADS_1


"Lantas, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Arumi seraya menatap sayu ke arah sahabatnya.


Rini memejamkan mata sejenak saat mendapat pertanyaan dari Arumi. Sejujurnya ia pun tak tahu harus berbuat apa untuk mencegah badai yang terus menerpa kapal Shaka dan Zahira. "Hanya menunggu keajaiban saja dari Tuhan, semoga rumah tangga putera-putri kita baik-baik saja."


***


Di saat Rini tengah menceritakan keluh kesahnya kepada Arumi, sepasang suami istri tengah berjalan bergandengan tangan masuk ke dalam sebuah restoran cukup hits di kalangan muda mudi. Jika diperhatikan dengan seksama, mereka tampak seperti pasangan serasi yang saling menyayangi satu sama lain.


"Ingin duduk di sini, atau outdoor?" tanya Shaka.


Zahira mengedarkan pandangan ke sekeliling. Restoran itu sudah mulai dipadati beberapa pengunjung yang hendak mengisi perut kosong meski jam dinding baru menunjukan pukul tujuh malam.


"Ehm ... outdoor aja deh. Kalau di sini terlalu pengap."


Gadis itu memilih untuk berada di lokasi outdoor sebab ia ingin sekali menikmati makan malam pertama bersama pujaan hati ditemani gemerlap bintang dan pemandangan langit di malam hari.


"Shaka, lihat! Langitnya indah sekali, ya? Dari sini kita bisa melihat bintang-bintang di atas sana," ujar Zahira seraya menunjuk ke atas langit. Sejak kecil ia memang begitu suka sekali memandangi bintang di malam hari bersama kedua kakak kembarnya bahkan mereka pernah berlomba-lomba menghitung bintang di atas sana.


"Ya, indah sekali bukan? Kamu suka tempat ini?" tanya Shaka senang sebab ia berhasil memberikan kejutan kecil untuk istrinya.


Shaka terdiam saat mendengar perkataan Zahira. Alis mengerut, ekor mata memicing tajam ke arah sang istri. Kalimat terakhir yang diucapkan gadis itu sukses membuat atensinya terhadap buku menu di atas meja terhenti.


Tunggu, kalau tidak salah dengar baru saja Rara bilang seseorang yang dicintai. Mungkinkah dia telah jatuh cinta kepadaku? Sejak kapan?


Banyak pertanyaan yang bersarang di benak lelaki itu. Ingin rasanya bertanya langsung kepada Zahira, tetapi ia takut salah mengartikan perkataan yang diucapkan gadis itu barusan.


Come on, Ka! Jangan berpikiran yang enggak-enggak! Fokus akan tujuan awalmu mengajak Zahira ke sini. Ciptakan kebersamaan kalian agar dapat saling menyelami satu sama lain. Walaupun kalian sudah lama kenal, tapi dulu status kalian sebagai sahabat bukan sebagai pasangan suami istri.


Tak ingin terus memikirkan suatu hal yang merusak suasana, Shaka mencoba memusatkan kembali pikirannya pada sebuah buku menu yang ada di hadapan. "Ra, kamu mau makan apa malam ini? Ada banyak menu makanan enak di restoran ini, kamu bisa pilih apa saja yang diinginkan."


Zahira yang tengah asyik memandangi keindahan langit di malam hari segera membuka buku menu yang telah disediakan oleh seorang pelayan saat mereka tiba di restoran. "Ehm ... aku mau makan steak aja deh, Ka. Kentang goreng dan es lemon tea," jawab gadis itu. Ia memilih menu makanan yang memang sekiranya terlihat lezat untuk disantap.


Setelah menentukan pilihan, Shaka mengangkat tangan ke udara, memberi kode kepada salah satu pelayan untuk mencatat pesanan mereka. "Satu piring sirloin steak, pasta satu, kentang goreng satu, lalu dua gelas es lemon tea."

__ADS_1


Pelayan itu bergegas mencatat pesanan Shaka di atas kertas. "Apa ada tambahan lain, Pak?" tawarnya sebelum mengantarkan kertas pesanan ke dapur.


"Bawakan saja es krim vanila sebagai hidangan penutup," ujar Shaka lagi.


Pelayan itu mengangguk, beranjak dari sana dengan langkah cepat. Ada banyak tamu yang berdatangan silih berganti membuat wanita itu tak mempunyai banyak waktu untuk berleha-leha walau hanya sedetik saja.


"Ka, apa kamu enggak bisa mundur dari kasusnya Ziva? Ehm ... kalau boleh jujur, aku enggak suka jika kamu dan dia terus berdekatan. Kalian pernah punya masa lalu dan aku enggak mau hubungan yang baru akan kita mulai terus diganggu oleh kehadiran orang ketiga."


Shaka menatap lurus akan sosok perempuan cantik jelita di depan sana. Parasnya dipoles make up tipis dan dress di bawah lutut dengan rambut dicempol ala wanita Korea, terlihat cantik bagai bidadari turun dari Kayangan.


"Kamu ingin aku mundur dan menyerahkan kasus itu pada orang lain?" tandas Shaka.


"Benar. Aku sudah menuruti keinginanmu dan kupikir enggak ada salahnya jika aku memintamu menjauhi mantan kekasihmu itu. Aku cuma ingin hidup kita tenang tanpa diganggu oleh siapa pun," tutur Zahira. Ia memberanikan diri meminta sesuatu untuk pertama kali kepada Shaka.


"Aku akan coba bicarakan dengan Papa, ya. Besok atau lusa kuberi jawabannya," jawab Shaka tersenyum.


***


"Irhan, ini berkas kasus limpahan dari Shaka untukmu. Mulai besok, anakku mundur dari kasus itu," ucap Rio tegas.


Irhan terperanjat saat mendengar suara Rio yang secara tiba-tiba masuk ke dalam ruangannya. Ia raih berkas di atas meja, lalu membacanya dengan seksama.


"Loh, Pak Rio, kasus ini 'kan sudah disetujui Pak Shaka, kenapa dilimpahkan pada saya?" tolak Irhan saat melihat nama klien yang tertera di sana.


Rio menatap sinis ke arah Irhan, salah satu penanam modal di kantor firma miliknya. "Itu hak saya untuk menggantinya. Kantor ini milik saya. Jadi, suka-suka saya dong mau dilimpahkan pada siapa pun, itu urusan saya," tandasnya tanpa mau diganggu gugat. "Kalau kamu tidak mau, bisa keluar dari kantor ini sekarang juga!"


Tanpa memberi kesempatan pada Irhan berbicara, Rio sudah berlalu begitu saja meninggalkan ruangan itu dengan langkah panjang.


"Tinggal pergi ke apartemen Shaka, kemudian menjemput Rini," gumam Rio. "Jangan sampai istriku merajuk dan memintaku tidur di kamar tamu! Bisa-bisa 'Beo'-ku puasa nih kalau dia terus merajuk gara-gara urusan Shaka."


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2