Pengantin Pengganti Sahabatku

Pengantin Pengganti Sahabatku
Pengantin Pengganti


__ADS_3

"Mas, bagaimana? Apakah Ziva sudah ketemu?" tanya Arumi cemas. Ibu empat orang anak segera berambur mendekati suaminya.


"Aku dan Rio sepakat berpencar mencari keberadaan Ziva. Namun, aku pribadi tak bisa menemukan gadis itu di mana-mana. Tidak tahu dengan Rio, apakah dia berhasil menemukannya atau tidak." Rayyan menggedikkan bahunya lemah.


Tak lama berselang, Rio berlari menyusul sang sahabat. "Gadis itu tidak ada di mana-mana. Aku yakin, dia sudah pergi jauh dan kita kehilangan jejaknya." Napas terengah setelah berkeliling kesana kemari mencari keberadaan Ziva.


Semakin lemaslah tubuh Rini dalam pelukan Indah. Wajah letih bercampur kecewa membaur menjadi satu membuat wanita paruh baya itu terkulai lemah. Kali ini sahabat Arumi benar-benar syok berat menerima kenyataan bahwa pernikahan anak bungsunya gagal.


"Mama jangan khawatir, kita 'kan belum mendapatkan informasi dari Mas Soni dan Bagus. Siapa tahu Ziva memang ada di apartemennya." Indah mengusap punggung Rini, mencoba menenangkan mama tercinta.


"Tapi, bagaimana kalau tidak ditemukan? Kita semua akan malu kalau pernikahan Shaka sampai batal. Mau ditaruh di mana muka Mama, Nak?" ucap Rini lirih. Tak bisa membayangkan apa kata orang di luaran sana saat mereka mengetahui kalau pernikahan mewah yang telah dipersiapkan sedemikian megah harus batal akibat mempelai wanita kabur. Mereka pasti menjadikan kegagalan ini sebagai berita hangat yang akan terus diperbincangkan.


"Sudah ya, Ma, jangan terlalu dipikirkan. Sebaiknya kita berdo'a saja semoga Mas Soni dan Bagus secepatnya menemukan Ziva." Indah semakin mengeratkan pelukan seraya mengusap kepala Rini dengan penuh cinta.


Suasana semakin kacau tatkala pria paruh baya berambut keperakan tiba di ballroom hotel. Mengenakan setelah jas warna hitam dengan kemeja biru navy, pria itu siap menjalankan tugasnya sebagai seorang penghulu, menikahkan kedua mempelai.


"Sial! Kenapa penghulu itu sudah sampai duluan!" maki Rio kesal. Tanpa pikir panjang dia bergegas mendekati sang penghulu, ingin meminta waktu sebentar guna menyelesaikan masalah yang sedang menimpa mereka.


"Bagaimana ini, apa yang harus kita lakukan? Aku tidak bisa berdiam diri saja, melihat situasi semakin tidak kondusif," bisik Arumi di telinga Rayyan.


"Aku pun tidak tahu, apa yang harus dilakukan. Kita cuma bisa menunggu kabar dari Bagus. Semoga saja Ziva ada di apartemennya," jawab Rayyan sembari menyugar rambutnya dengan frustasi. Tak bisa dipungkiri, dia pun turut merasa cemas akan situasi yang terjadi saat ini. Biar bagaimanapun, Rio adalah sahabatnya bila pengacara kondang itu mengalami kesusahan maka dia pun merasakan hal yang sama.


Di saat semua orang tengah kebingungan, tiba-tiba suara lantang seseorang menggema memenuhi penjuru ruangan. "Batalkan saja pernikahan ini karena sampai kapan pun kalian tidak bisa menemukan Ziva." Shaka berseru dengan bersungguh-sungguh. Suara pria itu sontak membuat semua orang tertegun mendengarnya.


Indah yang duduk di sebelah Shaka bergegas bangkit dan menghampiri sang adik. "Dek, jangan bercanda kamu! Pernikahanmu sudah di depan mata mana bisa dibatalkan begitu saja!" ketus si sulung.


"Aku bersungguh-sungguh, Kak. Lebih baik pernikahan ini dibatalkan saja sebab Ziva tidak akan pernah kembali. Dia lebih memilih karir daripada menjadi istri dan ibu bagi anak-anakku."


Arumi memegang pundak keponakan tercinta. Dengan lemah lembut wanita itu berkata, "Shaka, jangan gegabah dalam mengambil keputusan, Nak. Bagaimana kalau seandainya Ziva ditemukan sedangkan kamu sudah terlanjur membatalkan pernikahan, bukankah itu malah semakin memperburuk hubunganmu dengannya?"

__ADS_1


Shaka membalas tatapan Arumi dengan nanar. Sepasang mata indah terlihat begitu lelah dengan lingkar mata yang disembunyikan make up. Terbesit rasa penyesalan yang mendalam karena merasa tidak enak hati sudah melibatkan Arumi mengurusi persiapan pernikahan tapi ternyata rencana tersebut berakhir sia-sia.


"Aku sudah memikirkannya dengan matang. Pernikahan ini memang tidak seharusnya diadakan setelah Ziva menemuiku beberapa hari yang lalu dan mengutarakan keinginannya menunda pernikahan. Namun, aku tetap memaksakan kehendakku sendiri tanpa memikirkan perasaan Ziva. Kini, aku menuai balasan atas keegoisanku. Jadi lebih baik, semuanya diakhiri saja sebelum masalah semakin runyam."


"Tidak! Pernikahan ini akan tetap berlangsung sesuai dengan rencana semula," ucap Zahira mantap.


Seketika tatapan aneh tertuju kepada sosok gadis mungil bermata sipit yang tengah melangkah anggun di atas karpet merah. Tatapan mata lurus ke depan tanpa memedulikan orang-orang di sekitarnya. Perlahan Zahira melangkah hingga gadis itu berhenti di antara kerumunan orang banyak.


"Ra, apakah Ziva memberitahumu di mana keberadaannya saat ini? Dia tidak benar-benar meninggalkan Shaka, 'kan?" cecar Indah dengan berbagai pertanyaan yang berada di benaknya.


"Aku tidak tahu di mana Ziva berada, Kak. Mungkin saja saat ini dia sudah ada di dalam pesawat yang akan mengantarkannya ke luar negeri," sahut Zahira.


Indah melirik tajam akan sosok sepupu yang sangat dicintainya. Alis kakak pertama Shaka mengerut, otaknya sedang menebak sendiri maksud dari perkataan Zahira. "Kalau memang kamu tidak tahu di mana Ziva sekarang, lalu kenapa tadi bilang bahwa pernikahan ini tetap berlangsung? Ra, pernikahan akan terjadi apabila ada calon mempelai pria dan wanita. Namun, apabila salah satu calon mempelai tidak ada maka pernikahan tidak bisa diselenggarakan. Kamu tahu itu, 'kan?"


Zahira menganggukan kepala. "Ya, aku tahu, Kak. Oleh karena itu, sebagai jalan satu-satunya agar pernikahan ini tetap berlangsung, aku bersedia menggantikan Ziva bersanding dengan Shaka di pelaminan. Aku bersedia menikah dengan Shaka," ucapnya bersungguh-sungguh. Tak ada sedikit pun keraguan dari sorot mata gadis itu.


"What the fu*k!" umpat Shaka dengan meninggikan nada suara hingga semua orang mendengarnya.


"Najma Zahira, coba jelaskan kepada Ayah kenapa kamu bersedia menggantikan Ziva di pelaminan?" Rayyan yang berdiri di sebelah Zahira berbicara, meminta penjelasan dari anak tercinta.


Itu semua terjadi karena aku sangat mencintai Shaka, Ayah. Sejak dulu hingga sekarang rasa cintaku kepadanya semakin tumbuh dan bersemi layaknya bunga bermekaran. Aku tidak sanggup melihat pria itu bersedih. Tidak sanggup, Ayah. Ingin rasanya Zahira mengutarakan isi hatinya di hadapan ayah tercinta agar prosesi akad nikah segera dimulai. Dia ingin menyudahi drama yang tak pernah berujung.


"Aku melakukan ini semua semata-mata demi membantu Aunty Rini agar nama baik keluarga tidak tercoreng akibat aib yang ditorehkan oleh Ziva. Apabila aku menikah dengan Shaka maka orang di luaran sana tidak akan menggunjingkan Aunty Rini maupun anggota keluarga lain."


"Kata siapa? Bisa saja mereka malah semakin berapi-api menggunjingkan dirimu dan keluarga Aunty Rini, Nak. Kita tidak pernah tahu isi hati orang lain." Rayyan berkata lirih. Tidak tahu harus berkata apa lagi untuk membuka pikiran Zahira. Bukannya dia tidak setuju kalau Zahira menikah dengan anak dari sang sahabat. Hanya saja, dia tidak mau kalau anak tercinta terjebak dalam sebuah pernikahan yang sama sekali tidak ada cinta di dalamnya.


Arumi menepuk bahu Rayyan pelan, kemudian berkata, "Berikan aku waktu untuk berbicara dengan Zahira." Lantas, dia memberikan kode kepada Zahira agar menjauh dari kerumunan.


Setelah menjauh, Arumi bertanya, "Zahira, kamu sadar atas apa yang kamu ucapkan barusan?"

__ADS_1


"Aku sadar 100%, Bunda," jawab gadis itu singkat.


Kemudian Arumi kembali berkata,"Pernikahan itu tidak sama seperti pacaran, apabila kamu bosan bisa dengan mudah putus. Pernikahan adalah suatu hal yang sakral terjadi sekali seumur hidup dan tidak bisa dijadikan sebagai mainan. Kamu akan menghabiskan sisa waktu hidupmu bersama Shaka. Memangnya kamu mau hidup berdua dengan lelaki yang tidak pernah mencintaimu sedangkan kita semua tahu bagaimana perasaan Shaka kepada Ziva."


Kata-kata Arumi bagaikan anak panah yang melesak tepat di jantung. Kepala menunduk, mata tertutup dan kedua tangan saling mencengkram satu sama lain.


"Apa pun yang terjadi di kemudian hari aku bersedia menanggungnya, Bunda. Sekalipun Shaka tak mencintaiku, aku tetap ingin menikah dengannya," jawab Zahira lirih.


Suasana tiba-tiba hening. Tidak ada perkataan apa pun yang terucap di bibir Arumi. Tampaknya wanita itu masih sangat syok mendengar jawaban anak tercinta.


Menarik napas panjang, kemudian mengembuskan secara perlahan. Menyentuh ujung dagu Zahira, lalu menatap lekat manik jernih nan indah milik buah cintanya bersama Rayyan. "Sayang, katakan kepada Bunda, apakah kamu mencintai Shaka hingga rela berkorban untuk menyelamatkan nama baiknya di depan mata semua orang? Jawab pertanyaan Bunda dengan jujur."


Sepasang iris coklat mulai berkaca-kaca. Bibir gemetar disusul suara tangis tertahan terdengar di telinga Arumi. Tanpa berkata, wanita paruh baya itu tahu bagaimana perasaan anaknya kepada Shaka.


"Aku setuju bila Shaka dan Zahira menikah," ucap Rini setelah mereka berdiskusi cukup lama hingga membuat sang penghulu sudah tidak sabar menunggu.


"Aku--" Belum selesai Rayyan berbicara, Arumi telah lebih dulu membuka suara.


"Aku pun menyetujuinya. Bukan begitu, Honey?" sergah Arumi sambil mengerlingkan mata, mencoba merayu Rayyan agar dia setuju dengan keputusan itu. Sang lelaki hanya menghela napas panjang sebab tak punya pilihan lain selain menuruti keinginan istri tercinta.


Sementara Shaka hanya pasrah dengan keputusan keluarga. Jauh di lubuk hati yang terdalam, sebenarnya dia enggan menikahi Zahira yang tak lain adalah sahabatnya sendiri. Namun, melihat raut wajah Rini yang berubah sumringah, dia jadi tidak tega dan dengan sangat terpaksa pengacara itu bersedia menikahi Zahira demi sang mama.


.


.


.


Sambil nunggu update-an karya ini, yuk mampir ke karya temen otor. Dijamin nggak kalah seru loh.

__ADS_1



__ADS_2