Pengantin Pengganti Sahabatku

Pengantin Pengganti Sahabatku
Dokter Nizam Al Falah


__ADS_3

"Selamat pagi, Dokter Zahira." Seorang pria tampan mengenakan snelli putih menyapa pasien yang semalam baru masuk ke rumah sakit tempatnya bekerja. Dia mengetahui Zahira adalah seorang dokter sama sepertinya dari formulir yang diisi oleh Shaka semalam saat mengisi daftar pasien.


Zahira yang saat itu tengah disuapi oleh Shaka, refleks menoleh ke sumber suara. Seulas senyum terlukis di wajah saat melihat pria jangkung setinggi 180 cm berdiri di ambang pintu.


"Selamat pagi juga, Dokter," balas Zahira ramah. Salah satu keistimewaan Zahira sejak kecil, ia memang selalu tersenyum ramah kepada semua orang meskipun dokter cantik tidak pernah bertemu dengan orang itu sebelumnya. Jadi jangan heran kalau banyak orang menyukai sikap gadis itu yang terkesan ramah kepada siapa pun tanpa pandang bulu.


Namun, berbanding terbalik dengan sikap Shaka saat ekor matanya menatap bola mata pria itu. Entah kenapa, ia merasa kesal saat dokter muda ber-snelli putih berdiri di ambang pintu menatap dengan tatapan memuja seraya menyunggingkan seulas senyuman di wajahnya yang cukup tampan kepada sang istri.


*Ck! Sok k*eren. Baru menjadi dokter saja tebar-tebar pesona! dengkus Shaka dalam hati. Ia meletakkan mangkok bubur ke atas nakas. "Pagi juga, Dokter." Pria itu terpaksa menjawab sapaan dokter tersebut dengan nada ketus.


Alis Zahira mengerut. Otak berusaha keras mencari tahu kenapa sikap Shaka begitu tidak bersahabat. Beberapa saat ia memperhatikan gerak gerik sang suami. Lalu, tiba-tiba sebuah kesadaran menghantam kepala gadis itu.


Dalam hati berkata, 'Mungkinkah Shaka cemburu kepada Dokter Nizam?' Dengan gerakan cepat ia menggelengkan kepala. Dasar gadis bodoh! Bagaimana kamu bisa berpikiran seperti itu? Mana mungkin Shaka cemburu. Di hati suamimu hanya ada Ziva seorang. Meskipun kamu adalah istrinya, tetapi statusmu tetap sahabat, tidak lebih!


Di saat Zahira sedang bergulat dengan pikirannya sendiri, suara bariton seseorang mengalihkan perhatian gadis itu. "Aku tinggal keluar sebentar. Kalau ada apa-apa, kamu langsung hubungi aku," ucap Shaka sebelum meninggalkan ruangan. Zahira menganggukan kepala sebagai jawaban.


Lantas, Shaka bergegas meninggalkan ruangan tersebut membiarkan Zahira diperiksan Nizam. Sementara Nizam masih berdiri di ambang pintu menunggu dipersilakan masuk oleh sang empunya kamar.


Saat Shaka telah mencapai ambang pintu, pria itu menatap Nizam dengan sorot mata tajam seperti seekor elang. "Tolong periksa istriku dengan baik. Jangan sampai aku complaint ke pihak rumah sakit dan karirmu sebagai dokter hancur gara-gara melakukan malpraktik!" ujar Shaka menekankan setiap kalimat terutama pada kata 'istri'.


Nizam tersenyum lebar hingga memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapi. Akan tetapi, sikap pria itu semakin membuat Shaka kesal setengah mati.

__ADS_1


"Anda tenang saja, Pak Shaka. Saya dan tim tidak mungkin melakukan kesalahan. Terlebih Dokter Zahira berprofesi sama dengan saya. Jadi, dia bisa tahu apakah saya menjalankan tugas dengan baik atau tidak. Sesuatu SOP atau tidak, bisa Bapak tanyakan nanti kepada beliau," balas Nizam lembut.


"Baguslah kalau kamu mengerti!" sahut Shaka ketus. Ia berjalan melewati Nizam dan sengaja menyenggol bahu pria itu dengan cukup keras. Itu baru permulaan. Awas saja kalau kamu macam-macam, aku hajar hingga babak belur kamu, berkata dalam hati sambil berjalan santai menyusuri lorong rumah sakit.


Dokter tampan menggelengkan kepala sambil tersenyum geli. Banyaknya pasien di rumah sakit itu membuat Nizam tak punya banyak waktu untuk menunda pekerjaan. Lantas, ia melangkah masuk ke dalam ruangan.


"Halo, Dokter Zahira. Perkenalkan, nama saya Dokter Nizam Al Falah. Kedatangan saya ke sini ingin memeriksa kondisi Dokter Zahira." Dokter tampan berparas rupawan memperkenalkan diri di hadapan teman sejawatnya. Walaupun mereka bekerja di rumah sakit berbeda, tetapi mereka mempunyai tujuan yang sama. Yaitu, menolong pasien dengan ikhlas dan sepenuh hati.


"Bagaimana keadaan Dokter Zahira? Apa yang dirasakan saat ini?" Nizam berbasa-basi sebelum melakukan tindakan pemeriksaan.


"Sudah jauh lebih baik dari semalam, Dokter. Hanya saja kepala masih sedikit pusing dan berkunang-kunang." Zahira mulai membaringkan badan di atas ranjang rumah sakit saat ia tahu Nizam akan menjalankan tugasnya sebagai seorang dokter. Jemari tangan menarik selimut hingga sebatas pinggang.


Seorang perawat mengeluarkan alat termometer digital inframerah, kemudian menempelkannya ke dahi Zahira. Usai mengukur suhu tubuh, perawat itu melakukan pemeriksaan nadi dan tekanan darah.


Setelah hasil pemeriksaan tanda-tanda vital dilakukan, barulah Nizam menjalankan tugasnya sebagai seorang dokter. Memasang dua bagian ujung stetoskop di telinga, kemudian bersiap meletakkan sebuah bulatan logam ke dada pasien. Akan tetapi, ....


"Apa yang ingin Dokter lakukan?" Shaka menghalau tangan Nizam ketika tangan kekar dokter muda hendak menempelkan stetoskop ke arah dada Zahira. Nizam menatapnya bingung, begitu pula dengan Zahira dan perawat.


"Loh, memangnya saya mau melakukan apa, Pak?" tanya Nizam seraya memicingkan mata tajam.


"Jangan pura-pura bodoh! Kamu berniat melakukan pelecehan kepada istri saya, 'kan? Kalau tidak untuk apa kamu menaruh benda bundar itu ke dada istri saya." Shaka menunjuk benda bundar terbuat dari logam tengah berada dalam genggaman Nizam.

__ADS_1


Sontak, Nizam terkekeh pelan melihat sikap Shaka yang dinilai begitu lucu saat ada seseorang berniat menyentuh tubuh Zahira. "Pak, saya hanya ingin memeriksa denyut jantung, nadi, organ pencernaan dan paru-paru pada pasien. Tidak akan melakukan tindakan asusila kepada istri Anda."


"Tapi tetap saja tanganmu itu mau menyentuh area terlarang istri saya." Shaka sudah tidak asing lagi dengan benda yang ada dalam genggaman tangan Nizam. Sejak kecil sering melihat benda itu tergantung di kamar sang mama. Ia pula tahu cara menggunakannya seperti apa. Namun, ia tidak suka bila ada pria lain menyentuh bagian dada Zahira meski ada alasan penting di balik itu semua.


Lagi dan lagi Nizam tertawa terbahak. Perut terasa geli kala menyaksikan sendiri sikap absurd yang ditunjukan Shaka saat ini. Sang pengacara yang terkenal pandai berbicara saat sedang berada di ruang persidangan terlihat seperti seekor naga jantan yang siap menyemburkan api.


"Tidak disangka ternyata Pak Shaka begitu posesif terhadap Dokter Zahira, hingga saya tidak diizinkan untuk menyentuh tubuh istri Bapak." Nizam berkata sambil melirik Zahira. "Dokter Zahira beruntung sekali mempunyai suami sebaik dan sangat mencintai Anda. Rumah tangga kalian pasti harmonis karena saling mencintai satu sama lain."


Terjadi keheningan beberapa saat. Sepasang pengantin baru terdiam mendengar perkataan Nizam barusan. Shaka dan Zahira saling melirik, beradu pandang kemudian sang dokter cantik menundukan kepala menyembunyikan rona merah muda di wajah. Sementara Shaka memalingkan wajah ke arah lain.


Saling mencintai, katanya? Bullshiit! Mana mungkin aku jatuh cinta kepada sahahabatku sendiri. Benar-benar ngaco! kata Shaka dalam hati.


.


.


.


Halo semua yuk mampir ke karya teman author. Kisahnya dijamin seru nih. Judul karya dan nama pena ada di bawah sini. 👇


__ADS_1


__ADS_2