Pengantin Pengganti Sahabatku

Pengantin Pengganti Sahabatku
Ceraikan Aku!


__ADS_3

"Nak Shaka tidak istirahat? Ini sudah malam loh dan kamu pasti capek, 'kan habis dari luar negeri," ucap Arumi saat melihat Shaka masih duduk di ruang keluarga sambil menonton siaran berita bersama Rayyan.


Meskipun tidak ada percakapan berarti antara kedua pria tampan itu tetapi setidaknya Shaka menunjukan bahwa ia masih menghormati ayah mertuanya itu untuk tetap di tempat meski rasa kantuk menderanya.


Shaka menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal. "Iya, Bun. Ini baru mau istirahat." Sejujurnya ia pun telah mengantuk sekali namun melihat Rayyan masih duduk manis sambil menonton televisi membuat pria itu menahan rasa kantuknya.


"Untuk apa memintanya istirahat segala, Bun. Biarkan saja dia menemani Ayah begadang sampai subuh nanti," cibir Rayyan tanpa menoleh sedikit pun ke arah sang menantu. Setiap kali melihat wajah Shaka, kembali teringat bagaimana pancaran kesedihan terpancaran di sorot mata anak tercinta. Raut kekecewaan terlukis jelas di bola mata Zahira yang indah dan jernih.


"Hush, Ayah! Shaka ini statusnya menantu kita bukan anak dari sahabatmu. Jadi, kita wajib memperlakukannya dengan baik." Arumi menegur Rayyan dengan nada lembut.


"Nak Shaka, sudah sana istirahat di kamar Zahira. Biar besok tidak kesiangan bangun," imbuh Arumi.


Shaka menyeringai seperti orang bodoh. "Oh iya, Bun. Kalau begitu aku permisi dulu."


"Silakan, Nak Shaka. Kalau butuh sesuatu bisa tekan remote di samping nakas maka Mbak Tina maupun asisten rumah tangga yang lain akan datang ke kamar."


Shaka menganggukan kepala, kemudian mengulas senyum sebelum akhirnya naik ke lantai dua. Dengan langkah gontai, ia ayunkan kaki itu menapaki satu per satu anak tangga menuju kamar Zahira.


Menarik napas dalam, mengumpulkan keberanian untuk bertemu lagi dengan sang istri. "Ra, aku masuk ya!" tutur Shaka seraya memutar handle pintu dan mendorongnya hingga terbuka lebar.


Tubuh Shaka membeku dengan kelopak mata melebar sempurna. Bagaimana tidak, Zahira tengah duduk di depan meja rias sembari menuangkan hand body ke seluruh tubuh. Dan bukan hanya itu saja, sahabat masa kecilnya malam ini terlihat begitu menggoda iman.


Dress bahan satin warna merah menyala membalut tubuh Zahira yang seksi bagai gitar Spanyol. Kendati dalam keadaan membelakangi tubuh Shaka, lelaki itu dapat melihat jelas bagian bemper belakang dan bemper depan tidak terlalu kecil maupun terlalu besar namun sangat ideal untuk postur tubuh wanita Asia pada umumnya. Kulit putih bersih tanpa cela dan rambut panjang sebahu yang digerai membuat gadis itu terlihat begitu berbeda.


"Shaka? Kenapa kamu tidak ketuk pintu dulu sih!" sembur Zahira setelah menyadari kehadiran Shaka. Ia bergegas meraih jubah tidurnya yang disampirkan di sandaran sofa. Ketika Zahira berjalan maka lekuk tubuhnya dapat terlihat jelas. Terlebih bahan dress itu menerawang apabila terkena pantulan sinar lampu kamar gadis itu.


Melihat pemandangan indah di depan sana, seketika Shaka merasakan suhu di ruangan itu terasa panas padahal pendingin ruangan berada di suhu terendah dan hawa di luar rumah pun dingin sebab kota Jakarta malam itu sedang diguyur hujan.

__ADS_1


Ya Tuhan, tidak kusangka Zahira terlihat begitu ... seksi. Tanpa sadar, kalimat itu meluncur dari bibir sang pengacara. Tatapan mata pria itu menerawang dan jiwa pun melayang seakan tengah tersesat ke sebuah tempat lain nun jauh di sana.


Zahira merasa malu kedapatan mengenakan dress berbahan satin. Meskipun status Shaka adalah suaminya, tetapi gadis itu tidak pernah sekalipun memperlihatkan kemolekan tubuh di hadapan sang suami. Ia memutuskan untuk tidak mengenakan pakaian seksi ataupun pakaian yang kurang bahan di depan Shaka saat lelaki itu sesaat setelah membuat benteng pemisah antara mereka. Selain itu, ia pun tersadar kalau bentuk tubuhnya tidaklah indah jika dibandingkan dengan Ziva, sang model papan atas.


Khayalan Shaka harus terhenti kala suara ketus bernada dingin menggema ke penjuru ruangan. "Ada apa kamu ke sini?" tanya Zahira setelah menutupi bagian tubuhnya menggunakan jubah tidur.


Berdehem keras guna mengembalikan kesadarannya yang sempat melayang beberapa saat. "Maafkan aku, Ra. Tadi kupikir kamu tidak sedang mengenakan--"


"Stop! Jangan diteruskan lagi!" sergah Zahira cepat. Wajah gadis itu tiba-tiba merah merona saat Shaka nyaris mengatakan kalau sang dokter cantik mengenakan dress tipis berbahan satin. Memalingkan wajah ke sembarang arah untuk menyembunyikan semburat merah muda di wajah.


"Kamu ke sini karena sudah mengantuk?" tanya Zahira.


Shaka menganggukan kepala sebagai jawaban. "Iya sih. Tapi ... sebenarnya ada hal yang ingin kubicarakan denganmu mengenai keberangkatanku ke Singapura kemarin siang."


Terdengar helaan napas kasar bersumber dari bibir Zahira. Terduduk lemas di sofa sudut ruangan. "Mau bicara apa lagi, Ka? Bukannya semua jelas kalau kamu pergi ke Singapura untuk menemui Ziva." Suara gadis itu bergetar saat mengucapkan kalimat terakhir. Sekelebat wajah Shaka kala pria itu mengutarakan isi hati di hadapn Ziva kembali menari indah di pelupuk mata.


"Kamu tahu dari mana kalau aku ke Singapura untuk menemui Ziva?" Shaka cukup terkejut akan kenyataan itu. Ia berpikir kenapa Zahira bisa tahu padahal seingatnya pria tampan itu telah merahasiakan semuanya dari sang istri.


Dokter cantik mendesaah pelan. "Aku mendengar semua percakapanmu dengan Nicholas beberapa hari lalu. Termasuk keberadaan Ziva saat ini."


Shaka terdiam, ia menghela napas kasar. "Jadi karena alasan itu kamu meninggalkanku sendirian di café?"


"Aku hanya memberimu ruang agar lebih leluasan menceritakan semua tentang Ziva di depan Nicholas. Kalau aku ada, mana mungkin kamu bebas bertanya dan berkeluh kesah kepada temanmu itu," kata Zahira, kali ini terdengar sedikit menyindir.


Tak kusangka masalahnya malah b**leber ke mana-mana, batin Shaka. Oleh karena itu, ia semakin yakin untuk meluruskan semua masalah yang ada.


Shaka melangkahkan kaki menghampiri Zahira, lalu bersimpuh di hadapa sang istri. Tangan kekar itu ia ulurkan ke depan, menangkup jemari lentik nan mungil. "Maafkan aku karena sudah membohongimu, Ra. Namun, sungguh aku tidak tahu kalau kepergianku ke sana malah melukai hatimu."

__ADS_1


"Kemarin itu aku buru-buru sampai tidak punya waktu menjelaskan maksud dan tujuanku datang ke Singapura. Yang ada dalam pikiranku saat itu cuma satu bagaimana caranya bisa bertemu dengan Ziva dan mencari tahu apakah dia memang kabur karena ingin mencapai cita-citanya sebagai model atau cuma mau terlepas dari jeratanku saja," sambung Shaka. Ia mengatakan semuanya di hadapan Zahira. Meskipun nanti akan semakin membuat gadis itu kecewa, tidak mengapa daripada masalah di antara mereka semakin berlarut-larut. Ia cuma mau hidup tenang tanpa diterpa masalah apa pun saat hidup berumah tangga dengan Zahira.


Makin tersayatlah hati Zahira kala Shaka mengatakan dalam pikiran pria itu hanya ada Ziva seorang. Walaupun janji suci pernikahan telah diucap rupanya ia memang tak mempunyai arti apa-apa selain sebagai seorang sahabat.


"Lalu kebenaran apa yang kamu temukan?" tanya Zahira seraya menatap tajam ke arah Shaka.


"Kebenaran yang mengatakan bahwa Ziva memang punya kekasih lain selain aku," jawab Shaka lirih. Meskipun begitu, Zahira dapat mendengar jelas perkataan Shaka.


Zahira tersenyum getir. "Pantas saja kamu cepat kembali dari luar negeri ternyata apa yang kamu harapkan tidak sesuatu realita." Menarik napas panjang, menahannya sebentar, baru kemudian berkata, "Seandainya Ziva tidak selingkuh, sudah pasti kamu akan tinggal di sana selama satu minggu, dua minggu atau bahkan satu bulan demi melepas rasa rindu yang membelenggumu selama ini. Benar, 'kan?"


"Dan ... kamu juga tidak mungkin meminta maaf kepadaku jika tidak mendapati Ziva tengah berduaan dengan lelaki lain, iya 'kan? Kamu ... akan tetap bersama kekasihmu dan mengesampingkan perasaanku," ucap Zahira makin terdengar lirih.


"Aku sadar kalau statusku cuma sebagai istri pengganti. Namun, bukan berarti kamu bisa seenaknya melukai hatiku, Shaka. Aku ini manusia bisa merasa sakit, sedih dan kecewa bila kamu sakiti."


"Iya, Ra, aku tahu. Oleh karena itu tolong maafkan aku. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi." Shaka memandangi kelopak mata yang mulai berkaca-kaca.


"Tapi tidak semudah itu, Shaka. Aku terlanjur kecewa sama kamu. Hatiku pun terluka namun tidak berdarah. Kamu telah menorehkan luka yang teramat dalam sampai aku sendiri tidak tahu apakah luka itu akan sembuh atau tidak." Zahira memalingkan wajah ke samping. Tanpa terasa butiran kristal berhasil lolos, meluncur di sudut matanya yang sipit. "Kamu ... sudah merusak kepercayaanku sebagai seorang istri, Shaka. Aku ... benar-benar kecewa sama kamu."


Melihat Zahira menangis membuat Shaka ikut terluka. Seharusnya ia memikirkan perasaan Zahira sebelum memutuskan pergi ke Singapura.


"Ra, katakan kepadaku harus dengan cara apa agar kamu mau memaafkan aku. Aku ... akan melakukan apa pun asalkan kamu bersedia memaafkanku."


Zahira mengusut air mata yang tadi sempat meluncur di wajah. Setelah itu memberanikan diri menatap iris coklat milik lelaki yang begitu ia cintai. "Ceraikan aku, Shaka! Dengan begitu aku akan memaafkanmu!"


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2