
Zahira amat bersyukur karena hari-harinya menjalani masa kehamilan begitu menyenangkan meskipun di pagi hari harus mengalami mual dan muntah, tapi dia menikmati itu semua. Beruntungnya ada Shaka, Arumi dan Rini yang selalu siap membantu apabila tenaga mereka dibutuhkan. Pun begitu dengan Hanna, rekan sejawat Zahira turut menjaga istri Shaka apabila mereka sedang bekerja di rumah sakit.
"Dokter Zahira mau pesan nasi pecel enggak untuk makan siang? Kebetulan saya dan Suster Widya mau ke kantin nih."
Tawaran Afifah membuat Zahira yang saat itu sedang membaca rekam medis pasien mendongakan kepala dari tumpukan berkas yang ada di atas meja. "Enggak deh, Sus. Aku sedang tidak ingin makan nasi pecel. Terima kasih atas tawarannya," tolak Zahira lembut.
"Tumben sekali. Biasanya Dokter Zahira menjadi orang pertama yang memesan apabila kami menawari nasi pecel," seloroh Widya.
Senyuman Zahira melebar. "Iya nih. Aku sedang ingin makan rujak di seberang rumah sakit. Sepertinya enak siang begini makan yang segar-segar."
Mendengar jawaban Zahira, sontak semua tenaga medis yang sedang shift pagi secara serempak menatap ke arah Zahira. Mereka memandangi perempuan itu dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Dokter Zahira berkata begitu seperti perempuan yang sedang hamil muda." Eva, dokter jaga di bangsal Teratai ikut menimpali. Maklum saja jika Eva berkata begitu sebab mereka belum mengetahui jika saat ini Zahira tengah berbadan dua. Hanya Hanna dan kepala bangsal Teratai saja yang tahu mengenai kabar baik tersebut.
"Memangnya kalau perempuan secara tiba-tiba ingin makan lutisan bisa dipastikan dia sedang hamil? Lalu, jika seandainya aku ingin makan bakso yang super pedas bisa dikatakan hamil juga?" Suara merdu Hanna yang menggema ke penjuru ruangan sukses menginterupsi percakapan mereka.
Eva menoleh ke sumber suara. "Ya enggak juga sih, Dok. Aku cuma bercanda aja, enggak ada maksud lain." Tersenyum kaku khawatir perkataannya barusan menyinggung perasaan Hanna.
__ADS_1
Melangkah dengan anggun menghampiri Zahira. Tangan wanita itu terulur ke depan menyentuh lengan temannya. "Ayo, aku temani kamu makan lutis. Kebetulan aku juga ingin beli cilok di seberang rumah sakit. Kita bisa pergi bersama."
Zahira merapihkan berkas yang tadi sempat dia baca, kemudian bangkit dari kursi. "Baiklah. Kalau begitu aku dan Dokter Hanna duluan. Mari semua."
Keduanya berjalan beriringan keluar gedung rumah sakit. Siang itu suasana rumah sakit tidak begitu ramai, hanya beberapa orang saja yang sedang menunggu di bagian administrasi dan kursi tunggu di depan apotek.
"Kenapa kelihatannya kamu enggak suka pada Dokter Eva? Emangnya kalian ada masalah?" tanya Zahira saat mereka sedang menunggu lampu lalu lintas khusus pejalan kaki berwarna hijau.
Terdengar helaan napas bersumber dari Hanna. "Aku kesal sekali sama dia, Ra. Kamu tahu enggak apa yang dia katakan ketika Dokter Nizam pamitan sebelum pindah ke IGD dan saat itu aku bersikap masa bodo bahkan terkesan acuh tak acuh pada lelaki sok keren macam Dokter Nizam?" Zahira hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban. "Dokter Eva bilang, aku itu orang yang enggak punya sopan santun dan tata krama. Maklum, namanya juga terlahir dari keluarga broken home jadi enggak pernah dididik dengan baik oleh orang tua."
"Aku akui sikapku saat itu memang keterlaluan. Hanya saja apa Dokter Eva harus berkata begitu di depan rekan sejawat kita?" imbuh Hanna dengan berapi-api. Dada wanita itu kembang kempis disertai wajah merah padam. "Menjadi korban dari keluarga broken home bukanlah impianku, Dok. Sebetulnya aku pun ingin tumbuh besar di tengah keluarga yang utuh, ada Papa dan Mama di sampingku. Namun, bagaimana jika Tuhan sudah menuliskan takdirku untuk tidak bisa merasakan kehangatan dari sebuah keluarga yang utuh? Apa aku harus berteriak dan meraung kepada Sang Maha Kuasa? Jawabannya tentu aja enggak, 'kan?"
Tampak Zahira mendengarkan cerita Hanna dengan seksama. "Jadi karena itu sikapmu tampak jutek setiap kali bertemu Dokter Eva?" tanyanya penasaran.
Hanna mengeluarkan lembaran uang nominal 20.000-an dari dalam dompet, kemudian menyerahkannya pada penjual cilok. "Terima kasih, Pak." Jemari tangan perempuan itu meraih kantong plastik warna hitam berisi dua bungkus cilok bumbu kacang. "Benar, Dok. Ya kali aku marah tanpa ada sebabnya. Enggak akan ada asap kalau enggak ada api."
Setelah membeli cilok dan rujak, keduanya kembali ke bangsal Teratai sambil terlibat obrolan-obrolan seru seputar pekerjaan dan masih banyak lagi. Sesekali kekehan pelan terdengar di antara Zahira dan Hanna. Namun, percakapan keduanya harus terhenti tatkala sosok pria jangkung berjalan ke arah mereka.
__ADS_1
"Halo, Dokter Zahira, Dokter Hanna!" sapa Nizam ramah.
Zahira mengangguk, menebar senyum hangat. Bersikap biasa saja seakan tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka. Sementara Hanna membuang muka dengan ketus. Tidak sudi membalas sapaan Nizam. Lebih baik memandangi orang sedang lalu lalang daripada memandangi wajah rupawan pria di hadapannya.
"Baru mau pergi ke kantin?"
"Ya, aku ada waktu untuk mengisi perutku. Sedari tadi pasien berdatangan tanpa henti dan baru senggang sekarang," sahut Nizam mencoba bersikap biasa saja meski rasa cinta untuk perempuan berwajah oriental masih tersimpan rapih di lubuk sanubari yang terdalam.
Zahira terkekeh pelan. Sekelebat bayangan saat dirinya pertama kali bekerja di rumah sakit peninggalan sang nenek, ia pun pernah mengalami hal serupa. Bekerja di IGD tidak hanya membutuhkan stamina kuat melainkan juga kesabaran ekstra sebab akan banyak menangani pasien dengan diagnosa berbeda-beda. Konsentrasi pun harus kuat karena IGD merupakan tempat pertama bagi para pasien untuk mendapat pertolongan pertama sebelum mereka dibawa ke bangsal. Sekali saja melakukan kesalahan maka berdampak buruk bagi mereka.
Melihat interaksi Nizam dan Zahira membuat Hanna merasa tidak nyaman. Walaupun wanita itu berkata ingin melupakan Nizam, tapi hati kecilnya belum mampu menghapus rasa yang pernah tumbuh dan bersemi di hati.
"Dokter Zahira, kalau masih ingin berbicara dengannya, aku undur diri. Permisi." Hanna bergegas meninggalkan kedua insan itu tanpa memberi kesempatan pada mereka untuk berbicara.
Zahira gelagapan saat menyadari Hanna telah lebih dulu berjalan meninggalkannya. Tidak ingin terjadi insiden sama seperti dulu, wanita itu berkata, "Baiklah, kalau begitu aku akan menyusul Dokter Hanna. Sampai jumpa," pamit Zahira kemudian undur diri. Ia melangkah pergi menyusul Hanna yang berjalan dengan tergesa-gesa.
Nizam memandangi dua perempuan di depan sana dengan tatapan yang sulit diartikan. "Selalu saja begini. Mau sampai kapan kamu menghindariku, Dokter Hanna?" gumamnya lirih.
__ADS_1
...***...