Pengantin Pengganti Sahabatku

Pengantin Pengganti Sahabatku
Sidang


__ADS_3

Rayyan duduk di kursi kebanggannya sambil menatap dingin pada tiga orang di hadapannya. Salah satu dari mereka adalah putri kesayangannya. Aura wajah ketegasan dan tajam berbaur menjadi satu membuat bulu kudu semua orang yang ada di ruangan itu merinding seketika. Begitu pun dengan Zahira, walau ia sering melihat tatapan menyeramkan berasal dari sang ayah, tetap saja rasa takut menyelinap di dalam diri wanita itu.


"Bisa kalian jelaskan apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kalian berdua berbuat gaduh di rumah sakit milik mendiang Mama saya?" Rayyan bertanya dengan nada tajam dan ekspresi wajah dingin.


Di antara Zahira, Shaka dan Nizam, tak ada satu pun dari mereka berniat menjawab pertanyaan Rayyan. Ketiganya bergeming. Lidah mereka terasa kelu, mulut pun terkunci rapat.


Keheningan melanda mereka dan situasi itu semakin membuat Rayyan geram. Terlihat jelas kepalan tangan lelaki itu semakin mengepal erat hingga memperlihatkan urat-urat halus di punggung tangan.


Mengetahui sang ayah sudah tak bisa lagi mengendalikan emosi, mau tidak mau membuat Zahira membuka suara. "Itu semua berawal dari ajakan Dokter Nizam, Ayah. Dia mengatakan bahwa ada hal penting yang ingin disampaikan padaku. Awalnya aku menolak, tapi karena tidak tega akhirnya aku menuruti permintaannya. Namun, sebelum pergi dengan Dokter Nizam, aku telah lebih dulu mengirimkan pesan pada Shaka, memintanya langsung menemuiku jika dia sudah tiba di rumah sakit."


"Lantas, kenapa bisa terjadi aksi adu jotos yang dilakukan suamimu di lingkungan rumah sakit? Kalian semua tahu, di gedung ini banyak pasien yang datang berobat. Dengan adanya insiden tadi, tidak menutup kemungkinan dari mereka merasa terganggu dan memperburuk penyakit yang diderita," tukas Rayyan sambil menatap Zahira dengan sorot mata penuh kekecewaan.


Seandainya Rayyan mengetahui kebenaran yang terjadi, masihkan dia kecewa akan sikap Zahira? Atau dia malah ikut memberikan pelajaran pada Nizam karena begitu berani mengutarakan isi hatinya pada istri orang?


Zahira terdiam dan kembali menunduk. Ia sadar bahwa apa yang baru saja terjadi dapat membuat para pengunjung rumah sakit, pasien yang hendak dan telah berobat terganggu. Seharusnya dia dapat mencegah Shaka untuk tidak melampiaskan kekesalannya kepada Nizam.


"Berhenti menyalahkan Zahira, Yah. Semua itu adalah salahku bukan salah Rara." Shaka berucap dengan begitu lantang dan tegas membuat Nizam dan Zahira menoleh secara hampir bersamaan pada lelaki berdarah setengah Timur Tengah dari sang kakek.


Rayyan menatap dingin dan tajam pada menantu sekaligus putera dari sahabat sejatinya, Rio. "Apa maksudmu, Shaka? Jelaskan pada Ayah yang sebenarnya. Jangan bercerita setengah-tengah yang malah membuat semua berita simpang siur."


Shaka terdiam beberapa saat tatkala semua orang menatap ke arahnya. Terlihat Zahira hendak mengeluarkan suara, membela suami tercinta. Akan tetapi, jemari tangan sang lelaki telah lebih dulu merangkum jemari tangan lentik Zahira, kemudian mengusapnya dengan lembut seakan ingin memberitahu bahwa ia akan baik-baik saja. Ia bisa mengatasi semua masalah tanpa bantuan Zahira.

__ADS_1


"Aku terpaksa menghajar Dokter Nizam, karena dia mengutarakan isi hatinya pada istriku, Yah. Suami mana yang akan tinggal diam mendapati istri tercinta diganggu lelaki lain. Aku yakin, Ayah pasti melakukan hal sama apabila ada pria lain secara terang-terangan mengatakan cinta dan berniat merebut Bunda Arumi dari sisi Ayah."


Bola mata sipit tampak melebar sempurna, mendengar penuturan Shaka. "Jadi, maksudmu, Dokter Nizam mengatakan cintanya pada Zahira, begitu?


Shaka menganggukan kepala tanpa melepaskan tautan jari tangannya dengan jemari tangan Zahira. "Benar. Itulah alasannya kenapa aku menghajar Dokter Nizam secara membabi-buta. Aku hanya ingin memberi pelajaran padanya agar berhenti mendekati Zahira. Sekalipun di antara kami tidak ada rasa cinta, tapi dia tetap salah karena berniat merebut perempuan yang statusnya merupakan istri orang."


Nizam tersenyum smirk dan berkata, "Daripada Zahira hidup menderita, lebih baik dia ikut bersamaku. Aku pasti akan memberikan cinta yang tulus tanpa berniat menyakiti perasaannya."


"Berengsek!" Shaka bangkit berdiri dan hendak menyerang Nizam untuk ke sekian kali. Namun, kali ini Zahira dengan sigap menghentikan aksi suaminya.


"Shaka, hentikan! Kumohon, jangan berkelahi lagi." Zahira memasang wajah memelas, memohon pada Shaka dengan penuh pengharapan. Bola matanya yang indah mulai berkaca-kaca, hidung pun terasa masam.


Rayyan memijat pelipisnya yang terasa pening secara tiba-tiba. Kini ia mengetahui alasannya kenapa Shaka sampai hilang kendali, menghajar Nizam hingga babak belur. Ia pun akan melakukan hal serupa jika seandainya ada pria lain berniat merebut Arumi dari sisinya.


"Dasar Bajingan!" Shaka mengepalkan sebelah tangan. Lelaki itu mengangkat tangannya ke udara, kemudian menariknya ke belakang dan dengan gerakan cepat ia melesakkan tinjuan ke wajah Nizam hingga terdengar suara pertemuan dua permukaan kulit menggema memenuhi penjuru ruangan.


Shaka meradang mendengar ocehan Nizam yang tidak berfaedah. Ia ingin memberikan pelajaran pada lelaki berengsek, lelaki yang tak punya urat malu karena secara bangga ingin menjadi perebut bini orang atau istilah zaman sekarang disebut pebinor.


"Astaga, Shaka!" jerit Zahira dengan menangkup mulutnya menggunakan telapak tangan. Ia cukup terkejut karena tanpa diduga Shaka kembali memberikan bogem mentah di wajah Nizam.


"Shaka, sudahlah! Jangan turuti kemarahanmu!" tegur Rayyan kepada sang menantu.

__ADS_1


"Biarkan aku menghabisinya saat ini juga agar tidak ada lagi bibit pebinor di dunia ini."


Ayah empat orang anak itu menghela napas kasar. Ia tidak mengerti kenapa terjebak dalam situasi yang rumit ini. Urusan pekerjaan sudah membuat kepalanya pening dan kini urusan rumah tangga antara Shaka, Zahira dan Nizam semakin menambah beban dalam hidupnya.


"Najma Zahira, ajak suamimu pergi dari sini. Semakin lama kalian berada dalam ruangan yang sama maka ajal semakin cepat datang menjemput Nizam. Biarkan Ayah berbicara dengan rekan sejawatmu dan menyelesaikan masalah kalian semua."


"Tapi, Yah ...."


Belum selesai Shaka berbicara, telapak tangan Rayyan telah lebih dulu terangkat ke udara seakan meminta sang menantu untuk tidak membantah perintahnya.


Rayyan melirik tajam pada Nizam. "Dan kamu, Dokter Nizam, tetaplah di sini. Kita perlu bicara secara empat mata."


Shaka menarik napas panjang dan mengembuskannya kasar. "Baiklah. Aku akan pergi dari sini." Pria berhidung mancung dan berwajah rupawan mengalah, mempercayakan semuanya pada ayah mertua. Ia yakin jika lelaki bermata sipit dan berdarah Tionghoa dapat mencarikan solusi dari semua kejadian yang menimpanya.


Dengan sedikit ragu, Zahira menyentuh lengan Shaka. "Ayo, Sayang, kita pergi dari sini."


Pasangan suami istri itu melangkah maju mendekati daun pintu berwarna putih, meninggalkan Rayyan dan Nizam hanya berduaan saja.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2