Pengantin Pengganti Sahabatku

Pengantin Pengganti Sahabatku
Kado Untuk Si Kembar


__ADS_3

Setelah menitipkan Allan dan Mayumi, Zahira ditemani Shaka menapaki satu per satu anak tangga menuju lantai satu. Sudah tiga hari ini mereka tinggal di rumah baru dan apartemen yang lama rencananya akan disewakan.


Baru menuruni anak tangga yang ketiga, Shaka mendengkus kesal. "Mau apa lagi sih dia? Bukannya dia pernah bilang enggak akan ganggu lagi rumah tangga kita? Lalu kenapa sekarang dia malah datang ke rumah ini? Ganggu aja!"


"Hush, kecilkan suaramu! Gimana kalau misalkan Ziva dengar? Dia pasti sakit hati mendengar perkataanmu barusan," tegur Zahira ketika Shaka berucap tanpa memikirkan apakah ucapannya itu didengar atau tidak oleh Ziva. "Udahlah, daripada menduga-duga lebih baik kita temuin aja dia."


Awas aja kalau sampai dia buat onar, aku tarik dan kulempar ke jalanan! batin Shaka. Pria itu akan bersikap tegas jika seandainya Ziva macam-macam di rumahnya.


Pasangan suami istri itu melangkah menuju ruang tamu, tempat Ziva berada. Aura ketegangan tercipta saat kedua netra wanita cantik yang saling bersitatap. Bagaimana tidak tegang, ini merupakan pertemuan pertama keduanya setelah Ziva meminta Zahira untuk melepaskan Shaka di saat antara dua insan itu telah menikah. Setelah itu, Shaka tak memberi izin pada sang istri untuk menemui mantan kekasihnya itu.


Ziva bangkit dari sofa, lalu memaksakan diri tersenyum saat Zahira dan mantan kekasihnya tiba di ruang tamu.


"Hai, apa kabar? Ehm ... maaf, kalau aku ganggu kalian." Sejujurnya Ziva sedikit canggung bertemu kembali dengan Shaka dan Ziva. Setiap kali melihat mereka, timbul rasa bersalah karena berniat merusak rumah tangga Shaka dan Zahira.


Zahira membalas senyuman itu dengan senyuman ramah, sedangkan Shaka hanya membeku di tempat. Tatapan pria itu tajam, seakan tengah menelanjangi Ziva.


"Alhamdulillah, kabar kami sekeluarga sehat. Kebetulan sekali aku baru aja selesai mandiin Allan dan Mayumi, jadi kehadiranmu sama sekali enggak mengganggu kami. Mari, silakan duduk."


Zahira duduk di sofa panjang bersebelahan dengan Shaka. Sementara Ziva duduk seorang diri di seberang pasangan suami istri itu.


"Mau apa kamu ke sini? Bukannya terakhir kali kamu bilang enggak akan gangguin rumah tanggaku dengan Rara. Lantas, kenapa hari ini kamu justru datang ke rumahku. Dasar pembohong!" ujar Shaka menatap dingin Ziva.


Dengan gerakan cepat Zahira menyenggol lengan Shaka dan berkata, "Jangan bicara begitu pada Ziva. Bagaimanapun, dia adalah tamu dan kita wajib melayaninya dengan baik." Lalu wanita itu mengalihkan perhatiannya pada Ziva. "Maaf, ya, Shaka enggak maksud melukai perasaanmu."


Zahira tidak tega melihat kelopak mata Ziva yang mulai berkaca-kaca. Walaupun ia tidak menyukai Ziva karena wanita itu pernah memintanya berpisah dengan Shaka, tetapi sebagai sesama wanita, tentu saja ia tidak tega melihat sesama kaumnya bersedih.

__ADS_1


Ziva menggigit bibir bawahnya, menahan gemuruh di dalam dada. Ayolah, Va, ngapain kamu sedih? Bukannya emang ini konsekuensi yang harus kamu terima apabila memutuskan menemui Zahira? katanya dalam hati.


Si model cantik menarik napas dalam, lalu mengembuskan secara perlahan. "Enggak masalah kok, Ra, aku bisa ngerti kenapa Shaka berbicara begitu." Mencoba tersenyum di hadapan mereka, meski sebetulnya hati Ziva sakit bagai ditusuk sebilah pisau tajam. "Oh ya, aku dengar dari Irhan kalau kamu baru aja lahiran. Oleh karena itulah aku datang ke sini untuk memberikan sedikit hadiah buat anak-anakmu."


Ziva menyerahkan dua bungkusan kado berukuran besar ke hadapan Zahira. "Aku enggak tahu, apakah kamu akan menyukainya atau tidak. Namun, aku berharap semoga kamu cocok dengan kado pemberianku."


Tangan Zahira terulur ke depan, menerima kado pemberian Ziva dengan senang hati. "Aduh, ngerepotin kamu nih. Padahal enggak perlu bawa kado pun enggak masalah loh. Ehm ... tapi makasih banyak ya, Va. Apa pun pemberianmu, aku pasti suka. Makasih, ya."


Ziva termangu beberapa saat ketika melihat senyuman tulus yang diberikan Zahira kepadanya. Tutur kata, sikap lemah lembut, senyuman tulus serta tatapan teduh berhasil membuat Ziva membeku di tempat.


Pantas saja Shaka begitu tergila-gila, rupanya Zahira memang kriteria istri idaman semua pria, ucap Ziva. Diam-diam mengakui kelebihan Zahira yang tidak dia miliki.


"Jangan sungkan, Ra! Aku turut berbahagia atas kelahiran si Kembar. Beberapa bulan tak bertemu, akhirnya aku mendengar berita baik tentang kelahiran anak-anakmu. Selamat, ya, akhirnya kamu dan Shaka resmi menjadi orang tua. Semoga kelak kedua anakmu menjadi anak-anak soleh dan solehah, berguna bagi nusa dan bangsa."


"Aamiin. Terima kasih banyak, Va." Zahira mengulurkan tangan ke depan, menyentuh punggung tangan mantan kekasih suaminya. "Semoga kamu bisa segera menyusul kami. Biar pas anak-anakku besar, mereka ada teman main. Pasti seru tuh, kita bisa ngerumpi sambil momong mereka." Zahira terkekeh pelan sembari mengelus punggung tangan Ziva.


Pasangan suami istri itu saling memandang seakan tengah bertanya satu sama lain. Hal apakah yang membuat Ziva tersimpu malu bagai gadis remaja yang tengah kasmaran.


Perlahan, Ziva mendongakan kepala lalu menatap iris coklat Zahira dengan lekat. "Ehm ... sebenarnya, aku sedang tahap pendekatan dengan seseorang. Katanya ... dia ... ingin serius denganku, Ra. Namun, aku masih ragu apakah diriku memang pantas untuk dicintai sedangkan kalian tahu, bagaimana masa laluku. Aku bukanlah perempuan baik, tak pantas dijadikan istri oleh siapa pun."


"Aku pergi meninggalkan calon suamiku demi mengejar cita-cita. Tidur dengan pria lain demi memuluskan keinginanku dan di saat terpuruk, aku justru kembali pada seseorang yang dulu pernah aku sakiti hatinya. Melihat dia bahagia, aku justru ingin merebutnya dari sisi wanita lain. Aku ... sepertinya tidak pantas untuk bahagia, Ra." Air mata Ziva jatuh berderai. Ia tak kuasa menahan diri untuk tidak menangis di hadapan Zahira dan Shaka. Tubuh wanita itu berguncang hebat, kedua bahu pun bergerak turun dan naik.


Dengan gerakan cepat, Zahira beringsut mendekati Ziva. Dia duduk di sebelah mantan kekasih suaminya dan mengusap punggung wanita itu dengan lembut.


"Jangan bicara begitu. Ziva, setiap manusia di bumi ini berhak untuk bahagia. Jika aku bahagia hidup bersama Shaka dan anak-anak kami, maka kamu pun berhak bahagia dengan seseorang yang tulus mencintaimu. Meskipun masa lalumu kelam, tapi aku yakin kebahagiaan akan datang menghampirimu."

__ADS_1


Zahira menyentuh kedua bahu Ziva dan kembali berkata, "Semua orang pasti punya masa lalu, tapi terpenting adalah kamu berusaha memperbaiki diri untuk tidak terus berada di lubang yang sama. Merubah kebiasaan burukmu yang hobi tidur dengan pria sembarangan, mengubur rasa cintamu untuk suami orang dengan begitu, kamu bisa menjadi insan yang lebih baik lagi."


"Jadi, menurutmu apa aku pantas untuk bahagia?" tanya Ziva ragu-ragu. Air matanya masih jatuh membahasi pipi.


Zahira menyunggingkan senyuman lebar di sudut bibir. "Tentu saja! Kata siapa tidak berhak." Jari tangan wanita itu menyerahkan tisu yang sebelumnya Shaka berikan kepadanya. "Jika memang ada pria yang tulus mencintaimu, kenapa kamu enggak coba terima aja dia. Ya siapa tahu kalian memang berjodoh. Kita enggak pernah tahu jika tidak mencobanya. Kalaupun emang enggak berjodoh mungkin aja dia bukanlah pria terbaik untukmu."


Hati Ziva bergetar mendengarnya. Ia mengusut air mata menggunakan tisu lalu menghela napas lega karena bisa mengemukan apa yang mengganjal di hatinya selama ini.


"Terus berusahalah untuk memperbaiki diri dan yakin kalau semuanya akan indah pada waktunya."


Tanpa diduga, Ziva segera memeluk tubuh Zahira dengan erat. "Makasih, Ra. Kamu emang wanita baik. Aku beruntung bisa dipertemukan dengan wanita sebaik kamu."


Mendapat serangan mendadak membuat Zahira terkejut. Tubuhnya terhentak beberapa saat, tapi kejadian itu tidak berlangsung lama.


"Sama-sama, Va. Udah, ya, jangan dipikirin lagi."


Shaka yang melihat calon mantan istri dan istrinya berpelukan tak mampu berkata-kata. Ia hanya dapat menarik napas dalam dan mengembuskan secara perlahan. Namun, jauh di lubuk hati yang terdalam, ia cukup bangga akan sikap Zahira yang tak menyimpan dendam pada seseorang yang berniat menghancurkan rumah tangga mereka.


Pelukan terurai. Kondisi Ziva pun kini sudah jauh lebih baik setelah menangis dalam pelukan Zahira.


"Oh ya, Va. Kalau boleh tahu, emang siapa laki-laki yang kamu maksud? Jujur aku jadi kepo nih setelah mendengar ceritamu."


Ziva memilin ujung blusnya dengan gugup. Wajahnya menunduk, tak berani memandang ke arah Zahira dan Shaka.


"Pria itu bernama ... Irhan. Salah satu rekan kerja suamimu." Suara Ziva terdengar lirih, tapi mampu membuat bola mata Shaka terbelalak sempurna.

__ADS_1


...***...


__ADS_2