
Nizam melangkah gontai memasuki sebuah kamar indekos yang lokasinya tidak begitu jauh dari tempatnya bekerja. Usai mendapat petuah bijak serta sedikit ancaman dari sang direktur rumah sakit, ia dipersilakan pulang tanpa harus menunggu hingga shift selesai. Ingin menolak karena ia tidak enak hati apabila melepas begitu saja tanggung jawabnya sebagai seorang dokter, tapi melihat wajahnya yang lebam serta terdapat beberapa luka di sudut bibir membuat lelaki itu meng-iya-kan perintah Rayyan.
Lelaki tampan pemilik hidung mancung dan lesung pipi di sudut bibir mendudukan bokongnya di tepian ranjang. Tangannya terulur ke depan, meraih sebuah figura di atas nakas. "Ra, apa memang ini saatnya bagiku melepaskanmu? Mengubur semua harapan dan impian untuk bisa hidup bersama selamanya?" Mengusap figura tersebut dengan sangat hati-hati seakan benda tersebut sangat bernilai harganya.
"Dulu, aku pernah berjanji akan menjaga, menyayangi dan mencintaimu hingga ajal menjemput. Namun, semua perkataan Ayahmu membuatku berpikir dua kali apakah aku harus mengorbankan ibu serta adikku demi menepati janjiku padamu. Aku memang sangat mencintaimu, tapi kalau harus mengorbankan dua wanita yang sangat berarti dalam hidupku, aku enggak sanggup, Ra. Aku enggak bisa melibatkan mereka berdua dalam masalah pribadiku."
Nizam terdiam sejenak, lalu kembali memandangi figura warna coklat yang ada di tangannya. Dalam figura itu terdapat tiga puluh murid SMP berseragam putih biru sedang duduk di kursi dengan latar belakang pemandangan halaman sekolah. Foto itu diambil saat mereka masih sama-sama duduk di bangku kelas 1 SMP.
Dari tiga puluh murid, tiga di antaranya adalah Nizam, Ghani dan ... Zahira. Rupanya dulu dokter tampan itu adalah teman sekolah Zahira saat mereka berusia remaja. Akan tetapi, karena suatu alasan membuat mereka terpisah hingga belasan tahun lamanya.
Dua belas tahun yang lalu, saat tahun ajaran baru, tampak seorang murid laki-laki bertubuh tinggi dan berkulit sawo matang mengayunkan kaki memasuki gedung sekolah di kawasan Jakarta Pusat. Hari ini merupakan hari pertama baginya bersekolah di SMP Tunas Bangsa. Dengan semangat empat lima ia berjalan masuk ke sebuah ruang kelas 1A.
Murid laki-laki itu berdiri di ambang pintu, kemudian mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan mencari bangku kosong. Akan tetapi, semua bangku sudah diisi dengan para murid yang tampak begitu antusias. Hanya ada satu bangku kosong dan itu ....
Bingunglah Nizam, nama murid laki-laki itu. Duduk atau tidak? Melirik kepada murid laki-laki berwajah dingin, tanpa ekspresi yang duduk di sebelah bangku kosong. "Maaf, apa aku boleh duduk di sini?" tanya Nizam kepada Ghani.
Ghani yang saat itu sedang mrmbaca buku merasa terganggu akan kehadiran sosok teman sekelasnya itu. Mendongakan kepala, menatap dengan tatapan tajam seakan ingin mengatakan kalau ia tidak suka jika aktivitasnya diganggu.
Sadar bahwa kehadirannya tidak diharapkan Ghani, Nizam mundur beberapa langkah ke belakang. "Maaf kalau aku udah ganggu kamu."
Murid laki-laki berkacamata tebal dengan potongan rambut poni ke depan menutupi kening menundukan kepala, bingung mau duduk di mana sementara kelas sebentar lagi dimulai.
__ADS_1
"Kamu enggak kebagian bangku, ya?" Suara merdu di belakang tubuh Nizam membuyarkan lamunan bocah kecil berusia tiga belas tahun.
Seakan mendapat dorongan besar membuat Nizam membalikan badannya secara perlahan. Dan alangkah terkejutnya ia saat mendapati seorang murid perempuan bermata sipit, dikepang dua tengah memandangnya dengan sorot mata teduh. Cahaya matahari menerobos dari kaca jendela, menerpa sisi wajah murid perempuan itu dari sisi kanan. Jantung Nizam berdegup tak beraturan tatkala kedua netra mereka saling beradu.
"Hei, kok diam aja? Kamu sakit?" ujar murid perempuan itu bernama Zahira.
Nizam yang terpesona akan kecantikan murid perempuan itu menjadi salah tingkah. Seumur hidup baru kali ini melihat wanita cantik seperti Bidadari.
"Enggak, aku enggak sakit," sahut Nizam. "Ehm ... iya, aku enggak kebagian bangku. Semua bangku udah terisi penuh."
Zahira memiringkan sedikit tubuhnya, mengarah pada bangku kosong di sebelah Ghani--kembarannya. "Ikut aku!" Tanpa basa basi, ia menarik tangan Nizam mendekati sang kakak.
Zahira memang tidak pernah merasa takut untuk menegur kakak pertamanya itu apabila Ghani ataupun Zavier melakukan kesalahan. Murid perempuan bermata sipit dan pecinta dongeng fairytale akan menegur mereka secara langsung.
Ghani menutup buku yang ada dalam tangannya. Kemudian melirik sekilas ke arah Zahira dan Nizam secara bergantian. "Tapi aku enggak suka ada orang yang mengganggu aku, Dek! Aku ingin duduk sendirian."
Zahira kecil berdecak kesal. "Jangan gitu, Kak! Kita di sini sama-sama sekolah. Jadi Kakak harus mau berbagi. Kalau enggak mau, aku bilangin Ayah dan Bunda, loh," ancamnya. Jurus jitu yang selalu dilakukan apabila kedua kakak kembarnya enggan menuruti keinginannya.
Mendengar perkataan adik kembarnya itu membuat Ghani tak berkutik. Mulut si sulung tiga bersaudara bungkam seketika.
Zahira meluruhkan kedua tangannya yang ia letakkan di pinggang. Tersenyum bangga karena berhasil membuat Ghani terdiam.
__ADS_1
"Kamu duduk aja di sebelah Kakak Pertamaku. Tapi kalau dia nakal sama kamu, bilang aja ke aku. Akan kupukul dia menggunakan penggarisku ini." Zahira mengangkat sebuah penggaris ke udara, memperlihatkannya kepada Nizam. Seulas senyuman manis ia berikan kepada Nizam. Senyuman itulah yang membuat Nizam Al Fallah jatuh cinta untuk pada pandangan pertama.
Lamunan Nizam terhenti saat dering ponsel menggema memenuhi penjuru ruangan. Merogoh benda pipih berukuran 6.5 inci dari saku celana.
[Selamat siang, Dokter Nizam. Sesuai dengan kesepakatan bersama, dengan ini saya ingin menyampaikan bahwa Anda sudah tak lagi bekerja di Bangsal Teratai. Mulai tertanggal 11 Juli 2022, Anda dipindahtugaskan ke bagian IGD.]
[Untuk sementara waktu Dokter Nizam boleh beristirahat di rumah sampai tanggal 10 Juli 2022.]
Mendesaah pelan tatkala membaca setiap kalimat yang dikirimkan oleh kepala bangsal teratai. Sadar bahwa akan ada resiko apabila Nizam nekad mendekati Zahira. Mau bagaimana lagi, dia sudah jatuh cinta sedalam-dalamnya pada gadis kecil berambut kepang dua dan pemilik mata teduh.
"Rupanya memang sudah saatnya aku melepaskanmu, Ra. Tampaknya cinta tulus yang hendak kuberikan padamu, tidak akan pernah terwujud. Kendati begitu, aku akan tetap mencintaimu walaupun tak terbalaskan," ucap Nizam. Mengecup figura foto itu dengan penuh perasaan. "Semoga memang Shaka adalah lelaki yang tepat untuk mendampingimu. Memberikan cinta, kasih sayang yang tulus untuk kamu seorang."
Lantas, Nizam meletakkan figura itu kembali ke tempatnya. Kemudian mulai mengirimkan pesan balasan. [Baik, Dokter. Terima kasih atas informasinya.] Lelaki itu sudah pasrah atas apa yang terjadi menimpanya.
.
.
.
__ADS_1