Pengantin Pengganti Sahabatku

Pengantin Pengganti Sahabatku
Ini ... seperti mimpi!


__ADS_3

Shaka masih enggan menyingkir dari tubuh Zahira. Ia masih belum puas memandangi wajah istri tercinta yang berada di bawah kungkungannya. Bibir ranum, rambutnya yang berantakan disertai peluh yang membasahi kening semakin membuat wanita itu semakin terlihat seksi. Kilasan kejadian beberapa saat lalu ketika mereka melebur menjadi satu membuat sudut bibir lelaki itu tertarik ke atas. Ia amat sangat bahagia sebab dapat mereguk indahnya surga dunia bersama orang tercinta.


Zahira yang masih terpejam, merasa sedang diperhatikan. Insting mengatakan bahwa ada sepasang mata sedang menatapnya lekat. Ia membuka matanya, dua netra saling beradu pandang.


Untuk pertama kalinya sepanjang sejarah, pasangan suami istri itu beradu pandang dengan tatapan sendu dan menebarkan tatapan penuh cinta satu sama lain. Walaupun bibir tak mampu berkata, tetapi keduanya bisa merasakan rasa cinta yang menggelora di dalam dada.


Diperhatikan begitu lekat membuat semburat rona merah muda muncul di kedua pipi Zahira. Dokter cantik itu mengangkat tangan kanannya ke atas, menutupi wajahnya yang merah bagaikan tomat segar kemudian memalingkan wajah ke arah lain. "Jangan pandangi aku seperti itu, Ka!"


Shaka terkekeh pelan, tanpa berniat sama sekali melepaskan simbol kelelakiannya di inti tubuh sang istri meski sudah lewat beberapa menit lalu memuntahkan semua lava panas dari dalam tubuhnya. "Kenapa enggak boleh sih, Ra? Memangnya ada larangan bagi seorang suami untuk enggak boleh memandangi wajah istrinya sendiri?"


"Memang enggak ada aturan seperti itu. Hanya saja, aku malu ...."


"Malu kenapa?" sergah Shaka cepat. "Jangan bilang kalau kamu malu karena teringat betapa liarnya kamu saat kita bercinta," kata lelaki itu sembari menaik turunkan kedua alis secara hampir bersamaan. Entah mendapat pencerahan dari mana, lelaki itu ingin sekali mengoda Zahira. Terlebih sikap malu-malu wanitanya membuat ia semakin gemas dan ingin sekali mengulang kembali permainan panas mereka.


Mendengar suara desahaan, jeritan kecil dan lengkuhan bernada sensual membuat sang pengacara hilang akal. Ia tergila-gila akan sosok perempuan yang kini telah menjadi miliknya ... seutuhnya.


"Iih, Shaka! Apaan sih!" kesal Zahira karena lelaki itu malah menggodanya. Sudah tahu ia malu, tapi Shaka malah ingin bermain-main dengannya.


Zahira mencubit perut suaminya, lalu hendak mendorong tubuh Shaka agar tidak lagi berada di atasnya. Namun, secepat kilat tangan kekar itu mencekal pergelangan tangan si wanita.


"Ra, aku cinta kamu," ungkap Shaka lirih. Kendati begitu, pernyataan cinta yang diucapkan oleh lelaki itu berhasil memporakporandakan perasaan Zahira detik itu juga.


"Aku juga cinta kamu, Shaka. Sangat ... sangat mencintaimu," balas Zahira tersenyum dan memeluk erat tubuh polos di atasnya. Ia membelai punggung Shaka, mengusapnya perlahan, mengatakan bahwa dirinya sangat menyayangi dan mencintai suaminya itu dengan tulus.


Shaka mengecup kening, hidung mancung Zahira dan bibir wanitanya. Setelah itu barulah ia menghempaskan tubuhnya itu ke samping ranjang. Merebahkan tubuh atletis dengan pahatan otot di mana-mana, kemudian menarik selimut putih guna menutupi tubuh polos keduanya.

__ADS_1


Sama-sama merubah posisi dengan menyamping, kedua wajah bertatapan sendu. Senyuman manis terus mengembang di sudut bibir Zahira. Wanita itu terus mengamati wajah Shaka. Sesekali tersenyum simpul dan menunduk malu.


"Kenapa senyum-senyum sendiri? Apa ada hal yang lucu, hem?" Shaka penasaran atas sikap Zahira yang terkesan begitu girang sekali.


Zahira menggeleng. "Enggak apa-apa. Aku cuma masih belum percaya kalau kita baru aja melebur menjadi satu. Rasanya seperti mimpi," jawab wanita itu sambil tertawa kecil.


"Yeah, sebenarnya aku pun merasakan hal sama denganmu. Namun, aroma tubuhmu yang begitu harum membuatku tersadar bahwa kita telah menjadi satu kesatuan. Kamu milik aku dan aku milik kamu. Enggak ada lagi yang bisa merebut kamu dari sisiku, mengerti?"


Tidak mau menjawab, Zahira lebih memilih mengulurkan tangan untuk menangkup wajah Shaka dan mendaratkan satu kecupan di bibir pria itu. Seharusnya dengan begini, Shaka tahu jika ia sangat mencintai pria itu jauh sebelum sang pengacara menyadari perasaannya sendiri.


Shaka membalas pangutan Zahira dengan semangat. Sesuatu yang sedari tadi tertidur kini bangkit kembali. "Ra, aku mau lagi. Boleh, ya?" kata pria itu sambil mengusap lembut permukaan kulit tubuh istri tercinta.


Zahira terbengong sejenak, lalu rona merah muda kembali muncul di kedua pipi. Wajah berpaling ke sembarang arah, menyembunyikan semburat merah muda di pipinya.


Shaka tertawa, kemudian membawa tubuh wanita itu hingga tak ada jarak yang memisahkan mereka. "Enggak masalah dong jika aku mesum terhadap istriku sendiri. Kamu boleh marah padaku jika seandainya aku mesum kepada Zi--"


Zahira melayangkan tatapan tajam, lalu memukul dada bidang Shaka. "Jangan sebut nama itu lagi kalau enggak mau aku babat habis inti tubuhmu!" ancamnya bersungguh-sungguh. Wajah cemberut dengan bibir mengerucut ke depan.


Pengacara muda yang baru saja buka puasa setelah bertahun-tahun menunggu hidangan lezat di depan mata hanya terkekeh pelan sambil memperhatikan dengan deru napas memburu. Permukaan kulit yang saling bersentuhan menimbulkan sengatan listik berdaya ribuan volt membuat lelaki itu semakin tak terkendali.


Tanpa membuang waktu, Shaka kembali mengungkung tubuh Zahira lalu mengigit bibir wanita itu dengan gemas. "Bintangku yang bersinar, memangnya kamu tega membabat habis inti tubuhku? Kalau kamu babat habis, bagaimana aku bisa merebut hati Ayahmu agar tak marah lagi kepadaku?"


"Salahmu sendiri! Kenapa menyebut nama itu lagi di saat--"


"Eugh! Eugh!" Zahira tak mampu melanjutkan kata-katanya lagi saat lelaki tampan di atasnya kembali menghujani bibir wanita itu dengan ciuman membabi buta.

__ADS_1


Shaka baru melepaskan pangutan bibir mereka setelah mereka hampir kehabisan oksigen. "Aku cuma bercanda, Ra. Lagipula, di hatiku saat ini hanya ada nama kamu seorang. Posisi dia udah enggak ada lagi di hatiku. Sungguh."


Zahira menatap lekat iris coklat milik Shaka, mencari tahu kebenaran dari setiap perkataan lelaki itu. Memang benar, tak ada kebohongan sedikit pun di sana.


Lagi dan lagi, Zahira menangkup wajah sang suami. "Aku percaya sama kamu, Ka." Lantas, ia melingkarkan kedua tangan di leher pria itu dan berbisik, "Lakukan apa pun yang ingin kamu lakukan. Aku milikmu seutuhnya, Shaka Abimana."


Tangan kanan Shaka segera melemparkan selimut yang membalut tubuh ke sembarang tempat. Kemudian mulai bergerilya ke mana-mana, menyentuh beberapa titik sensitif sang istri.


Suara Zahira gemetar saat merasakan telapak tangan yang hangat itu bermain-main di bawah sana. "Shaka ... aku--"


"Bersiaplah untuk ronde kedua, Sayang. Aku jamin kamu pasti akan ketagihan."


Tubuh Zahira kembali melemas saat lidah Shaka menyapu leher dan bagian puncak dadanya yang terekspose tanpa sehelai kain pun. Lutut pria itu menggeser kaki sang wanita hingga kedua kakinya terentang. Tidak ada kesempatan bagi wanita itu untuk lari apalagi mundur sebab telah membangkitkan naga besar made in Timur Tengah.


Shaka mencium, mencumbu dan memberi sentuhan lembut di sekujur tubuh Zahira, lalu ketika merasa wanita itu sudah cukup siap, lelaki itu mulai menekan pinggulnya secara perlahan.


Zahira mendesis saat merasakan perih kembali menyengat. Ia memeluk punggung Shaka dengan erat hingga kuku-kuku wanita itu menancap di punggung sang lelaki. "Shaka!" erangnya di sela deru napas memburu.


"Ya, Sayang. Aku ada di sini dan akan selalu di sisimu," jawab Shaka sambil mulai memompa dengan gerakan pelan. Lama kelamaan, ia semakin brutal. Memasuki istrinya dengan tempo cepat ... semakin cepat dan semakin cepat hingga membuat Zahira kewalahan mengimbangi permainan sang suami.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2