Pengantin Pengganti Sahabatku

Pengantin Pengganti Sahabatku
Bertemu Ziva


__ADS_3

Zahira tampak kebingungan kenapa Ziva sampai mengirimkan pesan dan meminta mereka bertemu. Sebenarnya apa yang ingin disampaikan oleh mantan tunangan suaminya itu? Lalu, dari mana dia mendapatkan nomornya? Mungkinkah dari Shaka? Banyak pertanyaan yang ada dalam benak gadis itu.


Menggelengkan kepala cepat, mengenyahkan pikiran negatif yang hinggap dalam benaknya. "Shaka dan Ziva udah enggak dekat jadi mana mungkin suamiku memberikan nomor istrinya kepada mantan tunangannya itu. Aku harus percaya bahwa suamiku enggak terlibat dalam semua ini," ucap gadis itu pada dirinya sendiri.


Walaupun masih ada rasa sakit di hatinya akibat kebohongan yang dilakukan Shaka dan juga sempat memergoki mereka pergi bersama, tetapi Zahira mencoba melupakan itu semua dan mulai mempercayai suaminya lagi. Terlebih Shaka meminta waktu untuk belajar menerima dan mencintai Zahira sebagai istri bukan sebagai seorang sahabat.


Tak ingin mati penasaran, Zahira pun mengetikkan sebuah pesan sebagai balasan. ["Baik, pukul dua belas tepat aku sudah tiba di sana."]


Setelah memastikan pesan tersebut terkirim, Zahira kembali meletakkan telepon genggam itu di atas nakas. "Kita lihat apa yang ingin wanita itu sampaikan kepadaku." Lantas, gadis itu pun naik ke atas ranjang, merebahkan tubuhnya yang terasa letih akibat sibuk bekerja.


Keesokan hari, Zahira kembali menyiapkan makanan untuk mereka semua. Hari ini si dokter cantik membuat bubur ayam buatannya sendiri dibantu budhe Erna. Bermodalkan resep masakan dari mbah Google, ia berhasil menyiapakan tiga mangkok bubur ayam lengkap dengan sate usus dan ati ampela.


"Ehm ... buburnya enak sekali, Ra. Aku sampai kepingin nambah lagi, tapi sayang udah enggak ada sisa di panci," kekeh Shaka setengah berkelakar. Ia tampak lahap menikmati satu mangkok bubur buatan istrinya.


Zahira tersenyum malu, semburat rona merah muda terpancar jelas di wajah. Jantung berdebar tak beraturan karena untuk kesekian kali, laki-laki itu mampu mengobrak-abrik hatinya. Pujian yang datang bertubi-tubi serta tatapan mata tajam berhasil membuat gadis itu terlena oleh pesona sang Arjuna.


"Kalau kamu suka nanti aku buatkan lagi untukmu," balas Zahira lirih. Tertunduk malu menyembunyikan wajahnya yang merona bagaikan kepiting rebus.


"Tentu saja aku menyukainya. Semua makanan yang kamu masak sendiri, aku pasti suka. Bumbu dan rasanya sangat sesuai di lidahku. Enggak terlalu asin dan enggak juga hambar. Perfect!" Shaka mengangkat ibu jari tangan kanan dan jari telunjuk membentuk huruf O ke udara.

__ADS_1


Makin tersipu malulah Zahira mendapat pujian dari sang suami. Hati gadis itu berbunga-bunga melihat Shaka menyantap bubur buatannya dengan sangat lahap.


"Oh ya, aku mau minta izin menemui seseorang di café Senja saat jam istirahat, Ka," ucap Zahira saat mereka masih sibuk sarapan.


Shaka menghentikan sejenak kegiatannya, ia mendongakan kepala memandangi wajah cantik sang istri. Alis saling tertaut satu sama lain. "Bertemu siapa? Laki-laki atau perempuan? Ada urusan apa orang itu mencarimu?" cecar pria itu tanpa jeda. Tiba-tiba saja perasaan Shaka berubah jadi tak tenang.


"Orang yang akan kutemui nanti adalah seorang perempuan. Untuk urusan apa, aku pun enggak tahu. Dia cuma memintaku datang tepat pukul dua belas siang. Bagaimana, Ka, boleh enggak?"


Mata memicing semakin tajam laksana sebilah pisau yang hendak melesak mengenai jantung membuat bulu kudu Zahira merinding seketika. Tatapan mata lelaki itu memang sangat tajam seperti tatapan milik Rayyan, ayah kandung Zahira.


"Kamu mau bertemu siapa? Enggak mungkin, 'kan jika kamu enggak tahu siapa orang itu."


Akan tetapi, Shaka masih belum puas dengan jawaban istrinya. Lantas, ia kembali berkata, "Katakan kepadaku, Ra, kamu mau ketemuan sama siapa? Kenapa kamu menyembunyikan sesuatu dari aku? Bukankah kita udah sepakat, enggak akan ada rahasia di antara kita. Lalu, sekarang kamu malah ingkar."


Tangan kanan Zahira terulur ke depan, menangkup punggung tangan suaminya. "Maafin aku, Ka, enggak bisa kasih tahu kamu. Tapi aku janji deh setelah aku selesai berurusan dengan orang itu akan cerita ke kamu. Jadi, please, kasih izin aku untuk bertemu dengannya." Ekor mata gadis itu mengerjap penuh pengharapan.


"Ya udah, aku kasih izin ke kamu. Tapi kalau terjadi hal buruk menimpamu aku enggak akan segan membuat perhitungan sama orang itu sekalipun dia seorang wanita, aku tetap membalasnya."


Zahira terpana mendengar ucapan suaminya. Ia kembali menatap ke depan dengan sorot mata tak terbaca. Dilindungi seperti ini membuat gadis itu merasa ... sangat dicintai dan seolah seluruh isi bumi berada dalam genggaman tangan. Jika dulu hanya ada tiga lelaki yang menjaganya, kali ini ada empat dan lelaki itulah yang kelak akan hidup bersama hingga maut memisahkan.

__ADS_1


Hari semakin siang, matahari pun semakin terik menyinari sebagian belahan bumi selatan dan seluruh bagian belahan bumi timur. Zahira telah merapikan semua barang bawaannya ke dalam tas yang ia beli dari hasil jerih payah Shaka selama menjadi pengacara.


"Dokter Zahira, mau makan siang bersama? Aku dan Dokter Nizam berencana makan siang di restoran yang lagi viral di sosial media itu loh, Dok. Restoran yang seluruh stafnya marah-marah enggak jelas kepada pelanggan. Aku ingin merasakan gimana rasanya makan dilayani oleh para berwajah masam, enggak ramah dan selalu membentak pelanggan, pasti seru," tutur Hanna, rekan sejawat Zahira. Iris mata wanita itu berbinar bahagia membayangkan itu semua.


Zahira menggeleng. "Maaf, Dokter Hanna, aku enggak bisa ikut. Kalian pergi aja berdua," jawab gadis itu sembari meraih sling bag, kemudian memasangnya di pundak. "Aku ada janji ketemuan sama orang. Maybe next time kita jalan bersama.


"Aku duluan, Dok. Bye!" sambung Zahira melambaikan tangan ke udara dan berlari meninggalkan ruangan.


Wanita cantik berusia dua puluh empat tahun menatap cengo ke arah Zahira. "Buru-buru sekali, memangnya dia mau ketemu siapa? Mungkinkah suaminya?" gumam Hanna lirih. Tak ingin membuat gebetannya menunggu terlalu lama, Hanna pun berjalan meninggalkan ruangan itu.


Di sepanjang lorong rumah sakit, Zahira terus mengatur napas. Menarik napas dalam, kemudian mengembuskan secara perlahan. Ia ulangi itu semua berkali-kali sampai dirasa cukup tenang. Akan tetapi, rasa gelisah itu tak kunjung menghilang malah semakin menjadi-jadi.


Tuhan, berikan keberanian kepadaku untuk menghadapi wanita itu.


Zahira semakin mempercepat langkahnya menuju parkiran khusus bagi para dokter rumah sakit. Sebelum melajukan kendaraan roda empat miliknya, gadis itu kembali menarik napas panjang sambil berkata, "Oke, Zahira, sekarang sudah waktunya kamu berhadapan dengan Ziva. Jangan biarkan dia merebut apa yang telah menjadi milikmu."


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2