Pengantin Pengganti Sahabatku

Pengantin Pengganti Sahabatku
Suami Siaga


__ADS_3

Malam panjang telah dilalui oleh sepasang suami istri. Shaka menjadi lebih perhatian semenjak mengetahui istrinya kini tengah berbadan tiga. Ya, berbadan tiga! Bukan berbadan dua sebab di perut Zahira ada dua janin sedang tumbuh sehat di dalam sana.


Untuk menghindari suatu hal yang tidak diinginkan, Shaka sepakat merahasiakan berita kehamilan sang istri dari semua orang. Hanya kedua keluarga dan Hanna--rekan sejawat Zahira yang menemani istrinya memeriksakan kandungan. Ia melakukan itu semua demi kebaikan bersama karena khawatir akan ada penyakit 'ain yang diam-diam datang menghampiri kemudian berdampak buruk bagi kandungan istri tercinta.


"Bagaimana, apa udah enakan?" tanya Shaka sembari berhambur mendekati istrinya yang baru saja keluar kamar mandi. Pagi ini Zahira kembali mengalami morning sickness dan itu membuatnya terasa tersiksa.


Tubuh Zahira terasa lemas, tak bertenaga. Wanita itu dibantu Shaka duduk di tepian ranjang. "Udah mendingan sih, tapi masih sedikit mual," jawabnya lirih. Perut wanita itu terasa dioyak-oyak oleh tangan tak kasat mata. Wajah wanita itu terlihat pucat sekali, keringat dingin pun mulai bermunculan di kening.


Shaka yang tidak tega melihat penderitaan istrinya segera menarik pundak Zahira, lalu mendekapnya dengan erat. "Maafkan aku karena udah membuatmu menderita. Andai aja rasa sakit itu bisa dipindahkan, aku bersedia menggantikanmu." Hatinya teramat sakit saat menyaksikan sendiri bagaimana menderitanya Zahira ketika mengandung anak pertama mereka.


Dalam keadaan lemah Zahira berkata, "Jangan berkata begitu, ini udah fitrahku sebagai seorang wanita! Aku enggak masalah kok kalau setiap pagi mual dan muntah. Lagi pula kondisi seperti ini enggak akan berlangsung lama. Setelah memasuki teimester kedua, biasanya akan mereda dengan sendirinya. Jadi kamu enggak usah mengkhawatirkanku, ya?" Zahira mencoba menghibur Shaka agar tidak terus menerus menyalahkan diri sendiri.


Sejujurnya Zahira memang merasa tersiksa setiap kali mengalami mual dan muntah di pagi hari, tapi sadar bahwa apa yang menimpanya saat ini merupakan tahapan yang harus dilaluinya selama menjalani masa kehamilan. Toh semua kaum Hawa yang telah menikah dan mempunyai anak pasti pernah merasakannya.


"Tapi tetap aja aku enggak tega melihatmu tersiksa." Shaka berkata dengan penuh penyesalan. Mata Shaka berkaca-kaca tatkala membayangkan bagaimana dulu Rini mengandungnya selama sembilan bulan, pasti sangat menderita seperti yang dirasakan Zahira saat ini.


Kini Shaka mengerti kenapa Tuhan memerintahkan ummat-Nya untuk menghormati seorang ibu dan mengatakan bahwa surga ada di bawah telapak kaki ibu karena mengandung, melahirkan dan membesarkan putera-putrinya tidaklah mudah. Banyak pengorbanan dan perjuangan besar dilakukan demi anak tercinta.

__ADS_1


Masih dalam kondisi lemah dan wajah kuyu, Zahira memaksakan diri untuk tersenyum di hadapan Shaka. "Udah ah, jangan dibahas lagi. Aku baik-baik aja." Zahira mengurai pelukan, kemudian mendongakan kepala menatap suaminya. "Aku ngantuk dan ingin tidur. Bisa tolong bantuin aku merebahkan tubuhku di sana?" Wanita cantik berusia dua puluh empat tahun menoleh ke belakang kepada sisi kanan tempat tidur.


Di saat seperti ini berbaring di atas kasur yang empuk dan memejamkan mata, rasanya pasti enak. Setelah puas memuntahkan isi perutnya, rasa kantuk mendera membuat wanita itu ingin memejamkan matanya kembali.


"Oke!"


Shaka membantu istrinya membaringkan tubuh di atas tempat tidur, tidak lupa menarik selimut guna menutupi anggota tubuh bagian bawah sang istri.


Tangan kekarnya mengusap helaian rambut panjang hitam tergerai dengan sangat lembut. "Tidurlah yang nyenyak. Aku akan meminta Budhe Erna menyiapkan bubur agar saat kamu terbangun bisa langsung sarapan. Kalau tubuhmu masih lemah, jangan memaksakan diri untuk pergi bekerja. Minta izinlah pada kepala bangsal, aku yakin beliau pasti memaklumi."


***


"Kamu yakin akan menemui Shaka di kantor firma Om Rio? Enggak takut berpapasan dengan Tante Rini di sana?" tanya Anya kepada Ziva yang sedang memperhatikan penampilannya di depan meja rias.


"Kenapa takut? Emangnya aku berbuat salah hingga membuat diriku harus menghindari Tante Rini?" Ziva balik bertanya sembari menatap asistennya dari kaca. "Aku tahu kamu sangat mengkhawatirkanku, tapi percayalah kali ini aku enggak akan membuat masalah. Justru aku ingin menyelesaikan semua masalah yang pernah kuperbuat selama ini."


Anya mengernyitkan alis. "Menyelesaikan masalah bagaimana? Jangan macam-macam deh, Va! Aku enggak mau kamu berurusan dengan keluarnya Shaka. Terlebih dengan keluarga Wijaya Kusuma. Kamu tahu, 'kan, bagaimana killer-nya Ayahnya Zahira?" Tiba-tiba bulu kudu Anya merinding saat sekelebat wajah tampan nan rupawan Rayyan terlintas di benaknya.

__ADS_1


Dulu, ketika Anya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) pernah sekali bertemu dengan Rayyan di sekolahan saat pria keturunan Tionghoa menghadiri acara perpisahan ketiga anak kembarnya. Hanya melihat sorot matanya yang tajam bagaikan seekor elang, ia dapat menilai bagaimana kepribadian pemimpin rumah sakit terkenal di kota Jakarta.


Terdengar helaan napas dari Ziva. Ia tahu persis betapa dingin, jutek dan berbahayanya seorang Muhammad Rayyan Firdaus. Walaupun lelaki itu tak banyak bicara, tapi mampu melakukan apa pun tanpa perlu mengotori tangannya yang sering digunakan menolong sesama.


"Tanpa kamu ingatkan, aku udah tahu bagaimana kepribadian Pak Rayyan." Ziva menyemprotkan parfum di leher serta pergelangan tangan sebagai ritual terakhir kemudian membalikan badan dan melangkah mendekati sahabat sekaligus asistennya itu. "Percaya sama aku, kali ini enggak akan membuat keributan apa pun di kantor Om Rio. Aku cuma ingin membereskan semua kekacauan yang sempat kulakukan."


"Mau aku anterin?" tawar Anya yang masih memperlihatkan sorot mata penuh kekhawatiran. Meskipun tak jarang terjadi adu mulut di antara kedua perempuan itu, tapi Anya merasa tidak tega membiarkan Ziva pergi sendirian. Bagi Anya, Ziva tidak hanya sahabat, majikan tapi juga keluarga sebab mereka sudah bersama-sama sejak lulus SMA.


Ziva menggeleng. "Enggak perlu. Aku cuma ingin berbicara secara empat mata dengan Shaka tanpa ada seseorang yang mengganggu. Sore nanti kita ketemuan aja di lokasi pemotretan. Setelah bertemu Shaka, aku akan datang ke lokasi."


"Hati-hati di jalan. Kalau butuh sesuatu jangan lupa hubungin aku!" ujar Anya sesaat sebelum Ziva berjalan meninggalkan apartemen mereka. Jantung wanita itu berdetak tak beraturan ketika Ziva mengatakan ingin bertemu Shaka di kantor. Entah kenapa ia menjadi was-was, takut terjadi sesuatu menimpa sahabatnya itu. Namun, ia mencoba mengenyahkan pikiran negatif itu dan menyakini bahwa semua akan berjalan baik-baik saja. Percaya bahwa Ziva tidak akan membuat kesalahan dengan cara merebut Shaka dari Zahira.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2