
Tatkala Zahira dan Shaka tengah bercumbu, berlomba-lomba mencapai kepuasan di atas ranjang empuk unit apartemen mereka, di waktu bersamaan Hanna baru saja menyelesaikan tugasnya. Wanita itu mendapat shift siang dan shift-nya selesai tepat pukul delapan malam.
"Dokter Hanna, aku duluan, ya? Kebetulan suamiku sedang menungguku di bawah." Salah seorang rekan sejawat Hanna berkata sebelum meninggalkan bangsal tempat mereka bekerja.
Hanna menoleh sebentar dan menjawab, "Iya. Hati-hati di jalan." Setelah berpamitan, rekan sejawat Hanna mengayunkan kaki menuju lift yang akan membawanya menuju lantai ground.
Hanna segera melepaskan snelli putih dan menggantungkannya ke gantungan pakaian kemudian menyampirkan sling bad di antara pundak dan ketiak. Perempuan itu melirik jam dinding yang ditempel di ruangan tersebut. Waktu menunjukan pukul delapan lebih lima belas menit.
"Semoga aja masih ada taxi yang mau mengantarkanku pulang," gumam Hanna. Pasalnya kota Jakarta baru saja diguyur hujan lebat disertai angin kencang. Biasanya akan sulit mendapat kendaraan roda empat saat hujan reda sebab orang-orang akan menggunakan kesempatan tersebut untuk memesan taxi atau ojek online agar mereka bisa secepatnya pulang ke rumah.
Hanna berdiri di depan pintu masuk rumah sakit. Telepon genggam keluaran terbaru berada dalam genggaman tangan. "Hu ... kenapa sulit sekali mendapat taxi sih. Padahal aku udah menunggu selama lima menit," keluhnya. Memperhatikan layar ponselnya berharap ada satu taxi online yang dapat mengantarkannya pulang. Akan tetapi, sampai detik ini semua armada dalam keadaan penuh.
"Sial! Kalau begini bisa-bisa aku telat sampai rumah." Hanna kembali membuka aplikasi online lainnya dan memesan taxi lain. Sebenarnya Hanna bisa saja memesan ojek online, tapi karena hari sudah malam dan khawatir hujan turun lagi ketika dirinya tengah dalam perjalanan, ia memutuskan memesan taxi ketimbang ojek online.
Udara dingin menembus permukaan kulit. Terpaan angin kencang menyapu wajah Hanna menjadikan wanita itu kedinginan karena dia mengenakan dress di bawah lutut. Memeluk dirinya sendiri sembari menggosok pundak berharap dengan begitu tubuhnya menghangat.
Ketika Hanna sedang menunggu taxi, rupanya ada sepasang mata tengah memperhatikan wanita itu dari mobil yang terparkir di parkiran khusus dokter. Lelaki itu terus memandangi Hanna yang tampak mulai kedinginan akibat desiran angin kencang di malam hari.
Tidak ingin Hanna jatuh sakit dan menyebabkan pekerjaannya terbengkalai, Nizam turun dari mobil dan berjalan menghampiri wanita itu. "Dokter Hanna, aku akan mengantarmu pulang. Tidak aman untukmu pulang naik taxi sendirian. Terlebih dengan cuaca seperti ini, sulit bagimu mendapat kendaraan yang mau mengantarmu pulang," ucap lelaki itu.
__ADS_1
Hanna terlonjak, tapi detik berikutnya ia dapat menguasai diri. "Tidak perlu, saya bisa memesan taxi lain," ucap wanita itu sedatar mungkin. Sikapnya pun terkesan dingin dan acuh, bahkan ia tak mau menoleh sedikit pun pada sosok lelaki di sebelahnya.
Jika dulu matanya berbinar bahagia dan hati berbunga-bunga saat bertemu Nizam, kali ini Hanna bersikap biasa saja meski sebetulnya debaran itu masih ada. Namun, rasa sakit akibat penolakan yang ditunjukan lelaki itu telah melukai harga dirinya.
"Ayolah, Dokter Hanna, ikutlah pulang bersamaku. Aku janji tidak akan berbuat macam-macam." Nizam masih membujuk Hanna agar mau ikut dengannya. Walaupun dia tidak tertarik pada Hanna, tapi melihat wanita itu berdiri sendirian di malam hari membuatnya tidak tega.
Kebimbangan menghampiri Nizam. Haruskah meninggalkan Hanna seorang diri atau membujuk wanita itu meski mantan rekan kerjanya menolak untuk diantar pulang?
Di saat Nizam tengah bergelut dengan pikirannya sendiri, suara merdu Hanna membuyarkan segalanya. "Jika Dokter Nizam mau pulang, silakan. Tidak perlu menawari saya tumpangan."
Nizam menarik napas dalam. Rasanya percuma membujuk Hanna agar mau diantar pulang sebab wanita itu telah membangun benteng tinggi di antara mereka sejak kejadian beberapa waktu lalu dan itu semua adalah kesalahannya.
Tak berselang lama, taxi pesanan Hanna tiba. Wanita itu bergegas masuk ke mobil dan meminta supir mengantarkannya ke tujuan.
Sepanjang perjalanan, Hanna hanya terdiam sambil memandangi pemandangan dari dalam jendela mobil. Bunyi klakson dari kendaraan roda dua maupun roda empat tak mengalihkan perhatiannya sedikit pun. Ia larut dan semakin tenggelam dalam lamunan panjang.
"Loh, Pak, ini mobilnya kenapa?" tanya Hanna setelah sadar dari lamunannya. Mobil yang ditumpangi tiba-tiba berhenti mendadak di bahu jalan dan itu membuat beberapa kendaraan di belakang membunyikan klakson. Beruntungnya tidak terjadi kecelakaan tatkala kendaraan tersebut berhenti secara mendadak.
"Mogok, Bu. Sebentar, saya cek dulu." Supir taxi itu menarik tuas yang ada di bawah kursi kemudi, kemudian turun dan membuka kap mesin mobil.
__ADS_1
Kepulan asap putih menguar ke udara ketika kap mobil tersebut dibuka. "Sialan, kenapa bisa begini sih?" ujar lelaki berusia sekitar tiga puluh lima tahunan. Wajahnya tampak frustasi setelah mengecek masalah yang terjadi pada kendaraan miliknya.
Hanna memperhatikan gerak gerik supir taxi dari dalam mobil. Keningnya mengerut saat melihat wajah pucat bercampur kesal terlukis jelas di depan sana.
"Apa yang terjadi, Pak?" tanya Hanna. Perempuan itu berdiri di sebelah supir taxi dan ikut mengamati kap mesin mobil.
"Overheat, Bu. Mungkin karena tadi kejebak macet parah sampai tidak bergerak sama sekali dan saya tidak terlalu memperhatikan air radiator jadi mogok begini," jelasnya.
Mendengar penjelasan supir taxi itu, tubuh Hanna lemas seketika. Tubuh lelah akibat seharian bekerja ditambah perut lapar dan udara dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang belakang membuat wanita itu ikut frustasi. Harapan untuk merebahkan tubuh di atas kasur empuk sambil memeluk guling sirna begitu saja. Ingin rasanya ia protes dan mengajukan komplain karena lelaki di sebelahnya begitu ceroboh, tapi rasanya percuma saja toh semua sudah terjadi.
Mendes@h pelan dan berkata, "Ya udah, kalau gitu saya pesan taxi lain aja." Hanna mengeluarkan uang dari dalam dompet dan memberikannya pada supir itu. "Sisanya ambil aja. Lain kali, rajin dicek, Pak, agar kejadian ini tidak terulang lagi."
Ragu-ragu supir taxi itu menerima uang pemberian Hanna. "Terima kasih, Bu. Maaf jika saya tidak bisa mengantarkan Ibu sampai tujuan." Lelaki itu menyesal akibat kecerobohannya membuat Hanna yang tak lain merupakan penumpangnya mengalami merugian.
Hanna berjalan menyusuri jalanan, mencari tempat aman untuk memesan kembali taxi online. Akan sangat riskan apabila terus berada di bahu jalan terlebih lalu lintas saat itu cukup ramai.
Ketika Hanna hendak menyebrang, mendadak satu unit kendaraan berhenti. Lalu, pemilik mobil itu turun dan berjalan mendekatinya.
"Kamu ...?" ucap Hanna sambil mendongakan kepala.
__ADS_1
***