
Mobil hitam milik Shaka sudah tiba di depan sebuah rumah bergaya Timur Tengah. Memandangi bangunan megah nan kokoh itu dari dalam mobil. "Mungkinkah Zahira memang ada di dalam sana? Namun, bagaimana kalau tidak ada? Aku harus mencari ke mana lagi kalau dia memang tidak ada di rumah Mama."
Pikiran sang pengacara berkecamuk memikirkan kemungkinan terburuk menimpa Zahira hingga ia tak menyadari kalau salah satu security telah berdiri di samping mobil dan mengetuk jendela.
Mendengar suara ketukan dari luar jendela membuat Shaka kembali tersadar. Lantas, ia mengerjapkan beberapa kali sebelum akhirnya membuka jendela mobil.
"Selamat malam Pak Soleh." Shaka menyapa lelaki berseragam navy.
"Eeh ... Den Shaka. Selamat malam juga. Aden mau masuk ke dalam rumah?" tanya security berseragam navy.
Shaka menganggukan kepala. "Benar, Pak. Oh ya, apa tadi sore Bapak melihat Mama mengajak Zahira ke rumah ini?"
Tampak Soleh berpikir sejenak, mengingat kembali apakah menantu bungsu sang majikan datang ke rumah itu atau tidak. "Sepertinya tidak, Den Shaka. Tadi siang Bu Rini pulang sendirian tanpa mengajak Mbak Zahira."
Hal itu semakin membuat perasaan Shaka tak karuan. Jika memang Zahira tidak ada di apartemen dan rumah Rini, lalu pergi ke mana dia? Mungkinkah pulang ke rumah orang tuanya?
***
Tak ingin menghabiskan waktu terlalu lama berdiam diri di dalam mobil, Shaka memutuskan segera masuk ke dalam rumah. Ia ingin mengetahui apa yang menyebabkan Rini sampai membentaknya di telepon.
"Apa Mama dan Papa ada di dalam, Bik?" tanya Shaka kepada salah seorang asisten rumah tangga.
"Ada, Den. Bapak dan Ibu baru saja selesai makan malam. Mereka sedang duduk santai di ruang keluarga. Silakan masuk, Den Shaka." Asisten rumah tangga berusia empat puluh tahun membukakan pintu dengan lebar hingga Shaka dapat masuk ke dalam.
"Mama, Papa?" panggil Shaka saat ia sudah berada di ruang keluarga.
Tampak kening Rini mengerut saat melihat keberadaan sang anak di rumah. "Loh, cepat sekali kamu datang? Bukannya tadi kamu masih ada di Singapura."
Shaka memutar bola mata malas. Setiap kali berbicara dengan Rini, kesabaran pria itu acap kali diuji. Beruntungnya ia mempunyai tingkat kesabaran tinggi hingga saat sang mama protes, pria tampan itu tidak terpancing emosi. Tadi diminta buru-buru datang. Giliran sudah sampai malah ditanya-tanya. Dasar aneh! gerutunya dalam hati.
"Aku baru saja tiba di Jakarta saat Mama meneleponku," ucap Shaka sambil mencium punggung tangan wanita yang telah melahirkannya ke dunia ini.
"Baguslah kalau begitu. Jadi Mama tidak perlu menunggu terlalu lama untuk memberimu pelajaran." Rini memasang wajah datar tanpa memberi senyuman sedikit pun. Jika biasanya dia menyambut hangat kedatangan Shaka, tapi untuk kali ini berbeda. Wanita paruh baya bersikap dingin karena masih kesal atas sikap Shaka terhadap Zahira.
Kedua alis Shaka mengerut mendengar perkataan Rini. Ekor mata pria itu menatap wajah Rini dan Rio secara bergantian. Mencoba menebak apa yang sebenarnya tengah terjadi. Wajah mereka tampak menunjukan keseriusan.
"Sebenarnya ini ada apa sih, Ma, Pa? Kenapa suasana tegang sekali. Lalu, tadi waktu di telepon kenapa Mama membentakku. Memangnya aku salah apa?" tanya Shaka tanpa merasa berdosa.
__ADS_1
"Pertanyaan bodoh! Kenapa kamu masih bertanya," dengkus Rini kesal. "Disekolahkan tinggi-tinggi sampai ke Australia, tapi otakmu kosong. Apa isi otakmu sudah dicuci bersih oleh wanita jahat itu hingga tak dapat berpikir jernih!"
Bola mata Shaka terbelalak sempurna. Seumur hidup baru kali ini mendengar Rini berkata kasar seperti itu. Kalaupun dulu ia serta kedua kakak kembarnya berbuat nakal, Rini tak pernah memarahinya apalagi mengatakan sesuatu hal yang melukai hati. Lalu, kenapa sekarang berbeda? Mungkinkah memang dia telah melakukan kesalahan fatal hingga membuat sang mama begitu kesal.
Shaka menghela napas dalam. "Aku sungguh tidak mengerti maksud dari perkataan Mama. Tolong jelaskan padaku, sebenarnya ada apa ini."
Rio menatap Shaka dengan tatapan lekat. "Siapa yang memerintahkanmu pergi ke Singapura? Bukankah Papa memintamu menjaga Zahira sampai dia sembuh."
Kini Shaka mengerti kenapa sikap Rini berubah. Pria itu mendesaah panjang dan berkata, "Memang tidak ada yang memerintahkanku pergi ke sana. Itu semua adalah kemauanku sendiri."
"Namun, kepergianku ke Singapura ada alasannya, Pa, Ma. Aku ke sana ingin membuktikan perkataan Nicholas yang mengatakan bahwa Ziva tengah dekat dengan seseorang."
"Lalu apa yang kamu dapatkan selama berada di Singapura?" tanya Rio penuh selidik.
Dengan kepala menunduk, mata tertutup dan kedua tangan mencengkeram erat tepian sofa, Shaka berkata, "Aku menemukan Ziva berada dalam satu kamar dengan pria lain. Meskipun tak memergoki mereka sedang berhubungan intim tapi semua bukti yang ada menunjukan ke arah itu."
Detik itu juga terdengar suara seseorang tertawa terbahak. Suara gelak tawa memenuhi penjuru ruangan. "Kapok! Itulah balasan bagi suami pembohong sepertimu! Lelaki yang tidak pernah bersyukur karena mendapatkan istri sebaik dan sesempurna seperti menantu kesayanganku."
Rasanya Rini puas sekali mendengar perkataan Shaka. Perlahan, sinar kebahagiaan kembali terbit di wajahnya yang cantik jelita.
Rini meraih bantal kursi yang ada di sebelahnya, kemudian meletakkan dipangkuannya. "Shaka Abimana! Mama dan Papa tidak pernah mengajarkan berbohong. Namun, kali ini kamu tega membohongi kami semua termasuk istrimu sendiri. Apa kamu tidak tahu bagaimana perasaan Zahira saat tahu kamu berbohong kepadanya?"
"Sakit dan kecewa. Itulah yang dirasakan oleh Zahira. Meskipun pernikahan kalian hanya keterpaksaan saja, tapi sebagai seorang istri sudah pasti dia merasa sedih karena kamu telah membohonginya demi wanita lain. Jika Mama berada di posisi istrimu, Mama pasti pergi meninggalkanmu sejauh mungkin. Untuk apa hidup berumah tangga dengan lelaki yang tak pernah sekalipun menghargai keberadaan kita," tutur Rini mengungkapkan kekecewaannya terhadap Shaka. Biarlah dia dianggap ibu yang sadis karena merasa bahagia di atas penderitaan sang anak. Toh kenyataannya sikap Shaka memang membuat siapa pun merasa jengkel.
Kepala Shaka semakin menunduk. Semua yang dikatakan Rini benar adanya. Ia mengakui kesalahannya karena sudah membohongi Zahira. Padahal kepergiannya ke Singapura bukanlah untuk urusan pekerjaan melainkan demi kepentingan diri sendiri.
"Aku mengaku salah, Ma, Pa. Maaf," ucap Shaka lirih.
"Jangan meminta maaf kepada kami, Shaka! Minta maaflah kepada istrimu karena dialah yang paling tersakiti dalam kasus ini. Mama dan Papa memang kecewa tapi hati Zahira-lah yang lebih terluka di sini karena kamu telah menorehkah luka yang teramat dalam." Rini menjeda sejenak kalimatnya seraya memejamkan mata. "Mama masih ingat reaksi Zahira tadi pagi. Dia begitu terpukul dan teramat kecewa kepadamu, Nak."
"Aku mengakui kesalahanku, Ma. Aku menyesal karena telah membohonginya."
"Cepatlah minta maaf kepada Zahira, sebelum terlambat. Jangan sampai kamu menyesal karena sudah menyakiti hatinya." Rio ikut menimpali perkataan sang istri.
Shaka mengumpulkan keberanian di dalam dada. Ia mendongakan kepala dengan sangat perlahan. Sedikit demi sedikit wajahnya yang tampan menghadap ke seberang.
"Tapi ... aku tidak tahu di mana Zahira berada, Pa, Ma. Dia pergi dari rumah tanpa memberitahu siapa pun."
__ADS_1
"Apa?" Mata Rio dan Rini terbelalak sempurna. Rini bahkan menutup mulutnya menggunakan telapak tangan.
"Bagaimana bisa pergi. Memangnya dia tidak meminta izin kepadamu saat hendak meninggalkan rumah?" ucap Rio.
Shaka menggelengkan kepala cepat. "Zahira tidak mengirimkan pesan kepadaku. Bahkan, nomor teleponnya tidak aktif."
Rio menghela napas panjang. "Sudah mencarinya ke mana saja?"
"Taman, rumah sakit dan café tempat kami nongkrong dulu. Namun, Zahira tidak ada di sana."
"Sudah coba mencarinya di rumah mertuamu?" imbuh Rini.
Shaka hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban. "Aku ... takut bertemu dengan Ayah Rayyan."
Rini mencibir. "Makanya jangan pernah melukai anak gadis orang. Sudah tahu Ayah mertuamu itu menakutkan, kamu malah cari mati. Sekarang tanggung sendiri akibatnya."
"Mama." Shaka merengek seperti anak-anak.
"Jangan bersikap manja seperti itu! Mama tidak suka melihatnya!" tegur Rini. Perkataan itu menbuat Shaka bungkam seketika.
Rio bangkit dari sofa, kemudian menepuk pundak sang anak. "Cobalah cari Zahira di rumah kedua orang tuanya. Siapa tahu dia memang ada di sana."
"Kalau sampai Rayyan mengintrogasimu, jangan sampai terpancing emosi! Dengarkan saja apa yang diucapkan oleh Ayah mertuamu. Papa yakin, dia tidak mungkin tega melakukan apa-apa selama ada Ibu mertuamu di sisinya."
"Kalau Bunda Arumi tidak ada, bagaimana?"
"Maka ... terima saja nasib burukmu!" sahut Rini tanpa beban.
.
.
.
Halo semua yuk mampir ke karya teman author. Kisahnya dijamin seru nih. Judul karya dan nama pena ada di bawah sini. 👇
__ADS_1