Pengantin Pengganti Sahabatku

Pengantin Pengganti Sahabatku
Pergi Bulan Madu?


__ADS_3

"Ingin pergi ke suatu tempat sebelum kembali ke apartemen?" tanya Shaka setelah ia dan istrinya selesai makan malam romantis, ditemani lilin serta berpayungkan langit cerah bertabur bintang dan cahaya rembulan.


"Kita langsung pulang aja, aku capek sekali hari ini. Pulang dari Cianjur, berharap dapat beristirahat tenang sambil mendengarkan musik relaksasi eh malah dibuat sedih karena melihat suamiku berduaan dengan perempuan lain," cibir Zahira, sengaja menekankan kalimat terakhir agar dapat didengar oleh Shaka.


Shaka terkekeh pelan seraya menggaruk kepala yang tidak gatal. "Iya, maaf. Aku, 'kan, enggak ada niatan untuk membuatmu bersedih. Udah ah, jangan bahas masalah itu lagi, bosan tahu! Gimana kalau kita bahas tentang kita berdua?" ujarnya. Kedua alis bergerak turun dan naik.


Sontak, Zahira menghentikan langkahnya. Ia mendongakan kepala ke arah sang suami dengan tatapan penuh selidik. "Maksudmu?"


Shaka tersenyum. Ia ulurkan kedua tangan ke bahu istrinya. "Kita berdua memutuskan untuk mempertahankan pernikahan ini dan kamu memberiku kesempatan untuk belajar mencintai dan menerimamu sebagai istriku. Nah, agar dapat menciptakan chemistry di antara kita perlu meluangkan waktu berduaan. Misalkan, pergi tamasya, berlibur atau hanya sekedar nonton bioskop yang penting ada moment di mana kamu dan aku bersama."


Si bungsu dari tiga bersaudara berjalan tanpa melepaskan tangannya yang menyentuh bahu Zahira. "Walaupun kedekatan kita sudah terjalin sejak masih kanak-kanak, tapi dulu status kamu dan aku hanya sebatas sahabat. Setelah dewasa ternyata Tuhan malah menyatukan kita dalam sebuah ikatan pernikahan. Jadi, enggak ada salahnya dong jika kita memulai kembali sebuah hubungan baru. Ya, istilah zaman sekarang tuh penjajakan, tapi penjajakan setelah menikah. Gimana, mau enggak, Ra?"


Zahira menunduk, tersipu malu. Penantian selama hampir sepuluh tahun lamanya akhirnya terbalaskan. Sosok lelaki impian yang diharapkan menjadi imam keluarga tengah berdiri di samping tubuh. Entah dengan cara apa lagi ia mengutarakan rasa syukur sebab impiannya selama ini telah dikabulkan Tuhan.


Maka nikmat Tuhan-mu yang manakah yang kamu dustakan. (QS Ar-Rahman : 13).


"Aku mau, Shaka," jawab Zahira lirih. Kendati begitu, Shaka masih dapat mendengar jawaban istrinya.


Shaka terkekeh sembari melepaskan tangan dari bahu Zahira. Kali ini ia ulurkan tangan ke hadapan istrinya, meminta gadis itu untuk melakukan kesepakatan antara mereka berdua. "Deal! Jadi, mulai malam minggu nanti kita wajib pergi berduaan, ya. Terserah, kamu mau pergi ke mana, akan kuantar."


"Deal!" ujar Zahira sembari menerima uluran tangan suaminya.


***


Di sepanjang perjalanan pulang, Zahira bersandar di bahu suaminya. Rasanya melelahkan, tetapi juga menyenangkan sebab ia dapat merasakan bagaimana rasanya dicintai oleh seseorang yang kita cintai. Semua perhatian dan kelembutan Shaka malam ini melambungkan harapan, angan dan asa gadis itu akan sebuah pernikahan harmonis seperti rumah tangga ayah dan bundanya yang masih tetap bertahan selama dua puluh empat tahun.


"Kamu ngantuk?" tanya Shaka seraya mengusap puncak kepala Zahira.


"Hum," jawab Zahira. Kelopak matanya memang terasa berat karena seharian ini ia sama sekali belum memejamkan matanya setelah tiba di Jakarta. Perjalanan panjang yang ditempuh selama 2 jam lebih dari Cianjur-Jakarta ditambah tumpukan pekerjaan serta masalah baru yang muncul dalam rumah tangganya membuat ia terasa lelah.


"Tidurlah, aku akan membangunkanmu setelah kita sampai nanti."


Zahira mengangguk, kemudian membenarkan posisi tubuhnya. Ia sandarkan punggung serta kepalanya di sandaran kursi mobil kemudian memejamkan mata. Jarak dari posisi mereka saat ini dengan unit apartemen masih cukup jauh hingga masih ada waktu sebentar untuk beristirahat.

__ADS_1


Shaka sesekali melirik sekilas ke samping kiri, memastikan istrinya tertidur dengan nyaman meski mereka masih dalam perjalanan. Seulas senyuman tipis terukir di sudut bibir saat melihat mulut gadis itu terbuka sedikit. Kendati begitu, di mata Shaka, istrinya masih terlihat lucu dan menggemaskan.


Hampir memakan waktu satu jam perjalanan, akhirnya kendaraan roda empat milik Shaka tiba di parkiran basemen apartemen. "Ra, bangun. Kita udah sampai." Tangan Shaka mengusap pipi Zahira dengan sangat hati-hati.


Kelopak mata Zahira bergerak, kemudian secara perlahan bola mata indah itu terbuka secara perlahan. "Aku tertidur lama sekali, ya, Ka?" tanyanya. Nyawa gadis itu belum terkumpul sepenuhnya.


Alih-alih merasa kesal, Shaka malah tersenyum lebar. "Iya, tapi enggak masalah kok. Aku bisa maklumin." Lagi dan lagi lelaki itu bersikap manis di hadapan Zahira. "Tunggu di sini!" sambungnya sebelum turun dari mobil. Ia berjalan memutar dan membuka pintu sisi Zahira.


"Hati-hati, jangan sampai kepalamu terantuk!" Shaka memperingatkan Zahira agar lebih berhati-hati. Tangan sebelah kini ia taruh di atas pintu mobil, mencegah kepala istrinya agar tidak kejedot sedangkan sebelahnya lagi terulur ke hadapan Zahira.


Shaka dan Zahira berjalan bersisian menyusuri lorong apartemen menuju hunian mereka. Suasana hening hanya terdengar suara ketukan langkah menggema di sepanjang lorong. Kedua insan terus mengulum senyum di bibir, mencuri pandang ke arah pasangan dan saat tanpa sengaja beradu pandang maka mereka akan tertunduk malu.


Oh astaga, kenapa aku seperti anak remaja yang baru saja merasakan jatuh cinta padahal sebelumnya aku pernah pacaran, tapi kenapa rasanya berbeda saat berada di dekat Zahira.


Tuhan, apa aku sedang bermimpi? Namun, jika ini mimpi, tapi kenapa rasanya begitu nyata? batin Zahira.


Sepanjang jalan, Shaka dan Zahira terus bermonolog tanpa menghentikan langkah kaki menuju istana mereka. Hingga tanpa terasa mereka telah tiba di unit apartemen.


"Loh, kok Papa ada di sini?" tanya Shaka saat melihat sosok pria paruh baya duduk manis di sofa sambil memainkan telepon genggam. Televisi di ruang keluarga menyala, tapi rupanya tak mampu menarik perhatian pria berusia lima puluh dua tahun.


Rio segera menurunkan sebelah kakinya yang ditumpangkan ke paha kiri, kemudian menaruh telepon genggam miliknya ke atas meja panjang. Berdecak kesal karena mendapat sambutan yang tak mengenakan. "Benar kata Zahira! Seharusnya kamu menghampiri Papa, lalu mencium punggung tanganku dulu. Setelah itu baru menanyakan tujuan Papa datang ke sini apa."


Zahira mengulurkan tangan ke depan, kemudian menyalami papa mertuanya. "Papa udah lama di sini?" tanyanya lembut.


Seketika rasa kesal di hati Rio perlahan sirna saat mendengar suara merdu nan lembut dari menantu bungsunya. "Lumayan lama, Nak. Tapi enggak masalah, Papa masih bisa sabar menunggu kalian. Daripada si Beo enggak bisa balik kandang, itu lebih nyesek lagi."


Rio masih punya urat malu hingga kalimat terakhir tidak ia katakan di hadapan menantu serta anak tercinta.


"Kalian dari mana saja, kok jam segini baru pulang? Lalu, kenapa kalian bisa akur gini, bukannya tadi kata Budhe Erna kamu dan Shaka sempat bertengkar?" tanya Rio penasaran.


Shaka mendengkus kesal atas pertanyaan sang papa. "Awalnya aku dan Rara memang sempat bertengkar akibat keegoisan Papa yang memaksaku menerima kasus wanita itu. Namun, setelah kami membicarakannya secara matang dan kepala dingin, aku dan Rara memutuskan untuk tidak memperpanjang masalah itu."


"Hampir saja aku kehilangan Zahira bila dia tidak memberiku sedikit kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Coba Papa bayangkan jika tadi Rara bersikeras tak mau mendengarkan penjelasanku, bisa hancur rumah tangga kami," keluh Shaka di hadapan Rio. Ia tanpa ragu mengutarakan isi hati yang terdalam di depan papa dan istrinya.

__ADS_1


Mata Rio terpejam, meresapi setiap kalimat yang diucapkan oleh Shaka. Kali ini ia memang ceroboh karena nyaris saja menghancurkan masa depan anak tercinta. "Maafkan, Papa, Nak. Papa benar-benar menyesal karena telah mendesakmu saat itu."


"Oleh karena itu, Papa sengaja datang ke sini untuk menyampaikan hal penting terkait kasus penipuan yang melibatkan wanita itu," sambung Rio dengan raut wajah penuh penyesalan.


"Hal penting apa, Pa?" tanya Shaka penasaran. Begitu pun dengan Zahira. Gadis itu duduk dengan gelisah di sebelah Shaka. Telapak tangan mulai basah disertai jantung yang berdetak tak beraturan.


"Papa sudah melimpahkan kasus itu kepada Irhan. Jadi, mulai besok bukan kamu lagi yang menangani kasusnya Ziva melainkan rekan kerjamu itu yang melanjutkan perjuangan membela mantan kekasihmu itu."


Bagai mendapat hujan di tengah musim kemarau panjang, wajah Shaka dan Zahira berubah sumringah detik itu juga. Siapa sangka tanpa bersusah payah akhirnya keinginan Zahira dikabulkan, sang suami tidak lagi menjadi pengacara Ziva.


"Sungguh? Papa enggak bohong, 'kan?" tanya Shaka sembari beringsut mendekati Rio. Tampak jelas rona kebahagiaan terpancar dari sorot matanya yang teduh.


Rio mengangguk. "Papa enggak bohong, Ka. Tadi sore berkas limpahan kasus sudah Papa berikan pada Irhan. Terserah mau menerima atau tidak, bukan urusan Papa. Jika dia menolak maka Papa tidak keberatan memberikan surat pemecatan meski dia anak Pak Gunawan. Papa adalah pemilik kantor itu dan lebih berkuasa dari Pak Gunawan. Jadi Papa tidak takut menggunakan kekuasaan yang ada."


Papa mertua Zahira menepuk bahu Shaka pelan. "Papa tidak mau mengorbankan kebahagiaan kalian demi kepentingan pribadi sebab kamu dan Zahira adalah harta yang paling berharga dibandingkan apa pun."


Zahira terenyuh mendengar perkataan Rio. Ia merasa bersyukur karena mempunyai mertua baik seperti Rini dan Rio. Sejak dulu hingga sekarang, kasih sayang mereka tetaplah sama malah semakin bertambah setelah dirinya menjadi istri Shaka.


"Terima kasih banyak, Pa, sudah membantuku terlepas dari jeratan wanita itu. Aku enggak tahu harus dengan cara apa membalas semua kebaikan Papa," ucap Shaka.


Rio melepaskan tangan yang saat itu menyentuh bahu Shaka, menatap wajah anak serta menantunya secara bergantian. "Ada satu cara yang bisa kalian lakukan. Ya hitung-hitung sebagai balas budi karena Papa membantumu terbebas dari wanita itu."


Shaka berdecak kesal. Ia pikir Rio tulus membantu, tapi rupanya ada imbalas yang harus diberi.


Saat lelaki itu hendak bangkit, Rio mencekal lengan anaknya dan berkata, "Papa belum selesai bicara, Nak. Duduk dulu!" titahnya tegas.


Pengacara muda berhidung mancung menghela napas kasar. Tanpa membantah, ia menuruti permintaan Rio. "Papa minta imbalan apa?"


Sudut bibir Rio tertarik ke atas, membentuk lengkungan layaknya busur panah. "Papa mau kalian pergi berbulan madu, berikan kami cucu mungil, imut dan menggemaskan. Mudah bukan?" ujarnya sembari menaik turunkan kedua alis.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2