
Zahira membuka mata, kemudian melihat jam digital di atas meja menunjukan pukul enam malam. Kepala terasa berat disertai badan menggigil. Ingin rasanya terus terbaring di atas kasur, bergelung di bawah selimut tebal sambil menikmati keheningan malam hari. Akan tetapi, ia mempunyai tugas dan tanggung jawab sebagai seorang istri untuk melayani sang suami.
Gadis cantik bermata sipit bangun dari pembaringan, menjejakan kaki di atas lantai yang dingin kemudian ia berjalan tertatih ke arah pintu. Baru saja kaki gadis itu berada di ambang pintu, ia mendengar suara Shaka sedang berkomunikasi dengan seseorang lewat sambungan telepon.
"Aku minta kamu menyelidik seorang gadis atas nama Ziva Auristela. Dari informasi yang kudapat, dia sedang ada di Singapura. Cari tahu alamat lengkap gadis itu dan kirimkan secepatnya. Pokoknya aku tidak mau tahu dalam waktu 1×24 jam, informasi itu sudah ada di tanganku!" kata Shaka dengan meninggikan nada suara. Terdengar ancaman dari setiap kalimat yang terucap.
"Berengsek! Awas saja kalau aku sudah mendapatkan bukti bahwa Ziva selingkuh di belakangku, akan kuhajar pria itu habis-habisan karena berani membawa kabur kekasihku!" Shaka meraung seraya melempar telepon genggam miliknya ke atas sofa dengan sangat kencang.
Menghempaskan bokong, kemudian mengusap wajah dengan frustasi. "Akan kucari kamu meski ke lubang semut sekalipun, Ziva," ucap Shaka lirih. Pria itu termenung di atas sofa. Beragam pertanyaan berputar dan membuat kepala pria itu hampir pecah. Bagaimana jika Ziva memang benar berselingkuh? Akankah dia memaafkan gadis itu dan menerima sang model kembali?
Sesak dirasa bagai dihimpit bongkahan batu besar membuat Zahira kesulitan bernapas. Tidak menyangka kalau lelaki yang baru beberapa hari menghalalkannya sedang mencari tahu keberadaan calon mantan istrinya yang kabur saat akad nikah berlangsung.
Ya Tuhan, rupanya Shaka masih mengharapkan wanita itu. Jika mereka kembali, lalu bagaimana denganku? Apakah aku harus berpisah dengan suamiku? batin Zahira kala ia sudah berada di dalam kamar.
Wajah cantik semakin memucat, mata gadis itu berkunang-kunang. Semakin lama, kunang-kunang itu semakin memenuhi pandangan dokter cantik. Tubuh lemas dan akhirnya ... tumbang.
Shaka yang mendengar suara benda jatuh dari dalam kamar Zahira, bergegas berlari mendekati sumber suara. "Astaga, Rara! Ra, bangun! Zahira, bangun!" teriak pria itu sambil membawa tubuh istrinya dalam dekapan.
"Sial! Tubuh Zahira panas sekali! Aku harus segera membawanya ke rumah sakit." Tanpa pikir panjang, Shaka segera menggendong Zahira ala bridal style. Raut wajah pria itu terlihat sangat mencemaskan sang istri.
Sepanjang jalan, tak henti-hentinya Shaka melirik ke arah kursi penumpang di sebelahnya memastikan tubuh Zahira tidak terguncang sedikit pun. Dengan kecepatan 70 KM/jam, pengacara muda melajukan kendaraan roda empat miliknya menuju rumah sakit terdekat.
__ADS_1
"Suster, tolong istriku!" seru Shaka ketika ia sudah tiba di rumah sakit. Melupakan kendaraan miliknya yang masih terparkir di depan pintu masuk IGD. Beruntungnya saat itu suasana sepi hingga mobil tersebut tidak mengganggu pengendara lain yang ingin menaikan atau menurunkan penumpang di depan pintu utama.
Mendengar seruan bernada kecemasan, dua orang perawat jaga bergegas membawa brankar menghampiri Shaka. "Apa yang terjadi?" tanya salah satu dari mereka.
"Istriku jatuh pingsan. Tubuhnya panas sekali. Cepat tolong dia!" Shaka berlari di sisi brankar yang membawa Zahira menuju ruang IGD.
Melihat wajah Zahira pucat pasi bagaikan mayat, hati Shaka terasa sakit. Istrinya tidak memberikan respon sama sekali. Gadis itu terbaring tidak bergerak sama sekali.
Tuhan, kumohon, sembuhkanlah dia. Jangan sampai hal buruk menimpanya.
Tubuh Shaka merosot di atas kursi tunggu terbuat dari stainlees. Ia menatap kosong pada pintu IGD yang tertutup rapat. Dokter serta perawat lain meminta sang pengacara menunggu di luar selagi mereka memberikan tindakan medis kepada Zahira.
Shaka mengusap wajahnya dengan kasar. Begitu frustasi tatkala melihat Zahira terbaring tak sadarkan diri. Pria itu merasa gagal karena tidak bisa menjalankan amanat yang disampaikan Rayyan sebelum membawa Zahira pergi dari rumah.
"Dengan keluarga pasien!" seru dokter wanita itu.
"Saya!" Shaka melompat bangun dan menghampiri dokter itu. "Bagaimana dengan keadaan istri saya, Dok? Apakah terjadi sesuatu kepadanya?"
"Alhamdulillah, istri Anda baik-baik saja. Hanya kecapekan, kurang darah ditambah banyak pikiran membuat sistem imun pasien nge-drop. Agar pasien segera pulih, kami sarankan untuk rawat inap beberapa hari sambil istirahat di sini," tutur dokter memberitahu kondisi Zahira saat ini.
"Lakukan apa pun demi kesembuhan istri saya, Dok. Mau dirawat inap beberapa hari atau berbulan-bulan, saya sanggup membiayainya asalkan dia sembuh seperti sedia kala," ucap Shaka bersungguh-sungguh.
__ADS_1
Dokter wanita terkekeh pelan. "Rupanya Bapak begitu menyayangi pasien sampai rela melakukan apa pun demi istri tercinta. Saya jadi terharu mendengarnya." Menepuk pundak Shaka, lalu berkata, "Tanpa Bapak minta, kami pasti memberikan yang terbaik untuk pasien."
"Sebentar lagi perawat memindahkan pasien ke ruang rawat inap. Silakan ke bagian administrasi terlebih dulu. Jika Bapak ingin berkonsultasi, bisa langsung ke ruangan saya."
"Baik, Dokter. Terima kasih." Shaka menyenderkan tubuhnya di tembokan, mengingat kembali perkataan sang dokter. Perkataan dokter kembali terngiang di telinganya. Saling mencintai? Aah ... mana mungkin. Toh hubungan kami hanya sebatas sahabat, tidak mungkin jadi cinta.
Terlihat dua orang perawat membawa brankar dengan Zahira berada di atasnya. Shaka dengan setia menemani sang istri menuju ruang perawatan.
"Ra, maafkan aku karena tidak bisa menjagamu dengan baik. Kamu pasti tertekan akan semua kejadian yang terjadi belakangan ini. Maafkan aku karena melibatkanmu dalam situasi yang rumit. Namun, aku berjanji akan selalu menjaga dan merawatmu hingga kamu sembuh." Janji Shaka pada dirinya sendiri.
Hati Shaka mencelos saat melihat wajah pucat Zahira. Jarum infus menancap di punggung tangan. Saat itu juga, ia merasakan adanya dorongan untuk menyentuh pipi sang istri. Hati semakin bergetar kala kulit mereka saling bersentuhan.
"Rara, cepatlah sadar. Aku menunggumu di sini." Tanpa diduga, Shaka mendekatkan bibirnya ke arah wajah Zahira. Kemudian bibir kenyal itu mengecup lembut kening istri sekaligus sahabatnya. "Beristirahatlah dengan tenang, Najma Zahira. I will never leave you."
Lantas, bungsu tiga bersaudara duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur. Merengkuh jemari tangan lentik yang tidak tertancap jarum infus dengan begitu erat. Rasa kantuk menghampiri, membuat Shaka merebahkan kepala di samping tubuh Zahira tanpa melepaskan genggaman tangan. Perlahan, kelopak mata terpejam dan detik itu juga ia terlelap.
.
.
.
__ADS_1
Halo semua, sambil nunggu karya ini update, yuk mampir ke karya teman author. Judul karya dan nama penanya di bawah ya, Kak. 👇